Tempat yang ia tuju adalah Kabupaten sebelah, agar untuk sementara tidak diganggu oleh Teddy dan orang orangnya.
Dia pergi tidak membawa apa apa,karena baju sumbangan warga juga dinas sosial sudah habis terbakar semua.Begitu juga dengan tas ransel yang biasa dia gunakan untuk pergi sekolah juga sudah tidak ada.
Yang ada hanya selembar baju serta celana yang sedang ia pakai itu. Itupun sudah agak kotor dan belum sempat ia cuci.
Sementara beberapa bongkahan batu kecil berharga yang ia dapatkan waktu dalam sumur itu masih ada. Ia nya tersimpan di dalam cincin usang yang selalu dipakainya itu, dan akan ia jual untuk memulai hidup baru di tempat lain.
"Kamu mau kemana nak Arya? Kenapa tidak menetap di kampung ini saja?Karena beberapa warga sudah sepakat untuk membuatkan gubuk baru untuk mu buat sementara." Tanya kepala desa yang di dampingi oleh ketua RT setempat menyayangkan keputusan Arya.
"Saya ingin memulai hidup baru di tempat lain pak lurah!"
"Di kampung ini banyak kesedihan yang saya terima. Jadi untuk sementara biarlah saya pergi, agar orang-orang yang tidak menyukai ku merasa puas" Jawab Arya apa adanya.
"Janganlah begitu nak Arya?Tidak ada orang yang membencimu termasuk kami"
"Bahkan saat ini kami sedang berembuk untuk membicarakan nasibmu ke depannya. Tapi ternyata hari ini kau datang, dan berniat pamit dari kami untuk pergi ke tempat lain"
"Kalau bisa? Kami sarankan agar nak Arya tetap berada di kampung ini, dan menunggu bantuan yang lain datang, agar kami bisa menyampaikannya pada nak Arya." Respon pak kepala desa atau Lurah dipanggil di tempat itu mencoba membujuk Arya agar jangan pergi.
Tapi Arya tetap kekeh tidak mau menuruti saran mereka. Dia lebih memilih untuk meninggalkan kampung itu untuk memulai hidup baru di tempat lain, ketimbang harus tetap berada di kampung tersebut.
Pertimbangannya adalah, di kampung itu dia selalu di benci juga dimusuhi. Walaupun kepala desa mengatakan tidak.Tapi kenyataannya memang demikian.
Apalagi di kampung itu ada seorang preman terminal, yang selalu malang melintang di kampung tersebut, dan selalu ingin mencelakai Arya.
Walaupun ia mampu mengatasi, namun untuk saat ini dia belum mau membuat perhitungan dengannya, karena pertimbangan pamannya adalah orang yang sangat baik pada Arya.
Oleh karena itu dia bersikukuh untuk pergi. untuk menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan. Kebetulan sebelum ia pergi, dia akan mengambil berkas surat pemecatannya sebagai siswa, sekaligus surat pindah yang langsung ditandatangani oleh kepala sekolah bersangkutan.
Maka setelah benda-benda tersebut diserahkan kepada Arya, dia pun pamit, dan menyalami semua orang yang ada di rumah pak Danu, dan langsung pergi tanpa menoleh lagi.
"Karena Arya sudah pergi. maka pembicaraan kita semuanya batal.Tapi untuk menunjukkan rasa solidaritas kita yang tinggi, tetaplah kita membantunya. walau sekedar membersihkan tanahnya dari puing-puing bekas kebakaran, serta membersihkan areal sekitarnya. agar saat dia pulang nanti tempat itu masih tetap bersih." Ucap kepala desa memberi arahan kepada warganya.
"Ya kami setuju!Jadi besok bisalah kiranya kita bergotong-royong untuk membersihkan tanah Arya, dan memasang batas batasnya, agar tidak ada orang yang berani mengambil tanah tersebut!" Sambung ketua RT kampung itu, mendukung pernyataan dari kepala desanya.
"Ya kita semua setuju!. Besok kita putuskan untuk bergotong-royong, membersihkan tanah Arya!" Ucap yang lainnya pula.
Akhirnya pembicaraan selesai, dan mereka melanjutkannya dengan acara makan makan.
Sementara itu di tempat lain, Arya yang memutuskan untuk pindah, saat ini terlihat sedang menyusuri jalanan tidak beraspal, untuk menuju kota terdekat.Padahal jaraknya cukup jauh, namun tetap dilakukannya juga demi tekadnya yang sudah tidak bisa dirubah lagi.
Namun saat berada di tempat yang sepi, di perbatasan antara kampung satu dengan kampung lainnya.Tiba-tiba muncul satu unit motor yang melaju kencang, dan pengendaranya berniat ingin menabrak Arya.
