Fathan pulang dengan sangat tergesa-gesa. Pria yang mengaku tak suka pada Azkira itu, kali ini tampak sangat cemas mendengar Azkira tidak sadarkan diri. Hatinya dilanda kekhawatiran yang teramat besar.
Detik berikutnya, saat dia sudah sampai di rumahnya, Fathan segera berlari menuju kamar. Dia langsung tertegun. Lantas, Pemilik dada bidang itu duduk persis di samping Azkira yang masih belum siuman.
"Azkira ...," lirihnya sembari meraih tangan Azkira.
"Den Fathan, apa tidak sebaiknya Non Azki dibawa ke dokter saja?" tutur Bi Inah memberi saran.
"Iya, Bi." Hanya itu yang keluar dari mulut Fathan.
Namun, tiba-tiba saja tangan Azkira bergerak menahan Fathan saat Fathan hendak menggendong tubuh tidak berdayanya ke dalam mobil. "Aku ingin ke rumah Nenek," ucap Azkira dengan nada sangat pelan.
"Azki, kamu sudah sadar?"
"Aku ingin pergi ke rumah Nenek," ungkap Azkira, dia mengulangi kata-katanya tanpa menjawab pertanyaan Fathan.
Fathan tampak berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan mengantarmu," kata Fathan menuruti kemauan Azkira.
"Kamu yakin tidak ingin periksa ke dokter dulu?" lanjut Fathan. Azkira hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian, keduanya bergegas ke mobil. Tentu saja, Azkira yang kala itu langkahnya masih tertatih, mendapatkan perhatian lagi dari Fathan. Dan Pria pemilik senyum mematikan itu memutuskan untuk menggendong Azkira.
"Bahkan ketika kamu memberikan perhatian seperti ini padaku, aku masih merasakan ketakutan. Ketakutan akan ucapan dan perilakumu yang selalu saja membuatku merasa terhina. Lalu, bagaimana aku bisa bertahan hidup lebih lama denganmu?" Azkira bergumam di dalam hatinya.
"Kenakan sabuk penamanmu!" titah Fathan. Akan tetapi, dia sudah memakaiannya sebelum Azkira sempat memakainya sendiri.
Detik kemudian, Fathan pun segera bertolak membawa Azkira ke rumah neneknya, Sinta. "Ahh, kenapa keadaan tidak pernah memberiku kesempatan untuk melakukan sesuatu yang aku mau? Aku ingin minta maaf padanya atas tuduhanku selama ini. Atau mungkin tidak perlu. Baiklah, untuk sementara waktu biarkan saja semuanya seperti ini dulu," batin Fathan di sela kesibukannya mengemudi.
Keadaan di dalam mobil itu menjadi sangat hening. Hanya terdengar deru napas yang saling bersahutan beriring suara mesin mobil Fathan yang sangat halus. Azkira bungkam seribu bahasa, sehingga Fathan yang sedang merasa bersalah itu tak punya peluang untuk membuka percakpan dengannya.
"Aku tidak suka didiamkan seperti ini!" gerutu Fathan di dalam hati.
"Sejauh ini aku masih bisa memaksakan diri berbetah-betahan pada sikapnya yang terus berubah-ubah. Terkadang dia membara seperti api, terkadang dia sejuk bagai mata air. Sayangnya, aku tidak bisa menerima kedua sikap berlawanan itu dalam satu pribadi. Entahlah, semesta hatiku terlalu terkekang oleh perilakunya yang sulit untuk kupahami." Azkira menatap kosong sembari terus bicara pada hatinya sendiri.
Dalam keadaan Azkira yang masih termenung, Fathan melepaskan sabuk pengaman Azkira. Hingga napas Azkira terdengar memekik karena terkejut. Wajah mereka sangat dekat, bahkan nyaris menempel kala itu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Wajahmu terlihat tegang." Fathan bicara seperti berbisik di telinga Azkira.
Azkira hanya diam dengan mulut menganga. Lalu secara tak terduga, Fathan melumaat bibir indah Azkira yang dalam keadaan sedikit pucat itu dengan lembut. Ada gerak penolakan dari Azkira kala itu, tapi Fathan tidak perduli. Dia terus memagut bibir semanis madu tersebut dengan rakus.
Beberapa saat kemudian, Fathan melepaskan ciumannya dan terlihat Azkira yang terengah-engah.
"Lain kali bernapaslah saat berciuman denganku, Azkira sayang!" ucap Fathan sembari tersenyum nakal.
"Dasar Pria tidak punya perasaan!" hardik Azkira pelan.
"Aku mendengarnya, Azki," cetus Fathan seraya menambah ulasan senyum di bibirnya.
"Terserah padamu. Kenapa kamu berhenti di sini?" ketus Azkira sembari memalingkan wajahnya.
Fathan tertawa tipis. "Apa ciumanku telah menawan kesadaranmu dan membuatmu lupa pada tempat ini? Kita sudah sampai di tempat Nenek Sinta, Istriku." Lagi-lagi Fathan membuat rona pipi Azkira memerah.
'Sekali lagi dia menunjukkan sikap yang tidak pernah aku sangka. Apa sebenarnya arti dari semua perlakuannya ini? Jika benar dia membenciku, lalu kenapa dia masih mau menyentuhku? Lantas, hal apa juga yang membuat dia membantalkan sumpahnya untuk tidak menyentuhku? Sungguh, aku tidak lagi bisa menggunakan akal sehatku untuk memikirkan semua itu.' Azkira merasa dirinya berada dalam jebakan permainan Fathan, yang begitu sukar untuk dia pahami.
