Tidak amanah

Satu hari kemudian. Apa yang diperintahkan oleh Teddy sudah anak buahnya lakukan. Mereka berenam sudah tidak ada lagi di kota ini. tapi sudah berada di kota lain, dan menumpang hidup pada saudara saudara mereka di sana.

Sementara Arya lain lagi. Satu jam setelah menemukan barang bukti itu, hatinya jadi bimbang, yaitu antara menyerahkan barang bukti tersebut atau tidak.

Jika dia menyerahkan pada mereka, dia takut tidak akan dilayani karena kemiskinannya. Jika tidak ia serahkan, maka nanti dituduh menyembunyikan barang bukti kejahatan pula. Malah bisa dituduh merencanakan hal yang tidak baik. bisa gawat nantinya.

Tapi satu jam kemudian lagi,barulah Arya bisa memutuskan, mau diapakan benda temuannya itu. Walaupun masih ada sedikit keraguan di hati,tapi ujung ujungnya dikuatkan juga tekadnya, dan memutuskan untuk menyerahkan handphone tersebut pada ketua RT setempat, sebagai bentuk laporan awal temuannya tersebut.

Selain itu, Arya juga berkeinginan agar ketua RT menemaninya ke kantor polisi, untuk ikut melaporkan temuannya itu pada mereka. Selain itu jarak antara kantor polisi dengan rumahnya cukup jauh, lagipula dia tidak mempunyai kendaraan sendiri untuk pergi ke sana.

"Ternyata ini barangnya ya? berarti enam orang yang kau ceritakan itu adalah pelaku pembakaran rumah mu itu.Dasar orang orang syirik,taunya menyusahkan orang saja" reaksi pak Danu marah.

"Besok pagi kita ke kantor polisi untuk menyerahkan barang bukti ini pada mereka, agar pelaku kejahatan bisa di adili secepatnya" Respon pak Danu cukup membuat Arya senang.

"Kalau begitu terima kasih pak Danu. Tolong pegang dulu handphone itu ya, karena di tempat ku takutnya tidak aman,lagipula handphone itu perlu diisi daya"

"Jadi pak Danu bisa menambah dayanya berkat adanya aliran listrik di rumah ini." Reaksi Arya sedikit lega.

"Tapi sayangnya bapak tidak ada pengecas yang cocok dengan handphone ini nak, karena mereknya cukup asing buat bapak"

"Apa itu, Ipa phone ST12 ya?. Ah susah sekali penyebutannya.Merek aneh." Jawab pak Danu sedikit kampungan.

"Aku juga tidak pernah melihat handphone seperti itu pak Danu.namanya apalagi?"

"Mungkin itu handphone penyanyi St12 itu kali?" Sambut Arya juga kebingungan. Sambil tersenyum malu malu.

Maklum selama hidup, belum pernah punya hape, apalagi merek nya asing seperti itu. Kalau teman temannya ya punya, tapi belum pernah dipinjamkan pada Arya. Jadi Arya cukup tertinggal dalam masalah tersebut.

"Kalau begitu baiklah Arya. Bapak akan menyimpan hape ini untuk sementara. Selain itu bapak akan mengecas nya agar bisa di buka"

"Namun karena St12 itu hape asing, bapak akan minta tolong pada keponakan bapak agar membawa handphone tersebut ke kota untuk di cas di sana." Respon pak Danu cukup menggelikan.

"Silakan pak Danu!. Aku permisi dulu?Tolong jaga ST12 ku itu ya. Jangan sampai hilang lagi" Jawab Arya berkelakar.

Kemudian melangkah secara perlahan. Tapi belum juga jauh, pak Danu sudah memanggilnya untuk kembali.

"Ada apa lagi pak Danu? Bukankah semuanya sudah kita bicarakan?" Ucapnya kebingungan.