Tapi insting Arya yang sekarang sudah tajam, langsung menghindar, dan membiarkan pengendara motor itu melewatinya
"Kurang ajar!Kenapa kau tidak membiarkan motorku menabrak mu Arya, agar nyawamu mudah aku antar ke neraka?" Teriak seseorang dengan ekspresi marah.
"Hanya orang bodoh yang membiarkan tubuhnya ditabrak oleh kendaraan! dan mungkin itu kau?" Jawab Arya sangat menyakitkan.
"Badjingan!Kau pikir kau siapa hah?Beraninya kau menyumpahi ku agar cepat mati?" Respon Tanu dengan ekspresi marah.
"Siapa yang menyumpahi siapa?. Bukankah itu kau? Bukankah kau sendiri yang mencari gara-gara denganku? Bahkan kau sengaja ingin membunuh ku?Apakah itu kau anggap sopan?" Jawab Arya cukup berani.
"Sopan atau tidak, tergantung pada orangnya! Karena kau hanya sampah, serta pecundang di kampung ini, maka jika kau mati pun orang tidak akan menangisinya!"
"Jadi hari ini aku berniat ingin membunuhmu,hitung-hitung sebagai sedekah.Oleh karena itu jangan coba coba untuk melawan, agar aku tidak susah-susah lagi untuk menghabisimu." Balas Tanu lagi dan bicara sembarangan saja.
"Oh ya satu lagi!" Ucap Tanu memotong saat Arya ingin bicara.
"Warga tidak akan peduli jika kau mati atau tidak, karena mereka juga tidak menyukaimu, dan mengharapkan agar kau secepatnya mati!"
"Selain itu, mereka juga menyerahkan nasibmu padaku, karena aku orang terkuat di kampung ini. Jadi siapa yang berani melawanku?" Ujarnya lagi.
"Kuat?. Tidak berani melawan mu?Apa aku tak salah dengar? Apakah kau sudah merasa hebat, dan bisa mengalahkan semua orang?"
"Bagaimana kalau aku tempeleng wajah mu yang jelek itu?, agar kau tahu bahwa Arya sekarang bukanlah Arya yang dulu!"
"Bagi ku seratus Tanu sepertimu bisa aku kalahkan. Apalagi cuma seorang berwajah jelek sepertimu.Kalau kau kurang percaya, kesini lah!Biar aku tunjukkan bagaimana kekuatan ku yang sebenarnya!" Jawab Arya sungguh mengejutkan.
"Apa kau bilang? Kau mengatai wajahku jelek? bahkan berani menantangku, dan berniat menempeleng ku?Apakah kau aku tidak salah dengar, dan apakah itu pantas?" Respon Tanu tidak senang.
"Pantas atau tidaknya Akan kita buktikan! Karena di mataku kau tidak ada apa apanya!" Jawab Arya semakin mengejutkan.
"Kurang ajar!Akan ku bunuh kau!" Teriak Tanu marah.Kemudian turun dari motornya dan membiarkan motornya ambruk di jalan.
"Hiaaaa!"
Plak!
Des!
Bugh!
Plak!
"Argh! Sialan!Bagaimana kau bisa mengenai ku? Padahal sebelumnya kau bukan siapa siapa?" Reaksi Tanu penasaran.
"Kau heran kan Tanu? itu belum seberapa!Masih banyak lagi kekuatan yang belum kau lihat.Kalau kau penasaran, majulah!Jangan bengong saja disitu!" Ucap Arya mengejutkan lagi.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa?"
"Apakah kau bukan Arya? karena aku lihat tubuhmu sedikit berubah, wajahmu juga. Apakah kau menggunakan sihir?" Ujarnya merasa keheranan.
"Sihir kepalamu!Ini hanya kekuatan tangan, dan teknik yang tidak mungkin bisa kau pelajari!"
"Kalau sihir sudah lama kau berubah jadi anjing!" Jawab Arya membuat kepala Tanu semakin pening.
"Hah masa bodoh!Aku tidak peduli kau itu siapa?yang penting hari ini kau mati!" Respon Tanu tidak mau mengakui kebenarannya. Kemudian menyerang Arya secara membabi buta.
Dia sudah lupa akan jati dirinya sebagai seorang petarung, karena baru pertama kali ini wajahnya ditampar cukup kuat oleh seseorang, dan itu adalah Arya, orang yang selama ini direndahkannya.
Tapi serangan yang membabi buta tersebut, ditanggapi Arya dengan tenang. Malah beberapa kali tamparan, pukulan serta tendangan dari anggota tubuh Arya, sukses masuk, dan telak mengenai tubuh Tanu, hingga membuatnya beberapa kali terkapar di tanah.
Namun tanpa mereka sadari. seseorang yang kebetulan lewat, melihat kejadian itu, dan segera berlari ke arah kampung, serta melaporkan kejadian pemukulan itu pada ketua RT nya.
