Gavin sudah keluar dari kantornya karena terbukti korupsi dan harus mengganti sejumlah uang yang dinyatakan oleh pihak kantor. Gavin meminta tolong kepada adiknya untuk membantu membayar uang tersebut dengan jaminan akan bekerja di tempat lain dan membayar dengan cicilan. Tentu hal itu membuat keluarga Gavin menjadi marah dan dianggap sebagai pencoreng nama baik keluarga. Padahal permasalahan yang Gavin lakukan bukan hanya soal korupsi tetapi juga menghamili anak orang dengan mencampakkan begitu saja sudah diketahui oleh keluarga besarnya tetapi dianggap bukan sebuah masalah karena berada di kota yang berbeda.
"Kau ini kalau Bapak bilang nggak pernah dengar!! Budeeg, ya!! Malu-maluin keluarga! Sekarang jadi pengangguran di usia empat puluh, mau cari kerja apa kau?!" Ayahnya Gavin marah besar dan memukulnya dengan tongkat.
"Ampun, Pak!" Walau Gavin bertubuh lebih besar dari ayahnya, tetap saja dia merasa takut pada ayahnya.
"Ampun gimana? Kau ini sudah tua nggak bisa jadi panutan malah nyusahin adik-adikmu! Anakmu dua aja nggak becus yang urus, sok sok an nambah anak nyeleweng sana sini, dasar anjiiing!" Ayahnya Gavin kembali mengayunkan tongkat kayu itu hingga membuat tubuh Gavin kesakitan.
Ayahnya Gavin sebenarnya sama saja karena tidak ada tanggung jawab kepada pihak keluarga Rania yang sudah jelas jauh lebih menderita. Hanya karena berbeda kota, pantaskah keluarga besar Gavin menutup mata?
Gavin sudah tidak bisa lagi berkata-kata atau menjawab ucapan dari ayahnya karena memang dirinya bersalah. Meski saat ini dia sering berada di tempat Pramayu dengan alasan mencari pekerjaan atau membantu temannya demi mendapatkan pundi-pundi uang, tetap saja hal itu dianggap kurang oleh keluarganya Gavin yang selama ini selalu menghandle keuangan untuk kedua putrinya.
"Pak, sudahlah. Kasihan Gavin," rengek ibunya Gavin yang selalu saja membela perlakuan buruk putranya yang pertama sehingga selalu menjadi rumah yang teduh untuk berlindung dari segala kejahatan dan juga kesalahan yang sudah diperbuat. Entah kapan perempuan tua itu akan mengerti kalau selama ini sudah menyesatkan putranya jauh lebih dalam ke segala dosa yang selalu dibela.
"Ibu ini juga selalu bela Gavin, Gavin, dan Gavin. Jadi biadaap itu anakmu!!"
Gavin pun berdiri dan berkata, "Ya udah, aku bakal pergi dari rumah ini. Aku bakal cari kerjaan dan nggak balik kalau belum ada kerjaan!"
Bukannya menyelesaikan segala permasalahan yang sudah dia buat tetapi justru Gavin memilih langkah seribu dari rumah yaitu kabur dengan alasan akan mencari pekerjaan terlebih dahulu. Tentu saja itu hanya akal-akalan Gavin semata untuk bisa keluar dari rumah tanpa terus-menerus mendengar amukan dari kedua orang tuanya atau dari adik-adiknya atau dari istrinya. Gavin bersikap terlalu busuk sebagai lelaki pengecut.
Dalam perjalan menuju ke tempat usaha Pramayu, Gavin terpikir kembali soal Rania. Gavin ingin menelepon sekedar mencari tahu kabarnya Rania, tetapi rasanya begitu sulit. Gavin terlalu pengecut.
...****************...
"Bu Ayu, maaf, pemasukan beberapa hari ini semakin menurun dari cabang satu dan cabang lainnya."
"Lah, kok, bisa? Lu gimana, sih?" Pramayu terkejut mendengar laporan dari orang kepercayaan dalam mengelola beberapa bidang usaha yang dia miliki.
Pramayu yang sedang berbadan dua jadi sering membolos nyanyi dan tidak banyak ambil job karena terakhir ambil job menemani om-om dan tahu kalau Pramayu hamil malah diajak ikeh-ikeh terlalu kencang sampai takut kalau keguguran. Perempuan itu jadi takut mengambil job kencan dan memilih fokus usaha lebih dahulu, tetapi karma bergulir. Sekarang dia dalam kesulitan dan Gavin juga hanya akan menambah kesulitan dalam hidupnya karena segala perbuatan buruk yang dilakukan pasti akan berimbas hal buruk juga.