"Begini nak Arya. Kemarin kan bapak pergi ke kantor desa, dan melaporkan perihal musibah mu itu pada mereka.Tapi sayangnya, perangkat desa yang bapak kasih tahu itu, nampaknya tidak bisa membantu"

"Mereka malah menyerahkannya pada bapak, untuk mengerahkan warga, agar membangun kembali rumahmu secara patungan"

"Tapi beberapa warga sepertinya keberatan, karena rumah mereka juga belum jadi, atau sudah minta perhatian juga"

"Jadi nak Arya mohon bersabar sedikit. Mudah-mudahan beberapa hari ke depan, kami sudah bisa mendirikan rumah baru untukmu." Ucap pak Danu memberi harapan.

"Kalau begitu terima kasih pak Danu!. Walau belum dilaksanakan, tapi kalian sudah mempunyai niat baik pada orang lain" Jawab Arya sedih, karena ia menyadari bahwa pernyataan pak rt barusan hanya sekedar basa basi saja.

Dia juga tahu bahwa itu hanya ucapan untuk menyenangkan hatinya saja, padahal warga yang ada di kampung itu sejatinya tidak menyukai Arya, karena menurut mereka Arya itu pemuda miskin,pemalas lagi.

Bahkan menurut beberapa warga, Arya dulunya hanya tahu menyusahkan orang tua saja, yaitu di saat mereka masih hidup. dia kedapatan oleh mereka tidak suka membantu orang tuanya,walau keluarga tersebut bukan keluarga kandungnya.

Jadi saat diminta untuk membantu untuk patungan, mereka menolaknya secara tegas,baik secara terang terangan atau sembunyi sembunyi.Tapi itu hanya alasan mereka saja.

Selain itu mereka juga tamak plus iri, yaitu tidak mau berbagi dan meringankan beban orang lain yang sedang ditimpa kesusahan.

Tapi demi menghormati ketua rt-nya, Arya tetap memuji mereka di depan ketua rukun tetangganya tersebut, walau terkesan naif, tapi jelas di dalam hatinya merasa sedih.Apa yang bisa Arya lakukan pada mereka, tidak ada.

Namun demi tidak menampakkan nya di depan ketua RT itu, Arya bergegas pergi dari tempat tersebut, dan kembali ke gubuknya untuk merenung, serta memikirkan apa yang harus dibuatnya nanti.

***

Beberapa jam kemudian."Wah ini handphone bagus!. Dari mana paman mendapatkannya?"Reaksi Tanuka senang, sesaat setelah diperlihatkan handphone ST12 itu kepadanya.

"Ini bukan handphone milik paman, tapi milik seseorang yang dititipkan pada paman"

"Karena dia tidak punya pengecas nya, maka dia meminta paman untuk mengecas nya di rumah"

Tapi sayangnya paman tidak mempunyai pengecas yang cocok.Oleh karena itu paman meminta bantuan mu, untuk membawa handphone ini ke kota, dan dicas di sana.Siapa tahu di konter konter yang ada di kota itu ada pengecas nya." Jawab pak Danu menjelaskan apa adanya.

"Beres itu paman! Tanu akan membawanya ke kota, dan mengecas nya di sana. Setelah penuh baru Tanu serahkan para paman, ya?" Reaksi nya senang,padahal ia mempunyai rencana lain terhadap handphone itu.

"Tapi ingat! jangan kau jual pula handphone itu,karena benda tersebut sangat penting buat seseorang!" Ucap pak Danu memberi peringatan.

"Tenang saja paman! keponakan mu ini orang baik.Tidak mungkin berbuat curang pada paman.Jadi silakan paman kembali agar aku bisa secepatnya pergi ke kota." Jawab Tanuka sudah tidak sabaran, dan ingin segera mengusir pamannya agar cepat pulang.

"Baiklah kalau begitu! Paman pulang dulu, Tapi tolong sampaikan salam paman pada kedua orang tuamu itu, ya?" Respon Danu merasa senang.

"Beres paman,masalah kecil itu" Jawab Tanu sudah semakin tidak sabar.

"Dasar orang tua kampungan. Handphone bagus seperti ini disebut handphone ST12. Ngaco dia!" Ucap Tanuka sesaat setelah pamannya pergi dari tempat itu.

Kemudian tanpa merapikan pakaiannya lagi, Tanu bergegas mengambil motornya, dan cepat cepat pergi ke kota.

