Rasa Sakit dan Kecewa

Keesokan harinya, Rania terbangun saat beberapa perempuan yang menjadi tetangganya saat ini membangunkan dirinya yang masih terbaring di lantai dengan wajah pucat. “Mbak, bangun, Mbak ....”

"Mbak, ada apa? Kenapa berbaring di lantai dan pintu tidak dikunci?"

"Mbak, bangun, Mbak."

Rania membuka mata perlahan menanggapi panggilan itu. Ternyata sudah ada beberapa tetangganya berada di kontrakan itu karena khawatir saat melihat tubuh Rania terletak di ruangan depan yang terlihat jelas dari jendela rumah yang belum ditutup dan juga dalam kondisi pintu rumah tidak terkunci. Para tetangga sempat mengira kalau Rania mengalami perampokan, tetapi setelah Rania sadar dan mau minum air hangat dan menceritakan semuanya para tetangga pun terdiam dan saling pandang.

Ternyata soal gaib itu sudah bukan perihal yang tersembunyi di sana. Memang kawasan tempat tinggal kontrakan Rania itu termasuk horor dan sering terjadi kesurupan atau penampakan. Para tetangga pun meminta Rania untuk tinggal dengan orang lain karena sudah hamil tua seperti itu tidak baik kalau tinggal sendirian.

Setelah kondisi Rania sudah stabil dan membaik para tetangga pun pergi dari rumah kontrakan itu. Mereka juga membawakan buah dan juga makanan untuk Rania yang baru saja pingsan semalaman. Kali ini kejadian mengerikan itu membuat Rania berpikir kembali untuk tetap tinggal di situ sendirian.

Rania akhirnya memberanikan diri untuk menelepon mamanya. Meski kakak dan adiknya melarang dengan keras Rania untuk pulang, tetap saja kali ini sangat menakutkan. Rania takut kalau tetap berada di situ apa lagi sendirian kandungannya akan mengalami permasalahan karena sejak awal makhluk itu mengincar bayi dalam perut Rania.

Sepertinya feeling ibu menang tepat. Sebelum Rania menelepon, justru mamanya yang terlebih dahulu menelepon Rania karena khawatir. Rania pun menceritakan semua kejadian beruntun yang terjadi di kontrakan itu.

Rania selesai menceritakan, “Begitu ceritanya, Ma. Rania takut ... Takut banget.”

Mama menjadi khawatir dan menjawab, “Rania, kalau begitu kamu pulang saja. Biar kalau Kakak dan Adikmu marah, biar Mama yang urus nanti. Maafin Mama. Mama tidak tahu kalau kamu mengalami masa sulit seperti itu.”

Mama Rania merasa sangat bersalah karena dahulu saat Rania mengetahui kehamilannya dan mengatakan ke mamanya justru diminta untuk menggugurkan. Sama seperti yang Gavin pinta. Namun Rania menolak dengan keras. Berusaha yang terbaik demi bayi yang dikandung agar bisa memperbaiki hidupnya. Manusia memang bisa melakukan banyak kesalahan tetapi untuk mengakui dan bertobat adalah pilihan masing-masing manusia itu sendiri. Ada yang lebih senang berkubang dalam dosa dan kesalahan yang sama atau justru menambah kesalahan yang lainnya, tetapi ada juga yang memilih untuk lepas dari ikatan dosa itu dan mencoba menjalani kehidupan dengan berserah kepada Sang Pencipta.

Inilah awal dari kisah panjang Rania yang akan bertemu dengan kekasih iblis yang justru mengubah cara pandangnya menatap dunia. Manusia yang tidak selalu baik dan iblis yang tidak selalu jahat.

...****************...

Rumah yang tak nyaman bagi penghuninya adalah gambaran keluarga Rania yang berantakan. Kakak Rania yang selalu jahat dan tidak pernah berbelas kasih sama sekali dan adik Rania yang masih belum paham dengan apa yang menimpa Rania saat ini justru mengabaikan begitu saja. Rania merasa hidupnya menjadi tidak berguna dan hanya menyusahkan saja. Namun tidak ada pilihan lain untuk saat ini daripada di kontrakan terus menerus mengalami gangguan. Rania menurut kepada ibunya untuk pulang ke rumah.