"Bu, saya juga mau izin resign karena mau menikah dan pindah ke Jawa Timur."
"Lah, setelah penghasilan menurun dan juga terancam untuk gulung tikar terus lu mau pergi gitu aja? HEBAT! Dah, sana keluar! Gue nggak akan kasih pesangon sedikitpun!!"
Pramayu melampiaskan segala kekesalan di dalam hati kepada salah satu asisten kepercayaannya yang membantu mengelola beberapa tempat usaha seperti franchise tersebut. Baru saja syok menghadapi kenyataan kalau penghasilannya menurun drastis selama beberapa hari ini tiba-tiba saja terdengar suara motor Gavin sudah terparkir di luar.
"Ayu ...." Gavin masuk ke dalam dan terkejut melihat ada makhluk gaib yang berada di belakang Pramayu. Makhluk itu sedang bergelanyut di leher Pramayu seperti merangkul dari belakang.
"Ayu! Ada setan!!"
"Mana setan?!" Pramayu terkejut dan langsung melonjak dari tempat duduknya.
"Tadi di belakang lu. Udah ilang sekarang." Heran saja saat Pramayu melonjak dari tempat duduk tiba-tiba saja makhluk gaib yang berada di belakangnya menghilang.
"Kok, makin aneh, sih. Usahaku juga menurun drastis ini, Pa." Pramayu mulai menceritakan apa yang terjadi.
"Lah, kenapa bisa?"
"Jangan-jangan ada yang berbuat curang terhadap kehidupan kita yaitu mengirim makhluk gaib atau menutup rezeki kita. Kalau begini terus aku bisa bangkrut karena beberapa cabang mengalami pemerosotan pemasukan yang sangat signifikan. Salah satu orang kepercayaanku juga mengundurkan diri. Aku bisa susah kalau terus-menerus seperti ini apalagi kamu juga menganggur tidak ada pekerjaan."
"Lah, kenapa bawa-bawa gue? Kan gue udah bilang mau cari kerja. Lu kenapa, sih, sama aja sama keluarga gue yang nyebelin!"
Gavin dan Pramayu menjadi sensitif dan lebih sering bertengkar karena hal-hal sepele ataupun salah paham. Tidak ada ketenangan di dalam hati mereka dan terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi tanpa bercermin terlebih dahulu dengan perilaku mereka yang buruk. Keduanya berpikir kalau ada orang yang tidak suka dengan kehidupan mereka dan juga mengirimkan makhluk gaib atau sedemikian rupa yang membuat kehidupan mereka jadi tidak nyaman dan juga penghasilan menurun. Padahal hal buruk yang saat ini terjadi pada kehidupan mereka berdua yaitu karma yang sedang bergulir kepada mereka.
"Udah, anter aku ke Mbah Jabrik. Aku mau tahu sebenarnya siapa yang bikin kita begini!" Pramayu sering ke dukun dan mempunyai dukun langganan.
Gavin mengerutkan keningnya, bingung. Namun apa boleh buat karena saat ini lelaki itu tidak memiliki pekerjaan sama sekali dan menumpang hidup pada Paramayu sehingga harus mengikuti apa saja yang dikatakan oleh perempuan yang dia nikahi secara siri.
"Ya udah, gue antar."
Gavin dan Pramayu naik mobil dan menuju ke daerah Tangerang Selatan untuk ke Mbah Jabrik. Pramayu pernah memasang susuk di sana demi kesuksesan menjadi biduan. Dia juga pernah membuat penglaris untuk usaha. Oleh karena itu saat kesusahan seperti ini bukannya mereka berdua berdoa tetapi justru pergi ke tempat hal gaib dan mengira kalau segala kesusahan yang mereka hadapi atas kiriman orang lain yang sirik kepada mereka.
Kesusahan Rania perlahan menghilang dan mendapatkan jalan keluar, sedangkan kesulitan untuk Pramayu dan Gavin sedang dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Kucing Putih
setuju dah memang apa yg kita tabur itu yg kita tuai mskpon kita di jahatin dan GK pernah blas yakin dah suatu saat yg jahat sama kita pasti bakal terima akibat nya mskpon bukan kita yg blas
2022-12-28
2