Sepulangnya Arya dari sekolah, tubuhnya jadi lebam-lebam,tangannya terkilir, kakinya patah dan mulutnya berdarah darah.
Teddy yang berhati jahat itu, menyuruh orang orangnya untuk memberi pelajaran pada Arya,karena dia sudah berani membongkar rahasianya pada Meggia.
Saat dihajar itu, Arya tidak bisa berbuat apa-apa. Selain dia baru sembuh dari sakit. dia juga tidak bisa membela diri, karena dia tidak menguasai ilmu bela diri.
Jangankan bela diri, mempertahankan posisinya saja dia tidak bisa. Jadi saat anak buah Teddy datang, dia hanya terpaku diam, dan saat dihajar oleh mereka, Arya hanya melindungi wajahnya saja. Tapi tanpa terduga, salah seorang dari mereka menarik tangan Arya, lalu menghentakkan nya kuat kuat, hingga membuat tangannya terkilir.
Bukan hanya itu saja yang dilakukan oleh mereka. Arya juga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Mulutnya ditonjok berkali-kali,perutnya apalagi. Baru setelah dia pingsan, orang-orang yang menghajarnya itu pergi, dan meninggalkan Arya begitu saja.
Kebetulan tempat Arya dihajar itu, merupakan tanah kosong, yang memang sejak awal tidak jelas siapa pemiliknya. Kebetulan pula rumah Arya tidak begitu jauh dari tanah kosong tersebut,tapi kondisi rumahnya sangat memprihatinkan.
Sudah banyak atapnya yang bocor, dan dinding kayu serta buluhnya yang berlubang lubang.
Namun apa boleh buat. Arya tetap menempatinya juga, karena itulah satu-satunya rumah yang dia miliki.
Begitu dia siuman, Arya cepat cepat bangun dan bergegas pergi dari tempat itu walau dengan langkah pincang.Tapi baru saja sampai didepan pintu, Arya pun ambruk, dan menimpa pintu yang tidak dikunci itu. Tetangganya tidak ada yang melihat, karena jarak rumah mereka cukup jauh. Jadi sekitar satu setengah jam Arya pingsan. tidak ada seorangpun yang menolong. Setelah itu baru dia siuman.
"Uh kepalaku. Rasanya sakit sekali,mulut ku juga."keluh Arya sambil menahan sakit.
"Apa sebenarnya salah ku? Rasanya aku tidak pernah menganggu orang. tapi kenapa selalu dirundung,bahkan oleh orang yang sama"
"Mau sampai kapan aku terus begini? apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus belajar ilmu kanuragan, atau mempelajari ilmu sihir, agar mereka yang menghajar ku bisa aku hajar balik?" Guman Arya pada diri sendiri.Kemudian merangkak
masuk ke dalam rumah dan beristirahat di sana.
"Ayah, ibu! Andai kalian masih hidup, tentu aku tidak sesakit ini.Sebenarnya kalian ada dimana? Kenapa tidak ada kabarnya sama sekali?"
"Apakah kalian sudah benar benar meninggal? Kalaupun itu benar, dimana kubur kalian?" keluh Arya sambil menangis sesenggukan. Tak lama kemudian ia tertidur pulas, dan tidak tau apa apa lagi.
Enam jam kemudian Arya terbangun dari tidurnya, dan mendapati bahwa hari sudah menjelang malam.
Tapi yang anehnya. Semua luka ia derita sudah sembuh, dan tidak ada lagi bekasnya.
"Apa yang terjadi?. Dimana luka luka ku itu?" Pekik Arya penasaran.
"Eh tunggu dulu! Sore tadi tangan ku masih terkilir, dan kaki ku juga patah. Tapi sekarang sudah sembuh. Siapa yang mengobatinya?" Ucapnya lagi semakin penasaran.
Tapi pertanyaannya tentu saja tidak terjawab, karena di rumah itu, dia hanya tinggal sendiri, dan tidak ada orang lain lagi.
Menyadari itu, Arya menyudahi keheranannya, dan bangun dari tempat tidur, serta mencari makanan apa saja yang ada.
"Ah malang sekali, tidak ada makanan walaupun hanya sebutir nasi. Lalu apa yang harus aku makan?" Ucapnya pelan.