"Jadi, apakah kita masih akan tetap di mobil, Azki? Atau kamu ingin melanjutkan yang tadi?" ujar Fathan membuyarkan lamunan Azkira.
"Tentu saja ...."
Belum selesai Azkira bicara, Fathan sudah menyerangnya lagi dengan bertubi-tubi ciuman di seluruh permukaan wajah hingga menjalar ke leher jenjangnya. Mulut Azkira ingin memaki, tapi yang keluar justru suara runtih yang menagih untuk dicumbui. Terkadang situasi memang sebercanda itu. Akal sehat ingin menolak, namun hasrat menerima dengan suka cita.
Sekilas wajah yang tidak asing tanpa sengaja melihat adegan dewasa di dalam mobil itu. Ya, dia adalah Revan. Pria yang kala itu hendak mengantarkan buah-buahan yang dibelinya pada Sinta, tanpa sengaja menyaksikan semua kesenangan yang sangat menyakiti hatinya. Sungguh, kemesraan Azkira dengan Fathan di dalam mobil tersebut, membuat Revan bagai dicabik-cabik dan diremmas-remmas perasaannya dengan sengaja. Walau pada kenyataannya, apa yang dia saksikan itu tidak sepenuhnya benar seperti yang dia pikirkan.
"Revan, kenapa terus berdiri di situ, Nak. Masuklah kemari." Sinta muncul di ambang pintu dan membuat Revan menyudahi pikirannya yang sedang menerawang jauh bersama kesakitan-kesakitan.
"Eemm, Revan hanya ingin mengantarkan buah untuk Nenek," seloroh Revan sembari menyodorkan kantung berisi beberapa jenis buah-buahan pada Sinta.
Ya! Revan sudah biasa memberikan perhatian semacam itu pada Sinta. Bahkan, Sinta sendiri sudah menganggap Revan seperti cucunya sendiri. Walau pada kenyataan yang lain, selama ini Revan memiliki rasa terpendam pada Azkira, yang tidak lain adalah cucu dari Sinta. Benar, rasanya kalian sudah tahu mengenai hal itu.
Sementara, di dalam mobil sana sepasang suami istri yang sedang asik dengan syahdunya ciuman basah pun telah mengakhiri pergulatannya. Fathan mendadak berwajah muram saat melihat ada Revan di sana.
"Kamu ke sini untuk menemui dia?" Fathan mengarahkan pandangannya pada Revan.
"Siapa?" tanya Azkira sembari mengerutkan keningnya.
"Pria itu. Memangnya siapa lagi?" tandas Fathan sedikit sinis.
Azkira mengedarkan pandangannya ke luar mobil dan ya, dia menemukan Revan sedang berdiri di sana. "Oh, Bang Revan. Sudah kukatakan padamu, bukan? Dia sudah seperti kakakku sendiri," kelakar Azkira.
"Kamu juga memanggilnya 'Abang'. Itu artinya, sebutan 'Abang' tidaklah spesial untukku saja sebagai suamimu?"
"Apa pentingnya hal itu dibahas? Lagi pula, sejak kapan kamu ingin dispesialkan sebagai suamiku? Bukankah aku hanya seorang istri yang tidak pernah diharapkan? Bahkan, kamu sering mengataiku wanita murahan dan liar." Azkira tersenyum tidak simetris.
Fathan tertunduk dalam, saat mendengar penuturan Azkira yang tampaknya mengandung sarkas dan sindiran tajam. Fathan menyadari dirinya memang bersalah. Tapi, bukan Fathan namanya kalau dia mau menerima kekalahan begitu saja. Dia pun turun dan masuk ke rumah Sinta, dengan menggandeng erat tangan Azkira. Seakan sengaja ingin menunjukkan kemesraannya pada Revan, yang kala itu masih ada di sana.
"Nenek, kami rindu ingin berkunjung," urai Fathan tanpa basa-basi, ketika keduanya sudah berada di dalam.
"Nenek menyambut kalian dengan senang hati," jawab Sinta diiringi senyuman hangatnya yang khas.
"Nek, kalau begitu Revan permisi dulu." Revan pamit undur diri.
"Loh, kenapa buru-buru sekali, Nak Revan?" kata Sinta sembari sibuk menata buah yang diberikan Revan padanya.
Revan hanya menyimpulkan seyum. Dia tampak acuh pada Azkira apa lagi pada Fathan. Dia juga tidak menyapa ataupun tersenyum pada Azkira yang disayanginya seperti biasa.
"Bang Revan ...," seru Azkira lirih. Dia bangkit dari duduknya.
Revan menoleh pada Azkira. Namun, ada yang membuat luka Revan semakin menganga yaitu saat matanya tertuju tepat pada tangan Azkira yang digenggam dengan posesif oleh Fathan. Revan mengerti bahwa kala itu Fathan ingin menegaskan kalau Azkira kini telah milik Fathan. Akhirnya, Revan pergi tanpa menghiraukan seruan Azkira.
"Aku tahu, Azki. Mengharapkan cinta dari seseorang yang telah menjadi milik orang lain adalah luka yang paling disengaja." Revan berlalu dengan sejuta lebam di dalam dadanya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Vita Zhao
Gengsi terus lu fathan
2022-11-14
1