Saat operasi berlangsung, Rania merasa sudah tidak kuat dan hampir saja terlelap. Asisten dokter yang mengoperasi terus menerus mengajak bicara agar Rania tidak memejamkan mata. Bahaya jika saat persalinan memejamkan mata, bisa-bisa meninggal. Rania hanya bisa berdoa di dalam hati karena takut operasi sesar tersebut merupakan hal yang aneh bagi Rania. Soal perkataan Gavin juga mempengaruhi perasaan dan pikiran Rania.
Saat bagian perut bawah Rania seperti terkoyak dan sesuatu di dalamnya diambil untuk keluar, rasanya semua kekawatiran ikut pergi karena beberapa saat kemudian suara tangis bayi membuat hati Rania merasa bahagia. Bayi itu sudah lahir! Rania mengucapkan syukur berkali-kali di dalam hati atas kelahiran bayi mungil yang saat ini masih menangis dan terdengar menggema di ruangan operasi itu. Meski rasanya lelah dan Rania seperti tidak sanggup lagi untuk membuka mata tetapi mendengar suara tangisan bayinya membuat suatu semangat baru.
Entah berapa lama Rania terbaring di meja operasi, setelah selesai semuanya akhirnya Rania dibawa ke ruangan khusus pemulihan setelah operasi. Tubuh Rania rasanya sangat dingin dan lemas. Darah yang keluar terlalu banyak dan saat ini kondisi Rania masih terbaring dan sudah menggunakan infus dan juga kateter yang dipasang oleh perawat. Rania merasa sangat kedinginan.
“Dingin ... Dingin ....” Rania berkata dengan diri karena sudah tidak mampu menahan tubuhnya yang kedinginan seperti masuk ke dalam sebuah pendingin ruangan atau kulkas.
Ibunya Rania sangat panik melihat putrinya yang suhu tubuh menurun drastis sangat dingin. Meski ibunya Rania sudah meminta tolong kepada perawat atau bidan yang berada di depan ruangan operasi sama sekali tidak ada yang membantu. Apakah karena mereka pasien dengan kelas tiga, maka pelayanan tidak begitu bagus? Bidan yang mengantarkan Rania serta ibunya ke rumah sakit itu belum pulang dan membantu untuk menggosok tangan, dada, dan leher Rania dengan minyak angin dan balsem.
“Pakai ini, Bu. Digosok saja tangan, kaki, dada, dan leher agar tidak dingin. Diajak bicara terus jangan sampai ketiduran.” Bidan itu juga merasa takut karena Rania hanya berucap lirih soal kedinginan.
“Iya, Bu Bidan. Ini Rania kenapa, ya? Rania ... Jangan tidur, Nak. Kamu belum lihat anakmu. Bangun, Nak. Tetap berjaga.” Ibunya Rania berkali-kali mengguncang tubuh Rania agar tetap tersadar.
Rania merasa hal yang aneh, matanya terbuka memandang ke atas, tetapi tidak bisa melihat apa-apa hanya cahaya putih menyilaukan mata. Rasa dingin itu makin menusuk hingga Rania dengar suara mendiang ayahnya berkata, “Rania ... Bangun, Nak. Putrimu membutuhkan kamu. Kembali dan jangan menyerah menjalani hidup. Semua orang berhak memiliki kesempatan kedua untuk menjalani hidup. Putrimu butuh kamu sebagai ibu yang melindungi dan menyayanginya.”
“Papa?” Rania melihat sosok mendiang ayahnya dari balik sinar terang dan tiba-tiba Rania tersadar di ruangan pemulihan operasi dan bisa melihat raut wajah khawatir dalam ibunya.
“Rania? Syukurlah Rania sudah sadar. Jangan memejamkan mata, Nak. Apa yang dirasakan?”
“Dingin, Ma. Dingin ....”
“Iya, ini pakai minyak angin dan balsem. Nanti pasti hangat lagi.”
“Bayiku mana, Ma?”
“Tadi perawat atau Bidan membawa bayi ke ruangan khusus para bayi setelah selesai dimandikan. Katanya nanti akan diantar ke ruangan setelah diperiksa.”
“Dingin, Ma ....”
