Harus Operasi?!

Gavin sedang terlena dengan cinta sesaat oleh Pramayu. Gavin yang sudah sejak lama menjadi pemain cinta dengan mudah menelantarkan Rania begitu saja. Semua janji indah dan juga apa yang dikatakan oleh Gavin sama sekali tidak dipenuhi. Rania benar-benar tertipu oleh rayuan maut dan juga janji manis Gavin. Lelaki itu sudah menelantarkan kedua anaknya dan istri, lantas sekarang menelantarkan seorang Rania akan menjadi tugas yang sangat mudah bagi seorang lelaki kejam yang hanya memikirkan kebutuhan biologis saja.

Hari demi hari berlalu, kondisi Rania masih dalam perjuangan yang tertatih-tatih. Tak hanya soal keuangan, pun juga soal hal gaib. Kehamilan Rania membuat makhluk gaib di sekitar rumahnya bermunculan untuk mengganggu. Waktu itu tengah malam, ibunya Rania sudah tertidur lelap tetapi Rania terbangun tiba-tiba karena mendengarkan suara tangisan seorang perempuan yang lirih terdengar.

“Huu huu huu huu ....”

Suara tangisan itu semakin terdengar jelas seakan-akan bergerak menjauh mendekat dan mendekat lalu menjauh. Rania merasa bingung dan heran kenapa ada tangisan tengah malam seperti itu. Saat mencoba berdoa, suara tangisan itu justru berubah menjadi suara tertawa yang sangat menakutkan. Rania terkejut dan menyadari kalau suara yang dia dengar bukan dari manusia atau orang iseng, sepertinya hal itu dari makhluk gaib yang suka mengganggu perempuan yang sedang hamil.

Rania sangat ketakutan dan langsung berdoa di dalam hati sambil memegang perutnya. Rania merasa heran kenapa makhluk gaib itu masih saja mengikuti hingga di rumah kedua orang tuanya. Apakah itu makhluk yang sama dengan saat Rania melihat dikontrakkan tempo lalu atau justru makhluk yang berbeda? Rania hanya bisa bertanya-tanya didalam hati karena sangat ketakutan dengan hal tersebut.

Keesokan harinya, Rania menceritakan kejadian semalam kepada ibunya. “Gitu ceritanya, Ma. Itu hantu, ya?”

Ibunya Rania menatap putrinya dengan iba dan tidak mungkin menceritakan kalau itu adalah kuntilanak yang suka mengganggu perempuan hamil. “Bukan, Rania. Itu orang kampung sebelah yang suka mabuk. Mungkin lagi mabuk dan mau pulang ke rumahnya. Kebetulan lewat sini. Sudah, nggak usah dipikirkan lagi. Kalau ada apa-apa langsung bangunin Mama. Jangan sendirian kalau malam-malam dengar sesuatu.”

Rania menganggukkan kepala tanda paham apa yang dikatakan oleh ibunya. Rania tidak menanyakan hal itu lagi karena merasa kalau apa yang dikatakan oleh ibunya itu adalah hal yang benar. Padahal ibunya mencoba menutupi agar Rania tidak takut.

Dari kejauhan, sosok makhluk gaib yang memiliki kekuatan tinggi sedang mengamati kehidupan Rania. Bukan hanya saat ini tetapi sejak Rania kecil sudah sering diikuti oleh makhluk itu. Iblis yang sebenarnya menjadi salah satu pengikut dari leluhur Rania justru sekarang turun karena ingin membantu perempuan yang sedang mengalami kesulitan bertubi-tubi itu.

“Rania, tunggu saatnya aku bisa mengajak bicara kepadamu secara langsung. Aku tidak mungkin membiarkan kesusahan ini terus berlanjut dalam kehidupanmu. Aku sudah berjanji kepada leluhurmu untuk menjaga semua keturunannya apalagi kamu yang memiliki kemampuan istimewa.”

Iblis itu pun menghilang setelah memastikan tidak akan ada yang mengganggu Rania lagi. Ya, iblis itu sudah memberikan pagar gaib di rumah Rania agar tidak diganggu oleh makhluk gaib lainnya. Apakah ada iblis yang memedulikan manusia? Bukankah tugas iblis itu menyesatkan manusia?

