Beberapa jam kemudian. Arya pun sudah berada di dalam rumahnya, dan sedang mengemasi barang-barang yang ia beli di pasar.
Itu semua ia beli dengan menggunakan uangnya, bukan uang dari pengikut barunya, karena dia tidak mau mendapatkan jasa sebelum ia berusaha,dan dapat menghidupi mereka.
Maka jadilah Arya berusaha sendiri dengan uang penjualan emas 10 gramnya, dan yang tersisa sekarang hanya tinggal setengah juta atau Rp.500.000
"Mengingat jumlah uangku hanya tinggal segini.maka itu harus dihemat hemat kan"
"Tidak boleh hidup boros dan makan harus seadanya.Jika tidak,alamat aku akan kelaparan,walaupun masih ada beberapa buah batu yang bisa aku jual."
"Tapi untuk sementara aku tidak boleh terlalu mencolok. Takut penampung batu mulia menjadi curiga, dan melaporkannya pada orang yang tidak bertanggung jawab."
"Oleh karena itu aku harus berhati-hati. Mudah mudahan besok aku sudah mendapatkan pekerjaan sebagai pengalihan." Guman Arya pada diri sendiri. Kemudian meneruskan aktivitasnya mengemasi barang-barang yang tidak seberapa tersebut.
"Untung kebutuhan pokok harian sudah terpenuhi,dan cukup digunakan selama satu minggu.Hanya tinggal kebutuhan kecil saja yang belum aku beli."
"Oleh karena itu, mulai sekarang aku harus bisa mengatur kebutuhan ku sendiri, dan tidak malu jika harus bekerja secara serabutan, walau itu harus menjadi kuli. Mengenai kelanjutan pendidikanku akan ku pikirkan besok." monolog Arya kembali di sela-sela merapikan barang belanjaannya tersebut.
Tok! tok! tok!
"Siapa?" Tanya Arya penasaran.
"Ini ibu Rosma nak Arya!. Tolong buka pintu!" Jawab Rosma berterus terang.
Cklek!
Arya pun membuka pintu, dan melihat tamu yang datang. Setelah pintu terbuka dia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Bu Ros?" Reaksi Arya keheranan. Kemudian memandang kepada tamu yang satunya lagi, yang Arya sendiri tidak mengenalnya.
"Kenalkan! Ini pak Supomo, ketua RT di kampung ini.Beliau datang ingin menemuimu, karena ingin mendata mu sebagai warga baru." Ucap Bu Rosma memperkenalkan temannya.
"Oh mari silakan masuk pak Pomo.bu Ros! Maaf jika saya terlambat menyambut kalian!" Reaksi Arya tidak enak hati, dan mempersilakan keduanya untuk masuk.
"Maaf tidak ada kursi yang bisa diduduki. Hanya ada tikar getah untuk saat ini."
"Jadi silakan duduk pak, bu!" Ucap Arya sesaat setelah keduanya merasa sungkan untuk duduk.
Karena tidak ada kursi,mau tidak mau mereka harus duduk di lantai hanya beralaskan tikar getah, atau perlak nama lainnya.dan itu sangat mereka maklumi.
"Sebenarnya nanti malam saya baru akan menemui pak RT. Tapi belum juga malam bapak sudah datang sendiri kemari.Jadi maaf pak atas ketidaksopanan saya ini." Ucap Arya meminta pengertian.
"Oh tidak masalah nak Arya! Kebetulan tadi bapak pergi ke warung, dan mengetahui bahwa ada penghuni baru di kampung ini. jadi sekalian saja meminta teman kan pada bu Ros ini untuk menemui mu"
"Sebagai ketua RT, bapak bertanggung jawab untuk mendata warga, dan memastikan bahwa warga tersebut memang benar-benar ingin tinggal di kampung ini."
"Jadi mohon kerjasama dari nak Arya untuk menjaga keamanan dan ketertiban di rukun tetangga yang bapak pimpin ini." Jawab pak Supomo atau pak Pomo merasa legawa.
"Kalau begitu terima kasih pak atas kemudahan yang diberikan kepada saya.Tapi sekali lagi saya mohon maaf, karena saya belum sempat untuk melapor kepada bapak." balas Arya merasa semakin sungkan.
"Tidak masalah! Lagi pula bapak ingin tahu kondisimu setelah tinggal di rumah ini."
"Menurut keterangan beberapa warga sekitar, katanya rumah yang kau tempati ini sedikit lain.Jadi mohon jika ada apa-apa segera beritahu kami. Mudah-mudahan kami bisa membantu." Jawab pak Supomo memberi penguatan.
