"Apa yang sebenarnya terjadi Arya?. Kenapa kau menghajar orang-orang itu?. Apakah mereka ada berbuat salah dengan enam orang tersebut?" Tanya pak Satya sesaat setelah Arya datang menghampirinya.
"Ceritanya panjang pak Satya!. Jika saya ceritakan tentu acara bapak akan terganggu." Jawab Arya berterus terang. dan merasa tidak enak hati.
"Oh tidak masalah!. Acara itu bisa ditunda, karena yang hadir hanya kita kita saja!"
"Bapak sengaja tidak mengundang orang lain, untuk merayakan ulang tahun bapak kali ini. karena bapak hanya ingin merayakannya dengan keluarga saja."
"Jadi kami masih punya waktu untuk mendengarkan cerita mu." Jawab pak Satya berterus terang.
"Sebenarnya begini pak!" Ujar Arya memulai ceritanya.
"Enam orang yang bapak lihat itu adalah anak buah ku. Mereka saya suruh untuk mencari sebuah tempat, guna didirikan usaha."
"Kebetulan tempat yang mereka temukan itu cukup bagus, dan sewanya pun tidak terlalu mahal."
"Tapi tidak disangka, datang puluhan orang menghampiri mereka, dan langsung mengintimidasi agar mereka memberikan uang keamanan."
"Sebagai ketua kelompok, tentu saja saya tidak terima."
"Baru saja ingin membuka usaha, sudah dipalak seperti itu!"
"Tentu saja kami membela hak kami. Maka terjadilah hal yang seperti itu." Jawab Arya apa adanya.
Kemudian menyambung lagi perkataannya." Namun maaf jika tindakan saya tadi membuat kalian tidak senang."
"Terus terang saja kami bukan preman. Kami anak muda yang ingin berusaha sendiri, tanpa harus menyusahkan orang lain."
"Niatku hanya untuk menolong mereka, karena sebelum saya rekrut, mereka berenam itu adalah preman yang bekerja pada seorang anak orang kaya dari provinsi sebelah."
"Tapi karena satu kesalahan, mereka berlima akhirnya dipecat, dan sekarang menjadi pengangguran."
"Walau sebelumnya mereka pernah bersinggungan denganku, tapi akhirnya mereka ingin menjadi pengikut ku."
"Sebagai orang yang dianggap ketuanya, tentu saja saya harus bertanggung jawab."
"Maka saya mencarikan pekerjaan untuk mereka, supaya mereka menjadi baik dan berguna untuk orang lain."
"Yaitu dengan membuka usaha kecil-kecilan yang ada di depan itu."
"Mudah-mudahan apa yang saya lakukan ini bisa bermanfaat buat mereka, juga buat saya."
"Demikian penjelasannya pak Satya. dan mohon maaf jika ini membuat kalian merasa terganggu?" Ucap Arya menjelaskan apa adanya. sampai membuat pak Satya, Amanda dan Seruni menjadi kagum. walau dikatakannya dalam hati.
"Benar-benar luar biasa!. Baru kali ini bapak melihat ada seorang anak muda yang mempunyai visi dan misi yang bagus untuk memulai hidupnya!"
"Padahal kau masih anak sekolahan?. palingan usianya baru 17 sampai 18 tahunan. Tapi pola pikir mu sudah seperti orang dewasa."
"Bapak salut padamu nak Arya!"
"Di kemudian hari, orang yang mendapatkan mu, pasti orang yang sangat beruntung. Karena kau mempunyai visi untuk maju!" Respon pak Satya merasa senang. dan terang-terangan memuji apa yang dilakukan oleh Arya itu.
"Ah biasa saja pak Satya!. Kebetulan saya juga baru belajar hidup setelah apa yang terjadi pada saya?"
"Namun memulai usaha itu ternyata tidak mudah. Karena ada saja orang orang yang ingin menggagalkannya, termasuk 26 orang itu."
"Tapi untungnya mereka sudah saya kalahkan. Dan kebetulan juga saya mempunyai sedikit kepandaian, yang bisa digunakan untuk menundukkan mereka."
