Mulai terkuak kebenaran

Satu setengah jam kemudian,apa yang diperintahkan oleh Teddy sedang mereka kerjakan. yaitu mendatangi kediaman Arya yang sudah terbakar itu.

Tapi seperti yang diperintahkan, Joni yang mengetuai kelompok kecil tersebut, pura-pura terkejut, saat mengetahui bahwa rumah Arya sudah tidak ada lagi.

Bungkusan besar yang ia bawa, sengaja ia jatuhkan, dengan ekspresi terkejut yang sangat luar biasa. Padahal dialah yang punya kerja, dan otak pelaku pembakaran itu.

Tapi di depan Arya dia pura-pura merasa tidak mengerjakan, dan berpura-pura pula menjatuhkan bungkusan besar yang ia bawa ke bawah kakinya,hingga membuat barang-barang yang dibawanya tersebut bertaburan di tanah.

"Apa yang terjadi Arya?Siapa yang membakar rumahmu?Kapan terjadinya?" Tanya Joni tidak sabaran.

"Entahlah, aku juga tidak tahu! Alih-alih rumahku sudah terbakar, dan tidak tahu siapa yang melakukannya," Jawab Arya cuek saja.

"Begitukah? Tapi apakah kau sudah menyelidikinya?" Tanya Joni ingin penjelasan.

"Untuk sementara belum. Tapi aku yakin kebusukan akan terkuat juga" Jawab Arya mengejutkan mereka.

"Oh ya kalau boleh tahu, untuk apa kalian datang ke sini?apakah ingin menghajarku lagi?" Tanya Arya tiba-tiba, dan tidak takut jika Joni dan teman-temannya melakukannya lagi.

"Oh tidak, tidak! Kami datang ingin meminta maaf, karena telah bertindak kasar padamu pagi tadi" Jawab Joni pura pura ramah,padahal dalam hatinya mendongkol tidak karuan.

Jika punya kesempatan, maka mulut Arya yang lancang itu akan dipukulnya lagi, dan gigi giginya akan dibuatnya tanggal.

Tapi demi menjalankan perintah dari bosnya itu, Joni terpaksa harus menahan amarah, sebab jika dia bertindak lebih, maka Arya akan curiga, dan tidak mau bekerja sama dengannya lagi.

"Oh ya? Setelah rumahmu terbakar, di mana kau akan tinggal?Bagaimana kalau di rumahku saja?" Ucap Joni menawarkan kebaikan.

"Selagi masih ada langit dan tanah, di mana saja bisa, walaupun harus di kolong jembatan"

"Tapi untuk malam ini, aku akan tinggal di gudang itu saja, karena menurutku tempat tersebut cukup nyaman." Jawab Arya mencengangkan mereka.

"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kami berenam ini menamanimu untuk malam ini? Hitung-hitung sebagai permintaan maaf kami." Respon Joni mencoba menebar kebaikan.

"Tidak perlu! Kalian orang senang, dan tidak akan pernah tinggal di tempat yang seperti ini. banyak nyamuknya lagi"

"Oleh karena itu aku sarankan, kembalilah ke rumah kalian, dan tidur dengan nyaman di sana." Jawab Arya menolak kebaikan.

"Jangan begitulah kawan,kami benar-benar minta maaf. Akibat dari perbuatan kami kau jadi dikeluarkan dari sekolah, eh maksudku di skors"

"Sebagai bentuk solidaritas, apalagi setelah melihat rumahmu terbakar, kami berniat ingin memberikan bantuan." Respon Joni membingungkan.

"Ah terserah kalian sajalah! Kebetulan hari pun sudah larut malam. Aku sudah mulai mengantuk." Jawab Arya tidak sungkan.

"Kalau begitu terima kasih. Tapi tolong terimalah bingkisan dari kami ini sebagai tanda permintaan maaf." Reaksi Joni senang tidak tertahan. Padahal dalam hatinya penuh dendam.

"Awas kau Arya! Suatu saat nanti, aku akan mematahkan kaki dan tanganmu itu, dan membuatmu tidak akan bisa bangun lagi" Batin Joni geram dalam hati.

Kemudian pura-pura mengemasi bingkisannya, untuk diberikan kepada Arya. Tapi Arya sudah tidak ada di tempatnya lagi. Dia sudah masuk ke dalam gudang untuk tidur di sana.