“Udah tahu di rumah susah! Masih saja balik rumah nambah susah! Emang nggak tahu malu!” sindir Endah yang merupakan kakak dari Rania saat perempuan yang mengandung tujuh bulan itu menginjakkan kakinya kembali ke rumah naik ojek motor online.

Rania hanya membawa pakaian seperlunya saja karena barang-barang banyak di kontrakan tak mungkin diangkut saat ini. Rania hanya bisa bersabar dan tidak menjawab perkataan kakaknya sama sekali. Rania hanya ingin hidup tenang dan damai menjelang persalinan.

“Nah, udah tidur sini sama Mama nggak apa. Nggak usah mikir aneh-aneh dan nggak usah denger kata Endah. Terpenting di sini ikut Mama. Ini rumah Papa Mama.” Ibunya Rania mencoba membesarkan hati putrinya yang sedang kesulitan. Padahal dahulu saat bekerja, Rania yang membantu perekonomian keluarga. Namun sekarang justru mendapat perlakuan buruk dari kakaknya. Rania hanya bisa berharap adiknya tidak akan marah karena kejadian ini.

“Iya, Ma. Nggak apa, kok. Terima kasih sudah boleh pulang dan tidur di sini.”

Rania menerima nasib pahit yang saat ini dijalani. Mulai hari itu, Rania membantu ibunya berjualan masakan keliling kampung dan sekitar. Meski sedang mengandung tujuh bulan, Rania tidak menyerah begitu saja dan melanjutkan kehidupan karena Gavin sudah jarang menghubungi.

Seminggu setelah tinggal di rumah ibunya, Rania mencoba menghubungi Gavin. Hal pahit kembali di terima karena orang yang mengangkat telepon justru bukan Gavin, melainkan Pramayu Larasati si penyanyi dangdut yang licik dan jahat. Pramayu sedang mabuk cinta dengan Gavin sehingga lupa daratan. Telepon dari Rania pun diterima untuk membuat panas semata.

“Hallo, Pii? Kenapa baru diangkat teleponnya?” Rania bertanya dari ponsel yang dipegang, tetapi mendapatkan kekecewaan karena suara menjijikkan yang didengar telinga.

“Ah ... ah ... uggh ... enak, Sayang ... lagi ... lagi ... uuh ....” Suara dari mulut Pramayu merobek perasaan dan harapan Rania. Secercah harapan karena telepon diangkat berubah menjadi awan hitam dan guntur menggelegar di siang hari.

“Iya, Sayang. Dicepetin lagi, ya?” Suara dari Gavin terdengar jelas di telepon dan aktivitas berlendir itu masih mereka lakukan.

Sepersekian detik Rania termangu tak percaya, lalu saat sadar langsung mengakhiri panggilan di ponsel itu. Rania merasa tak berdaya dan lemas. Pramayu tidak main-main soal merebut Gavin. Pramayu pernah mengirimkan pesan di sosial media Rania dengan memperlihatkan foto syur saat bersama Gavin tanpa sehelai benang pun. Rania masih mencoba bersabar, tetapi kali ini saat mendengar mereka bercinta di tengah hari entah menyewa losmen atau hotel dan justru memperdengarkan pada Rania maka rasa maaf itu sudah tidak ada lagi.

“Mampus lu, Rania! Suruh siapa ganggu orang lagi indehoi aja!” batin Pramayu dengan jahat saat ini masih bisa tertawa puas.

“Nak, sabar, ya? Mamii akan berjuang yang terbaik untukmu. Mulai sekarang lebih baik kita jalani sendiri tanpa lelaki itu. Dia memang membuang kita,” bisik Rania sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.

Saat itu, tidak ada pilihan lain untuk Rania kecuali bersabar dan banyak berdoa. Memang hal buruk pernah dilakukan oleh perempuan itu tetapi dengan bertobat dan mencoba menjalani kehidupan dengan ketetapan Sang Pencipta, banyak hal yang menjadi penghalang. Rania tidak akan menyerah begitu saja demi bayi di dalam kandungannya.

Terpopuler

Comments

Pena dua jempol

Pena dua jempol

benarkan 😭 sometime manusia itu lebih menyeramkan dari pada iblis 😭😭

2024-10-21

0

Ika Afriani

Ika Afriani

sekian lama menunggu kak rens,,akhirnyaaaa

2022-12-25

2

Kucing Putih

Kucing Putih

tetap semangt ya akka

2022-12-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!