Tiga setengah jam kemudian. Handphone tersebut sudah selesai dicas. Walaupun belum beres sepenuhnya. Tetapi Tanu meminta kepada pemilik konter tersebut untuk mencabutnya. agar dia bisa menghidupkan hape tersebut.

"Ah sialan! Hape ini dikunci pula"

"Tapi tenang! Kode serumit apapun bisa aku buka, karena aku sendiri ahlinya. Gampang itu" Guman Tanu pada diri sendiri, karena terlanjur sudah senang.

Tapi belum juga dibuka. Datang beberapa orang mendekatinya dan berkata."Hei!sepertinya Itu handphone ku?" Reaksi salah seorang dari mereka merasa senang, sekaligus merasa penasaran.

Kemudian semakin mendekati Tanu dan menanyainya." Dari mana kau mendapatkan hape ini bocah?Itu handphone ku,jadi cepat serahkan padaku!" Ujarnya penuh kecurigaan.

"Enak saja kau! Ini handphone seseorang yang dititipkan padaku untuk dicas di konter ini! Jadi kau jangan coba coba mengada ada ya!" Respon Tanu tidak suka

"Tapi jika kau menginginkannya. Kebetulan aku sedang butuh uang, karena sudah lama aku tidak minum.Kalau kau menginginkan handphone ini, bayar dulu pada ku!" Ucap Tanu tidak segan segan.

"Belagu kau ya? Apakah kau tidak tahu siapa kami?" Reaksi orang tersebut jelas tidak senang.

"Aku tidak peduli siapa kalian! yang aku peduli adalah uang. Jadi cepat bayar handphone ini jika kau menginginkannya" Balas Tanu tidak takut gertakan.

"Brengsek! Mau ku hajar kau ya?" reaksi orang itu marah. Kemudian menyerang Tanu dengan tendangan.

Tapi Tanu bukanlah orang sembarangan. Dia sudah belajar ilmu silat di mana-mana. Jadi saat diserang itu, dia hanya tenang tenang saja. Tapi tanpa terduga, tubuh orang tersebut malah yang tumbang, akibat terkena tendangan cepatnya itu.

Reaksi anak buahnya tentu saja kebingungan. Lalu dengan panik salah seorang dari mereka berkata. "Ketua Joni!Kau tidak ada apa?"Ucapnya bertanya.

"Tidak apa-apa kepalamu! Perutku sakit tau?"

"Jadi cepat tangkap bocah itu, dan buat dia menyerahkan handphone milik ku tersebut!" Reaksi Joni tidak senang. Kemudian meminta mereka untuk menyerang Tanu.

Tapi sama saja nasib mereka. Tanu juga membuat tubuh mereka bertumbangan, karena dia menggunakan gerakan cepatnya untuk merobohkan kelima orang tersebut, hingga membuat kalimatnya terkapar di lantai.

"Sudah aku bilang, jangan mencari gara-gara denganku.Aku hanya ingin uang, dan kau menginginkan handphone ini,jadi ayo kita tukaran"

"Berikan aku 10 juta, maka kau akan mendapatkan handphone ini.Kalau kau tidak mau, maka aku akan membawa handphone ini pergi. Bagaimana?" Ucap Tanu sok jagoan.

"Baik. Aku akan menebus handphone ini seharga 10 juta. Tapi setelah itu kau harus menyerahkannya padaku!" Jawab Joni akhirnya menyerah.

"Tenang saja. Aku belum sempat membukanya,jadi rahasia mu aman.Tapi cepat serahkan uang itu, kerongkongan ku sudah mulai gatal"

"Dan satu lagi, aku mau uang kontan, dan tidak mau transferan" Respon Tanu kembali tidak segan.

"Baiklah kalau begitu.Tunggu sebentar!" Balas Joni gregetan.

Kemudian berkata kepada anak buahnya." Jodi! cepat keluarkan uang yang diberikan oleh bos kita itu, dan berikan padanya!" Ujar Joni memberi arahan.

"Tapi ketua,kalau kita serahkan uang itu, lalu kita mau makan apa?" Jawab Jodi protes tidak senang.

