Andai saja dahulu Rania tidak menerima rekomendasi dari guru untuk bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Mungkin segala hal menyakitkan ini tidak akan terjadi di hidup Rania jika tidak bekerja di sana. Sebagai orang yang mandiri, Rania sangat bersemangat untuk bekerja waktu itu. Setelah mendapatkan izin dari orang tua dan juga kakak dan adiknya, Rania segera melamar pekerjaan di tempat yang direkomendasikan oleh gurunya. Rania lolos dan bisa bekerja di sana mulai tahun 2011. Bekerja di perusahaan swasta meski di bagian pantry dan kantin. Dia menyewa kamar sederhana untuk menjadi tempat tinggal selama bekerja. Rania senang bisa mengirim uang tiap bulan untuk orang tuanya dan membantu membayar sekolah adiknya.
Masa lalu yang tidak mungkin Rania sesali lagi karena saat ini kenyataan harus dihadapi. Tadi pagi Gavin marah besar dan melakukan kekerasan lagi kepada Rania. Perempuan yang memiliki lesung pipi di wajahnya itu jarang keluar dari kontrakan karena khawatir orang-orang akan menanyainya tentang bekas kekerasan yang selalu tampak di wajahnya.
Gavin biasanya mengajak sarapan, lalu berangkat ke kantor. Namun pagi ini tidak ada sarapan untuk Rania. Gavin memintanya untuk makan mie instan yang tersedia atau sekedar minum susu dan makan roti tawar saja.
“Duh, sudah jam sepuluh. Tadi makan roti tawar dan susu, sekarang mulai lapar lagi. Sabar ya, Dek. Nanti Papiimu pasti pulang dan ajak makan siang kalau sudah tidak marah,” ucap lembut Rania sambil membelai perutnya yang mulai membesar.
Sebenarnya Gavin sangat perhatian kalau sedang tidak marah. Bahkan beberapa kali Gavin mengajak Rania menyantap hidangan daging seperti yang selama ini Rania selalu inginkan selama hamil. ‘Ngidam’ istilah orang Jawa menyebutnya karena Rania bukan perempuan yang pilih-pilih makanan hanya saja waktu hamil dia mengalami kesusahan.
Rania teringat saat pertama kali menunjukkan hasil USG janin berusia tiga Minggu pada Gavin. Saat itu bukan kenangan yang bagus bagi Rania karena Gavin bereaksi di luar nalar. Tepatnya siang hari kejadian itu saat Rania sampai di Jakarta naik travel dari Semarang untuk menemui Gavin. Lelaki itu langsung memesan kamar di hotel bintang lima untuk istirahat Rania.
“Pii ....”
“Iya, apa Sayang?”
“Aku hamil ....”
“Hah?! Bercanda lu?!” Gavin terbelalak dan terkejut menatap Rania.
“Aku serius ....” Rania menyodorkan hasil USG dan surat pemeriksaan dari dokter kandungan.
Gavin merebut hasil pemeriksaan itu dan menatap tajam ke arah Rania. “Sudah coba minum soda atau alkohol? Makan nanas muda?”
Rania terkejut dengan jawaban Gavin yang seakan menyudutkan untuk memusnahkan buah cinta mereka. Rania menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak mau berbuat hal demikian.
“Sayang ... Mii tahu kan kalau Pii belum bisa untuk itu ....” Gavin mencoba membujuk Rania dengan suara yang mulai melunak. ‘Mii dan Pii’ adalah panggilan sayang mereka berdua.
Rania paham dan tetap menggelengkan kepalanya perlahan. “Jangan, Pii. Ini anak kita. Buah cinta kita. Aku cinta kamu sungguh-sungguh, bukan hanya mainan. Aku tidak akan berbuat hal itu. Kita sudah banyak dosa dengan melakukan itu sebelum menikah, jadi aku tidak mau menambah dosa lagi,” lirih Rania yang mulai menangis.
Entah apa yang dipikirkan Gavin. Lelaki itu memeluk tubuh Rania erat. “Sayang, jangan menangis. Iya, iya, nanti kita pikirkan soal itu ... Sekarang, Pii kangen banget sama Mii. Sudah dua Minggu kita nggak ketemu ....” bisik Gavin kembali merayu Rania untuk menjadi pemuas belaka. Lagi dan lagi, mulut manis itu menghipnotis Rania untuk rela melakukan apa saja.