Lalu mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan,tapi tetap tidak menemukan apa-apa. Jangankan nasi, roti kering saja tidak ada.
"Jika begini terus aku akan mati kelaparan. Nasip ku benar benar malang" Rutuknya kesal.
"Ah! dari pada mengeluh dan kesal terus terusan, lebih baik aku ke belakang, dan mencari singkong atau ubi jalar, yang kemungkinan besar tumbuh di sana."Tekad Arya di kuat kuatkan.
Kemudian di nekat nekat kan maju menerobos semak belukar, yang di sekitar situ diperkirakan ada ubi jalar atau singkong nya.
Kebetulan malam itu bulan sedang bersinar terang,jadi kondisi tanah kosong itu terlihat cukup jelas.
Namun saat Arya sedang sibuk mencari makanan, datang beberapa orang berpakaian hitam, dan langsung menuju rumah Arya.
Salah seorang dari mereka berkata. "Perhatikan bocah itu! Awasi apa yang sedang ia lakukan,jangan sampai dia melihat aksi kita. Jadi cepat lakukan tugas kalian!"
"Siram seluruh dinding bagian depan dan belakang dengan bensin itu,dan bakar setelah kita jauh"
"Eh tapi tunggu dulu! Bukankah pagi tadi dia tidak bisa berjalan. tapi kenapa tiba tiba segar seperti itu? sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya seseorang pada lima orang temannya keheranan.
"Mana kami tau bos. Mungkin dia hanya pura pura saja" Respon teman nya memberi jawaban.
"Tidak mungkin! Kaki yang sudah patah itu bisa sembuh seketika, apalagi tangannya itu?"
"Dia pasti tukang sihir. Kalau tidak mana mungkin lukanya yang sangat parah itu bisa sembuh seketika?" Bantah ketuanya tidak percaya.
"Ah masa bodoh lah. Cepat pergi dan siram tali itu dengan bensin juga,mumpung dia sedang tidak ada kita bakar rumahnya" Respon ketua tersebut tergesa gesa.
Lalu tanpa sengaja menjatuhkan handphone nya, dan langsung masuk ke dalam celah batu yang memang banyak di sana.
Tak lama sesudah itu, mereka berenam pun kabur, dengan tidak lupa menyulut tali yang sudah dibasahi dengan bensin menggunakan pemantik api.
Beberapa detik kemudian,kobaran api pun membara, dan membumbung tinggi di angkasa. Sekejap saja api sudah membakar sebagian atap juga dindingnya.
Atap yang terbuat dari daun rumbia sangatlah mudah terbakar, ditambah kondisinya yang sudah kering. Maka pertolongan sebesar apapun tidak akan bisa mengatasinya.
Arya yang sedang sibuk mencabut batang singkong itu pun melongo tak percaya. Baru saja dia pergi, tapi rumahnya sudah terbakar.
"Ah sialan! Siapa yang telah membakar rumahku? apa yang dicarinya?" Teriak Arya geram.
Kemudian bergegas lari, tanpa memperdulikan ubi jalar dan singkongnya lagi, dia menerobos jalan yang tadi dia lalui. dan tak lama kemudian dia pun sampai.
Namun sayang, rumah yang terbuat dari kayu dan bambu itu sudah ludes terbakar, karena seluruh bangunannya disiram dengan bensin, hingga api menjalar dengan cepat.
Arya yang melihat itu menjadi terduduk diam. Dia tidak berani mendekati kobaran api yang masih membara tersebut.
Baru setelah apinya padam, Arya berusaha mendekati puing bekas rumah yang baranya masih ada.
Dia berusaha mencari benda apa saja yang masih tersisa. Tapi yang namanya terbakar. tidak ada satupun harta miliknya yang masih utuh.
Seluruh pakaiannya ludes terbakar. Perabotan yang tidak seberapa pun juga habis,yang tinggal hanya piring kaca yang bentuknya juga sudah tidak beraturan lagi. Retak dan pecah sana sini.
Beruntung benda benda berharga seperti surat surat penting dia titipkan di rumah sahabatnya, termasuk surat tanda tamat belajar dari SD dan SMP. Jadi untuk sementara surat surat itu masih tetap aman di sana.
Kini Arya tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan,ditambah lagi perutnya yang semakin keroncongan, makanan tidak ada apalagi simpati dari orang orang.