"Dasar bodoh! Dengan ditemukannya handphone itu berarti kita sudah aman.Mau dilaporkan pun, bocah itu sudah tidak punya barang bukti. Jadi apa yang kita takutkan?"

"Mengenai masalah lain itu urusanku, dan serahkan saja padaku. Kau jangan coba untuk melawan" Reaksi Joni tidak senang.

"Baik kalau begitu ketua, aku akan melaksanakan perintah mu itu!" Jawab Jodi patuh. Kemudian menyerahkan uang sejumlah 10 juta tersebut pada Tanu.

"Nah gitu dong. Jangan pelit-pelit dalam berkawan.Aku yakin kalian ini orang kaya, atau bekerja pada orang kaya. Jadi uang sejumlah itu tidak ada apa apanya buat kalian" Reaksi Tanu kegirangan.

"Eh tapi tunggu dulu!" Ucapnya lagi penasaran.

"Sepertinya kalian ini punya rahasia besar ya,hingga mati-matian ingin menebus handphone ini. Apakah ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" Ucap Tanu penuh candaan.

"Itu bukan urusanmu. Jadi cepat serahkan handphone itu, karena kami sedang terburu-buru." Jawab Joni tidak senang.

"Oh maaf. Aku hanya terlalu senang saja karena mendapatkan rezeki nomplok sebanyak ini"

"Kalau begitu aku pergi dulu. Nah ini hape kalian" Respon Tanu malu malu.

Namun tak lama kemudian dia berkata kembali. "Tapi kalau kalian berkenan, ayo ikut denganku, dan kita minum bersama" Ucap Tanu menawarkan kebaikan.

"Tidak, terima kasih. Kami tidak punya waktu, karena kami harus cepat kembali kepada bos kami itu." Jawab Joni sudah tidak sabaran.

"Oke!. Terserah kalian saja. aku hanya menawarkan. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa"

"Oh ya kenalkan. Aku Tanu, preman pangkalan yang biasa mangkal di terminal itu.Jika kalian butuh bantuan, silakan cari aku di sana" Ucap Tanu cukup mengejutkan.

"Pantesan kau kuat sekali. Nanti setelah kami kembali, maka kami akan melaporkan tentang keberadaanmu pada bos ku itu, agar kau bisa direkrut, dan bergabung dengan kami." Respon Joni mulai merasa lapang.

"Oh bagus itu.Aku tunggu berita dari kalian ya." Jawab Tanu senang. Kemudian pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.

***

"Gawat paman! Handphone yang dititipkan pada ku itu sudah hilang!"

"Seseorang telah mengambilnya secara paksa!" Ucap Tanu sesaat setelah sambungan teleponnya tersambung dengan handphone milik pamannya itu.

"Apa? Bagaimana bisa terjadi? Apakah kau menjualnya?" Reaksi Danu tidak percaya.

"Tidak paman, aku dirampok?" Jawab Tanu memainkan peran.

"Dirampok?tapi siapa?lalu ceritanya bagaimana?"

"Cepat katakan pada paman, agar paman bisa menyampaikannya pada Arya!" Tanya Danu tidak sabaran karena terlalu panik.

"Oh Arya rupanya? Berarti bocah tengik itu yang telah mengambilnya dari Joni."

"Pantesan rumahnya dibakar. Ternyata dia sudah mencuri handphone tersebut. Malang sekali nasibnya" Batin Tanu dalam hati.

"Halo Tanu? Apakah kau masih mendengar kan paman?" Terdengar suara panik dari seberang sana.

"Ya paman aku masih ada! Aku sedang membersihkan luka bekas sayatan senjata tajam yang dilakukan oleh preman preman itu.jadi lambat menjawab pertanyaan paman tadi." Jawab Tanu kembali mengarang cerita.

"Baik kalau begitu. Jadi cepat katakan bagaimana awalnya hape itu bisa hilang?" Respon Danu mulai mempercayai keterangan dari keponakannya itu.

