Satu setengah jam kemudian,apa yang diperintahkan oleh Teddy sedang mereka kerjakan. yaitu mendatangi kediaman Arya yang sudah terbakar itu.
Tapi seperti yang diperintahkan, Joni yang mengetuai kelompok kecil tersebut, pura-pura terkejut, saat mengetahui bahwa rumah Arya sudah tidak ada lagi.
Bungkusan besar yang ia bawa, sengaja ia jatuhkan, dengan ekspresi terkejut yang sangat luar biasa. Padahal dialah yang punya kerja, dan otak pelaku pembakaran itu.
Tapi di depan Arya dia pura-pura merasa tidak mengerjakan, dan berpura-pura pula menjatuhkan bungkusan besar yang ia bawa ke bawah kakinya,hingga membuat barang-barang yang dibawanya tersebut bertaburan di tanah.
"Apa yang terjadi Arya?Siapa yang membakar rumahmu?Kapan terjadinya?" Tanya Joni tidak sabaran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu! Alih-alih rumahku sudah terbakar, dan tidak tahu siapa yang melakukannya," Jawab Arya cuek saja.
"Begitukah? Tapi apakah kau sudah menyelidikinya?" Tanya Joni ingin penjelasan.
"Untuk sementara belum. Tapi aku yakin kebusukan akan terkuat juga" Jawab Arya mengejutkan mereka.
"Oh ya kalau boleh tahu, untuk apa kalian datang ke sini?apakah ingin menghajarku lagi?" Tanya Arya tiba-tiba, dan tidak takut jika Joni dan teman-temannya melakukannya lagi.
"Oh tidak, tidak! Kami datang ingin meminta maaf, karena telah bertindak kasar padamu pagi tadi" Jawab Joni pura pura ramah,padahal dalam hatinya mendongkol tidak karuan.
Jika punya kesempatan, maka mulut Arya yang lancang itu akan dipukulnya lagi, dan gigi giginya akan dibuatnya tanggal.
Tapi demi menjalankan perintah dari bosnya itu, Joni terpaksa harus menahan amarah, sebab jika dia bertindak lebih, maka Arya akan curiga, dan tidak mau bekerja sama dengannya lagi.
"Oh ya? Setelah rumahmu terbakar, di mana kau akan tinggal?Bagaimana kalau di rumahku saja?" Ucap Joni menawarkan kebaikan.
"Selagi masih ada langit dan tanah, di mana saja bisa, walaupun harus di kolong jembatan"
"Tapi untuk malam ini, aku akan tinggal di gudang itu saja, karena menurutku tempat tersebut cukup nyaman." Jawab Arya mencengangkan mereka.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kami berenam ini menamanimu untuk malam ini? Hitung-hitung sebagai permintaan maaf kami." Respon Joni mencoba menebar kebaikan.
"Tidak perlu! Kalian orang senang, dan tidak akan pernah tinggal di tempat yang seperti ini. banyak nyamuknya lagi"
"Oleh karena itu aku sarankan, kembalilah ke rumah kalian, dan tidur dengan nyaman di sana." Jawab Arya menolak kebaikan.
"Jangan begitulah kawan,kami benar-benar minta maaf. Akibat dari perbuatan kami kau jadi dikeluarkan dari sekolah, eh maksudku di skors"
"Sebagai bentuk solidaritas, apalagi setelah melihat rumahmu terbakar, kami berniat ingin memberikan bantuan." Respon Joni membingungkan.
"Ah terserah kalian sajalah! Kebetulan hari pun sudah larut malam. Aku sudah mulai mengantuk." Jawab Arya tidak sungkan.
"Kalau begitu terima kasih. Tapi tolong terimalah bingkisan dari kami ini sebagai tanda permintaan maaf." Reaksi Joni senang tidak tertahan. Padahal dalam hatinya penuh dendam.
"Awas kau Arya! Suatu saat nanti, aku akan mematahkan kaki dan tanganmu itu, dan membuatmu tidak akan bisa bangun lagi" Batin Joni geram dalam hati.
