Keesokan harinya. Arya bangun sedikit terlambat, karena tubuhnya terlalu lelah. Banyak masalah yang mendera, baik fisik maupun perasaan. Tapi Arya harus tegar menjalaninya, karena cita-citanya ingin menaklukkan dunia, dan merubah hidupnya yang miskin menjadi kaya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, sudah waktunya buat Arya mendapatkan asupan gizi untuk perutnya yang mulai keroncongan. Jadi sasarannya adalah mie instan, yang kemarin sudah dibeli. Maka hari ini dia berniat ingin memasaknya.
"Eh!. Bukankah makanan semalam masih ada?. Mudah-mudahan masih bisa di makan." Ujarnya penuh pengharapan.
"Ah syukurlah!. Lauk dan nasinya belum basi. Rejeki anak soleh namanya!" Ucap Arya sedih bercampur senang.
Kemudian menghidupkan kompor minyak yang semalam sudah dibelinya, dan langsung memanaskan lauk pauk yang didapatkannya kemarin.
Satu jam kemudian. Semua aktivitas yang Arya butuhkan sudah selesai dilakukan. Kebetulan hari itu adalah hari libur. Jadi tidak ada yang bisa Arya lakukan selain mengatur rencana.
Kebetulan rencananya besok baru dia akan mendaftarkan diri untuk sekolah lagi. Plus mencari pekerjaan sambilan sepulang dari sekolah.
"Entah kenapa tubuhku sangat lelah hari ini?. Mungkin aku butuh istirahat seharian ini."
"Tapi kalau istirahat terus, alamat aku bakalan tidak makan."
"Apakah sebaiknya aku jual saja emas emas ku ini, agar aku tidak kekurangan uang?"
"Lumayan kalau diambil 7 juta perbiji nya. Maka aku akan mendapatkan 35 juta. Dan itu sudah lebih dari cukup buat ku."
"Tapi kalau aku jual semuanya. Apakah tidak terlalu mencolok dan menimbulkan kecurigaan?"
"Nanti takutnya orang bertanya, dari mana aku mendapatkan emas-emas itu, padahal di tempat ini tidak ada pertambangan emasnya?".
"Kalau aku tidak jual, uangku tinggal Rp.500.000 Sementara besok aku akan mendaftarkan diri ke sekolah baru, tentu di tempat tersebut biaya masuk dan perlengkapan sekolahnya cukup mahal?"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?. Jual satu-satu atau jual semuanya?" Ucap Arya ragu-ragu.
Kemudian memandangi 5 buah emas berupa batu yang tidak beraturan bentuknya. Lalu menimang timang nya sambil mengira mengira beratnya.
"Aku rasa tiap bijinya seberat 10-12 gram. Berarti uangku jadi semakin banyak."
"Jika aku jual semuanya. maka segala kebutuhanku bisa terpenuhi. Tapi resikonya orang akan mencurigai ku."
"Tapi jika aku menjual satu-satu, akan sulit bagiku untuk berkembang. Jadi harus bagaimana ya?"
"Ah masa bodoh lah!. Aku butuh uang. Sementara aku belum punya kerja. Jadi aku harus menjual semuanya, dan uangnya bisa aku gunakan untuk membeli kulkas, tempat tidur dan peralatan dapur lainnya, termasuk kursi dan meja makan."
"Selain itu aku juga butuh kendaraan untuk pergi ke sekolah jika aku diterima."
"Kalau begitu ceritanya, maka keputusanku sudah bulat!. Aku akan menjual seluruh emas-emas ini kepada penampung yang kemarin pernah membeli emas ku!" Ucap Arya sedikit kuat. Lalu bersiap untuk pergi menemui orang tersebut.
Tapi belum juga beranjak pergi. Terdengar ketukan di depan pintu, yang menandakan ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Mau ketemu siapa ya?" Tanya Arya sesaat setelah pintu depan rumahnya terbuka.
