Satu hari kemudian. Apa yang diperintahkan oleh Teddy sudah anak buahnya lakukan. Mereka berenam sudah tidak ada lagi di kota ini. tapi sudah berada di kota lain, dan menumpang hidup pada saudara saudara mereka di sana.
Sementara Arya lain lagi. Satu jam setelah menemukan barang bukti itu, hatinya jadi bimbang, yaitu antara menyerahkan barang bukti tersebut atau tidak.
Jika dia menyerahkan pada mereka, dia takut tidak akan dilayani karena kemiskinannya. Jika tidak ia serahkan, maka nanti dituduh menyembunyikan barang bukti kejahatan pula. Malah bisa dituduh merencanakan hal yang tidak baik. bisa gawat nantinya.
Tapi satu jam kemudian lagi,barulah Arya bisa memutuskan, mau diapakan benda temuannya itu. Walaupun masih ada sedikit keraguan di hati,tapi ujung ujungnya dikuatkan juga tekadnya, dan memutuskan untuk menyerahkan handphone tersebut pada ketua RT setempat, sebagai bentuk laporan awal temuannya tersebut.
Selain itu, Arya juga berkeinginan agar ketua RT menemaninya ke kantor polisi, untuk ikut melaporkan temuannya itu pada mereka. Selain itu jarak antara kantor polisi dengan rumahnya cukup jauh, lagipula dia tidak mempunyai kendaraan sendiri untuk pergi ke sana.
"Ternyata ini barangnya ya? berarti enam orang yang kau ceritakan itu adalah pelaku pembakaran rumah mu itu.Dasar orang orang syirik,taunya menyusahkan orang saja" reaksi pak Danu marah.
"Besok pagi kita ke kantor polisi untuk menyerahkan barang bukti ini pada mereka, agar pelaku kejahatan bisa di adili secepatnya" Respon pak Danu cukup membuat Arya senang.
"Kalau begitu terima kasih pak Danu. Tolong pegang dulu handphone itu ya, karena di tempat ku takutnya tidak aman,lagipula handphone itu perlu diisi daya"
"Jadi pak Danu bisa menambah dayanya berkat adanya aliran listrik di rumah ini." Reaksi Arya sedikit lega.
"Tapi sayangnya bapak tidak ada pengecas yang cocok dengan handphone ini nak, karena mereknya cukup asing buat bapak"
"Apa itu, Ipa phone ST12 ya?. Ah susah sekali penyebutannya.Merek aneh." Jawab pak Danu sedikit kampungan.
"Aku juga tidak pernah melihat handphone seperti itu pak Danu.namanya apalagi?"
"Mungkin itu handphone penyanyi St12 itu kali?" Sambut Arya juga kebingungan. Sambil tersenyum malu malu.
Maklum selama hidup, belum pernah punya hape, apalagi merek nya asing seperti itu. Kalau teman temannya ya punya, tapi belum pernah dipinjamkan pada Arya. Jadi Arya cukup tertinggal dalam masalah tersebut.
"Kalau begitu baiklah Arya. Bapak akan menyimpan hape ini untuk sementara. Selain itu bapak akan mengecas nya agar bisa di buka"
"Namun karena St12 itu hape asing, bapak akan minta tolong pada keponakan bapak agar membawa handphone tersebut ke kota untuk di cas di sana." Respon pak Danu cukup menggelikan.
"Silakan pak Danu!. Aku permisi dulu?Tolong jaga ST12 ku itu ya. Jangan sampai hilang lagi" Jawab Arya berkelakar.
Kemudian melangkah secara perlahan. Tapi belum juga jauh, pak Danu sudah memanggilnya untuk kembali.
"Ada apa lagi pak Danu? Bukankah semuanya sudah kita bicarakan?" Ucapnya kebingungan.
"Begini nak Arya. Kemarin kan bapak pergi ke kantor desa, dan melaporkan perihal musibah mu itu pada mereka.Tapi sayangnya, perangkat desa yang bapak kasih tahu itu, nampaknya tidak bisa membantu"
"Mereka malah menyerahkannya pada bapak, untuk mengerahkan warga, agar membangun kembali rumahmu secara patungan"
"Tapi beberapa warga sepertinya keberatan, karena rumah mereka juga belum jadi, atau sudah minta perhatian juga"
"Jadi nak Arya mohon bersabar sedikit. Mudah-mudahan beberapa hari ke depan, kami sudah bisa mendirikan rumah baru untukmu." Ucap pak Danu memberi harapan.
"Kalau begitu terima kasih pak Danu!. Walau belum dilaksanakan, tapi kalian sudah mempunyai niat baik pada orang lain" Jawab Arya sedih, karena ia menyadari bahwa pernyataan pak rt barusan hanya sekedar basa basi saja.
