Setelah itu, Bima membantu dengan cara lain. Endah, kakaknya Rania tiba-tiba menghubungi untuk membantu meski itu dianggap uang utang. Rania langsung menerima panggilan telepon itu dengan semangat karena merasa memiliki secercah harapan. Ternyata benar Endah mau meminjamkan uang karena tahu Rania masih memiliki uang jaminan dari bekerja yang belum diklaim. Rania bersyukur. Setidaknya sudah cukup sepuluh juta untuk membayar uang operasi sesar serta perawatan selama di rumah sakit bersalin.
Bima tersenyum. Meski Bima tidak bisa memberikan uang real langsung di depan mata seperti pelaku pesugihan, setidaknya Bima bisa membantu dengan cara lain yang tidak akan membuat hidup Rania berantakan. Pelaku pesugihan hanya akan terjerat dalam dosa dan kehancuran setelah segala kemudahan instan, tetapi apa yang Bima lakukan ke Rania murni menolong tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Rania berada di rumah sakit bersalin selama empat hari lamanya. Hari pertama adalah hari operasi dan belum bisa bergerak karena efek samping dari obat bius yang digunakan. Hari kedua adalah masa perjuangan karena mau tidak mau harus bisa memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri. Hari ketiga adalah perjuangan yang lebih keras karena harus bisa mulai duduk dan menapakkan kaki ke lantai. Hari keempat Rania diwajibkan sudah bisa berjalan jalan meski masih merasa sakit di sekujur tubuh. Beberapa kali perawat yang berada di tempat itu mengatakan hal buruk kepada Rania di saat perempuan itu berpura-pura tidur siang.
“Orang itu nggak ada motivasi sama sekali. Sembuhnya juga lama. Lihat aja nggak ada yang nemeni, cuma ibunya yang lagi pulang rumah.”
“Hust! Kasihan tahu!”
“Ya biar aja, suruh siapa nggak punya suami!”
Hati Rania merasa teriris dan sakit saat mendengar perkataan dari perawat yang sedang merapikan tempat tidur samping di mana pasien rawat inap yang masuk bersamaan dengan Rania sudah bisa pulang karena sembuh lebih awal. Anda kata hidup bisa memilih pasti Rania tidak ingin menjalani kehidupan yang saat ini begitu pahit dirasakan. Heran saja karena rumah sakit bersalin itu memiliki biaya yang cukup mahal untuk kelas tiga, tetapi pelayanannya sangat buruk dan mulut dari perawat di sana juga tajam.
Rania bersyukur hari ini bisa pulang kembali ke rumah dengan membawa bayinya karena meminta tolong Endah untuk mengambil uang enam juta di ATM untuk pembayaran karena sisanya empat juta dipinjami oleh Endah. Ternyata kebaikan Endah hanya palsu semata, untuk bisa mengklaim keuntungan kelak saat Rania bekerja lagi. Namun saat ini, Rania bersyukur mendapatkan bantuan dan bisa membayar secara penuh di rumah sakit serta bisa pulang dengan selamat bersama bayinya.
Sesampainya di rumah, Rania masih harus memikirkan soal syukuran kalau sudah usia bayi sebulan. Di daerah Rania masih kental dengan aneka kebudayaan. Setiap orang yang nanti akan datang menengok Aira, maka saat sebulan usia bayi Rania akan mengembalikan berupa bingkisan atau kue. Rania secara manusiawi merasa bingung dan pusing memikirkan semua itu karena saat ini saja untuk keluar dari rumah sakit harus meminjam uang kepada Desi dan Mbak Endah. Andai saja Gavin sedikit lebih peka, bahkan orang tua dan adik Gavin sudah tahu tentang Rania, tetapi mereka semua memilih untuk menutup mata dan telinga serta tidak peduli dengan kehidupan Rania dan bayi yang baru saja dilahirkan.
“Nak, sabar, ya. Semoga Papiimu terketuk pintu hati dan memikirkan kita,” ucap Rania dengan lirih sambil menimbang bayinya saat sudah sampai di rumah.
Terlihat dengan jelas raut wajah ibunya Rania yang merasa sedih dengan kondisi saat ini. Padahal selama bekerja Rania selalu membantu kondisi keluarga tetapi saat ini seakan tidak berdaya melawan keadaan hanya karena salah memilih cinta. Ibunya Rania hanya bisa berdoa dalam hati untuk kebahagiaan putrinya serta cucu perempuannya.