"Apakah kamu yang bernama Arya?. Penghuni baru rumah berhantu ini?" Tanya seorang gadis cantik dengan ekspresi sinis.
"Ya aku Arya!. Ada apa?" Jawab Arya penasaran.
"Kenalkan!. Aku Natasya Bella. Anak dari ketua RT kampung ini!"
"Aku ditugaskan oleh ayah ku untuk memberitahu mu, bahwa kau dipanggil untuk menemuinya sekarang. karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan!" Jawab gadis yang bernama Natasya itu masih dengan ekspresi sinis dan kurang senang.
"Datang ke rumah kalian?. Memangnya ada apa?. Bukankah baru malam tadi ayahmu datang ke rumahku, dan mendata keberadaan ku?" Tanya Arya masih tetap penasaran.
"Kalau masalah itu aku tidak tahu!. Yang jelas dia menyuruhmu untuk datang ke sana.Titik!" Jawab Natasya atau Tasya apa adanya.
Tak lama kemudian berkata kembali." Kau punya handphone nggak?"
"Nggak!" Jawab Arya berterus terang.
"Huh menyusahkan saja!. Hari gini tidak punya handphone?. Mau jadi apa?" Respon Tasya semakin menyakitkan.
"Ada atau tidak adanya handphone itu urusanku!. dan kau tidak perlu mengurusinya!"
"Jadi katakan saja pada ayahmu, bahwa aku akan segera datang!" Ucap Arya cukup tenang. Tapi menyakitkan bagi siapa yang ditujunya.
"Ah terserah kau saja!. Aku malas berbicara denganmu!" Reaksi Tasya kurang senang. Kemudian berniat pergi.
Tapi baru dua langkah, Arya berkata kembali "Terima kasih atas informasinya ya?" Ujar Arya cukup legawa. Kemudian berniat menutup pintu rumahnya.
Tapi belum juga tangannya bergerak, Tasya kembali berkata lagi. "Oh ya satu lagi!. Ayahku juga menginginkan agar kita berteman."
"Namun kau jangan terlalu berharap ya untuk bisa berteman denganku!, karena kau bukan tipe ku!" Ucap Natasya cukup mengejutkan.
"Siapa juga yang ingin berteman dengan mu?. Kenal saja tidak!."
"Datang-datang langsung memberondong ku dengan berbagai macam pernyataan. Memangnya kamu siapa?" Jawab Arya cukup menyakitkan.
"Hei aku ingatkan ya!. Aku ini gadis tercantik di kampung ini. juga di sekolah tempat ku belajar!"
"Banyak pemuda yang mengejar ku, dan berharap agar aku mau menerimanya mereka jadi pacarku."
"Tapi jangan harap kau punya kesempatan untuk bisa bersaing dengan mereka. karena kau tidak pantas!"
"Aku akui tampang mu memang tampan. Tapi penampilan mu dekil, dan kau bukan tipeku!" Ucap Tasya begitu sombongnya.
"Oh ya?. Jika aku tampan, dan kaya, tipeku juga bukan kamu!"
"Masih banyak gadis gadis di luaran sana yang lebih cantik dari mu. Jadi untuk apa berebut perhatian dari gadis sombong dan angkuh seperti mu. Seperti kurang kerjaan saja. Camkan itu!" Respon Arya tidak senang. Kemudian menutup pintu rumahnya, dan pergi dari tempat itu begitu saja.
"Hei tunggu aku!. Kau kira kau itu siapa ha?"
"Memangnya kau tahu di mana rumahku?" Ucap Tasya tidak terima.
"Aku punya mata, punya mulut dan punya telinga. Jadi aku bisa bertanya pada orang-orang yang aku temui di jalan."
"Mereka pasti tahu di mana rumah Tasya yang sombong itu, juga rumah ketua RT yang memimpin di kampung ini. Jadi keberadaan mu tidak aku butuhkan lagi." Jawab Arya cukup menyakitkan.