Mereka hanya melihat saja dari jauh, tanpa berusaha menolong. Padahal itu bukan sampah tapi rumah,namun mereka tetap tidak memperdulikannya. Sungguh keterlaluan mereka.
Mentang mentang Arya miskin, lalu mereka tidak memperdulikannya. Entah apa yang mereka pikirkan? Padahal selama ini Arya tidak pernah membuat masalah dengan mereka.
Bahkan dia selalu menolong orang-orang tersebut jika mereka membutuhkan bantuan. Arya di lokasi itu terkenal ringan tangan, dan suka membantu siapa saja yang meminta bantuannya.
Tapi saat dia mengalami musibah, tidak ada seorangpun yang mau membantu, apalagi mengucapkan ucapan prihatin padanya.
Sungguh keterlaluan mereka!
"Ah masa bodoh! Toh rumahnya pun sudah tua,buruk lagi,jadi wajar kalau terbakar. mau diapakan lagi?" Ucap beberapa orang yang sempat melihat kobaran api yang cukup besar itu tanpa berperasaan.
Maka dengan kondisi yang tidak menentu, Arya meratapi nasib nya yang buruk tersebut. Mau menangis pun tiada guna.Yang bisa ia lakukan saat ini hanya termangu diam. Tapi tangannya terus menerus menekan perutnya yang kelaparan.
"Mumpung bara api masih ada, lebih baik aku ambil ubi jalar dan singkong itu untuk aku bakar. Hitung hitung untuk mengganjal perut ku yang keroncongan." Ucap Arya pada diri sendiri.
Kemudian kembali lagi ke tempat semula, dan mengambil benda-benda yang dia dapatkan tadi. Tak lama kemudian. beberapa buah ubi serta singkong sudah Arya letakkan di atas bara api, tinggal menunggu matang saja.
"Setelah ini apa yang harus aku lakukan? lalu dimana aku akan tidur?Tidak mungkin tidur disini.ditambah kondisinya yang masih berantakan"
"Lebih baik aku berteduh di bawah pohon itu saja, atau ah! bukankah masih ada gudang?walaupun kondisinya kurang bagus, tapi masih bisa digunakan untuk tempat berteduh" Pekik Arya kegirangan, sambil mengunyah ubi bakar yang ada di tangannya tersebut.
***
Sementara itu ditempat lain. Orang yang menyuruh untuk membakar rumah Arya sedang tertawa kegirangan. Dia puas karena sudah bisa membalas dendam pada Arya, walaupun harus membunuhnya, tetap akan ia lakukan, yang penting hatinya puas.
Namun karena otaknya masih dibutuhkan, Teddy masih belum mau menghabisi Arya. Buatnya Arya itu seperti sapi perahan. Kapan mau diambil susunya baru di kenang.
"Untuk sementara aku biarkan ia hidup dulu. Nanti setelah aku tamat, baru dipikirkan mau dibuat apa si Arya itu?"
"Untuk saat ini, biarkan dia bersenang senang dulu. Mumpung masih ada kesempatan, maka aku akan menangguhkannya"
"Tunggulah kau Arya! Gara gara kau! nilai pelajaran ku jadi anjlok. Tugas tugas dari guru lain tidak bisa aku serahkan, karena kau tidak ada"
"Kalau kau datang nanti, aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Ucap Teddy geram. kemudian meninju dinding tanda kesal.
Beep! beep!
"Meggia! kenapa malam malam begini dia meneleponku?ada apa ya?" Reaksi Teddy penasaran.
Kemudian menekan tombol terima di layar hp-nya. Tak lama kemudian dia pun berkata. "Halo sayang? ada apa malam malam begini menelepon ku, apakah kau belum tidur?" Ucap Teddy setelah mengangkat telepon dari Meggia itu pura-pura bertanya.
"Kau sudah gila ya ted? Kenapa kau menyuruh anak buah mu untuk membakar rumah Arya?Apakah kau tidak berpikir, kalau sekarang dia tidak punya apa apa?"
"Apakah kau juga berpikir kalau buku bukunya semuanya bisa habis, akibat kebakaran itu?Dimana otak mu sih?" Reaksi Meggia terdengar kasar.