"Cepat cari handphone itu! mumpung dia sudah tidak ada. Setelah dapat langsung kita pergi"

"Aku tidak tahan berada di tempat yang seperti ini,mana banyak nyamuknya lagi." Ucap Joni nada kesal.

Sepuluh menit kemudian. Apa yang mereka lakukan itu tidak membuahkan hasil. Handphone yang dicarinya tetap tidak ditemukan.

"Bagaimana ketua? Seluruh tempat ini sudah kita jelajahi, bahkan di bekas puing-puing rumah itu juga. Di tumpukan batu-batu apalagi,siapa tahu handphone ketua terjatuh di sana." Tanya Jodi pada ketuanya.

"Coba kau hubungi nomor ku, siapa tahu nomornya masih aktif." Reaksi Joni memberi masukan.

"Eh tapi tunggu dulu! Aku sekarang baru ingat, bahwa sebelum pergi ke tempat ini tadi, baterai handphone-ku tinggal satu balok"

"Jika kau menghubunginya juga percuma, karena aku yakin handphone tersebut sudah mati." Ucap Joni tak tetap pendirian.

"Kita coba saja ketua,siapa tahu handphone itu masih ada dayanya,jadi kita bisa tahu keberadaan handphone tersebut." Bantah Jodi tidak terima.

"Ah terserah kau sajalah. Aku sudah memberitahu mu. Tapi kalau kau masih penasaran, silakan hubungi nomorku,aku yakin tidak akan tersambung." Jawab Joni pasrah dan terserah anak buahnya saja.

"Apa saja kerja mereka malam-malam begini?kenapa dari tadi asik mondar-mandir saja,apakah ada sesuatu yang mereka cari?" Guman Arya pada diri sendiri, dan sudah mulai merasa curiga.

"Lebih baik aku amati, dan menyimpulkan apa yang sedang mereka cari tersebut." Gumamnya lagi.

Kemudian membuka papan kecil yang menutupi pemandangan nya, agar apa yang dilakukan oleh Joni dan kawan-kawannya bisa terlihat jelas.

Benar saja seperti yang diperkirakan. Joni dan anak buahnya terus mondar mandir di tempat itu, bahkan membongkar bongkar apa saja yang diperkirakan menutupi sesuatu yang sedang mereka cari.

Bahkan tumpukan batu batu, dimana tempat handphone itu berada, pun sempat mereka bongkar. Tapi tidak sampai habis. Padahal hp tersebut berada di sana, dan hanya tinggal dua buah batu saja, maka benda itu akan ditemukan.

Namun karena sudah kesal, Joni memerintahkan kepada mereka untuk mengakhiri aktivitasnya. Sedangkan usaha anak buahnya juga tidak membuahkan hasil,nomor Joni tetap tidak bisa dihubungi. Karena saking kesalnya, mereka pergi dari tempat itu tanpa pamitan lagi pada Arya.

Setelah mereka pergi, Arya keluar dari gubuknya, dan melihat-lihat apa sebenarnya yang sedang mereka cari. Tapi Arya juga tidak menemukan apa-apa,karena sudah semakin mengantuk, maka dia melanjutkan tidurnya.

***

Keesokan harinya, Arya telat bangun dari tidur. Biasanya dia bangun sebelum subuh, dan tidak akan tidur lagi setelah menunaikan kewajibannya.

Tapi pagi ini, karena saking mengantuk dan kelelahan, dia bangunnya sedikit lambat. Jika dikira kira, kemungkinan jam sudah menunjukkan pukul 07 pagi.

Bergegas dia bangun dari tempat tidurnya, yang hanya beralaskan papan, dan dilapisi dengan plastik yang kebetulan ada di gudang tersebut.

Begitu dia keluar, matahari sudah meninggi, dan sinarnya menyilaukan mata Arya.

"Jam berapa sekarang ini ya? aku jadi tidak tahu persisnya?tapi anggap sajalah jam baru menunjukkan angka 7, dan masih belum terlalu siang"

"Lebih baik aku melanjutkan pencarian tadi malam, siapa tahu menemukan petunjuk, siapa yang telah membakar rumahku ini?" Ucapnya pada diri sendiri.