"Maka jadinya ya seperti itu!" Jawab Arya terkesan merendah. Tapi itu membuat pak Satya bertambah kagum, sekaligus senang.
Tak lama kemudian Arya berkata kembali. karena pak Satya tidak kunjung bersuara. "Karena sekarang mereka semua sudah menjadi pengikut ku, dan bahkan bakalan membantuku membuka usaha tersebut, walau nantinya sebagai tenaga pengamanan dan sebagai alat promosi saja. tapi sebagai ketuanya, saya harus bertanggung jawab, melatih dan mengarahkan agar mereka benar-benar menjadi orang baik, dan mempromosikan usaha baru, agar orang orang datang ke tempat usahaku nanti." Ucap Arya lagi terkesan merendah. Tapi jawaban barusan tentu saja membuat pak Satya menjadi semakin senang.
"Wah luar biasa!. bapak benar-benar kagum padaku nak Arya!"
"Kalau begitu mari kita bersulang. untuk merayakan keberhasilan mu!" Ucap pak Satya berterus terang. Kemudian mengambil gelas minuman yang ada di atas meja, dan mengangkatnya tinggi tinggi, serta dibenturkan ke gelas Arya.
Satu jam kemudian. Acara makan-makan dalam rangka merayakan ulang tahun pak Satya sudah pun selesai dilakukan. Kini saatnya untuk Arya kembali ke tempat usaha barunya itu, di bawah pandangan kagum dari tiga orang baik tersebut, apalagi Amanda.
Dalam dia memandang itu, hatinya membatin dan bertalu talu. "Jika suatu saat nanti aku berjodoh dengan Arya, maka aku tidak akan menolak lamarannya."
"Karena dia cinta pertamaku, dan aku tidak ingin kecewa!" Reaksinya malu-malu. Kemudian tiba tiba pipinya bersemu merah.
"Ayo ada apa pipimu memerah Begitu?. Suka sama Arya ya?" Respon Satya menggoda anak gadisnya.
"Ah papa ni!. Siapa juga yang suka?. Orang cuma kagum saja!" Jawab Amanda malu-malu. Tapi bibirnya tersenyum senang. Kemudian berlari ke kamarnya, untuk sekedar menyembunyikan rasa malunya.
"Lihatlah anak gadis mu itu ma!. Ternyata dia sudah mulai jatuh cinta?. Bagaimana menurutmu?" Tanya Satya pada istrinya.
"Ya mama setuju saja!. Lagi pula Arya itu anak baik. Mama yakin anak kita tidak akan di sia-siakan olehnya." Jawab Seruni apa adanya.
"Tapi dia bukan anak orang kaya ma?. Bagaimana dia akan menghidupi anak kita?" Respon Satya sekedar menguji tekad istrinya.
"Bukankah barusan papa memujinya?. Papa mengatakan bahwa Arya adalah anak muda yang mempunyai visi. tapi kenapa sekarang papa malah meragukannya?" Jawab Seruni malah balik bertanya, sekaligus mengingatkan suaminya
"Itulah masalahnya ma!. Walaupun papa suka dengan Arya, tapi papa masih butuh pembuktiannya."
"Yaitu siapa sebenarnya Arya itu?"
"Kalau dia bukan anak sahabat papa, maka kita harus pikir-pikir dulu. Tapi kalau dia anak sahabat papa, maka tidak ada keraguan lagi di hati kita!" Jawab Satya mengandung keraguan tentang Arya.
"Tapi sepertinya mama juga setuju dengan pendapat papa, jika anak kita berjodoh dengan Arya kan?"
"Kalau begitu mari kita doakan saja, semoga Amanda dan Arya berjodoh, dan Arya benar benar anak sahabat papa!" Ujarnya lagi.
"Tapi Apa kata dunia pa?. Sementara di ibukota sana, banyak anak-anak orang kaya yang menginginkan anak kita untuk menjadi istrinya."
"Apalagi teman-teman papa itu. Rata-rata mereka mempunyai anak laki-laki, yang hidupnya cukup mapan, sukses lagi?"
"Mereka juga sudah punya usaha sendiri."
