"Ini sekolah yang bapak maksudkan itu nak Arya!. Jadi silakan masuk dan ikut bapak untuk menemui kepala sekolahnya." Ucap Supomo, sesaat setelah mereka sampai di sekolah tersebut.
"Sebagus ini pak Pomo?. Apakah ini layak disebut sekolah?. Komplek istana barangkali?" Respon Arya terkesan kampungan sekali.
"Iya!. Kenapa, heran?" Tanya pak Pomo berterus terang.
"Iya nih pak jelas heran!. Tempat sebagus ini diperuntukkan untuk anak-anak belajar. bahkan halamannya sangat luas sekali!"
"Ada lapangan bolanya. Ada tempat untuk berolahraga, dan lain sebagainya."
"Awal mula melihat, aku tidak yakin kalau ini sekolah, tapi komplek istana."
"Tapi setelah melihat plang yang ada di depan itu saya baru yakin, kalau SMA Tunas Bangsa ini benar-benar sekolah." Jawab Arya apa adanya.
"Ini benar-benar sekolah nak Arya!. Milik seorang pengusaha batu mulia dari ibukota."
"Kabarnya semalam pemiliknya menyempatkan diri untuk datang ke tempat ini. Tapi tidak ada seorangpun yang menyambut, kecuali beberapa orang satpam yang berdiri di depan itu, dan mereka langsung mengabarkannya kepada adik bapak."
"Saat ingin dikonfirmasi mereka malah menolaknya, karena katanya mereka ingin melanjutkan perjalanannya."
"Kebetulan saja mereka berada di kota ini. jadi mereka menyempatkan diri untuk melihat sekolahnya." Ucap pak Supomo menjelaskan apa adanya.
"Oh begitu ya pak?" Respon Arya singkat.
Kemudian berkata sendiri dalam hati." Sekarang aku jadi paham, bahwa setelah menjadi kaya, bisa membuat perusahaan apa saja yang di maukan."
"Nanti kalau aku sudah kaya, aku pun akan membuat perusahaan dalam jumlah banyak, termasuk membuat sekolah, rumah sakit, rumah ibadah dan tempat-tempat umum lainnya!" Batinnya meronta tanda penuh cita cita.
"Kok malah melamun?. Ayo masuk dan kita temui kepala sekolah di tempat ini, karena bapak juga ada perlu dengannya." Tegur Supomo pada Arya, dan berasa sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan adiknya itu.
Tapi langkah mereka dicegah oleh penjaga yang menjaga pintu gerbang sekolah. Baru setelah diceritakan duduk perkaranya, apalagi setelah tahu bahwa Supomo itu merupakan saudara kandung dari kepala sekolah tersebut, maka tanpa berbasa-basi lagi mereka langsung diizinkan untuk masuk.
Setelah sampai di dalam mereka disapa kembali oleh seorang guru yang merasa keheranan saat Supomo terlihat kebingungan mencari arah. "Mau ketemu siapa pak?" Tanya guru tersebut cukup sopan.
"Oh Kebetulan kami ingin menemui pak Kama, adik bapak itu. Apa yang bersangkutan ada? Jawab pak Pomo sekaligus bertanya.
"Pak Kama?. Siapa ya pak?. Perasaan tidak ada yang namanya pak kama di sekolah ini? Bisa dijelaskan nama lengkapnya pak?" Respon guru tersebut kebingungan.
"Oh itu Sentanu maksud saya!" Jawab Supomo akhirnya berterus terang.
"Oh pak Sentanu?. Kebetulan beliau sedang ada tamu pak. dari Jakarta."
"Kabarnya mereka semalam mengunjungi sekolah ini. Tapi karena hari libur, tentu saja tidak ada orang kecuali para penjaga itu."
"Kalau bapak ingin bertemu, silakan tunggu di sini. Kebetulan ruangan ini adalah ruang yang diperuntukkan untuk tamu yang ingin bertemu dengan kepala sekolah kami." Ucap guru tersebut menjelaskan.
"Oh kalau begitu terima kasih!. Kami akan menunggu kepala sekolahmu di sini." Jawab Supomo cukup mengerti. Kemudian mengajak Arya untuk masuk.