"Ya tentu saja pak. Tapi mudah-mudahan tidak ada apa-apa. karena semua bagian rumah ini termasuk sudut-sudutnya sudah saya bersihkan, dan tidak menemukan seperti apa yang diberitakan."
"Namun jika ada ditemukan hal-hal yang janggal.maka saya akan segera memberitahukan kepada bapak, terutama pada bu Ros ini." Jawab Arya cukup sopan.
"Baiklah kalau begitu nak Arya, bapak pulang dulu. Kebetulan barang belanjaan ini sedang dibutuhkan oleh orang rumah." Respon pak Supomo senang. Kemudian pamit kepada Arya dan berniat meninggalkan Rosma yang masih ada sedikit urusan dengan Arya.
"Ini ada sedikit makanan, yang siang tadi ibu masak nak Arya.Mohon diterima.Tapi maaf kalau masakan ibu kurang enak."
"Ibu berbuat seperti ini, karena ibu yakin nak Arya belum sempat untuk masak.Jadi ibu bawakan ini untuk nak Arya.Kebetulan anak ibu hari ini tidak pulang. Dia pergi ke rumah neneknya di Kabupaten sebelah."
"Mudah-mudahan nak Arya senang.dan kalau ada apa-apa silakan hubungi ibu. Mudah-mudahan ibu bisa membantu." Ucap Rosma menawarkan jasa.
"Oh ya! Di dalam rantang susun ini ada lauk pauk lengkap dengan nasinya.Kalau masalah piring,gelas serta air tentu nak Arya punya." Ujar bu Rosma lagi.
"Ah,bu Rosma! Saya jadi merepotkan saja. Tapi terima kasih karena sudah berbaik hati." Respon Arya senang.Kemudian mengambil rantang susun yang disodorkan oleh Rosma padanya itu.Lalu mengantar mereka sampai ke depan pintu. dan sekali lagi mengucapkan terima kasih.
Dalam perjalanan pulang yang kebetulan jarak antara rumah Arya dengan jalan umum sekitar 100 meter. pak Supomo pun berkata pada Rosma.
"Aku tidak merasakan ada aura negatif di rumah itu, bahkan setelah dibersihkan oleh Arya, auranya jadi sedikit menenangkan."
"Jadi kabar miring yang selalu kita dengar mungkin itu terlalu di besar besarkan."
"Lagi pula nak Arya itu berpenampilan lain. Baik dan cukup sopan, serta terlihat berpendidikan.Aku yakin dia akan betah berlama-lama di rumah itu,Karena kelihatannya dia cocok." Ucap pak Supomo pada Rosma.
"Saya juga berpendapat demikian pak Pomo. Biasanya kalau saya datang ke rumah itu, dan mengunjungi penghuninya, bulu kuduk saya selalu merinding, dan seperti ada makhluk menyeramkan yang sedang mengawasi saya."
"Tapi saat masuk tadi, saya tidak merasakan apa-apa. Ini cukup aneh?Mungkinkah Arya itu orang sakti dan hantu takut padanya?" Jawab dan tanya Bu Rosma apa adanya.
"Bu Ros ini ada-ada saja! Mana ada orang sakti, yang ada orang berilmu. Apakah ilmu dunia atau ilmu agama?"
"Tapi kalau menurut penglihatanku, Arya itu tinggi dalam ilmu agama, dalam ilmu dunia pun dia bisa."
"Mudah mudahan dia betah di rumah itu, dan mampu menghilangkan imej buruk tentang rumah tersebut." Respon pak Supomo mendoakan kebaikan untuk Arya.
"Ya mudah-mudahan saja seperti itu, agar Arya betah berlama lama di rumah barunya tersebut!" Sambung Rosma juga berharap demikian.Kemudian memasuki warungnya dan menunggu pembeli lain datang.
***
"Sebenarnya ada apa dengan rumah ini?Kenapa orang-orang mengatakan, bahwa rumah ini berhantu?"
"Apakah ada yang salah dengan pemikiran mereka. Kenapa aku malah merasakan lain, jiwaku seperti terhubung dengan suatu tempat di rumah ini?" Ucap Arya pada diri sendiri.
"Ah daripada penasaran. Lebih baik aku selidiki. siapa tahu ada rahasia yang tersembunyi di rumah ini."
"Jika memang ada, berarti aku termasuk orang yang beruntung?Siapa tahu di tempat itu ada barang berharga,dan pemiliknya memang meninggalkannya untuk ku?" Ucap Arya lagi.