Kemudian tenggelam dalam aktivitasnya, sampai dia tidak menyadari kalau ada seseorang yang mendatanginya dari arah belakang.

"Apa yang sedang kau lakukan Arya? Apakah kau sedang mencari sesuatu?" Tanya seseorang itu penasaran,hingga membuat Arya terkejut.

"Oh pak Danu! kebetulan bapak datang!Aku ingin melaporkan pada bapak, bahwa tadi malam rumahku kebakaran.kemungkinan besar dibakar orang." Reaksi Arya merasakan sedikit senang.

"Ya itu bapak tau. Tapi maafkan bapak karena malam tadi kami tidak sempat membantu"

"Kebetulan bapak sedang tidak ada di tempat, dan baru kembali setelah subuh.Begitu bapak sampai, langsung dikasih tahu,kalau rumah mu kebakaran"

"Jadi pagi ini bapak mendatangi mu, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, berikut penyebabnya?" Jawab orang yang dipanggil pak Danu itu penasaran.

"Aku juga tidak tahu pak Danu. Saat aku sedang mencari ubi jalar dan singkong di tanah kosong itu, tiba-tiba aku melihat api yang sudah berkobar, dan membakar rumahku sampai habis."

"Jadi aku tak sempat menyelamatkan barang barang ku. dan sampai saat ini, aku juga belum tahu apa yang akan aku lakukan berikutnya?" Jawab Arya apa adanya.

Kemudian melirik kearah bungkusan yang cukup besar itu, yang diperkirakan isinya adalah kebutuhan pokok sehari hari.

"Apa itu Arya?. Kenapa tergeletak di tanah?" Tanya pak Danu ingin tahu.

"Aku juga tidak tahu pak Danu,itu dibawa oleh orang-orang yang siang tadi memukuliku,kemungkinan isinya adalah makanan." Jawab Arya berterus terang.

"Memukulimu?kapan itu, dan apa penyebabnya?" Respon pak Danu semakin penasaran.

"Pagi menjelang siang kemarin.Mengenai penyebabnya, aku juga tidak tahu. Mungkin mereka tidak menyukaiku." Jawab Arya apa adanya.

"Lalu saat mereka datang, apakah kondisimu sudah baik-baik saja?dan berapa orang mereka?" Tanya pak Danu pula.

"Waktu mereka datang, kondisiku sudah membaik,sedangkan mereka berjumlah 6 orang, dan sempat mematahkan tanganku.Tapi sekarang sudah tidak apa-apa lagi." Jawab Arya hampir membocorkan rahasianya.

"Aneh! Tangan patah bisa sembuh hanya dalam satu malam. Apa yang terjadi?. Apakah ada orang yang menolongmu?" Tanya pak Danu terkesan menyelidiki.

"Tidak juga.Saat mengetahui bahwa tanganku patah, aku mengurutnya dengan ramuan warisan dari ibuku"

"Saat bangun dari tidur, tanganku sudah tidak apa-apa lagi." Jawab Arya terpaksa berbohong.

"Oh begitu! Aku kira ada keajaiban?"

"Tapi ngomong ngomong, apa yang sedang kau cari? Apakah ada barang penting yang tercecer di halaman?"

"Coba katakan pada bapak, siapa tahu bapak bisa membantu?" Respon pak Danu menawarkan jasa.

"Aku juga tidak tahu pak Danu. Kebetulan malam tadi 6 orang yang mendatangiku itu, aku lihat sepertinya mereka sedang mencari sesuatu"

"Sepertinya juga, terbakarnya rumahku ada hubungannya dengan mereka.Oleh karena itu aku jadi penasaran, dan ikut mencarinya tadi malam setelah mereka pulang"

"Tapi sekitar satu jam aku mencarinya, tidak juga menemukan apa-apa.Maka pagi ini aku melanjutkannya,siapa tahu apa yang mereka cari malam tadi bisa aku temukan." Jawab Arya menjelaskan.

"Oh bapak jadi paham. Kalau begitu teruskan.Bapak akan melaporkan masalah ini pada perangkat desa,siapa tahu mereka mempunyai solusinya." Reaksi pak Danu tidak penasaran lagi.

"Oh iya pak Danu, silakan!" Jawab Arya cukup sopan. Kemudian berterima kasih kepada pak Danu atas kepeduliannya, yang kebetulan saat ini menjabat sebagai ketua rukun tetangga di kampung itu.