Sepuluh menit kemudian, seseorang yang sangat dikenal oleh Arya keluar dari ruang kepala sekolah. didampingi oleh dua orang wanita berpenampilan sangat cantik dan menarik.
Yang satu sudah agak tua, tapi masih terlihat cantik. Sementara yang satunya lagi masih muda belia. Dia adalah Amanda Khairani. gadis cantik yang semalam ditemui oleh Arya bersama dengan kedua orang tuanya.
Begitu mereka melihat Arya, tentu saja kepala keluarganya menjadi keheranan. Mereka tidak menyangka bakal ketemu Arya di sekolah miliknya sendiri.
"Arya?. Ternyata kamu di sini?. Apakah kau termasuk siswa di sekolah ini?" Tanya pak Satya merasa penasaran.
"Oh pak Satya?. Ya ini saya!. Kebetulan hari ini saya ingin mendaftar. Siapa tahu diterima?" Jawab Arya apa adanya.
"Oh kalau begitu kebetulan juga!. Anak bapak ini ingin sekolah di tempat ini. Katanya tempatnya nyaman. maka dia memaksa bapak untuk dipindahkan ke sini." Reaksi pak Satya berterus terang.
"Lalu apakah kau sudah diterima?" Tanya pak Satya menyambung cerita.
"Belum pak, baru ingin ketemu kepala sekolahnya juga?" Jawab Arya berterus terang, dan apa adanya.
"Oh kebetulan pak Sentanu. Hari ini ada dua orang yang mau belajar di sekolah mu. Apakah kau bisa mengakomodirnya?" Respon pak Satya merasa senang.
"Tentu saja bisa pak!. Kebetulan ada satu lokal yang dua orang siswanya mengundurkan diri. Jadi anak bapak juga pemuda ini bisa masuk secara bersamaan." Jawab Sentanu dengan reaksi cepat, yang tentu saja tidak berani menolak permintaan dari pemilik sekolah tempat dia bekerja itu.
"Nah nak Arya!. Sekarang tidak perlu mendaftar lagi, karena pak Sentanu akan mengurusnya sendiri." Respon pak Satya merasa senang.
Kemudian mengajak Arya untuk berbincang-bincang di tempat lain. Sementara pak Supomo berbincang dengan adiknya pula.
"Dari mana asalnya anak itu kak?. Kenapa pemilik sekolah ini bisa mengenalnya?" Tanya Sentanu pada abangnya.
"Mana aku tahu?. Ketemu saja baru!"
"Untuk kau ketahui!, Arya itu baru dua hari tinggal di kampungku. Dia menyewa rumah di sana."
"Katanya dia ingin mengadu nasib di kota ini, dan melanjutkan pendidikannya di sekolah mu."
"Kalau masalah bagaimana ia kenal dengan pak Satya, tanyakan saja langsung padanya. Mungkin dia mau cerita?" Jawab Supomo apa adanya.
"Ternyata begitu!. Aku lihat anak itu cukup baik, sehingga pak Satya begitu menyukainya."
"Jika dia bersekolah di tempat ini, mudah mudahan bisa menaikkan peringkat sekolah kita, Apalagi dengan adanya putri dari pemiliknya tersebut."
"Tapi masalah ini, harus dirapatkan dulu dengan dewan guru, sekaligus memberitahu mereka, agar tidak berbuat macam macam terhadap Arya, juga gadis itu."
"Aku mencium sesuatu yang tidak biasa. Jika berani macam-macam, alamat kedudukanku akan dicopot!"
"Oleh karena itu aku harus bertindak hati-hati, dan memperingatkan mereka agar serius dalam mengajar. Karena putri pemilik sekolah ini langsung berada di sini." Respon Sentanu lirih, tapi didengar oleh saudaranya.
"Kak Pom!. Tolong cari informasi tentang Arya, karena jika pak Satya sudah mengenalnya, apalagi menyukainya, berarti dia bukan orang sembarangan?"
"Aku minta tolong juga padamu, tolong selalu awasi Arya, dan jangan sampai membuatnya kesulitan."
"Arya itu merupakan kartu as bagiku. Jika aku selalu berbuat baik, dan menunjukkan dedikasiku, maka statusku di tempat ini akan tetap jadi kepala sekolah."