Dia juga tahu bahwa itu hanya ucapan untuk menyenangkan hatinya saja, padahal warga yang ada di kampung itu sejatinya tidak menyukai Arya, karena menurut mereka Arya itu pemuda miskin,pemalas lagi.
Bahkan menurut beberapa warga, Arya dulunya hanya tahu menyusahkan orang tua saja, yaitu di saat mereka masih hidup. dia kedapatan oleh mereka tidak suka membantu orang tuanya,walau keluarga tersebut bukan keluarga kandungnya.
Jadi saat diminta untuk membantu untuk patungan, mereka menolaknya secara tegas,baik secara terang terangan atau sembunyi sembunyi.Tapi itu hanya alasan mereka saja.
Selain itu mereka juga tamak plus iri, yaitu tidak mau berbagi dan meringankan beban orang lain yang sedang ditimpa kesusahan.
Tapi demi menghormati ketua rt-nya, Arya tetap memuji mereka di depan ketua rukun tetangganya tersebut, walau terkesan naif, tapi jelas di dalam hatinya merasa sedih.Apa yang bisa Arya lakukan pada mereka, tidak ada.
Namun demi tidak menampakkan nya di depan ketua RT itu, Arya bergegas pergi dari tempat tersebut, dan kembali ke gubuknya untuk merenung, serta memikirkan apa yang harus dibuatnya nanti.
***
Beberapa jam kemudian."Wah ini handphone bagus!. Dari mana paman mendapatkannya?"Reaksi Tanuka senang, sesaat setelah diperlihatkan handphone ST12 itu kepadanya.
"Ini bukan handphone milik paman, tapi milik seseorang yang dititipkan pada paman"
"Karena dia tidak punya pengecas nya, maka dia meminta paman untuk mengecas nya di rumah"
Tapi sayangnya paman tidak mempunyai pengecas yang cocok.Oleh karena itu paman meminta bantuan mu, untuk membawa handphone ini ke kota, dan dicas di sana.Siapa tahu di konter konter yang ada di kota itu ada pengecas nya." Jawab pak Danu menjelaskan apa adanya.
"Beres itu paman! Tanu akan membawanya ke kota, dan mengecas nya di sana. Setelah penuh baru Tanu serahkan para paman, ya?" Reaksi nya senang,padahal ia mempunyai rencana lain terhadap handphone itu.
"Tapi ingat! jangan kau jual pula handphone itu,karena benda tersebut sangat penting buat seseorang!" Ucap pak Danu memberi peringatan.
"Tenang saja paman! keponakan mu ini orang baik.Tidak mungkin berbuat curang pada paman.Jadi silakan paman kembali agar aku bisa secepatnya pergi ke kota." Jawab Tanuka sudah tidak sabaran, dan ingin segera mengusir pamannya agar cepat pulang.
"Baiklah kalau begitu! Paman pulang dulu, Tapi tolong sampaikan salam paman pada kedua orang tuamu itu, ya?" Respon Danu merasa senang.
"Beres paman,masalah kecil itu" Jawab Tanu sudah semakin tidak sabar.
"Dasar orang tua kampungan. Handphone bagus seperti ini disebut handphone ST12. Ngaco dia!" Ucap Tanuka sesaat setelah pamannya pergi dari tempat itu.
Kemudian tanpa merapikan pakaiannya lagi, Tanu bergegas mengambil motornya, dan cepat cepat pergi ke kota.
Tiga setengah jam kemudian. Handphone tersebut sudah selesai dicas. Walaupun belum beres sepenuhnya. Tetapi Tanu meminta kepada pemilik konter tersebut untuk mencabutnya. agar dia bisa menghidupkan hape tersebut.
"Ah sialan! Hape ini dikunci pula"
"Tapi tenang! Kode serumit apapun bisa aku buka, karena aku sendiri ahlinya. Gampang itu" Guman Tanu pada diri sendiri, karena terlanjur sudah senang.
Tapi belum juga dibuka. Datang beberapa orang mendekatinya dan berkata."Hei!sepertinya Itu handphone ku?" Reaksi salah seorang dari mereka merasa senang, sekaligus merasa penasaran.
Kemudian semakin mendekati Tanu dan menanyainya." Dari mana kau mendapatkan hape ini bocah?Itu handphone ku,jadi cepat serahkan padaku!" Ujarnya penuh kecurigaan.
"Enak saja kau! Ini handphone seseorang yang dititipkan padaku untuk dicas di konter ini! Jadi kau jangan coba coba mengada ada ya!" Respon Tanu tidak suka
"Tapi jika kau menginginkannya. Kebetulan aku sedang butuh uang, karena sudah lama aku tidak minum.Kalau kau menginginkan handphone ini, bayar dulu pada ku!" Ucap Tanu tidak segan segan.