"Dasar pemuda edan!, brengsek, sialan!. Baru saja bertemu sudah berani menghinaku!. Awas kau ya!" Respon Natasya tidak terima. Kemudian mendahului Arya untuk menuju ke rumahnya.
Saat mereka sedang bertengkar di jalan dan saling mendahului. Bu Rosma yang terkenal ingin serba tahu pun bereaksi, dan tak lama kemudian dia berkata. "Bukankah itu Natasya?. Kenapa dia berjalan dengan Arya?. Apa kah barusan dia dari rumah Arya, tapi untuk apa?"
"Eh tunggu dulu!. Sepertinya dia marah?. Mungkin Arya mengganggunya?"
"Bagaimana mungkin?. Ah masa bodoh!. Itu urusan anak muda."
"Tapi bagaimana Arya mengenalnya?. Padahal dia penduduk baru di kampung ini?"
"Lalu bagaimana dengan anakku Shinta?. Kalau ada Tasya, mereka bakalan bersaing, karena Tasya terkenal sebagai gadis cantik di kampung ini. Sementara anakku biasa-biasa saja."
"Ah masa bodoh lagi!. Lagian Natasya mana cocok dengan Arya, karena Tasya orangnya judes dan mata duitan. Sementara Arya orangnya baik, lembut dan slow penampilannya."
"Jika mereka bersama. Aku yakin tidak akan bertahan lama. Tapi jika berteman dengan Shinta, aku yakin mereka sangat cocok."
"Hehehehe!. Ternyata aku cocok jadi mak comblang ya?" Ucap Rosma pada diri sendiri. Kemudian tidak peduli lagi terhadap Arya dan Natasya Bella.
***
"Kamu tentu bertanya tanya kenapa bapak memanggil mu kesini kan?" Ucap pak Pomo atau Supomo memulai pembicaraan.
"Ya nih pak jadi kepo. Ada apa ya pak?" Jawab Arya apa adanya.
"Begini nak Arya. Kebetulan besok bapak mau ke sekolahnya Tasya anak bapak itu. Karena ada sedikit urusan dengan kepala sekolahnya."
"Kalau kau mau ikut dan mendaftar. bapak rasa besoklah waktunya."
"Siapa tau kau di terima di sana?" Ucap Supomo memberikan masukan.
"Oh gitu ya pak. Saya kira ada apa?" Respon Arya datar saja.
"Saya memang ingin sekolah lagi pak, tapi belum tau mau mendaftar di mana?"
"Lagipula saya baru di kota ini. Jadi untuk masalah sekolah saya lihat dulu pak Pomo, sambil mencari informasi sekolah mana yang bagus untuk tempat menuntut ilmu" Jawab Arya berterus terang.
"Kalau masalah itu kamu jangan khawatir. Sekolah yang bapak datangi besok adalah sekolah favorit, tempat orang orang
kaya dan pandai belajar."
"Jika kau sekolah di sana, bapak yakin masa depanmu akan cerah, dan kau bakalan mudah untuk masuk ke perguruan tinggi, karena sekolah tersebut setiap tahunnya mencetak generasi muda yang selalu dicari oleh banyak perguruan tinggi."
"Lagi pula letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota. Jadi jika kau mau, besok bapak akan bawa nak Arya ke sana, sekalian untuk menyelesaikan urusan." Jawab Pomo memberi penjelasan.
"Begitu ya pak?"
"Baiklah!. Besok saya akan ikut bapak ke sana. Tapi tidak janji ya pak?, karena saya harus pikir-pikir dulu, disebabkan sekolah favorit pasti bayarannya mahal."
"Jika saya nekat mendaftar, tentu saya yang akan kewalahan sendiri. Lagi pula saya tidak punya uang. Lain kalau saya sudah bekerja walau sambilan?"
"Setidaknya saya bisa membiayai kebutuhan saya sendiri, plus biaya sekolah di sana."
