Perjuangan Operasi dengan Sakit Hati

Saat sudah panas, Pramayu langsung mengarahkan tubuhnya bagian bawah pada milik Gavin yang ternyata masih letoy. Wajah kecewa tersirat jelas pada Pramayu. Hal itu menjadi masalah besar bagi mereka berdua. “Iih, kenapa nggak on, sih, anunya?!” tegur Pramayu yang merasa kesal.

“Hah? Udah on dari tadi, Sayang.” Gavin merasa sudah tegang sejak tadi, tetapi saat melihat miliknya ternyata masih lemas tak berdaya. Gavin langsung bingung dan mencoba memegang miliknya.

“Beneran, kan?! Ah, nyebelin banget!” Pramayu baru kali ini merasa sudah ingin, tetapi tidak mendapatkan yang diinginkan.

“Duh, gue juga nggak tahu kenapa ini nggak mau on. Padahal udah dari tadi pingin. Jangan ngambek, Sayang.”

Gavin tidak terpikirkan sama sekali kalau saat ini mendapatkan hukuman atas apa yang dilakukan pada Rania. Gavin ribut dengan Pramayu malam itu dan Pramayu langsung mengenakan pakaian untuk segera pergi dari kamar hotel itu. Gavin kesal dan marah serta memaki di dalam ruangan. Baru kali ini Gavin gagal bercinta dan ditinggalkan perempuan begitu saja karena tidak jadi ikeh-ikeh kemochi.

***

Di sisi lain, Rania masih menangis dan berdoa demi keselamatan bayinya saat operasi Secar besok pagi. Takut sebenarnya rasa yang menyelubungi hati Rania karena akan menjalani operasi. Entah seperti apa operasi Secar tersebut, Rani terus menerus berdoa demi kelancaran persalinan. Andai memiliki suami penyayang, mungkin rasa takut tidak akan menguasai benak Rania. Sayangnya satu-satunya lelaki yang Rania cintai justru mengabaikan begitu saja.

Malam makin larut dan Rania harus segera tidur karena pukul enam harus berangkat ke tempat bidan untuk diantar ke rumah sakit bersalin. Rania juga mulai puasa sesuai dengan petunjuk dari dokter. Rania memejamkan mata pukul satu dini hari setelah selesai berdoa meminta kekuatan pada Tuhan untuk menjalani operasi besok.

Pagi hari pun tiba, hanya ibunya Rania yang menemani dan mengantarkan Rania untuk berangkat operasi Secar. Rasa nyeri masih terasa jelas, Rania harus menahan rasa nyeri tersebut untuk segera sampai di rumah sakit bersalin. Herannya kakak dan adik Rania sama sekali tidak peduli terhadap keadaan Rania. Rania tahu kalau langkah yang diambil dengan mengikuti perkataan Gavin adalah sebuah permasalahan yang pastinya tidak akan diterima oleh keluarganya. Namun, pantaskah keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, justru bertindak seolah tidak kenal dan tidak peduli. Mungkin ibunya Rania juga terpaksa karena iba dengan nasib perempuan yang selama ini membantu keuangan keluarga.

“Silakan masuk ke ruangan persiapan setelah mengisi data di bagian administrasi,” kata bidan mengarahkan saat sudah sampai di dalam rumah sakit bersalin.

“Rania, Mama cuma punya uang dua ratus ribu. Bagaimana untuk pendaftarannya?” Heran sekali ibunya Rania baru membahas sekarang di rumah sakit, lantas bagaimana jika Rania juga tidak memiliki uang? Untung saja Rania mendapatkan uang yang tiba-tiba muncul di rekening. Ya, ini semua berkat bantuan Bima.

“Tak apa, Ma. Rania ada kalau untuk pendaftaran. Sambil menunggu motor Rania dioper kredit biar bisa untuk membayar biaya operasi.”

Petugas pendaftaran pun mulai mendata dan saat menanyakan nama pasangan membuat Rania bersedih terpaksa untuk menyebutkan nama lelaki berengsek itu. “Nama suami?”

“Apakah harus?”

“Iya, Nyonya sebagai data.”

“Gavin Setiawan, tapi dia tidak di sini.”

“Baik, Nyonya. Apakah mau pasang KB spiral atau KB lainnya?”

“Tidak, Mbak. Suamiku kerja jauh dan tidak pernah ke sini.”

Rania menahan rasa malu untuk mencari alasan. Padahal Gavin meninggalkan Rania begitu saja. Saat persiapan di ruangan persiapan operasi, Rania mencoba menghubungi Gavin. Mungkin akan diangkat karena ini jam kantor. Ternyata benar, Gavin mengangkat telepon Rania.

“Hallo, Pii??” Rania senang akhirnya Gavin mengangkat panggilan dari Rania di saat genting.