"Belagu kau ya? Apakah kau tidak tahu siapa kami?" Reaksi orang tersebut jelas tidak senang.
"Aku tidak peduli siapa kalian! yang aku peduli adalah uang. Jadi cepat bayar handphone ini jika kau menginginkannya" Balas Tanu tidak takut gertakan.
"Brengsek! Mau ku hajar kau ya?" reaksi orang itu marah. Kemudian menyerang Tanu dengan tendangan.
Tapi Tanu bukanlah orang sembarangan. Dia sudah belajar ilmu silat di mana-mana. Jadi saat diserang itu, dia hanya tenang tenang saja. Tapi tanpa terduga, tubuh orang tersebut malah yang tumbang, akibat terkena tendangan cepatnya itu.
Reaksi anak buahnya tentu saja kebingungan. Lalu dengan panik salah seorang dari mereka berkata. "Ketua Joni!Kau tidak ada apa?"Ucapnya bertanya.
"Tidak apa-apa kepalamu! Perutku sakit tau?"
"Jadi cepat tangkap bocah itu, dan buat dia menyerahkan handphone milik ku tersebut!" Reaksi Joni tidak senang. Kemudian meminta mereka untuk menyerang Tanu.
Tapi sama saja nasib mereka. Tanu juga membuat tubuh mereka bertumbangan, karena dia menggunakan gerakan cepatnya untuk merobohkan kelima orang tersebut, hingga membuat kalimatnya terkapar di lantai.
"Sudah aku bilang, jangan mencari gara-gara denganku.Aku hanya ingin uang, dan kau menginginkan handphone ini,jadi ayo kita tukaran"
"Berikan aku 10 juta, maka kau akan mendapatkan handphone ini.Kalau kau tidak mau, maka aku akan membawa handphone ini pergi. Bagaimana?" Ucap Tanu sok jagoan.
"Baik. Aku akan menebus handphone ini seharga 10 juta. Tapi setelah itu kau harus menyerahkannya padaku!" Jawab Joni akhirnya menyerah.
"Tenang saja. Aku belum sempat membukanya,jadi rahasia mu aman.Tapi cepat serahkan uang itu, kerongkongan ku sudah mulai gatal"
"Dan satu lagi, aku mau uang kontan, dan tidak mau transferan" Respon Tanu kembali tidak segan.
"Baiklah kalau begitu.Tunggu sebentar!" Balas Joni gregetan.
Kemudian berkata kepada anak buahnya." Jodi! cepat keluarkan uang yang diberikan oleh bos kita itu, dan berikan padanya!" Ujar Joni memberi arahan.
"Tapi ketua,kalau kita serahkan uang itu, lalu kita mau makan apa?" Jawab Jodi protes tidak senang.
"Dasar bodoh! Dengan ditemukannya handphone itu berarti kita sudah aman.Mau dilaporkan pun, bocah itu sudah tidak punya barang bukti. Jadi apa yang kita takutkan?"
"Mengenai masalah lain itu urusanku, dan serahkan saja padaku. Kau jangan coba untuk melawan" Reaksi Joni tidak senang.
"Baik kalau begitu ketua, aku akan melaksanakan perintah mu itu!" Jawab Jodi patuh. Kemudian menyerahkan uang sejumlah 10 juta tersebut pada Tanu.
"Nah gitu dong. Jangan pelit-pelit dalam berkawan.Aku yakin kalian ini orang kaya, atau bekerja pada orang kaya. Jadi uang sejumlah itu tidak ada apa apanya buat kalian" Reaksi Tanu kegirangan.
"Eh tapi tunggu dulu!" Ucapnya lagi penasaran.
"Sepertinya kalian ini punya rahasia besar ya,hingga mati-matian ingin menebus handphone ini. Apakah ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" Ucap Tanu penuh candaan.
"Itu bukan urusanmu. Jadi cepat serahkan handphone itu, karena kami sedang terburu-buru." Jawab Joni tidak senang.
"Oh maaf. Aku hanya terlalu senang saja karena mendapatkan rezeki nomplok sebanyak ini"
"Kalau begitu aku pergi dulu. Nah ini hape kalian" Respon Tanu malu malu.
Namun tak lama kemudian dia berkata kembali. "Tapi kalau kalian berkenan, ayo ikut denganku, dan kita minum bersama" Ucap Tanu menawarkan kebaikan.
"Tidak, terima kasih. Kami tidak punya waktu, karena kami harus cepat kembali kepada bos kami itu." Jawab Joni sudah tidak sabaran.
"Oke!. Terserah kalian saja. aku hanya menawarkan. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa"
"Oh ya kenalkan. Aku Tanu, preman pangkalan yang biasa mangkal di terminal itu.Jika kalian butuh bantuan, silakan cari aku di sana" Ucap Tanu cukup mengejutkan.