Kemudian pura-pura mengemasi bingkisannya, untuk diberikan kepada Arya. Tapi Arya sudah tidak ada di tempatnya lagi. Dia sudah masuk ke dalam gudang untuk tidur di sana.
"Cepat cari handphone itu! mumpung dia sudah tidak ada. Setelah dapat langsung kita pergi"
"Aku tidak tahan berada di tempat yang seperti ini,mana banyak nyamuknya lagi." Ucap Joni nada kesal.
Sepuluh menit kemudian. Apa yang mereka lakukan itu tidak membuahkan hasil. Handphone yang dicarinya tetap tidak ditemukan.
"Bagaimana ketua? Seluruh tempat ini sudah kita jelajahi, bahkan di bekas puing-puing rumah itu juga. Di tumpukan batu-batu apalagi,siapa tahu handphone ketua terjatuh di sana." Tanya Jodi pada ketuanya.
"Coba kau hubungi nomor ku, siapa tahu nomornya masih aktif." Reaksi Joni memberi masukan.
"Eh tapi tunggu dulu! Aku sekarang baru ingat, bahwa sebelum pergi ke tempat ini tadi, baterai handphone-ku tinggal satu balok"
"Jika kau menghubunginya juga percuma, karena aku yakin handphone tersebut sudah mati." Ucap Joni tak tetap pendirian.
"Kita coba saja ketua,siapa tahu handphone itu masih ada dayanya,jadi kita bisa tahu keberadaan handphone tersebut." Bantah Jodi tidak terima.
"Ah terserah kau sajalah. Aku sudah memberitahu mu. Tapi kalau kau masih penasaran, silakan hubungi nomorku,aku yakin tidak akan tersambung." Jawab Joni pasrah dan terserah anak buahnya saja.
"Apa saja kerja mereka malam-malam begini?kenapa dari tadi asik mondar-mandir saja,apakah ada sesuatu yang mereka cari?" Guman Arya pada diri sendiri, dan sudah mulai merasa curiga.
"Lebih baik aku amati, dan menyimpulkan apa yang sedang mereka cari tersebut." Gumamnya lagi.
Kemudian membuka papan kecil yang menutupi pemandangan nya, agar apa yang dilakukan oleh Joni dan kawan-kawannya bisa terlihat jelas.
Benar saja seperti yang diperkirakan. Joni dan anak buahnya terus mondar mandir di tempat itu, bahkan membongkar bongkar apa saja yang diperkirakan menutupi sesuatu yang sedang mereka cari.
Bahkan tumpukan batu batu, dimana tempat handphone itu berada, pun sempat mereka bongkar. Tapi tidak sampai habis. Padahal hp tersebut berada di sana, dan hanya tinggal dua buah batu saja, maka benda itu akan ditemukan.
Namun karena sudah kesal, Joni memerintahkan kepada mereka untuk mengakhiri aktivitasnya. Sedangkan usaha anak buahnya juga tidak membuahkan hasil,nomor Joni tetap tidak bisa dihubungi. Karena saking kesalnya, mereka pergi dari tempat itu tanpa pamitan lagi pada Arya.
Setelah mereka pergi, Arya keluar dari gubuknya, dan melihat-lihat apa sebenarnya yang sedang mereka cari. Tapi Arya juga tidak menemukan apa-apa,karena sudah semakin mengantuk, maka dia melanjutkan tidurnya.
***
Keesokan harinya, Arya telat bangun dari tidur. Biasanya dia bangun sebelum subuh, dan tidak akan tidur lagi setelah menunaikan kewajibannya.
Tapi pagi ini, karena saking mengantuk dan kelelahan, dia bangunnya sedikit lambat. Jika dikira kira, kemungkinan jam sudah menunjukkan pukul 07 pagi.
Bergegas dia bangun dari tempat tidurnya, yang hanya beralaskan papan, dan dilapisi dengan plastik yang kebetulan ada di gudang tersebut.
Begitu dia keluar, matahari sudah meninggi, dan sinarnya menyilaukan mata Arya.