"Awalnya keadaan baik baik saja.Tapi setelah hape itu selesai dicas,aku membawanya keluar dan pergi dari tempat itu secepatnya."

"Tapi ternyata sejak dari awal masuk, aku sudah diikuti oleh sekelompok orang, dan di suatu tempat agak sepi, aku dihadang oleh mereka, yang jumlahnya kurang lebih 12 orang, dan langsung memaksaku untuk menyerahkan hape tersebut padanya"

"Karena mereka ramai, aku tidak bisa menang saat bertarung,jadi terpaksa menyerahkan hape itu pada mereka"

"Tapi saat bertarung itu, tangan ku terluka dan mengeluarkan banyak darah.Oleh karena itu aku kalah." Jawab Tanu lagi lagi mengarang cerita.

"Jadi sekarang kau di mana? Apakah keadaanmu baik-baik saja?" Tanya Danu masih penasaran

"Aku sekarang sedang berada di rumah sakit, karena luka ku agak dalam, jadi aku terpaksa pergi ke sana"

"Tapi paman jangan khawatir,luka ku sudah tidak berdarah lagi berkat cepat diobati." Jawab Tanu tebal muka.

"Terus bagaimana keadaanmu,apakah kau baik baik saja?" Tanya Danu mengulangi pertanyaannya tadi.

"Aku tidak apa-apa paman. Aku hanya trauma karena diancam dengan menggunakan senjata tajam,apalagi saat diletakkan di leherku." Jawab Tanu seperti apa adanya.

"Syukurlah kalau begitu. Cepat pulang, agar orang tuamu tidak khawatir!" Respon Danu senang.

"Baik paman. Aku akan segera pulang." Jawab Tanu patuh.

Kemudian memutus teleponnya dan tersenyum penuh kemenangan.

"Huh dasar manusia polos. Dengan mudahnya di bohongi oleh anak jenius seperti ku"

"Tapi gara gara itu aku terpaksa harus melukai tangan ku sendiri. dan memasang perban agar paman semakin yakin, bahwa aku memang benar benar dirampok" Ucap Tanu pada diri sendiri.

"Argh sialan! ternyata sakit. Awas kau Arya!gara gara kau aku jadi seperti ini.Kalau ketemu nanti aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Ucap Tanu geram.

Kemudian bergegas meninggalkan tempat itu untuk bersenang senang.

Terpopuler

Comments

forza 💫✨🎗️🪙👑

forza 💫✨🎗️🪙👑

mcnya mlh ga ada pergerakan apa" ya..makin goblok aja..bca cerita ini jdi goblok jga lma"..taik

2024-02-23

0

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

Lama...Kapan MCnya balas dendam...

2023-01-19

2

Wati_esha

Wati_esha

Tanuka keponakan Danu ternyata seorang preman.
Bagaimana mungkin, bukti kejahatan dengan mudahnya diberikan pada sembarangan orang? 🙃🙃🙃🙃🙃