"Kau tenang saja sayang! justru dengan membakar rumahnya, Arya bisa kita tekan?Dengan cara itu kita bisa membuatnya menjadi orang suruhan kita!"
"Dengan cara itu pula kita bisa mempermalukan serta merendahkan Arya dimana pun dia berada." Jawab Teddy tidak berperasaan.
"Tapi dimana dia akan tinggal? apakah dikolong jembatan?" Protes Meggia tidak terima.
"Hellow!Kenapa kau malah bersimpati pada si Arya itu? apakah kau sudah mulai jatuh cinta?" Respon Teddy tidak terduga.
"Ih apaan sih? amit amit!. Aku cuma berpikir dimana malam ini dia mau tidur, kalau rumahnya sudah terbakar? Apakah harus tidur di rumah mu?" Reaksi Meggia merasa jijik.
"Enak saja!. Biarkan ia tidur di gubuk yang memang sengaja tidak dibakar,biar dia tau bagaimana susah nya hidup"
"Kalau ia sudah tidak tahan. pasti akan mendatangi kita dan memohon belas kasihan"
"Nah!, disaat itulah kita akan memainkan peran!.Kita bisa menyuruhnya untuk mengemis, atau melakukan tugas tugas yang memalukan,bukankah itu rencana yang keren?" Jawab Teddy semakin gila gilaan.
"Ah terserah kau sajalah!,yang penting orang orang tidak tau bahwa itu hasil dari perbuatan anak buah mu! Jika ketahuan, mungkin hidup mu tidak akan tenang! "Respon Meggia memberi peringatan.
"Kau tenang saja sayang! anak buah ku kerjanya rapi,tidak ada bukti kalau mereka yang melakukannya." Jawab Teddy mencoba menenangkan.
Tapi ternyata dia berbicara sendiri, Karena Meggia sudah memutuskan sambungan teleponnya, sesaat setelah memberi peringatan itu.
"Huh dasar perempuan jhalang!" Reaksi Teddy tidak senang.
"Awas kau ya!. Setelah aku mendapatkan mu, kau akan aku campakkan!"
Kau pikir aku benar benar mencintai mu.Jangan harap. Aku hanya ingin mendapatkan tubuh mu, setelah itu akan aku buang" Guman Teddy penuh dendam.
Kemudian memutuskan untuk tidur. Tapi belum juga dia rebahan. Masuk sebuah panggilan dari salah seorang anak buahnya dengan berkata. "Gawat bos! Joni menjatuhkan handphonenya di lokasi kebakaran! tapi dia dia tidak sengaja. Lalu apa yang harus kami lakukan bos?" Tanya anak buahnya meminta saran.
"Dasar orang orang bodoh! Bisa-bisanya kehilangan handphone disaat lagi kerja?"
"Kalau Arya menemukan handphone itu. Pasti kita akan celaka.Jadi cepat kesana, cari handphone itu. Aku tidak mau terlibat!" Jawab Teddy tidak senang.
"Tapi kalau kami kesana, apa alasannya bos, tentu Arya akan curiga?" Protes anak buahnya tidak tenang.
"Aku tidak mau tau! Gunakan kepandaian kalian dengan berpura pura meminta maaf atas kejadian siang tadi, dan tulus memberikan perhatian"
"Saat sampai itu, kalian pura pura terkejut. karena melihat rumah Arya yang sudah terbakar"
"Nah disaat itulah kalian pura pura memeriksa kondisi rumah yang sudah terbakar itu,sambil mencari keberadaan handphone tersebut"
"Kalau handphone itu masih aktif, berarti Arya belum menemukannya, dan untuk sementara posisi kalian masih aman.Jadi cepat lakukan. Aku tidak mau mendengar ada kegagalan!"
"Kalau kalian tidak bisa menemukan handphone itu, maka aku akan menghukum kalian!" Jawab Teddy dengan suara lantang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
forza 💫✨🎗️🪙👑
makin goblok mcnya
2024-02-23
0
RADEN HASTAGUNA DENTA PARAWANGSA DENTA
Ah kasian banget lau Arya dibully terus dan di hina sementara sebutir nasipun tdk ada...parah....😢😢😢😤😤
2023-02-27
4
Jimmy Avolution
Ayo....
2023-01-19
1