"Terhadap mereka, kenapa papa tidak tertarik?, malah tertarik kepada Arya yang sudah tahu miskin itu?" Ucap Seruni hanya sekedar menguji suaminya.
"Jangan salah ma!. Entah kenapa papa merasakan di tubuh Arya itu ada sesuatu yang sangat luar biasa!"
"Papa pernah merasakan hal seperti itu, saat tinggal bersama dengan ayahnya."
"Saat itu entah bagaimana papa yang sakit, tiba-tiba sembuh hanya disentuh dengan menggunakan tangannya saja."
"Waktu itu papa tidak bisa tidur karena banyak pikiran, hingga membuat kepala papa jadi sakit. Tapi saat tangan ayah Arya menyentuh kening papa, mendadak rasa pening itu hilang, dan berganti menjadi rasa nyaman. Lalu papa tertidur sampai pagi."
"Sejak saat itu papa bertekad, jika nanti berkeluarga dan mempunyai anak, maka papa akan menjodohkan anak kita pada anak sahabat papa itu."
"Namun sayangnya kami terpaksa harus berpisah."
"Papa pergi ke ibukota. sementara sahabat papa tetap tinggal di kota ini, tapi katanya pindah ke provinsi lain pula."
"Papa membuka usaha batu mulia. sementara dia juga membuka usaha yang sama."
"Tapi setelah sekian tahun, papa tidak pernah lagi mendengar beritanya, karena kami putus kontak setelah itu."
"Tapi?. Eh tunggu dulu!. Bukankah teman papa itu pengusaha batu mulia seperti papa?"
"Lalu di mana batu-batu itu termasuk perhiasannya?. Apakah sudah habis atau disimpannya di suatu tempat?"
"Wah ini cukup menarik!. Papa harus menyelidikinya! Siapa tahu teman papa itu menyimpan batu-batu mulianya di satu tempat, Siapa tahu cuma Arya sendiri yang bisa membukanya." Jawab Satya malah menjelaskan panjang lebar, dan itu membuat istrinya jadi penasaran.
"Kalau begitu saat ada waktu luang, kita temui Arya, dan kita tanyakan tentang itu. Bagaimana menurut papa?" Respon istrinya mendadak tertarik dengan cerita suaminya.
"Jangan terburu-buru dulu!. Kalau kita langsung menanyakan inti permasalahannya, tentu Arya akan curiga, dari mana kita tahu tentang batu-batu itu, karena papa lihat Arya itu orangnya teliti juga slow, tapi tindakannya nyata."
"Tapi dari semua itu, papa yakin bahwa 5 batu mulia yang dijual kepada kita, dia dapatkan dari ayahnya?"
"Kalau begitu berarti dia mempunyai banyak lagi harta-harta seperti itu?"
"Jika kita membelinya maka uang Arya akan semakin banyak, dan bisa digunakan untuk modal usaha?. Mantap!" Respon Satya benar-benar senang. Kemudian mengajak istrinya untuk masuk ke kamarnya guna beristirahat.
***
Satu minggu kemudian. Arya dan teman-temannya sudah memulai usahanya dalam bidang kuliner. Mereka memutuskan untuk menamai tempat itu dengan nama Rumah Makan Rakyat, atau RMR, yang mengkhususkan diri pada makanan rumahan, buat para pekerja pabrik maupun perkantoran. juga bisa untuk siswa dan mahasiswa. Bahkan ibu ibu rumah tangga juga bisa.
Berkat nama yang cukup unik itu, juga lokasinya yang mudah dijangkau, membuat antusias warga sekitar sangat luar biasa.
Hari pertama saja saat Rumah Makan tersebut dibuka, berduyun duyun lah orang datang, hanya sekedar untuk mencicipi menu yang tersedia. Ada yang makan di tempat, dan ada yang untuk dibawa pulang, terutama para pekerja juga mahasiswa. Orang kantoran juga ada.
Melihat itu Arya dan anak buahnya menjadi senang. Sampai harus memasak tiga kali, karena menu yang terhidang cepat habis. disebabkan mereka menjualnya sampai malam.
"Luar biasa bos!. Hari pertama dibuka, peminatnya membludak. sampai kita harus memasak menunya tiga kali."