2023-01-14

1

lihat semua
Episodes
1 Memainkan perasaan
2 Mencoba bertahan
3 Mulai terkuak kebenaran
4 Tidak amanah
5 Arya hilang
6 Mendapat keajaiban
7 Membuat perhitungan
8 Minuman neraka
9 Arya diserang
10 Salah paham
11 Menyewa Rumah
12 Menjadi pengikut
13 Hari pertama di rumah itu
14 Tak sudi jadi teman
15 Memborong banyak barang
16 Baik kalau ada maunya
17 Arya difitnah dan dapat masalah
18 Menyewa tempat usaha
19 Memulai usaha
20 Memasuki ruang rahasia
21 Mendapatkan pusaka
22 Sah menjadi milik Arya
23 Memulai debutnya di sekolah
24 Tampil mengagumkan
25 Arya memecahkan rekor
26 Niat akan dicurangi
27 Masalah datang di saat yang salah
28 Senjata makan tuan
29 Curiga
30 Pengkhianatan
31 Belum juga takluk
32 Jodi menjadi kuat
33 Master diatas master
34 Berterus terang
35 Kebaikan Arya
36 Deal harganya
37 Cobaan lagi
38 Teknik Sembilan Matahari
39 Terus dapat cobaan
40 Masih beralasan
41 Tanggung jawab besar
42 Engkau masih anak sekolah
43 Halangi mereka!
44 Perusahaan baru
45 Ingin berubah jadi baik.
46 Badung dan kawan kawan
47 Perselisihan sengit
48 Juara umum
49 Arya jadi viral
50 Sihir pemikat jiwa
51 Sihir penyegel jantung
52 Enggan mengakui
53 Aura guna guna
54 Mulai suka
55 Teknik energi jarum api
56 Pergi mengambil api bumi
57 Api tujuh warna
58 Arya direndahkan
59 Dominasi Arya
60 Bersekongkol
61 Kegilaan Dave tua
62 Tamu agung direndahkan
63 Terkejut semua
64 Untung besar
65 Penguasa aliansi bisnis dunia
66 Kianshi bumi bentuk perubahan
67 Hotel Mandala
68 Terbongkar status Arya
69 Kepalang tanggung tahu
70 Arya di Dunia Naga
71 Ingin dijadikan tumbal
72 Pengikut baru lagi
73 Di paksa
74 Murid super kaya
75 Mengambil daun tulang naga
76 Dendam turunan
77 Menaklukkan preman
78 Jarum Pelumpuh Sukma
79 Ratu pemangsa
80 Akhirnya dimaafkan
81 Sukses besar
82 Sehat itu mahal
83 Sup Jamur Dewa
84 Bisnis ya bisnis
85 Wisata ke laut
86 Keberuntungan Arya
87 Tangkapan besar lagi
88 Pengalaman berharga.
89 Kanaya dalam bahaya
90 Kanaya di dunia jiwa
91 Akan ada serangan
92 Pangeran iblis
93 Penyerangan pertama
94 Amanda diculik
95 Semut juga punya kekuatan
96 Pembicaraan setelah bencana
97 Arya terluka
98 Memotivasi
99 Segel penangkap jiwa
100 Plakat perintah
101 Serangan dadakan
102 Iblis Zongga vs Pemanggil jiwa
103 Mempermainkan lawan
104 Cuek saat menghadapi tantangan
105 Cabut paku
106 Berani meremehkan
107 Diperas
108 Aliansi pembunuh bayaran
109 Rencana menghancurkan
110 Terkendala
111 Imigran di pulau perbatasan
112 Musuh baru muka lama
113 Berencana membeli pulau Angsa
114 Dianggap remeh
115 Mau tahu dia
116 Perdebatan sengit
117 Diragukan kebenarannya.
118 Kesadaran spiritual
119 Kemajuan yang sangat menggembirakan
120 Kemunculan yang tiba tiba
121 Mencari gara gara
122 Ditopang Naga
123 Terkuak suatu kebeneran
124 Wejangan Wangsa
125 Kejadian tidak terduga
126 Arya menghilang
127 Gerbang kemarahan naga
128 Arya kewalahan
129 Bertemu Sang Legenda
130 Mendapatkan penjelasan
131 Linglung awalnya
132 Pulau impian
133 Hampir saja
134 Arya tidak berdaya
135 Sihir neraka
136 Bunglon Matsuya
137 Bukan lawan seimbang
138 Mulai terkuak kebenaran
139 Leviathan dan para penguasa
140 Takdir Arya
141 Menjadi orang biasa
142 Pembantaian
143 Pembantaian jilid dua
144 Dasar Sampah
145 Pembersihan
146 Juragan Loba
147 Tengkulak darah
