"Nenek, ada apa dengan Azki?" tanya seorang Pria yang baru saja datang ke rumah Sinta.
Pria itu tampak menganalisa keadaan dan memindai wajah Fathan yang kala itu duduk di samping Azkira yang sedang pingsan. "Kamu apakan Azkira?" ujar Pria itu sembari mengancamkan sebuah pukulan pada Fathan.
"Revan, jangan main hakim sendiri, Nak!" cegah Sinta pada pria yang ternyata bernama Revan tersebut.
Siapakah Revan? Dia adalah anak tetangga Sinta, neneknya Azkira. Revan sangat menyayangi Azkira seperti adiknya sendiri. Dia tidak akan pernah diam saat tahu Azkira ada yang mengganggunya.
"Tapi, Nek-"
"Sudahlah, Nak. Kita 'kan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Sinta menjeda kalimat Revan.
"Kalau sampai terbukti kamu yang sudah membuat Azki begini, lihat saja! Tidak akan kubiarkan hidupmu tenang!" ancam Revan pada Fathan. Dia tampak benar-benar marah dan tidak terima.
"Sebaiknya jangan terlalu yakin," olok Fathan sambil menyeringai.
Sinta membalurkan minyak angin pada leher dan pelipis Azkira. Dia juga mendekatkan aroma minyak angin yang menyeruak itu ke dekat permukaan hidung Azkira, agar bisa terhirup dan berharap Azkira akan cepat sadar. Wanita tua itu tampak sangat telaten mengurusi Cucu semata wayangnya itu.
"Sini, Nek, berikan padaku." Revan mengambil minyak angin itu dan membalurkannya pada telapak kaki Azkira sambil memijat-mijatnya dengan pelan.
Tidak berapa lama kemudian, Azkira pun siuman. Sinta dan Revan langsung tersenyum dan mendekati Azkira. Berbeda dengan Fathan yang mecebikkan bibirnya dan bersikap acuh saja. Seakan tidak pernah merasa bahwa dialah yang menyebabkan Azkira tidak tidur semalaman sampai pingsan begitu.
"Nenek, Bang Revan," seru Azkira dengan suara lirih.
"Azki, kamu kenapa? Siapa yang membuatmu begini?" tanyai Revan dengan nada cemas dan gusar.
Azkira memejam seraya meneguk salivanya. Lalu, dia membuka mata dan mengarahkan pandangannya pada Fathan, hingga Pria itu tampak terhenyak. Mungkin Fathan merasa takut atau entahlah.
Melihat tatapan mata Azkira tertuju pada Fathan, Revan dan Sinta pun turut melihat padanya. Tak ayal, hal itu membuat wajah Fathan semakin tegang. Revan dan Sinta saling menatap dan mengernyitkan dahi, seakan mencari jawaban.
"Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Pak Fathan," lontar Azkira tanpa diduga.
Ketegangan Fathan pun memudar setelah mendengar kata yang keluar dari mulut Azkira, yang ternyata sebuah ucapan terima kasih. Padahal, tadinya Fathan mengira bahwa Azkira akan membeberkan kebenarannya, tapi ternyata tidak. Sekali lagi, Fathan lolos dari masalah yang mengancam di hadapannya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Fathan sembari mengangguk pada Sinta, dan Azkira. Namun, dia memberikan senyum tidak simetris pada Revan sebagai ejekan.
"Terima kasih ya, Nak Fathan. Kamu sudah menyelamatkan Azkira dan mengantarkannya pulang," tutur Sinta sembari mengantarkan Fathan ke depan pintu.
"Haruskah aku meng-iya-kan semua ini?" batin Fathan. Dia merasa penuh dusta kala itu.
"Tak apa, Nek. Semoga Azkira lekas membaik." Akhirnya, hanya kata itu yang terurai dari mulut Fathan untuk menjawab dugaan aksi heroik-nya terhadap Azkira, yang sebenarnya tidak pernah ada.
Pria itu pun lantas pergi melesakkan kemudinya, meninggalkan kediaman Azkira. Dalam benak yang dipenuhi kemelut, Fathan bertanya-tanya. "Mengapa dia tidak mengatakan yang sebanarnya? Apa dia kasihan padaku? Atau dia takut akan diberhentikan dari pekerjaannya kalau seumpama dia memberitahu kejadian yang sesungguhnya?" gerundal Fathan sambil terus fokus mengemudi.
****
Fathan tiba di rumahnya yang luas dan megah. Baru saja dia melangkah masuk, dia sudah disambut oleh pertanyaan yang memberondong dirinya. Sungguh, itu sangat memperkeruh suasana hati Fathan kala itu.
"Fathan, bagaimana hubunganmu dengan Ellena? Kapan kalian akan menikah? Ayah tidak mau menunggu lebih lama lagi. Kalau Ellena tidak bisa menerima pernikahannya denganmu dalam waktu dekat, lebih baik kamu cari gadis lain saja yang bisa dinikahi dengan segera!" tandas Antoni. Ya, dia ayah kandung Fathan.
"Ayah, bisakah untuk tidak membahas hal ini skarang? Aku merasa lelah," timpal Fathan dengan nada malas. Dia langsung bergegas menuju kamarnya.
"Fathan! Ayah memberimu waktu tiga hari lagi untuk memastikan pernikahanmu dengan Ellena. Kalau kamu tidak sanggup, maka kamu harus menikah dengan gadis pilihan Ayah!" teriak Antoni dengan amarah yang meringkuhi dirinya.
"Aaaarrrgghhh! Kenapa hidupku harus penuh tuntutan seperti ini?" geram Fathan sembari meremmat kepalan tangannya.
Fathan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil memejamkan mata, meresapi semua hal tidak mengenakkan yang dia rasakan. "Ibu, andai saja Ibu tidak pergi secepat itu. Pasti hidup Fathan tidak akan semenyebalkan ini, Bu. Ayah selalu saja memaksakan kehendaknya pada Fathan."
Mata Fathan mengembun meratapi nasibnya. Dia merindukan sosok Sang Ibu yang telah meninggal dunia tujuh tahun silam. Kerinduan itu semakin menyeruak saat dia menghadapi hal-hal surupa yang dialaminya saat ini.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Cis Siu
bagus
2024-06-05
1
Vita Zhao
Hempasan saja ayahmu fathan🤣🤣🤣
2022-11-02
1