"Kalau begini terus, alamat kita akan banyak mendapat untung." Ucap Jodi merasa senang.
"Aku juga tidak menyangka, rumah makan yang kita buka banyak peminatnya."
"Aku kira hanya satu dua atau tiga orang yang datang. Tapi ternyata berjumlah ratusan."
"Jika begini terus, aku yakin dalam satu minggu ke depan. kita sudah dapat mengembalikan modal, plus membayar uang sewa tambahan untuk tempat ini." Respon Arya juga senang.
"Oh ya!. Berapa uang yang kita dapat sebelum sebelum dipotong modal?" ucap Arya tiba tiba.
"Menurut yang saya dengar, dan setelah dihitung bersama sama, jumlah seluruhnya sebanyak 27 juta. 693 ribu rupiah, potong modal sebesar 5,5 juta."
"Jadi untung bersih sebesar 22.193.000 juta rupiah." Jawab Jodi mewakili bendahara.
"Luar biasa!. Hari pertama saja sudah mendapatkan untung sebanyak itu?. Bagaimana kalau satu minggu,satu bulan, bahkan satu tahun?. Mungkin hasilnya akan lebih banyak?" Respon Arya merasa takjub.
"Lalu apa yang harus kita lakukan ke depannya bos?. Apakah menunya itu-itu saja?" Tanya Gobang datang bertanya.
"Itulah yang sedang aku pikirkan!. Kalau menunya itu-itu saja, pasti orang akan bosan. Tapi kalau menunya berubah-ubah, maka semakin membuat orang penasaran."
"Oleh karena itu kita harus rajin mencari inovasi, dan belajar dari internet dan media sosial lainnya. Siapa tahu melalui itu, ada menu yang belum pernah ditampilkan."
"Mita hubungi orang tersebut dan membeli hak ciptanya. Kemudian kita kembangkan di rumah makan kita."
"Siapa tahu dengan langkah tersebut, usaha kita akan semakin maju, dan untung yang kita peroleh akan semakin banyak." Jawab Arya menjelaskan apa adanya.
"Mantap bos!. Kami semua pasti mendukung apa yang direncanakan oleh bos, dan kami akan selalu mengerjakan apa yang bos perintahkan!" Respon Alam mewakili teman-temannya.
"Oh ternyata kau Alam?. Kemana saja dari tadi?. Kenapa tidak terlihat?" Reaksi Arya penasaran.
"Maaf bos kalau tadi pergi tanpa izin!"
"Ada seseorang yang ingin menemui ku, katanya dari ibukota provinsi?"
"Dia menginginkan agar saya datang seorang diri. Jadi saya penuhi permintaannya."
"Setelah sampai, ternyata mereka berjumlah banyak, yang diketuai oleh seorang laki-laki berperawakan besar."
"Dia mengaku bernama Tanujaya, Teddy serta Joni. yang katanya bos juga kenal.".
"Dia ingin menemui bos secara langsung, tapi karena kondisi di sini ramai, maka niatnya tidak jadi dilaksanakan."
"Oleh karena itu mereka menitipkan pesan pada salah seorang pelanggan kita, dan mengatakan agar saya menemui mereka seorang diri."
"Jika aku melanggar ketentuan, maka adikku yang sedang bersekolah di SMA Tunas Bangsa akan mereka culik dan aniaya."
"Oleh karena itu tanpa memberitahu bos, saya pergi seorang diri untuk menemui mereka."
"Untuk kesalahan itu, mohon bos memaafkan saya?"Jawab Dirga apa adanya.
"Lagi-lagi Teddy!. Tanu dan Joni!. Tidak ada kapok-kapoknya mereka?"
"Mau sampai kapan kalian seperti itu?" Reaksi Arya tidak senang, sekaligus merasa bosan
"Lalu apa yang mereka katakan padamu saat kau bertemu mereka?" Tanya Arya ingin tau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Raffael Beniqno
trusss
2023-04-01
1
Jimmy Avolution
Gaskeun....
2023-01-19
2
Wati_esha
Rumah Makan Rakyat, nama yang unik berhasil mengundang penikmat kuliner di sekitarnya.
2023-01-19
1