“Hmm ... Jangan ganggu dulu, gue lagi kerja.”

“Pii, aku disuruh operasi sesar sama dokter karena bayi kita terlilit tali pusat dan juga sungsang. Pii, aku takut.”

“Hah?! Operasi?! Kenapa mau? Duit dari mana, ntar! Nyusahin aja!”

“Katanya ini untuk keselamatan bayi kita dan aku, Pii. Aku takut, ini sudah di ruangan persiapan.”

“Huh, ya udah nggak apa operasi. Itu enak, kok, nggak sakit sama sekali kalau operasi. Biar anu juga nggak sobek, kan? Pinter juga.”

“Astaga, Pii ... Aku operasi demi keselamatan bayi dan aku. Bukan mauku ini. Pii, bisakah ke sini? Please. Aku takut dan cuma Mama yang nemeni.”

“Halah, manja banget lu, tuh! Udah, gue sibuk!” Panggilan itu pun berakhir sepihak dengan Gavin mengakhiri telepon itu.

Gavin yang masih merasa kesal dengan kejadian semalam melampiaskan amarah kepada Rania yang tidak tahu apa-apa. Rania merasa sedih dan sakit hati dengan jawaban yang Gavin katakan saat akan melakukan operasi sesar. Rania menahan air mata yang hampir menetes di pipi karena tidak mau ibunya ikut bersedih atau memikirkan hal itu. Ibunya Rania masuk ke ruangan persiapan selalu membawakan ponsel dan juga tas milik Rania tanpa mengetahui baru saja Gavin menggores luka kembali di hati Rania.

“Rania, sabar, ya. Itu kata administrasi yang bayar bisa sambil perawatan. Nanti di sini lima hari.” Ibunya Rania terlihat sangat sedih melihat nasib putrinya yang akhirnya harus menjalani kehidupan dengan berat hanya karena salah memilih cinta dan pasangan.

“Iya, Ma. Terima kasih doanya. Maaf kalau Rania menyusahkan.”

Operasi pun dimulai saat perawat membawa ke tempat tidur beroda itu masuk ke dalam ruangan operasi dan memindahkan tubuh Rania ke meja operasi yang sangat dingin. Rania sudah siap untuk dioperasi meski masih ketakutan. Salah satu dokter pun menyuntikkan obat bius di punggung bawah Rania, apesnya dua kali suntikan meleset dan membuat Rania kesakitan. Kemudian setelah suntikan yang ketiga kali baru benar-benar obat itu masuk ke dalam tubuh Rania. Rania merasa kesakitan atas reaksi obat bius tersebut.

Tubuh Rania kembali berbaring di meja operasi yang dingin sambil menunggu operasi dimulai. Lama kelamaan tubuh Rania bagian punggung ke bawah merasa mati rasa. Saat itu, Rania merasa sangat ketakutan dan berdoa di dalam hati demi keselamatan bayinya. Ternyata di ruangan operasi itu, Bima hadir menemani. Bima merasa kasihan dengan nasib Rania yang seharusnya dalam persalinan pertama seperti ini didampingi oleh suami. Rania bersedih karena tidak ada satu pun janji yang Gavin ucapkan terpenuhi melainkan hanya janji palsu yang tidak ditepati sama sekali.

“Rania, sabar, semangat. Aku akan bisa menolongmu setelah bayi berusia tiga bulan. Pulihkan kondisi tubuhmu terlebih dahulu dan aku akan bisa menampakkan wujud di hadapanmu.”

Bima jadi ingat dengan Ningsih, cintanya di masa lalu. Perjuangan bersama Ningsih pun tidak mudah dan sudah tergerus zaman karena Ningsih bertobat dan meninggal dalam keadaan damai dan normal. Bima tahu kalau sekarang sudah zaman modern dan tidak banyak manusia mempercayai hal gaib terjadi. Apalagi soal makhluk gaib yang memiliki perasaan kepada manusia, itu pasti dianggap hanya rekayasa dan sebuah khayalan saja. Padahal saat ini Bima bukan hanya jatuh cinta kepada Rania melainkan mulai memiliki perasaan lebih dan ingin melindungi perempuan itu bersama bayinya yang akan lahir.

Terpopuler

Comments

Anisha Andriyana Bahri

Anisha Andriyana Bahri

kok aq kyk g rela ya klo bima sama rania. ktanya cinta bima sm ningsih tk terbatas ruang dn waktu. tp knp skrg bima mlh jtuh cnta sm rania. huhuhuu

2023-01-04

1

Elmaz

Elmaz

kangen bima....😍😍😍

2022-11-09

3

Indri Nur Nanda

Indri Nur Nanda

apa gak ada lanjutan dr jerat iblis nasib anak2 ningsih dgn bima

2022-11-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!