“Ma, untung saja kemarin-kemarin sudah ada pakaian untuk bayi jadi bisa digunakan untuk Aira.”
“Iya, Rania. Kamu sabar dulu, ya. Nanti pelan-pelan pikirkan ke depannya bagaimana. Sekarang fokus Aira dulu karena kamu juga menyusui.”
“Iya, Ma.”
Rania selalu mencoba untuk tersenyum dan tidak memperlihatkan segala kesedihan dan kekhawatiran yang ada di hati di depan ibunya. Jika bisa dilukiskan, mungkin kondisi pikiran dan perasaan Rania sudah berkecamuk seperti gelombang pasang lautan yang bergulung dengan ombak tidak karuan. Rania tahu semua ini sudah terlanjur terjadi dan harus dihadapi dengan ikhlas. Rania hanya bisa banyak berdoa dan berharap kalau masa depan Aira akan jauh lebih baik dari kehidupannya.
Saat Rania membaringkan bayi mungil yang sudah tertidur itu ke atas tempat tidur, tiba-tiba rasa merinding membuat Rania terdiam sesaat. Ternyata sesuatu yang sebenarnya sudah lama hilang, kini kembali lagi. Kemampuan Rania melihat makhluk gaib, harusnya sudah tidak bisa tetapi semenjak hamil mulai bisa melihat hal gaib lagi dan saat ini sosok di ujung kamar menatap tajam ke arah Rania.
“Ya Tuhan, apa itu? Sudah lama aku hidup tenang, kenapa sekarang sering lihat hantu lagi. Aku harus bagaimana?” gumam Rania yang terkejut dan ketakutan.
“Berikan anakmu untukku. Aku akan berikan kekayaan untukmu.” Makhluk berwujud nenek tua dengan pakaian serba hitam itu menyeringai menatap Rania. Tangan keriput dan kuku hitam panjang itu mulai bergerak hendak menuju ke arah Rania seiring tubuh makhluk itu melayang mendekat.
“Pergi kamu makhluk gaib, dalam nama Tuhan Yesus!” seru Rania dengan yakin mengusir makhluk yang tiba-tiba menghilang.
Rania merasa lega meski tubuhnya masih gemetar dan napasnya tersengal-sengal karena ketakutan. Perempuan yang mengenakan daster biru muda itu pun langsung memeluk kembali bayinya dan tidak jadi meninggalkan bayi itu sendirian di dalam kamar. Heran saja kenapa makhluk gaib berdatangan mengganggu dan ingin meminta Aira sejak dalam kandungan. Apakah ada sesuatu dengan Aira yang menarik perhatian mereka?
Bima marah ketika tahu makhluk gaib yang berada di bawah kekuatan Bima mulai berdatangan untuk mengganggu Rania dan Aira. Bima segera mengeluarkan kekuatan untuk menandai rumah itu dan memberikan pembatas gaib agar makhluk gaib dari luar tidak bisa masuk dan yang ada di dalam tidak bisa keluar. Bima sengaja melakukan ini agar Rania dan Aira aman. Bima juga mengajak penghuni di dalam rumah itu untuk melakukan kesepakatan.
“Kalian aku izinkan untuk tetap berada di rumah ini asal tidak mengganggu Rania dan Aira, jika kalian ingkar, maka aku akan memusnahkan kalian!”
“Baik, Tuan.”
Semua makhluk gaib yang berada di sana terpaksa menuruti perkataan Bima karena kekuatannya jauh di bawah Bima. Mereka takut kalau Bima nekat dan benar-benar marah jika mereka mengganggu Rania, konsekuensi berat jika dimusnahkan. Padahal selama ini makhluk gaib yang asli penghuni rumah milik kedua orang tua Rania itu mengumpulkan kekuatan sedikit demi sedikit untuk bisa menampakkan diri.
...****************...
...BONUS Visual Bima & Rania...
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Kucing Putih
cantik kak visual nya
2022-12-01
1
Fitri wardhana
jadi bner dugaanku toh ka ren's itu bima yg sama ningsih dulu😁
2022-11-13
1