Tak lama kemudian Arya pun melanjutkan pencariannya, dan ternyata usahanya membuahkan hasil, di mana ia menemukan sebuah handphone yang sudah tidak ada dayanya lagi.

"Oh, jadi ini benda yang mereka cari malam tadi? pantesan mereka kelihatan panik. berarti terbakarnya rumahku ada hubungannya dengan mereka?"

"Tapi apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melaporkannya kepada pihak berwajib.Tapi apakah laporan ku akan ditanggapi?"

"Ah sa bodo amat!. Aku tidak akan melaporkan penemuanku ini, walaupun aku tahu siapa pelaku yang sebenarnya!"

"Tapi aku tidak akan melaporkannya pada siapapun, karena aku mempunyai rencana tersendiri terhadap mereka!" monolog Arya pada diri sendiri. Sambil mengepalkan telapak tangannya erat erat.

Kemudian mengambil handphone yang terselip di bawah batu berongga itu, lalu dibawanya pergi.

***

"Dasar bodoh!. Mencari benda sebesar itu saja tidak bisa! Apakah kalian tidak punya mata?" Ucap Teddy marah, sesaat setelah Joni melaporkan kegagalannya.

"Kami sudah mencarinya kemana-mana bos, bahkan ke bawah tumpukan batu, sampai ke bekas puing puing yang masih membara itu juga kami cari. Tapi benda yang kami cari tidak juga ditemukan"

"Jadi kesimpulan sementara adalah, handphone itu tidak terjatuh di sana, tapi mungkin terjatuh di jalan, saat kami sedang memasuki areal tersebut." Jawab Joni membela diri.

"Lalu apakah jalan yang kau maksudkan itu sudah kau telusuri, dan apakah usahamu tidak membuahkan hasil?" Tanggapan Teddy masih tetap marah.

"Tidak ada bos!.Kami sudah mencarinya, bahkan dengan cara jalan kaki,tapi selama kami mencari, benda tersebut tidak juga ditemukan." Jawab Joni berterus terang.

"Pokoknya aku tidak mau tahu! jika ada apa-apa dengan kalian. jangan libatkan aku!"

"Jika kau berani berbuat macam macam, maka anak buah ku yang lain akan menghabisi mu juga keluargamu,paham?" Peringatan Teddy cukup keras.

"Paham bos! Kami tidak akan membocorkannya walaupun apa yang terjadi pada kami" Tanggapan Joni cukup melegakan.

"Ya sudah.Kalau begitu kau boleh pergi, dan untuk sementara jangan menampakkan diri dulu" Respon Teddy penuh penekanan.

"Tapi siapa yang akan menemani bos saat bepergian? Bukankah kami orang yang ditunjuk oleh tuan besar untuk mengawal bos kemanapun bos pergi?" Tanya Joni ingin penegasan.

"Itu masalah gampang. Untuk sementara tugas kalian akan digantikan oleh tim lain, dan kalian untuk sementara juga harus keluar dari kota ini.Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian," Jawab Teddy memberi arahan

"Siap bos! Kami akan pergi ke kota sebelah, dan akan kembali setelah keadaannya aman" Respon Joni patuh, dan menyetujui rencana dari bosnya tersebut.

Terpopuler

Comments

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Ayo...