Keadaan Rania yang lemas dan tidak berdaya membuat Bima merasa semakin sedih. Namun saat ini Bima belum bisa menampakkan wujud atau mengajak bicara Rania karena bisa berbahaya dan berpengaruh pada kesehatan tubuh Rania. Bima hanya bisa menjaga dari kejauhan dan berharap hanya bisa melewati ini semua hingga bayinya berusia tiga bulan.
Di waktu yang sama, Gavin memutuskan untuk pergi dari kantor dan mencari Pramayu karena merasa bersalah tadi malam. Gavin mulai mengabaikan tugas dan pekerjaan di kantor karena memikirkan diri sendiri. orang yang hanya mengejar keinginan Duniawi hanya akan terjebak pada permasalahan yang tidak ada habisnya. Saat sampai di tempat kontrakan, ternyata Pramayu tidak ada di sana. Gavin mencoba menghubungi berkali-kali tetapi tidak diangkat.
“Gila! Gue kesel kenapa Ayu jadi cuekin gue gara-gara semalam nggak jadi goyang! Heran aja, nih, anuan nggak bisa tegak!” Gavin mengacak-acak rambutnya karena kesal dengan diri sendiri.
Tanpa diketahui Gavin, Pramayu sedang bercinta dengan lelaki berbadan kekar dan tinggi serta tampan yang merupakan salah satu satpam di tempat karaoke yang biasa menjadi tempat bekerja Pramayu. Seperti biasa, skandal hubungan bebas memang banyak terjadi di tengah kehidupan penyanyi dangdut yang tidak kuat iman. Pramayu dan Gavin sebenarnya cocok karena sama-sama mencari kepuasan duniawi dan mengabaikan hal kemanusiaan.
Rania berada di ruangan pemulihan hampir selama satu jam lalu dibawa ke ruangan tempat rawat inap di kelas tiga. Dalam ruangan itu terdapat tiga tempat yang mana salah satu dari tempat itu sudah dipakai oleh pasien yang juga operasi sesar sebelumnya. Rania terbaring di ranjang tengah dengan sekat gorden untuk menutupi ruangan yang diisi tiga pasien tersebut. Rania hanya ditemani oleh ibunya sedangkan kakaknya yang berjanji akan datang pun mengabaikan saja. Kakaknya Rania sangat jahat dan suka kalau Rania susah karena selama ini selalu saja Rania yang dibanggakan oleh orang tua.
Rania sama sekali belum bisa bergerak karena reaksi obat bius tersebut. Tidak bisa bergerak karena rasa sakit itu yang membuat tubuh Rania kaku. Proses pemulihan juga cukup lama bagi yang mengalami operasi sesar dengan harga normal atau semua obat standar. Berbeda dengan penuturan para artis yang operasi dengan biaya mahal ratusan juta dan mendapatkan obat yang mahal serta cepat pulih.
“Andai kata tidak ada bayi ini, mungkin sudah sejak lama aku mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan apa yang dilakukan oleh Gavin. Aku akan memberi nama bayiku Aira, semoga si kecil kelak memiliki rezeki yang melimpah. Amin. Aira Kusuma, bayiku, hidupku.”
Rania sudah memberikan nama untuk bayi perempuannya. Bima tersenyum dari sudut ruangan karena merasa nama bayi itu sangat cocok karena dengan lahirnya bayi itu maka kehidupan Rania akan jauh lebih baik dari pada saat ini. Mungkin saat ini semua penderitaan terasa silih berganti tidak berhenti, tetapi Bima pastikan kelak Rania akan mendapatkan kebahagiaan. Ya, kebahagiaan yang sejati karena Bima bisa melihat garis waktu masa depan yang akan terjadi pada Rania dan Aira.
“Manusia menjijikkan seperti Gavin dan Pramayu hanya akan membuat patah hati manusia tulus dan baik seperti Rania. Gavin hanya memanfaatkan perempuan demi kebutuhan biologis yang tidak ada habisnya cocok dengan Pramayu yang seperti itu dan mencari keuntungan dari orang-orang di sekitar. Rania tidak seharusnya berada dalam kehidupan rumit mereka.” Bima menunggu Aira usia tiga bulan agar bisa berkomunikasi dengan Rania.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Kucing Putih
semangat kak rens ❤️❤️❤️
2022-12-01
1
Elmaz
cuz lah di bikin cepet ketemu ....jd ingat kembali kisah bima & ningsih...😍😍
2022-11-09
2
Ika Riana
lanjut kk ren
2022-11-09
2