Mendengar laporan itu, Danu tentu saja marah,karena orang yang sedang dipukuli itu adalah keponakannya.
Orang-orang sudah pada tahu, bahwa Danu sangat menyayangi keponakannya. Jadi saat mendengar Tanu sedang dihajar oleh Arya, sukses membuatnya mulai membenci Arya. Lalu bergegas pergi dari rumahnya, untuk memarahi Arya.
Namun saat dia dan yang lainnya sampai, Arya sudah tidak ada di tempatnya lagi. yang ada hanya tubuh Tanu yang tergeletak di tanah, karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menerima pukulan serta tendangan dari Arya.
Begitu Danu sampai, langsung memaki Arya tanpa berpikir lagi apa penyebabnya. yang penting hatinya senang."Dasar anak tidak tau diri!. Dikasihani malah ngelunjak!"
"Kalau aku tahu sifatnya jahat seperti itu, Aku tidak akan mau membantunya!" Ujar Danu terlepas kata.
"Sabar pak Danu! Kita belum tahu apa motifnya?Lagipula kita tidak bisa mendengar hanya dari sebelah pihak"
"Mungkin salah satu dari mereka yang memulainya, Tapi apakah Arya atau Tanu belum kita ketahui." Ucap kepala desa mencoba menenangkan suasana.
"Sabar bagaimana pak Karta?Sudah jelas-jelas ponakan saya ini terkapar di tanah, berarti dia disiksa dengan sadisnya oleh Arya"
Kalau kurang percaya silakan tanya pada saksi ini.Dia melihat dengan jelas bagaimana Arya memukuli ponakan ku!" Respon Danu tidak mau menerima saran dari kepala desanya.
"Benarkah begitu Kuni?Apakah kau melihat kejadiannya dari awal?" Tanya Karta Sasmita ingin tau.
"Saya tidak melihat dari awal pak Karta.Saya hanya melihat saat Arya memukuli Tanu, seperti orang yang sedang membalas dendam"
"Saat saya berlari ke kampung pun Arya masih tetap memukuli Tanu.Bahkan saat saya berlari itu, saya sempat menoleh ke belakang, dan melihat Arya membanting tubuh Tanu ke tanah. Mungkin inilah yang menyebabkan Tanu pingsan?" Jawab Kuni atau Sangkuni berterus terang.
"Itu belum bisa dijadikan bukti, kalau Arya yang memulai duluan"
"Berarti untuk sementara, masalah ini kita diamkan dulu, sambil mencari informasi setelah Tanu siuman." Respon Karta cukup bijaksana.
"Aku tetap merasa tidak senang, sebelum bisa menghajar Arya, karena berani-beraninya dia memukuli keponakan kesayanganku!" Jawab Danu berterus terang.
"Sebaiknya jangan pak Danu,karena kita belum tahu masalah yang sebenarnya"
"Selama ini aku tahu bahwa Arya itu tidak pernah membuat masalah di kampung ini. Bahkan dia selalu membantu kalian dalam segala macam pekerjaan"
"Tapi aku heran, kenapa kalian sangat membencinya? padahal dia selalu membantu kalian?Tapi bantuannya itu malah tidak kalian anggap!Aku rasa ini aneh?" Ucap kepala desa menyindir orang orang kampung tersebut agar sadar.
"Ah masa bodoh! Yang jelas ponakan ku sekarang telah terluka,berarti Arya penyebabnya,Titik!" Respon Danu tidak senang.
Kemudian meminta bantuan pada penduduk kampung, agar mengangkat tubuh Tanu, serta membawanya ke rumah.
"Dasar orang-orang licik!Kalian hanya menuduh tanpa dasar. Kalian hanya melihat tubuh Tanu yang terkapar itu, tapi tidak tahu apa penyebabnya?"
"Andai kalian tahu siapa Tanu itu?, maka kalian akan menyesal telah menuduh ku sebagai penjahat?" Ucap seseorang dari balik semak-semak, dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.
"Sepertinya, aku tidak bisa kembali lagi ke kampung ini? Mereka sudah terlanjur membenciku, bahkan menuduhku sebagai penjahat"
"Oleh karena itu aku harus cepat cepat pergi dari sini, dan menghilang untuk beberapa lama." Ucap orang tersebut lirih. Kemudian melanjutkan perjalanannya dengan hati yang terluka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
Ayo...
2023-01-19
3
Wati_esha
Anehnya, Danu tak mampu mengayomi warganya. Tak mungkin ia tak tahu Arya seting membantu tetangganya tetapi mereka bersikap seakan tak pernah menerima bantuan Arya.
2023-01-14
1
Wati_esha
Danu.. Danu, keponakan rusak disayang-sayang. 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2023-01-14
1