Antara ingin marah atau justru resah, Rania tidak tahu pasti perasaan yang saat ini dia hadapi. Rania merasa ragu-ragu antara mau membalas pesan singkat yang dikirim oleh seseorang tak dikenal atau justru memblokir serta mengabaikan. Tentu saja dari kalimat yang dikirimkan dengan pesan itu pasti Gavin yang mengirim pesan. Rania jadi bingung dengan diri sendiri.
"Kenapa Rania?" tanya ibunya Rania melihat kalau ada yang berbeda dari raut wajah putrinya.
"Nggak apa, Bu. Oh iya, aku mau tidur dulu mumpung Aira tidur. Nanti malam mau lanjut kerjaan online."
"Ya, jaga kesehatan."
Rania menutupi semua kesedihan di hadapan ibunya hanya demi terlihat tegar. Rania tahu kalau perubahan raut wajahnya saat memikirkan hal itu pasti terlihat dengan jelas. Namun lagi-lagi dia tidak mau membuat orang lain khawatir apalagi sampai ibunya tahu kalau Gavin kirim pesan.
Rania menatap Aira yang terlelap. Wajah Aira memang lebih mirip Gavin. Hal itu yang membuat Rania merasa sulit melupakan Gavin. Namun, memang buka hati Masih ada di dalam benak dan memang tidak mudah untuk dilupakan begitu saja. Banyak hal yang dijalani oleh Rania dengan Gavin merupakan hal pertama kali bagi Rania.
"Apa yang menjadi pertama bagimu dan semua kenangan manis yang pernah terjadi di dalam benakmu, lebih baik lupakan saja. Semua itu merupakan tipu daya dan dilakukan sama kepada semua perempuan yang dijumpai oleh Gavin. Rania, kamu harus fokus terhadap masa depan dan jangan sampai terjebak lagi dalam permasalahan yang sama. Lelaki itu tidak benar-benar memikirkan kamu."
Bima mengatakan itu karena tahu niat Gavin yang tidak serius dan hanya karena memiliki banyak permasalahan di sana dan mengingat tentang Rania yang memang sudah susah hidupnya dan bisa diajak curhat untuk membicarakan banyak kesusahan di kehidupan Gavin. Jelas hal itu membuat Bima semakin kesal terhadap lelaki tidak berguna itu yang sudah menikah siri dengan Pramayu tetapi masih saja mengganggu Rania dengan mengirimkan pesan melalui nomor ponsel sekali buang. Bukan hanya itu, Gavin stalking media sosial milik Rania karena tahu tidak mudah bagi Rania untuk move on.
"Bima, aku tahu kalau dia tidak serius dan hanya sekedar menanyakan kabarku. Mungkin jika aku membalas dia akan benar-benar muncul hanya untuk menemui aku dan tidak mungkin datang ke rumah. Dia hanya butuh seseorang untuk mendoakan keluh kesah tanpa mau mengerti apa yang terjadi di dalam kehidupanku dan susah payahnya aku untuk mencoba melupakan dia." Rania sebenarnya merasa begitu sakit hati dan sedih ketika mengatakan hal itu kepada Bima.
Tentu saja Bima tahu apa yang dirasakan Rania tanpa harus mengatakan atau mengungkapkan hal yang terpendam itu. Bima mengetahui betapa luka hati Rania dan begitu tertatih dirinya demi bisa melupakan Gavin.
"Aku tahu semua ini terasa sulit tetapi ketika kamu sudah menjalani dan melampaui segala sesuatu itu maka tidak akan terasa sulit lagi. Rania, aku tahu kamu bisa menahan diri dan melupakan orang yang sudah melukai kamu."
Bima pun menghilang. Dia pergi ke tempat Gavin untuk membuat pelajaran. Jelas saja Bima kesal dengan Gavin yang memiliki akal busuk demi bisa mendekat kembali pada Rania yang mulai bangkit. Bima tahu kalau Gavin hanya ingin curhatan didengar dan mencari kesempatan bisa merasakan hal yang dahulu sering dia nikmati. Padahal trauma di hati Rania belum hilang.
"Awas saja kau sudah membuat Rania menderita tapi masih saja berulah!!" Bima mengepalkan tangannya dan merasa Gavin memang harus dimusnahkan dari muka bumi agar tidak lagi membuat masalah.