"Tapi jika dia merasa janggal, dan merasa tidak senang, alamat kedudukanku akan dicopot!" Ucap Sentanu berterus terang.
Oleh karena itu dia meminta bantuan dari saudaranya untuk menjaga Arya.
"Aku juga terkejut Kama!. Tidak sangka anak polos seperti itu mempunyai kenalan orang penting dari ibukota. Pengusaha besar lagi, bahkan sekolah ini juga miliknya?"
"Ke depannya aku juga harus berbuat baik pada Arya, dan harus tulus membantunya. Siapa tahu aku juga kecipratan rezeki yang tidak disangka sangka?" Respon Supomo juga berterus terang, dan berharap banyak pada Arya.
"Huh orang kalau ada maunya, disuruh apa saja manut. demi membuat orang tersebut senang?" Ejek sentanu pada kakaknya.
"Kau juga kan?. Jangan malu-malu mengakuinya!" Jawab Supomo balas menyerang adiknya.
"Ya kita sama-sama butuh anak itu. siapa tahu dengan kehadirannya, bisa membuat kita menjadi kaya?" Jawab Sentanu apa adanya. Kemudian mengajak abangnya untuk masuk ke ruangannya.
***
"Maaf kalau kemarin kami harus buru-buru, karena harus pergi ke provinsi sebelah, yang kebetulan tidak jauh lagi dari sini."
"Setelah urusan di sana selesai, bapak kembali lagi dan mengunjungi sekolah ini."
"Tapi bapak lupa kalau semalam hari libur. Baru hari ini datang kembali, kebetulan bertemu pula denganmu."
"Namun kalau boleh bapak tahu, dan nak Arya tidak keberatan. Bagaimana ceritanya nak Arya bisa pindah kemari?" Tanya pak Satya ingin mendapatkan keterangan dari Arya.
"Oh kalau itu ceritanya panjang sekali pak. Kalau diceritakan pun tidak cukup satu hari."
"Tapi agar bapak tidak penasaran, saya sebutkan salah satunya."
"Saya dikeluarkan dari sekolah, karena dituduh melarikan diri, dan tidak bertanggung jawab. Padahal sebenarnya saya hilang waktu itu." Ucap Arya berterus terang.
"Hilang?. Maksud nak Arya? "Respon Satya penasaran.
"Apakah bapak masih ingat berita yang menghebohkan waktu itu?. di mana ada seorang anak yang dinyatakan hilang karena masuk ke dalam sumur?"
"Anak tersebut adalah saya pak. dan Alhamdulillah sampai saat ini saya masih hidup." Jelas Arya lagi.
"Oh jadi berita viral yang waktu itu adalah kamu?" Reaksi Satya kembali penasaran.
"Ya itu adalah saya pak Satya. Anak malang yang hidup sebatang kara tanpa ayah ibu."
"Beruntung waktu itu saya bisa selamat, dan bisa hidup sampai sekarang ini."
"Lalu bagaimana ceritanya kamu bisa selamat?. Apakah ada suatu keajaiban?"
"Keajaiban itu memang ada pak. Orang-orang itu saja yang tidak bisa melihat saya. Padahal saya waktu itu ada di situ." Jawab Arya mencoba mengalihkan pembicaraan, agar tidak ditanya macam macam lagi.
"Ngomong-ngomong setelah ini bapak mau ke mana?. Kalau tidak ada halangan dan kiranya sudi, mari mampir ke gubuk saya. untuk sekedar minum teh."
"Tapi maaf kondisinya sangat memprihatinkan." Ujarnya lagi menawarkan kebaikan.
"Oh kalau begitu kebetulan sekali. Kami juga ingin lebih mengenalmu." Respon pak Satya merasa senang. Kemudian mengajak Arya untuk pergi ke rumahnya.
Tapi karena dia perginya tadi dengan pak Supomo, dan kebetulan dia ikut berboncengan dengannya. jadi mau tidak mau Arya harus menunggu pak Supomo dulu untuk diantar pulang.
***
Setengah jam kemudian. pak Satya dan keluarganya sudah berada di dalam mobil, dan sedang mengendarainya.
