Petaka Atas Nama Cinta

Di tempat lain, Gavin mulai frustasi karena miliknya tidak bisa berdiri sejak kemarin malam. Malam ini pun rencana ikeh-ikeh kemochi gagal karena tidak bisa berdiri meski sudah menggebu-gebu. Gavin marah dengan diri sendiri dan perempuan bayarannya mengatakan untuk memeriksakan saja anunya Gavin ke dokter.

“Sial! Sewa cewek buat indehoi malah kena hina gara-gara ini nggak bangun. Sial! Dikira gue penyakitan apa?! Suruh periksa ke dokter segala!”

Gavin keluar dari kamar hotel esek-esek sambil memaki dan membanting pintu. Perempuan bayaran tadi sudah pergi dengan uang yang dibayarkan Gavin tanpa mendapatkan kepuasan karena anunya tidak bisa digunakan. Gavin merasa heran dengan hal itu dan sama sekali tidak memikirkan soal Rania yang baru saja melahirkan. Bahkan untuk menelepon atau mengirimkan pesan pun tidak dilakukan oleh Gavin.

***

Gavin merupakan lelaki yang bersifat buruk dan selalu menyia-nyiakan setiap perempuan yang suka kepadanya. Lelaki yang sepertinya sangat mencintai perempuan yang saat ini bersanding dengannya ternyata hanya menyimpan kepalsuan belaka. Gavin selalu mencari alasan dan juga permasalahan jika sudah bosan dengan perempuan yang bersama dengannya. Rania bukan satu-satunya korban dalam kehidupan Gavin yang sudah melanglang buana membohongi perempuan satu dan yang lainnya.

Sebenarnya Gavin masih memiliki istri dan dua anak perempuan tetapi tidak pernah menunjukkan hal itu di luar rumah. Bahkan tidak segan-segan Gavin selalu berlaku buruk pada istrinya jika terlalu banyak bicara. Kedua orang tua Gavin juga mendukung sifat buruk anak lelakinya itu. Gavin merupakan anak pertama dari dua bersaudara, tetapi hidupnya terlalu parasit sebagai anak pertama.

“Pah, jangan seperti itu terus, anak kita juga tambah besar. Inget anak-anak!”

“Lah, emang gue kenapa? Bukankah Mama juga punya simpenan di sekolahan Mira? Ah, udahlah!”

Gavin merasa kesal karena istrinya di rumah bersandiwara sebagai orang yang tersakiti padahal mereka sama-sama memiliki selingkuhan. Kehidupan keluarga Gavin memang buruk, bahkan kedua orang tuanya pun tidak mempermasalahkan hal itu asal tidak mencoreng nama baik keluarga alias main cantik atau sembunyi-sembunyi.

Gavin jarang di rumah dan kalau pulang pun pasti di atas tengah malam. Kedua anak Gavin bernama Mira dan Keke jarang bertemu Gavin dan tidak menanyakan karena sudah terbiasa di rumah dengan kedua orang tua Gavin. Sedangkan istrinya Gavin juga bekerja dari pagi pulang sore dan kedua anaknya dititipkan pada orang tua Gavin.

Rania dan Pramayu hanya dua dari sederetan panjang kisah cinta palsu yang Gavin obral. Gavin hanya ingin mencicipi madu perempuan lain dengan dalih cinta. Menyesap manisnya madu cinta tanpa ada batasan waktu dan dana karena menyewa perempuan bayaran pastinya akan menguras isi dompet. Gavin mempermainkan perempuan tanpa takut adanya karma atau imbal balik atas kejahatan yang dilakukan selama ini.

Cinta tulus Rania menjadi permainan empuk bagi Gavin. Gavin hanya mengobral janji demi mendapatkan Rania yang selama bekerja ternyata disukai beberapa lelaki di sana. Gavin senang ketika tahu Rania tidak akur dengan Endah dan Shella serta kedua orang tuanya. Celah yang tepat bagi Gavin untuk memperalat Rania menjadi bucin dan mau melakukan apa pun demi kepuasan Gavin. Apalagi setelah ayahnya Rania meninggal, Gavin makin leluasa untuk meninggalkan Rania dan lari dari tanggung jawab.

“Gue ini nggak bodoh! Istri apaan yang sukanya memelas sama orang-orang biar dapat perhatian lebih! Gue juga bisa seneng di luar! Banyak cewek yang mau sama gue! Bahkan Rania itu udah hamil, lahiran sendiri, gue yakin pasti mau kalau diajak balikan besok-besok!”

