Pekerjaan Lancar

Rania saat ini berprofesi sebagai wirausaha serba online dan juga menulis online. Beberapa hari lagi, dia akan merasakan gajian pertama dari jerih payahnya menulis. Tentu saja Rania merasa senang dan juga jantungnya berdebar-debar menanti gajian pertama dari menulis sesuai dengan apa yang dikatakan Bima.

"Rania, gajian pertama kamu mau beli apa?" Bima bertanya saat malam tiba dan semua orang di rumah sudah terlelap.

"Aku mau ajak Mamaku ke toko beli sepatu yang nyaman. Terus, aku mau beli pakaian baru yang layak buat Aira. Sekalian traktir sekeluarga makan-makan."

"Kamu tidak beli sesuatu?"

"Oh, aku mau beli sepatu juga, deh. Terima kasih, Tuhan. Sudah kirimkan Bima."

"Kamu kepada Tuhanmu atas aku yang merupakan makhluk gaib? Kamu bercanda?"

"Nggak bercanda, Bima. Selama ini, banyak orang menghinaku. Bahkan saudara menjauhiku. Teman dekat dan teman kerjaan juga berlalu pergi. Aku di gereja ibadah juga dipandang sebelah mata. Cuma Tuhan tempat mengadu. Lalu ... kamu tiba-tiba datang. Lelaki yang aku cintai justru berprilaku keji seperti iblis, tetapi kamu .... aku tidak bisa mengatakan kamu iblis karena apa yang kamu lakukan kepadaku jauh lebih baik daripada cinta pertamaku."

Bima terdiam sejenak mendengar perkataan dari Rania yang benar-benar menyayat hati. Mungkin Gavin yang merupakan cinta pertama dalam hati gadis itu justru melukai dan meninggalkan begitu saja. Namun Bima tidak melakukan itu. Bima yang sudah terlanjur janji pada leluhur Rania pun berusaha membantu. Setidaknya sampai satu hal terwujud. Keinginan hati Rania yang paling dalam.

"Terima kasih kalau menganggap aku adalah baik. Bukankah iblis itu pendusta?"

"Ya, selain kamu. Bima .... apa kamu akan selalu menemani aku membesarkan Aira?" Raina bertanya sambil menatap wujud Bima yang menggunakan wujud manusia.

"Aku akan menemani kamu dan Aira selalu, tetapi ada waktunya nanti kamu tidak bisa melihatku dan mendengar suaraku lagi. Namun kamu harus yakin, aku akan selalu melindungi kamu dan Aira."

"Kenapa begitu?"

Rania merasa sudah begitu nyaman dengan Bima. Setidaknya ada yang bisa diajak berkeluh kesah setiap hari dan mau membantunya. Tidak mungkin Rania menceritakan kepada ibunya yang sudah makin tua, apalagi ke saudaranya.

"Karena ada keinginan di dalam hatimu yang akan terwujud. Setelah itu, aku tidak bisa menampakkan wujud langsung kepadamu. Aku juga tidak bisa berbicara seperti ini."

"Ah, kalau begitu, lebih baik jangan terwujud."

"Semua sudah takdir. Kamu harus kuat dan sabar, ya."

Percakapan malam itu membuat Rania berpikir banyak hal. Namun Rania memilih tidur setelah selesai menulis semua cerita yang Bima sampaikan hari itu. Rania mulai fokus berjualan online dan juga menulis online demi mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Selama Aira lahir hingga saat ini, pendapat Rania tidak lebih dari empat ratus ribu rupiah per bulan. Jelas sangat minim untuk pengeluaran kebutuhan bayi dan juga membantu ibunya untuk makan sehari-hari. Bahkan dia masih mendapatkan hinaan. Namun, sekarang semua perlahan menjadi berbeda.

Rania sebenarnya masih memikirkan Gavin. Dia tidak tahu kalau Gavin sudah melangsungkan perkawinan siri dengan Pramayu demi bisa menutupi kebusukan mereka. Bahkan Pramayu mengandung bayi perempuan juga. Seperti kutukan bagi Gavin yang dahulu menyiksa Rania hanya dengan alasan bayinya bukan laki-laki. Sekarang, Gavin akan mendapatkan anak perempuan lagi. Ya, LAGI!!!

...****************...

Bima membantu dengan cara tak terlihat mata. Pekerjaan yang dilakukan oleh Rania mulai membuahkan hasil. Semua yang Rania lakukan diberi kelancaran.

"Ma, Mama ... Yes! Aku gajian!" Rania senang karena hari itu pertama kali mendapatkan gaji dari menulis online.