Kandungan Pramayu juga sudah semakin membesar. Nikah siri yang dilakukan dengan Gavin tidak membawa keberkahan karena usaha Pramayu semakin turun omsetnya. Ini membuat hubungan Gavin dan Pramayu tidak seromantis dahulu. Mengetahui Gavin belum mencari pekerjaan sama sekali, jelas Pramayu jadi kesal.
Bima sudah sampai di sana saat Gavin sedang menemani Pramayu belanja membeli perlengkapan untuk bayi yang ada di dalam kandungan Pramayu. Gavin membelanjakan Pramayu seperti saat menipu Rania dan mengira semua itu spesial dan hanya untuknya. Bima pun menyenggol tubuh Gavin.
"Duh!" Gavin langsung terdorong dan terjatuh. Dia melihat ke kanan dan kiri, tetapi tidak ada apa-apa di sana.
"Kenapa, sih?" Pramayu malu melihat Gavin yang terjatuh di toko perlengkapan bayi dan menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Memalukan!
"Nggak tahu. Berasa ada yang nyenggol gue."
"Lah, nggak ada siapa-siapa, loh!"
"Beneran berasa ada yang nyenggol!" Gavin juga kesal karena Pramayu tidak percaya apa yang Gavin katakan.
Bima jelas saja tersenyum melihat hal itu, lalu saat Pramayu dan Gavin mau membayar, kartu ATM Gavin dibuat tidak terdeteksi oleh Bima. Itu kartu ATM sebenarnya milik istri Gavin yang dicuri saat pergi dari rumah. Berisi beberapa belas juta rupiah. Sengaja diambil untuk membuat Pramayu senang dan percaya. Bima tahu hal itu dan sengaja mengerjai kembali.
"Maaf, Bu, ini ATMnya tidak bisa," kata pegawai kasir.
"Lah, kok, nggak bisa? Gimana, Pa?" Pramayu merasa kesal.
"Loh, heran aja. Ini pin udah bener juga." Gavin jadi merasa bingung dengan keadaan saat ini.
"Gimana, Pak? Bu? Mau cash?" Pegawai kasir kembali bertanya karena sudah ada antrian lain di belakang.
"Pa, gimana, nih? Cash ada?" Pramayu menatap Gavin yang jelas tidak ada uang cash sebesar enam ratus ribu rupiah.
"Uangnya masih di ATM itu, Ma," ucap Gavin dengan lirih.
"Huh! Sama aja ujung-ujungnya gue yang bayar!" gerutu Pramayu yang benar-benar kesal dengan Gavin. Seperti sedang dipermainkan oleh Gavin yang berpura-pura akan membayar ternyata tidak.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia sedikitpun, Gavin! Dasar lelaki jahat! Aku juga tidak akan membuat Pramayu hidup dengan mudah!! Lihat saja nanti!"
Bima segera meninggalkan Gavin dan Pramayu yang jelas saja ribut. Mereka cekcok karena banyak hal yang dibahas dan tidak sesuai dengan hati. Sepanjang perjalanan dari toko perlengkapan bayi hingga rumah Pramayu, keduanya bertengkar hebat.
"Mobil? Mobil gue. Rumah? Rumah gue. Usaha? Usaha gue. Gue diminta istirahat karena perut makin buncit nggak bisa manggung, nggak bisa nyanyi. Cuma andalin duit dari usaha yang belakangan ini sepi. Terus lu? Katanya mau nyenengin gue. Katanya mau beliin ini itu. Ngibul mulu!"
Pramayu protes dan sungguh membuat Gavin emosi sehingga saat menyetir mobil pun Gavin tega menaampar Pramayu agar diam.
"Diem lu! Diem! Lu mau kalau gue tabrakin ini mobil?? Mau???!"
Gavin yang berkali-kali menahan rasa kesal, kali ini tidak bisa lagi berkata-kata. Dia emosi dan ingin melampiaskan kepada Pramayu yang mulutnya tidak bisa dikontrol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Kucing Putih
semangat semangat 💪💪💪💪💪 akak ❤️❤️❤️
2022-12-28
2