Rania yang selalu pasrah karena tidak tahu apa yang Gavin lakukan hanya karena keinginan daging saja, bukan berdasarkan cinta. Cinta yang tulus hanya dalam dongeng, tidak pernah Rania rasakan. Gavin merupakan cinta pertama Rania dan justru yang membawa segala dosa padanya. Lelaki yang sudah menjadi duda dengan dua anak itu hanya memanfaatkan perempuan muda yang lugu sebagai pemuas keinginannya.
Sejak awal, Gavin memang tidak menginginkan anak dari Rania. Selain soal ‘merepotkan’, Gavin juga sebenarnya tidak sekaya yang dia tunjukkan kepada orang-orang. Selama ini Gavin masih jadi satu di rumah orang tuanya. Orang tuanya memiliki beberapa usaha yang bisa dibilang lumayan sukses, sedangkan Gavin bekerja di perusahaan sebagai kepala administrasi yang memiliki banyak anak buah. Hal itu yang membuat Gavin mudah mencari ‘mangsa’ para perempuan muda yang masih lugu dan polos.
“Tuhan, bolehkah aku meminta satu hal ... Kuatkan aku menghadapi ini semua demi anak yang aku kandung. Maafkan aku sudah banyak berbuat kesalahan, jangan hukum anakku yang tidak tahu apa-apa,” lirih Rania di dalam kamar yang kembali bersedih kalau ingat masa lalu. Kenapa dahulu Rania tidak percaya perkataan papanya yang mengatakan kalau Gavin bukan lelaki yang baik untuknya? Cinta memang buta dan tuli.
Rania sudah mencari pekerjaan di Jakarta, tetapi setiap calon bos mengetahui kalau Rania sedang hamil, pasti dilarang bekerja dan gagal mendapatkan pekerjaan. Gavin sering marah karena hal itu. Perihal ekonomi. Apalagi kontrakan di Jakarta tidak murah, sebulan harus mengeluarkan uang tujuh ratus lima puluh ribu untuk membayar rumah minimalis itu. Belum dengan biaya hidup dan makan, Gavin lama-lama muak memikirkan semua tanggung jawab itu dan mencoba lepas tangan dari Rania.
Sebenarnya Rania sudah merasakan kalau Gavin akan melepaskan dirinya begitu saja. Apalagi pernikahan yang ditunda dengan banyak alasan padahal Gavin sudah mengadakan prewedding dengan foto-foto menawan serta syukuran di rumah Rania. Jika gagal menikah, hanya pihak Rania dan keluarganya yang akan merasa malu sedangkan Gavin merasa santai apalagi beda kota begitu jauh tak mungkin orang tua Gavin akan tahu kelakuan bejatnya.
Perasaan seorang perempuan itu sangat tajam. Apa yang Rania takutkan benar-benar akan terjadi. Saat ini Gavin juga sudah memiliki target lain yang justru perempuan kaya raya dan cantik. Gavin pasti memiliki seribu satu cara dan alasan untuk mencampakkan Rania karena bukan sekali ini saja Gavin melakukan hal buruk yang merusak hidup perempuan.
Hari demi hari dilalui Rania bagaikan di dalam mimpi buruk saja. Cinta yang dahulu terlihat begitu manis meski ada beberapa kali hal-hal pahit yang terasa, tetapi sekarang menjadi hambar. Rania baru menyadari kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Gavin yang dahulu begitu mencintai Rania, ternyata hanya memanfaatkan untuk kebutuhan biologis saja. Rania saat ini terjebak dengan segala pemikiran buruk yang ada di dalam kepalanya.
Rania tidak memiliki tumpuan lain karena keluarganya membiarkan begitu saja hal itu terjadi. Rania rasa sendirian dan tidak bisa menceritakan kenyataan yang terjadi saat bersama Gavin kepada orang lain. Dia hanya bisa mengenakan topeng senyum palsu di hadapan orang lain demi mempertahankan nama baik keluarganya. Rania setiap malam berdoa agar bisa mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya demi bayi yang ada di dalam kandungan, karena ketika Gavin marah selalu saja melakukan kekerasan kepada Rania.
"Meski Gavin mengatakan bayi dalam kandungan ini adalah bencana, tetapi bagiku adalah berkah dari Tuhan. Aku akan menjaganya sebaik mungkin. Aku akan menjaga dengan baik. Aku janji," gumam Rania sambil mengusap perutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
RAMBE NAJOGI
benar sekali rania,, moga² anakmu jadi jalan dari kesuksesan mu
2023-01-05
1
Kucing Putih
sabar ya Rania kamu udh di jalan yg bener kok dgan memperthankan bayi itu kamu tidak menambah dosa lagi dgan membunuh nya
2022-12-01
1
Elmaz
smoga gavin lekas sadar akan perbuatan nya
2022-11-03
3