2023-01-19

2

LENY

LENY

Teddy dan anak buahnya Jahat banget tunggulah pembalasan kalian

2023-01-15

1

Wati_esha

Wati_esha

Teddy cuci tangan ya. 🤭☺

2023-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Memainkan perasaan
2 Mencoba bertahan
3 Mulai terkuak kebenaran
4 Tidak amanah
5 Arya hilang
6 Mendapat keajaiban
7 Membuat perhitungan
8 Minuman neraka
9 Arya diserang
10 Salah paham
11 Menyewa Rumah
12 Menjadi pengikut
13 Hari pertama di rumah itu
14 Tak sudi jadi teman
15 Memborong banyak barang
16 Baik kalau ada maunya
17 Arya difitnah dan dapat masalah
18 Menyewa tempat usaha
19 Memulai usaha
20 Memasuki ruang rahasia
21 Mendapatkan pusaka
22 Sah menjadi milik Arya
23 Memulai debutnya di sekolah
24 Tampil mengagumkan
25 Arya memecahkan rekor
26 Niat akan dicurangi
27 Masalah datang di saat yang salah
28 Senjata makan tuan
29 Curiga
30 Pengkhianatan
31 Belum juga takluk
32 Jodi menjadi kuat
33 Master diatas master
34 Berterus terang
35 Kebaikan Arya
36 Deal harganya
37 Cobaan lagi
38 Teknik Sembilan Matahari
39 Terus dapat cobaan
40 Masih beralasan
41 Tanggung jawab besar
42 Engkau masih anak sekolah
43 Halangi mereka!
44 Perusahaan baru
45 Ingin berubah jadi baik.
46 Badung dan kawan kawan
47 Perselisihan sengit
48 Juara umum
49 Arya jadi viral
50 Sihir pemikat jiwa
51 Sihir penyegel jantung
52 Enggan mengakui
53 Aura guna guna
54 Mulai suka
55 Teknik energi jarum api
56 Pergi mengambil api bumi
57 Api tujuh warna
58 Arya direndahkan
59 Dominasi Arya
60 Bersekongkol
61 Kegilaan Dave tua
62 Tamu agung direndahkan
63 Terkejut semua
64 Untung besar
65 Penguasa aliansi bisnis dunia
66 Kianshi bumi bentuk perubahan
67 Hotel Mandala
68 Terbongkar status Arya
69 Kepalang tanggung tahu
70 Arya di Dunia Naga
71 Ingin dijadikan tumbal
72 Pengikut baru lagi
73 Di paksa
74 Murid super kaya
75 Mengambil daun tulang naga
76 Dendam turunan
77 Menaklukkan preman
78 Jarum Pelumpuh Sukma
79 Ratu pemangsa
80 Akhirnya dimaafkan
81 Sukses besar
82 Sehat itu mahal
83 Sup Jamur Dewa
84 Bisnis ya bisnis
85 Wisata ke laut
86 Keberuntungan Arya
87 Tangkapan besar lagi
88 Pengalaman berharga.
89 Kanaya dalam bahaya
90 Kanaya di dunia jiwa
91 Akan ada serangan
92 Pangeran iblis
93 Penyerangan pertama
94 Amanda diculik
95 Semut juga punya kekuatan
96 Pembicaraan setelah bencana
97 Arya terluka
98 Memotivasi
99 Segel penangkap jiwa
100 Plakat perintah
101 Serangan dadakan
102 Iblis Zongga vs Pemanggil jiwa
103 Mempermainkan lawan
104 Cuek saat menghadapi tantangan
105 Cabut paku
106 Berani meremehkan
107 Diperas
108 Aliansi pembunuh bayaran
109 Rencana menghancurkan
110 Terkendala
111 Imigran di pulau perbatasan
112 Musuh baru muka lama
113 Berencana membeli pulau Angsa
114 Dianggap remeh
115 Mau tahu dia
116 Perdebatan sengit
117 Diragukan kebenarannya.
118 Kesadaran spiritual
119 Kemajuan yang sangat menggembirakan
120 Kemunculan yang tiba tiba
121 Mencari gara gara
122 Ditopang Naga
123 Terkuak suatu kebeneran
124 Wejangan Wangsa
125 Kejadian tidak terduga
126 Arya menghilang
127 Gerbang kemarahan naga
128 Arya kewalahan
129 Bertemu Sang Legenda
130 Mendapatkan penjelasan
131 Linglung awalnya
132 Pulau impian
133 Hampir saja
134 Arya tidak berdaya
135 Sihir neraka
136 Bunglon Matsuya
137 Bukan lawan seimbang
138 Mulai terkuak kebenaran
139 Leviathan dan para penguasa
140 Takdir Arya
141 Menjadi orang biasa
142 Pembantaian
143 Pembantaian jilid dua
144 Dasar Sampah