***

Rania menjalani hari-hari dengan kehidupan yang penuh perjuangan melawan kesedihan, kesulitan dalam mencari uang, dan juga rasa malu karena tidak memiliki suami. Semakin hari, Gavin semakin menjauh dan akhirnya tidak menghubungi atau membalas pesan bahkan telepon dari Rania. Dikhianati, dibohongi, dan ditinggalkan oleh orang yang dicintai membuat Rania sakit hati dan terluka dalam. Namun kehidupan harus berlanjut karena bayi dalam kandungan juga bertumbuh dan sebentar lagi akan lahir. Rania bingung memikirkan dari mana uang untuk biaya persalinan.

“Tuhan, ke mana lagi aku harus mencari rezeki. Kandunganku juga sering bermasalah karena pernah merembes air ketuban. Semoga aku bisa melahirkan dengan lancar di bidan dan bayiku sehat. Amin.”

Rania tidak pernah lupa berdoa, tetapi kehidupan yang sulit itu semakin mengimpit jiwanya. Memikirkan Gavin yang pergi begitu saja sudah membuat Rania tersiksa, apalagi memikirkan kebutuhan untuk persalinan dan sebagainya. Hidup di rumah bersama keluarga tidak semudah yang dibayangkan orang lain karena Rania tetap merasakan sendiri menjalani pahitnya hidup.

“Duh, aduh ... Ini kenapa, ya? Ma ... Mama ... Duh, perutku sakit.”

Sore itu Rania mengalami kontraksi palsu. Ibunya segera membawa Rania ke bidan terdekat karena tidak mungkin ke rumah sakit dengan biaya mahal. Rania sering merasa sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya.

“Maaf, Bu, suaminya mana, ya?” tanya bidan pada Rania.

“Kerja di luar kota, Bu Bidan. Ini kandunganku kenapa, ya?” Rania menutupi kepergian Gavin yang tak bertanggung jawab dengan menyatakan kalau Gavin di luar kota bekerja.

“Ini bayinya sungsang, Bu. Harus USG agar tahu kondisinya bagaimana karena denyut jantungnya lemah. Kalau sudah USG bisa tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.”

Rania langsung lemas karena harapan semua baik-baik saja ternyata tidak terwujud. Rania pun diantar ibunya ke klinik yang memiliki kelengkapan USG, tidak seperti di tempat bidan desa itu. Rania menggunakan uang hasil berjualan keliling yang tidak seberapa itu untuk periksa USG.

“Bu, ini kondisi bayi Ibu sungsang dan terlilit tali pusat. Bayi Ibu di dalam kandungan juga kesulitan bergerak karena air ketuban sering merembes. Saya sarankan untuk segera operasi Secar demi keselamatan Ibu dan bayi di kandungan,” ungkap dokter setelah memeriksa dengan USG.

“Apa?! Operasi, Dok?! Berapa biayanya?” Rania terkejut dan merasa tak berdaya. Uang dari mana lagi untuk biaya operasi?

“Biayanya sekitar delapan juta rupiah untuk semua perawatan selama empat hari, tetapi alangkah baiknya siapkan sepuluh juta rupiah untuk berjaga-jaga keperluan lain-lain yang tidak terkover di kelas tiga.”

Perkataan dari dokter membuat Rania lemas. Sepuluh juta rupiah bukan uang yang sedikit bagi kondisi Rania saat ini. Bahkan untuk makan sehari-hari pun kesulitan. Rania bingung harus berbuat apa.

“Apakah bisa ditunda, Dokter?”

“Semakin cepat semakin baik karena ini berkaitan dengan kondisi Ibu dan bayi. Saya sarankan besok segera operasi karena kalau terlambat, tidak bisa diselamatkan.”

“Baik, Dokter.”

“Besok datang ke sini pukul delapan untuk operasi jika setuju akan saya daftarkan langsung.”

“Baik, Dokter.”

Rania hanya mengiyakan saja yang dikatakan dokter demi keselamatan bayinya. Padahal perempuan yang mengenakan daster batik itu tak tahu mencari uang sepuluh juta rupiah dari mana untuk biaya persalinan. Namun kalau menunda, Rania takut terjadi hal buruk pada bayinya. Dalam perjalanan pulang, ibunya Rania juga bersedih dan bingung untuk mencari uang biaya persalinan.

Terpopuler

Comments

Pena dua jempol

Pena dua jempol

tenang Rania. setelah badai akan ada pelangi meskipun samar terlihat.

2024-10-21

0

Ann139

Ann139

akhiiirrrnyaaa ketemu sama bimaaa lagee... bimaaaaa 😂😂😂😂

2023-05-22

0

Kucing Putih

Kucing Putih

kalo di tnya iblis tugas nya sesat kan manusia itu semua tergantung manusia nya kan ya kak

2022-12-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!