"Pantesan kau kuat sekali. Nanti setelah kami kembali, maka kami akan melaporkan tentang keberadaanmu pada bos ku itu, agar kau bisa direkrut, dan bergabung dengan kami." Respon Joni mulai merasa lapang.
"Oh bagus itu.Aku tunggu berita dari kalian ya." Jawab Tanu senang. Kemudian pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.
***
"Gawat paman! Handphone yang dititipkan pada ku itu sudah hilang!"
"Seseorang telah mengambilnya secara paksa!" Ucap Tanu sesaat setelah sambungan teleponnya tersambung dengan handphone milik pamannya itu.
"Apa? Bagaimana bisa terjadi? Apakah kau menjualnya?" Reaksi Danu tidak percaya.
"Tidak paman, aku dirampok?" Jawab Tanu memainkan peran.
"Dirampok?tapi siapa?lalu ceritanya bagaimana?"
"Cepat katakan pada paman, agar paman bisa menyampaikannya pada Arya!" Tanya Danu tidak sabaran karena terlalu panik.
"Oh Arya rupanya? Berarti bocah tengik itu yang telah mengambilnya dari Joni."
"Pantesan rumahnya dibakar. Ternyata dia sudah mencuri handphone tersebut. Malang sekali nasibnya" Batin Tanu dalam hati.
"Halo Tanu? Apakah kau masih mendengar kan paman?" Terdengar suara panik dari seberang sana.
"Ya paman aku masih ada! Aku sedang membersihkan luka bekas sayatan senjata tajam yang dilakukan oleh preman preman itu.jadi lambat menjawab pertanyaan paman tadi." Jawab Tanu kembali mengarang cerita.
"Baik kalau begitu. Jadi cepat katakan bagaimana awalnya hape itu bisa hilang?" Respon Danu mulai mempercayai keterangan dari keponakannya itu.
"Awalnya keadaan baik baik saja.Tapi setelah hape itu selesai dicas,aku membawanya keluar dan pergi dari tempat itu secepatnya."
"Tapi ternyata sejak dari awal masuk, aku sudah diikuti oleh sekelompok orang, dan di suatu tempat agak sepi, aku dihadang oleh mereka, yang jumlahnya kurang lebih 12 orang, dan langsung memaksaku untuk menyerahkan hape tersebut padanya"
"Karena mereka ramai, aku tidak bisa menang saat bertarung,jadi terpaksa menyerahkan hape itu pada mereka"
"Tapi saat bertarung itu, tangan ku terluka dan mengeluarkan banyak darah.Oleh karena itu aku kalah." Jawab Tanu lagi lagi mengarang cerita.
"Jadi sekarang kau di mana? Apakah keadaanmu baik-baik saja?" Tanya Danu masih penasaran
"Aku sekarang sedang berada di rumah sakit, karena luka ku agak dalam, jadi aku terpaksa pergi ke sana"
"Tapi paman jangan khawatir,luka ku sudah tidak berdarah lagi berkat cepat diobati." Jawab Tanu tebal muka.
"Terus bagaimana keadaanmu,apakah kau baik baik saja?" Tanya Danu mengulangi pertanyaannya tadi.
"Aku tidak apa-apa paman. Aku hanya trauma karena diancam dengan menggunakan senjata tajam,apalagi saat diletakkan di leherku." Jawab Tanu seperti apa adanya.
"Syukurlah kalau begitu. Cepat pulang, agar orang tuamu tidak khawatir!" Respon Danu senang.
"Baik paman. Aku akan segera pulang." Jawab Tanu patuh.
Kemudian memutus teleponnya dan tersenyum penuh kemenangan.
"Huh dasar manusia polos. Dengan mudahnya di bohongi oleh anak jenius seperti ku"
"Tapi gara gara itu aku terpaksa harus melukai tangan ku sendiri. dan memasang perban agar paman semakin yakin, bahwa aku memang benar benar dirampok" Ucap Tanu pada diri sendiri.
"Argh sialan! ternyata sakit. Awas kau Arya!gara gara kau aku jadi seperti ini.Kalau ketemu nanti aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Ucap Tanu geram.
Kemudian bergegas meninggalkan tempat itu untuk bersenang senang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
forza 💫✨🎗️🪙👑
mcnya mlh ga ada pergerakan apa" ya..makin goblok aja..bca cerita ini jdi goblok jga lma"..taik
2024-02-23
0
Jimmy Avolution
Lama...Kapan MCnya balas dendam...
2023-01-19
2
Wati_esha
Tanuka keponakan Danu ternyata seorang preman.
Bagaimana mungkin, bukti kejahatan dengan mudahnya diberikan pada sembarangan orang? 🙃🙃🙃🙃🙃
2023-01-14
1