"Jam berapa sekarang ini ya? aku jadi tidak tahu persisnya?tapi anggap sajalah jam baru menunjukkan angka 7, dan masih belum terlalu siang"
"Lebih baik aku melanjutkan pencarian tadi malam, siapa tahu menemukan petunjuk, siapa yang telah membakar rumahku ini?" Ucapnya pada diri sendiri.
Kemudian tenggelam dalam aktivitasnya, sampai dia tidak menyadari kalau ada seseorang yang mendatanginya dari arah belakang.
"Apa yang sedang kau lakukan Arya? Apakah kau sedang mencari sesuatu?" Tanya seseorang itu penasaran,hingga membuat Arya terkejut.
"Oh pak Danu! kebetulan bapak datang!Aku ingin melaporkan pada bapak, bahwa tadi malam rumahku kebakaran.kemungkinan besar dibakar orang." Reaksi Arya merasakan sedikit senang.
"Ya itu bapak tau. Tapi maafkan bapak karena malam tadi kami tidak sempat membantu"
"Kebetulan bapak sedang tidak ada di tempat, dan baru kembali setelah subuh.Begitu bapak sampai, langsung dikasih tahu,kalau rumah mu kebakaran"
"Jadi pagi ini bapak mendatangi mu, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, berikut penyebabnya?" Jawab orang yang dipanggil pak Danu itu penasaran.
"Aku juga tidak tahu pak Danu. Saat aku sedang mencari ubi jalar dan singkong di tanah kosong itu, tiba-tiba aku melihat api yang sudah berkobar, dan membakar rumahku sampai habis."
"Jadi aku tak sempat menyelamatkan barang barang ku. dan sampai saat ini, aku juga belum tahu apa yang akan aku lakukan berikutnya?" Jawab Arya apa adanya.
Kemudian melirik kearah bungkusan yang cukup besar itu, yang diperkirakan isinya adalah kebutuhan pokok sehari hari.
"Apa itu Arya?. Kenapa tergeletak di tanah?" Tanya pak Danu ingin tahu.
"Aku juga tidak tahu pak Danu,itu dibawa oleh orang-orang yang siang tadi memukuliku,kemungkinan isinya adalah makanan." Jawab Arya berterus terang.
"Memukulimu?kapan itu, dan apa penyebabnya?" Respon pak Danu semakin penasaran.
"Pagi menjelang siang kemarin.Mengenai penyebabnya, aku juga tidak tahu. Mungkin mereka tidak menyukaiku." Jawab Arya apa adanya.
"Lalu saat mereka datang, apakah kondisimu sudah baik-baik saja?dan berapa orang mereka?" Tanya pak Danu pula.
"Waktu mereka datang, kondisiku sudah membaik,sedangkan mereka berjumlah 6 orang, dan sempat mematahkan tanganku.Tapi sekarang sudah tidak apa-apa lagi." Jawab Arya hampir membocorkan rahasianya.
"Aneh! Tangan patah bisa sembuh hanya dalam satu malam. Apa yang terjadi?. Apakah ada orang yang menolongmu?" Tanya pak Danu terkesan menyelidiki.
"Tidak juga.Saat mengetahui bahwa tanganku patah, aku mengurutnya dengan ramuan warisan dari ibuku"
"Saat bangun dari tidur, tanganku sudah tidak apa-apa lagi." Jawab Arya terpaksa berbohong.
"Oh begitu! Aku kira ada keajaiban?"
"Tapi ngomong ngomong, apa yang sedang kau cari? Apakah ada barang penting yang tercecer di halaman?"
"Coba katakan pada bapak, siapa tahu bapak bisa membantu?" Respon pak Danu menawarkan jasa.
"Aku juga tidak tahu pak Danu. Kebetulan malam tadi 6 orang yang mendatangiku itu, aku lihat sepertinya mereka sedang mencari sesuatu"
"Sepertinya juga, terbakarnya rumahku ada hubungannya dengan mereka.Oleh karena itu aku jadi penasaran, dan ikut mencarinya tadi malam setelah mereka pulang"
"Tapi sekitar satu jam aku mencarinya, tidak juga menemukan apa-apa.Maka pagi ini aku melanjutkannya,siapa tahu apa yang mereka cari malam tadi bisa aku temukan." Jawab Arya menjelaskan.