"Tapi dari mana aku harus memulainya ya?Kata orang-orang itu, setiap malam dari bawah lantai, ada suara berisik seperti orang yang sedang bekerja. dan ini sudah malam.namun aku tidak mendengar apa-apa?Mungkinkah itu berita kecil yang sengaja di besar besarkan?"
"Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Sebenarnya mataku sudah mengantuk, tapi aku merasa penasaran.Aku ingin lihat, sebenarnya ada apa di rumah ini?"
"Kalau memang di situ ada hantu, maka aku akan tantang dia satu lawan satu.Tapi kalau hanya sekedar isu ya biarkan saja. Toh tidak ada ruginya juga." Guman Arya lirih. Kemudian memeriksa tiap ruangan, yang sengaja ia buat terang, dengan memasang banyak lampu, dan tetap akan menghidupkannya sampai pagi.
Namun dicari sekian lama dia tidak menemukan apa-apa, malah rasa ngantuk yang mendera. Setelah merasa bosan, Arya mengakhiri pencariannya, dan berniat untuk tidur.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.
"Ah buset! Ternyata mataku tidak bisa diajak kompromi.Mungkin karena terlalu kelelahan jadi mataku sudah sangat mengantuk.Lebih baik aku tidur saja." Ujarnya.
Kemudian membentangkan kasur yang dia beli di pasar, dan menata tempatnya. Lalu tidur dan tidak sadar apa apa lagi.
Setelah Arya tertidur, sekelompok makhluk keluar dari sebuah ruangan. Salah seorang dari mereka berkata."Di dalam tubuh anak ini, memang ada darah murni dari tuan kita."
"Aku yakin dia itu keturunan dari yang mulia Braja Santana.Kalau bukan karena keturunannya, tidak mungkin kekuatan kita jadi tersegel seperti ini?"
"Biasanya tiap orang yang tinggal di rumah ini, dengan mudahnya kita ganggu, dan kita takut-takuti. Tapi dia tidak bisa sama sekali."
"Bahkan kekuatan kita mendadak hilang, dan berganti menjadi ketakutan.Berarti anak ini adalah tuan muda yang sudah lama hilang, dan itu sejak dia masih bayi,dan hari ini kita temukan kembali."
"Oleh karena itu kita harus membimbingnya, agar dapat memasuki ruang bawah tanah tersebut, dan mewarisi isinya,agar kekuatan kita yang tersegel bisa kembali lagi" Ucap pemimpin kelompok penjaga pada temannya.
"Aku juga merasakan seperti itu ketua.Sebab tidak biasanya kekuatan kita mendadak hilang. Biasanya kalau ada orang baru datang, kekuatan kita jadi meningkat, karena jiwa orang itu mudah kita pengaruhi."
"Namun anak ini lain. Baru ingin mendekati saja, tubuh kita sudah terpental. Karena sepertinya aku merasakan, di dalam tubuh anak ini ada warisan yang sangat luar biasa."
"Itu berarti leluhurnya telah menganugerahkan benda tersebut kepadanya. Jika tidak, mana mungkin wajah dan seluruh tubuhnya bisa bercahaya saat dia tidur."
"Kalau begitu ceritanya, maka kita harus menjaganya, dan menjadi pengikutnya sampai akhir hayat kita, dan tidak akan pernah menghianatinya!" Sambung temannya pula.
"Siapa nama anak ini? Sepertinya kalau tidak salah dengar tadi, dua orang itu memanggilnya dengan panggilan Arya."
"Berarti benar. Dia adalah tuan muda Arya, yang sudah lama menghilang, dan baru hari hari ini kita temukan."
"Kalau begitu ayo kita jaga dia!Jangan sampai ada nyamuk yang menggigit kulitnya!" Sambung ketua tersebut merasa senang.
Kemudian mengerjakan apa yang dikatakannya tadi. Sementara yang lain memeriksa ruangan yang sekarang sudah menjadi terang benderang, akibat lampu yang dipasang oleh Arya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12.10 dini hari.Suasana di kampung yang cukup ramai tersebut sudah sepi, karena letaknya berada di pinggiran kota yang lumayan jauh dari kotanya.
Namun sesekali ada kendaraan lewat, dan itu pun hanya satu dua. Tapi itu tidak menghalangi orang-orang untuk tetap tidur termasuk Arya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Diah Susanti
12.10 pagi🤨🤨🤨🤨
2024-02-23
0
Gian Dido
Hebaaaaaat......... Bambang......... Hantu nya jaga nyamuk...... 😁😁😁😁😁
2023-04-21
2
Raffael Beniqno
lanjut thor
2023-04-01
1