145 Pembersihan
146 Juragan Loba
147 Tengkulak darah
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Memainkan perasaan
2
Mencoba bertahan
3
Mulai terkuak kebenaran
4
Tidak amanah
5
Arya hilang
6
Mendapat keajaiban
7
Membuat perhitungan
8
Minuman neraka
9
Arya diserang
10
Salah paham
11
Menyewa Rumah
12
Menjadi pengikut
13
Hari pertama di rumah itu
14
Tak sudi jadi teman
15
Memborong banyak barang
16
Baik kalau ada maunya
17
Arya difitnah dan dapat masalah
18
Menyewa tempat usaha
19
Memulai usaha
20
Memasuki ruang rahasia
21
Mendapatkan pusaka
22
Sah menjadi milik Arya
23
Memulai debutnya di sekolah
24
Tampil mengagumkan
25
Arya memecahkan rekor
26
Niat akan dicurangi
27
Masalah datang di saat yang salah
28
Senjata makan tuan
29
Curiga
30
Pengkhianatan
31
Belum juga takluk
32
Jodi menjadi kuat
33
Master diatas master
34
Berterus terang
35
Kebaikan Arya
36
Deal harganya
37
Cobaan lagi
38
Teknik Sembilan Matahari
39
Terus dapat cobaan
40
Masih beralasan
41
Tanggung jawab besar
42
Engkau masih anak sekolah
43
Halangi mereka!
44
Perusahaan baru
45
Ingin berubah jadi baik.
46
Badung dan kawan kawan
47
Perselisihan sengit
48
Juara umum
49
Arya jadi viral
50
Sihir pemikat jiwa
51
Sihir penyegel jantung
52
Enggan mengakui
53
Aura guna guna
54
Mulai suka
55
Teknik energi jarum api
56
Pergi mengambil api bumi
57
Api tujuh warna
58
Arya direndahkan
59
Dominasi Arya
60
Bersekongkol
61
Kegilaan Dave tua
62
Tamu agung direndahkan
63
Terkejut semua
64
Untung besar
65
Penguasa aliansi bisnis dunia
66
Kianshi bumi bentuk perubahan
67
Hotel Mandala
68
Terbongkar status Arya
69
Kepalang tanggung tahu
70
Arya di Dunia Naga
71
Ingin dijadikan tumbal
72
Pengikut baru lagi
73
Di paksa
74
Murid super kaya
75
Mengambil daun tulang naga
76
Dendam turunan
77
Menaklukkan preman
78
Jarum Pelumpuh Sukma
79
Ratu pemangsa
80
Akhirnya dimaafkan
81
Sukses besar
82
Sehat itu mahal
83
Sup Jamur Dewa
84
Bisnis ya bisnis
85
Wisata ke laut
86
Keberuntungan Arya
87
Tangkapan besar lagi
88
Pengalaman berharga.
89
Kanaya dalam bahaya
90
Kanaya di dunia jiwa
91
Akan ada serangan
92
Pangeran iblis
93
Penyerangan pertama
94
Amanda diculik
95
Semut juga punya kekuatan
96
Pembicaraan setelah bencana
97
Arya terluka
98
Memotivasi
99
Segel penangkap jiwa
100
Plakat perintah
101
Serangan dadakan
102
Iblis Zongga vs Pemanggil jiwa
103
Mempermainkan lawan
104
Cuek saat menghadapi tantangan
105
Cabut paku
106
Berani meremehkan
107
Diperas
108
Aliansi pembunuh bayaran
109
Rencana menghancurkan
110
Terkendala
111
Imigran di pulau perbatasan
112
Musuh baru muka lama
113
Berencana membeli pulau Angsa
114
Dianggap remeh
115
Mau tahu dia
116
Perdebatan sengit
117
Diragukan kebenarannya.
118
Kesadaran spiritual
119
Kemajuan yang sangat menggembirakan
120
Kemunculan yang tiba tiba
121
Mencari gara gara
122
Ditopang Naga
123
Terkuak suatu kebeneran
124
Wejangan Wangsa
125
Kejadian tidak terduga
126
Arya menghilang
127
Gerbang kemarahan naga
128
Arya kewalahan
129
Bertemu Sang Legenda
130
Mendapatkan penjelasan
131
Linglung awalnya
132
Pulau impian
133
Hampir saja
134
Arya tidak berdaya
135
Sihir neraka
136
Bunglon Matsuya
137
Bukan lawan seimbang
138
Mulai terkuak kebenaran
139
Leviathan dan para penguasa
140
Takdir Arya
141
Menjadi orang biasa
142
Pembantaian
143
Pembantaian jilid dua
144
Dasar Sampah
145
Pembersihan
146
Juragan Loba
147
Tengkulak darah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!