"Oh bapak jadi paham. Kalau begitu teruskan.Bapak akan melaporkan masalah ini pada perangkat desa,siapa tahu mereka mempunyai solusinya." Reaksi pak Danu tidak penasaran lagi.
"Oh iya pak Danu, silakan!" Jawab Arya cukup sopan. Kemudian berterima kasih kepada pak Danu atas kepeduliannya, yang kebetulan saat ini menjabat sebagai ketua rukun tetangga di kampung itu.
Tak lama kemudian Arya pun melanjutkan pencariannya, dan ternyata usahanya membuahkan hasil, di mana ia menemukan sebuah handphone yang sudah tidak ada dayanya lagi.
"Oh, jadi ini benda yang mereka cari malam tadi? pantesan mereka kelihatan panik. berarti terbakarnya rumahku ada hubungannya dengan mereka?"
"Tapi apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melaporkannya kepada pihak berwajib.Tapi apakah laporan ku akan ditanggapi?"
"Ah sa bodo amat!. Aku tidak akan melaporkan penemuanku ini, walaupun aku tahu siapa pelaku yang sebenarnya!"
"Tapi aku tidak akan melaporkannya pada siapapun, karena aku mempunyai rencana tersendiri terhadap mereka!" monolog Arya pada diri sendiri. Sambil mengepalkan telapak tangannya erat erat.
Kemudian mengambil handphone yang terselip di bawah batu berongga itu, lalu dibawanya pergi.
***
"Dasar bodoh!. Mencari benda sebesar itu saja tidak bisa! Apakah kalian tidak punya mata?" Ucap Teddy marah, sesaat setelah Joni melaporkan kegagalannya.
"Kami sudah mencarinya kemana-mana bos, bahkan ke bawah tumpukan batu, sampai ke bekas puing puing yang masih membara itu juga kami cari. Tapi benda yang kami cari tidak juga ditemukan"
"Jadi kesimpulan sementara adalah, handphone itu tidak terjatuh di sana, tapi mungkin terjatuh di jalan, saat kami sedang memasuki areal tersebut." Jawab Joni membela diri.
"Lalu apakah jalan yang kau maksudkan itu sudah kau telusuri, dan apakah usahamu tidak membuahkan hasil?" Tanggapan Teddy masih tetap marah.
"Tidak ada bos!.Kami sudah mencarinya, bahkan dengan cara jalan kaki,tapi selama kami mencari, benda tersebut tidak juga ditemukan." Jawab Joni berterus terang.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! jika ada apa-apa dengan kalian. jangan libatkan aku!"
"Jika kau berani berbuat macam macam, maka anak buah ku yang lain akan menghabisi mu juga keluargamu,paham?" Peringatan Teddy cukup keras.
"Paham bos! Kami tidak akan membocorkannya walaupun apa yang terjadi pada kami" Tanggapan Joni cukup melegakan.
"Ya sudah.Kalau begitu kau boleh pergi, dan untuk sementara jangan menampakkan diri dulu" Respon Teddy penuh penekanan.
"Tapi siapa yang akan menemani bos saat bepergian? Bukankah kami orang yang ditunjuk oleh tuan besar untuk mengawal bos kemanapun bos pergi?" Tanya Joni ingin penegasan.
"Itu masalah gampang. Untuk sementara tugas kalian akan digantikan oleh tim lain, dan kalian untuk sementara juga harus keluar dari kota ini.Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian," Jawab Teddy memberi arahan
"Siap bos! Kami akan pergi ke kota sebelah, dan akan kembali setelah keadaannya aman" Respon Joni patuh, dan menyetujui rencana dari bosnya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Ayo...
2023-01-19
2
LENY
Teddy dan anak buahnya Jahat banget tunggulah pembalasan kalian
2023-01-15
1
Wati_esha
Teddy cuci tangan ya. 🤭☺
2023-01-14
1