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Memainkan perasaan
2
Mencoba bertahan
3
Mulai terkuak kebenaran
4
Tidak amanah
5
Arya hilang
6
Mendapat keajaiban
7
Membuat perhitungan
8
Minuman neraka
9
Arya diserang
10
Salah paham
11
Menyewa Rumah
12
Menjadi pengikut
13
Hari pertama di rumah itu
14
Tak sudi jadi teman
15
Memborong banyak barang
16
Baik kalau ada maunya
17
Arya difitnah dan dapat masalah
18
Menyewa tempat usaha
19
Memulai usaha
20
Memasuki ruang rahasia
21
Mendapatkan pusaka
22
Sah menjadi milik Arya
23
Memulai debutnya di sekolah
24
Tampil mengagumkan
25
Arya memecahkan rekor
26
Niat akan dicurangi
27
Masalah datang di saat yang salah
28
Senjata makan tuan
29
Curiga
30
Pengkhianatan
31
Belum juga takluk
32
Jodi menjadi kuat
33
Master diatas master
34
Berterus terang
35
Kebaikan Arya
36
Deal harganya
37
Cobaan lagi
38
Teknik Sembilan Matahari
39
Terus dapat cobaan
40
Masih beralasan
41
Tanggung jawab besar
42
Engkau masih anak sekolah
43
Halangi mereka!
44
Perusahaan baru
45
Ingin berubah jadi baik.
46
Badung dan kawan kawan
47
Perselisihan sengit
48
Juara umum
49
Arya jadi viral
50
Sihir pemikat jiwa
51
Sihir penyegel jantung
52
Enggan mengakui
53
Aura guna guna
54
Mulai suka
55
Teknik energi jarum api
56
Pergi mengambil api bumi
57
Api tujuh warna
58
Arya direndahkan
59
Dominasi Arya
60
Bersekongkol
61
Kegilaan Dave tua
62
Tamu agung direndahkan
63
Terkejut semua
64
Untung besar
65
Penguasa aliansi bisnis dunia
66
Kianshi bumi bentuk perubahan
67
Hotel Mandala
68
Terbongkar status Arya
69
Kepalang tanggung tahu
70
Arya di Dunia Naga
71
Ingin dijadikan tumbal
72
Pengikut baru lagi
73
Di paksa
74
Murid super kaya
75
Mengambil daun tulang naga
76
Dendam turunan
77
Menaklukkan preman
78
Jarum Pelumpuh Sukma
79
Ratu pemangsa
80
Akhirnya dimaafkan
81
Sukses besar
82
Sehat itu mahal
83
Sup Jamur Dewa
84
Bisnis ya bisnis
85
Wisata ke laut
86
Keberuntungan Arya
87
Tangkapan besar lagi
88
Pengalaman berharga.
89
Kanaya dalam bahaya
90
Kanaya di dunia jiwa
91
Akan ada serangan
92
Pangeran iblis
93
Penyerangan pertama
94
Amanda diculik
95
Semut juga punya kekuatan
96
Pembicaraan setelah bencana
97
Arya terluka
98
Memotivasi
99
Segel penangkap jiwa
100
Plakat perintah
101
Serangan dadakan
102
Iblis Zongga vs Pemanggil jiwa
103
Mempermainkan lawan
104
Cuek saat menghadapi tantangan
105
Cabut paku
106
Berani meremehkan
107
Diperas
108
Aliansi pembunuh bayaran
109
Rencana menghancurkan
110
Terkendala
111
Imigran di pulau perbatasan
112
Musuh baru muka lama
113
Berencana membeli pulau Angsa
114
Dianggap remeh
115
Mau tahu dia
116
Perdebatan sengit
117
Diragukan kebenarannya.
118
Kesadaran spiritual
119
Kemajuan yang sangat menggembirakan
120
Kemunculan yang tiba tiba
121
Mencari gara gara
122
Ditopang Naga
123
Terkuak suatu kebeneran
124
Wejangan Wangsa
125
Kejadian tidak terduga
126
Arya menghilang
127
Gerbang kemarahan naga
128
Arya kewalahan
129
Bertemu Sang Legenda
130
Mendapatkan penjelasan
131
Linglung awalnya
132
Pulau impian
133
Hampir saja
134
Arya tidak berdaya
135
Sihir neraka
136
Bunglon Matsuya
137
Bukan lawan seimbang
138
Mulai terkuak kebenaran
139
Leviathan dan para penguasa
140
Takdir Arya
141
Menjadi orang biasa
142
Pembantaian
143
Pembantaian jilid dua
144
Dasar Sampah
145
Pembersihan
146
Juragan Loba
147
Tengkulak darah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!