Gavin keluar dari rumah dan pergi dengan mobil milik adiknya untuk ke club malam. Kelakuan Gavin sangat buruk sampai Bima bingung apakah lelaki seperti itu masih pantas dianggap sebagai manusia? Rania bernasib sial bisa terperdaya oleh janji palsu Gavin. Gavin dengan penuh percaya diri merasa kalau Rania kelak pasti akan memaafkan dirinya dan mau diajak ikeh-ikeh kemochi lagi. Padahal, luka yang saat ini Gavin torehkan akan membekas sampai akhir hayat Rania.

Pagi harinya, Rania sudah mulai belajar memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Hal itu sangat sakit dan sulit dilakukan, tetapi Rania berusaha agar lekas sembuh dan bisa pulang. Rania juga mulai mencari bantuan untuk membayar uang biaya perawatan rumah sakit ke sana sini melalui ponsel. Rania takut tidak bisa membayar biaya persalinan itu.

“Desi, lagi apa?”

“Halo, Rania. Kabar baik. Gimana kabar lu? Kangen banget tiba-tiba hilang komunikasi. Gue khawatir banget!”

Desi merupakan sahabat baik Rania selama di Jakarta. Namun Gavin tidak memperbolehkan Rania dekat dengan siapa pun sehingga mau tidak mau komunikasi dengan Desi jadi terhenti. Bukan hanya dengan Desi tetapi dengan teman-teman lainnya pun Rania seakan dijauhkan oleh Gavin. Semua petaka cinta Gavin tertata dengan rapi karena lelaki itu sudah sering bermain peran sehingga tahu di mana kelemahan para perempuan yang akan menjadi bucin-nya.

“Aku sekarang di Semarang. Balik rumah karena banyak hal. Desi, aku butuh bantuanmu.”

“Ya Allah, kenapa lu nggak bilang? Gue nyari ke sana sini di kost dan coba chat di messanger juga nggak ada respon. Gue khawatir, tahu! Butuh bantuan apa, Rania, gue pasti bantu.”

“Desi, maaf, apa aku boleh pinjam uang? Aku saat ini baru di rumah sakit bersalin. Aku menjalani operasi sesar karena bayiku sungsang dan terlilit tali pusat. Saat ini, aku baru punya uang tiga juta untuk biaya operasi, masih kurang tujuh juta dan keluargaku tidak ada uang untuk membantu.”

Rania mengesampingkan rasa malu untuk meminta bantuan Desi. Jelas saja sahabatnya itu tidak tega karena tahu kehidupan Rania sebenarnya baik hanya saja salah mendapatkan pasangan seperti Gavin. Bahkan Desi tahu dengan jelas kalau Rania berjuang untuk membantu keluarganya semenjak ayahnya masih hidup, bahkan setelah ayahnya meninggal.

“Tenang, gue bantu tiga juta, ya? Minta nomor rekening dan gue langsung transfer sekarang juga. Nggak usah mikirin kapan ngembaliin duit ini asal lu dan bayi lu sehat, gue udah seneng. Rania, jangan menghindar lagi dan terus kasih kabar sama gue. Gue, kan, temen baik lu. Napa lu ngilang gitu aja?”

“Desi, terima kasih banyak, ya, udah mau bantu meski aku menjauh. Ini semua karena ....”

“Iya, gue tahu ini ulah cowok berengsek itu. Udah, nggak usah dipikirin. Gue minta nomor rekening lu. Gue transfer sekarang.”

Rasa senang dalam hati Rania karena ada yang langsung terketuk pintu hati untuk membantu. Bima tersenyum di ujung ruangan karena sudah membantu secara gaib untuk Desi mau memberikan bantuan. Sebenarnya bisa saja Desi mengatakan kalau tidak memiliki uang apalagi sudah lama tidak berkomunikasi, tetapi Bima sudah memastikan itu tidak akan terjadi.

Rania bersyukur dan berdoa di dalam hati sudah ada bantuan dan dana yang terkumpul sudah enam juta. Kurang empat juta lagi, entah uang dari mana. Rania sudah mengirimkan nomor rekening kepada Desi dan mendapatkan kiriman uang pinjaman itu. Entah bagaimana Rania nanti bisa mengembalikan, tetapi perempuan itu percaya akan ada masanya dia juga kembali bangkit dari segala keterpurukan ini.

Terpopuler

Comments

Kucing Putih

Kucing Putih

yuppsss pinter pinter lah milih teman agar tau mana yang tulus dan mana yg nggk

2022-12-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!