Saat dalam berkendara itu terdengar istrinya berkata." Apakah bapak yakin ingin pergi ke rumah anak itu? Bukankah katanya ada urusan penting di tempat lain. tapi kenapa malah menyetujui undangan dari anak tersebut?" Ujarnya merasa heran.
"Entah kenapa bapak berasa dekat dengan anak itu bu?, seperti mengingatkan ku pada seseorang. dan itu membuat bapak ingin menyelidikinya."
"Oleh karena itu bapak menyetujui untuk datang ke rumahnya, hanya sekedar untuk beramah tamah saja."
"Siapa tahu bisa mendapatkan informasi tentangnya?" Jawab Satya apa adanya.
"Berasa dekat?. Tapi kenapa?. Mengingatkan pada siapa?. Bapak ini mulai aneh-aneh ya!" Respon istrinya merasa penasaran juga.
"Kalau untuk masalah itu perlu diselidiki lagi. maka ayo cepat ikuti dia!. Nampaknya dia sudah memasuki perkampungan?" Jawab Satya merasa terganggu.
Kemudian terus mengikuti Arya dari belakang, dan akhirnya sampai juga di rumah Arya.
"Berarti benar dugaanku! dia anak sahabatku yang sudah lama hilang, dan sudah lama tidak bertemu!"
"Kalau tidak salah, aku pernah tinggal di rumah ini, bersama dengan sahabatku itu, saat ingin memulai karir."
"Tapi itu sudah berlangsung cukup lama, dan kondisi rumah ini tidak seburuk sekarang."
"Oleh karena itu lebih baik kita cepat keluar, dan menanyakan masalah itu pada Arya jika sudah punya kesempatan?" Reaksi Satya penasaran, saat memasuki perkampungan tersebut, apalagi setelah sampai di depan rumah sewa Arya tersebut.
"Mari pak bu dan non Rani . Mari silakan masuk!. Tapi maaf kondisinya berantakan." Ucap Arya sekedar menunjukkan keramahtamahannya pada tamu tamunya itu.
"Ah terima kasih nak Arya. Jangan sungkan sungkan!" Reaksi Satya mencoba bersikap ramah juga.
Kemudian masuk ke dalam rumah itu mengikuti langkah Arya.
Sementara itu di tempat lain, atau tepatnya di warung milik Bu Rosma.
Saat itu pak Supomo tidak mau langsung diantar pulang. Dia ingin mengantarkan tamu-tamu Arya sampai ke rumah. Tapi saat diajak masuk, dia menolaknya. Dia lebih memilih untuk singgah di warung bu Rosma, dengan alasan ingin membeli sesuatu.
Saat dia sedang berbelanja itu, seperti biasanya Rosma pun memberondong Supomo dengan banyak pertanyaan. "Siapa orang-orang itu pak Pomo?. Sepertinya mereka orang kota?. Tapi bagaimana mereka bisa mengenal Arya?"
"Bisakah pak pomo menceritakannya kepada saya, agar saya tidak berdiri dan mati penasaran?" Ucapnya serba ingin tau.
"Saya pun tidak tahu persisnya bu Ros!. Kami bertemu dengan orang itu di SMA Tunas Bangsa. Yang kebetulan katanya sekolah tersebut milik mereka."
"Tapi bagaimana si Arya itu kenal dengan mereka, itu saya tidak tahu. Nanti kau tanyakan saja padanya agar tidak mati penasaran." Jawab Supomo apa adanya.
Kemudian pergi dari tempat itu setelah membeli banyak barang, yang sebenarnya tidak ingin dia beli.
"Wah ini berita bagus nih!. Jika aku ceritakan kepada ibu-ibu itu, tentu akan menjadi trending topik di kampung ini?" Ujarnya merasa senang. Kemudian memandang ke arah rumah Arya, walau jaraknya cukup jauh. Namun mobil yang berhenti di depan rumahnya terlihat sangat jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Maman
Semangat thor ...mulai penasaran ni dengan sosok si arya kamandanu🤭🤭💪💪
2023-05-02
1
Jimmy Avolution
Gaskeun....
2023-01-19
3
Wati_esha
Mungkin nanti dari Setya Permana asal muasal Arya Kamandanu terkuak.
2023-01-19
1