"Jadi saya pesimis kalau bisa diterima di sekolah itu pak Pomo?" Jawab Arya menjelaskan kondisinya.
"Oh kalau masalah itu kamu jangan khawatir Arya!. Bapak bisa membantu mu, karena kebetulan kepala sekolah yang akan bapak datangi itu adalah saudara bapak sendiri."
"Jadi dengan mengandalkan hubungan kekeluargaan tersebut, bapak bisa memasukkan nak Arya dengan pengecualian." Respon Supomo memberi harapan.
"Kalau begitu terima kasih pak!. Tapi saya tidak bisa menerima budi baik sebesar itu."
"Saya akan berusaha sendiri tanpa mengandalkan status persaudaraan bapak dengan kepala sekolah tersebut."
"Saya akan masuk dengan kemampuan saya sendiri, karena saya yakin bisa melaluinya dengan baik, hingga saya bisa diterima di sana!" Jawab Arya sungkan dan terkesan menolak kebaikan.
"Wah anak muda yang luar biasa!. Bapak jadi semakin kagum pada mu!" Respon Supomo terang terangan dalam memuji ketegasan serta kemandirian Arya barusan.
"Tapi ngomong-ngomong nak Arya mau ke mana?. Rapi banget?"
"Apakah nak Arya mau ke kota?" Tanya Supomo merasa penasaran.
"Rencananya memang begitu pak. Tapi belum juga pergi bapak sudah memanggil ku duluan."
"Jadi mau tidak mau rencana ku sedikit terhambat."
"Oleh karena itu saya mohon pamit pak, karena ada sedikit keperluan di sana. Jawab Arya apa adanya.
"Oh silakan nak Arya!. Maaf karena bapak telah menghambat rencana mu!" Respon Supomo tidak enak hati.
"Ah tidak begitu juga pak Pomo? Toh pasarnya tidak akan lari juga?" Reaksi Arya geli sendiri.
Lalu mohon pamit untuk pergi ke kota. Tapi belum juga melangkah terdengar lagi Supomo berkata. "Kebetulan anak bapak juga belajar di sekolah itu. Jadi jika kau masuk ke sana, maka kalian bisa menjadi teman, dan berangkat bersama-sama." Ujarnya memberi saran.
"Siapa juga yang mau menjadi kawannya?. orang bulukan seperti itu!. Buat malu saja!" Reaksi Natasya tiba-tiba, hingga membuat ayahnya menjadi tidak senang.
"Jaga sikapmu Tasya!. Nak Arya ini orang baik, dan bisa menemanimu kemanapun kau pergi." Respon Supomo tidak senang, dan berusaha memarahi anaknya di depan Arya.
"Pokoknya Tasya tidak mau!. Terserah ayah mau berkata apa?"
"Yang jelas Tasya tetap pada pendirian!. Tasya tidak mau menjadi temannya, apalagi pergi bersama. Apa kata dunia?" Jawab Tasya sangat menghinakan.
"Tidak apa-apa pak Pomo!. Jika saya diterima di sana, saya akan pergi sendiri, karena saya juga punya kaki. Tidak perlu minta gendong dengan anak bapak itu!"
"Lagi pula badan saya lebih besar dari badannya. Nanti patah pula tulangnya!" Ucap Arya sungguh tidak terduga, hingga membuat pak Pomo juga anaknya terperangah diam.
Tapi pak Pomo tahu, kalau Arya hanya ingin membalas perlakuan kasar Tasya padanya. Jadi dia tidak ambil pusing, dan membiarkan Arya pergi dari tempat itu, dengan senyum penuh kemenangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Diah Susanti
😁😁😁😁
2024-02-23
0
Jimmy Avolution
Ayo...ayo...
2023-01-19
3
Wati_esha
Mulai meriah episode ini dengan masuknya tokoh baru. ☺☺☺
2023-01-19
1