"Iya kah? Puji syukur, ya Tuhan."

"Mama mau apa? Ayo ke toko beli sepatu yang nyaman buat Mama."

"Nggak usah. Uangnya disimpan aja."

"Nggak apa, Ma. Ayo. Aku gendong Aira, ya. Kita naik angkot aja."

"Ya udah, ayo."

Gajian pertama dari menulis online membuat Rania begitu bahagia. Dia perlahan bisa melupakan segala kesedihan yang Gavin buat, meski tidak sepenuhnya lupa. Rania hanya bisa mencoba melanjutkan hidupnya, meski dalam sela sela kesendirian merasa luka hati itu terasa lagi. Rania kadang menangis di dalam senyuman.

"Mama mau apa? Ayo beli, Ma. Milih aja."

"Mama bingung. Ini hargae mahal, je. Seratus ribu lebih," ucap mamanya Rania sambil berbisik.

"Nggak apa-apa, Ma. Aku udah dapat uang gajian. Tadi aku ambil, kan, di ATM. Ayo, Ma. Beli apa mau warna apa?" Rania terlihat begitu antusias memilihkan sepatu untuk mamanya.

Namun terlihat jelas pandangan menghina dari para karyawan toko. Seolah-olah mereka menganggap kalau Rania dan mamanya tidak mampu membeli di sana. Rania tidak memikirkan hal itu, terpenting hadiah spesial gajian pertama agar mamanya senang.

Hari yang membahagiakan karena Rania bisa membeli sepatu untuk mamanya dan juga dirinya sendiri. Lalu pakaian baru untuk Aira. Besok Rania akan mengajak keluarga kakaknya makan bersama di restoran. Akhirnya rasa lelah Rania terbayar sudah. Meski pernah dihina dan dicaci, saat ini pekerjaan Rania lancar dan menghasilkan pundi-pundi uang yang nyata.

...****************...

"Pa, jangan pergi terus napa?" Pramayu protes karena Gavin masih saja sibuk tak jelas.

"Lah, nanti mau ke rumah. Kalau di sini terus ya, gimana. Ntar aku kena omel orang tua juga." Gavin pintar berkilah karena bosan juga menjadi pesuruh dari Pramayu.

"Kapan mau ngomong kalau udah nikahi aku? Kandunganku makin gede, Pa."

"Iya, iya, sabar dulu. Aku masih ada utang sama adik, jadi gimana lagi."

"Aku juga bantu bayar, kan? Jangan gini, lah. Emangnya mau sembunyikan aku sampai kapan? Pengeluaran ini itu juga pakai uangku."

"Loh, jadi ngungkit gitu?! Nggak ikhlas?! Ya udah, gue cari kerjaan aja, lah. Males gue debat mulut!"

Gavin langsung melenggang pergi meninggalkan Pramayu yang saat ini tengah berbadan dua. Ketika kehidupan Rania mulai mendapatkan secerca harapan dan pekerjaannya berjalan, saat itulah penderitaan dari biduan dangdut itu dimulai. Dahulu banyak hal buruk yang Pramayu lakukan. Sekarang karma mulai bergulir kepada Pramayu dan Gavin. Bukan hanya soal teror gaib, tetapi juga soal cinta dan pendapatan. Semuanya dalam ujian.

"Pa! Jangan gitu, dong!" Pramayu memanggil Gavin, tetapi lelaki itu tetap pergi.

"Males banget dengerin perempuan yang biasanya cuma ngoceh dan juga nyuruh ini itu tanpa mikir kalau gue juga bingung dan dalam kondisi pusing ngadepin keluarga yang setiap hari juga ngomel ini dan itu gara-gara gue keluar dari kantor. Dikira semua mudah untuk dijalani saat ini?! Berasa gue kena apes sejak ninggalin Rania. Anjiiir emang!" gerutu Gavin sambil mengegas motornya pergi dari tempat usaha Pramayu dan tak tahu mau ke mana.

Ada sedikit rasa bersalah terbesit dalam dirinya. Gavin pun berpikir untuk menghubungi Rania meski sudah sangat terlambat. Adakah kesempatan untuk kembali? Padahal semua semakin sulit bagi Gavin.

Terpopuler

Comments

Kucing Putih

Kucing Putih

blom ckup kaya nya kak hukuman nya Gavin masih kurang kurang kejam 😁😁😁

2022-12-28

1

Elmaz

Elmaz

jgn trima rayuan gavin lagi rania ...bima bersiap lah jd yg terdepan menghadapi gavin

2022-12-27

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!