'Tarikan napas ini terasa perih bagai sayatan sembilu yang mengiris hatiku secara perlahan. Andai bukan karena Nenek dan Paman Antoni meletakkan kebahagiaannya di atas pernikahanku dengan Fathan, sungguh aku tidak akan mau menerima semua ini.'
Azkira meratap mendengar kata-kata Fathan yang selalu saja mencemoh dan menegaskan ketidaksukaannya. Di atas ranjang pengantin yang seharusnya menjadi saat-saat memadu kasih pun, berubah menjadi malam yang penuh pengabaian. Lebih sakitnya lagi, Fathan tidur dengan memisahkan dirinya. Pria itu lebih memilih tidur di sofa ketimbang harus berbagi ranjang dengan Azkira. Seakan dia menyatakan ketidaksudiannya untuk tidur bersama, walau tidak melakukan apa-apa.
"Malam ini adalah malam pertama di pernikahanku. Salahkah jika aku membuat harapan? Semoga saja, suatu hari aku bisa merasakan hangatnya peluk yang menenangkan kegusaran dan rasa cemas di dalam pikiranku," batin Azkira, lantas dia pun memejamkan mata berharap bisa segera tertidur.
"Hidup macam apa ini? Aku dinikahkan dengan gadis menyebalkan seperti dia! Aaarrrrgghhh! Kenapa kemalangan selalu menghampiriku secara bertubi-tubi?" keluh Fathan di dalam hati.
"Semua ini tidak adil utukku. Bahkan, Wanita itu membuatku terusir dari kasur empukku," pikir Fathan yang gencar menyalahkan nasib dan keadaannya.
Tiba-tiba, keduanya bangkit dari rebahnya dan sama-sama berdiri. Mereka berjalan menuju ke kamar mandi secara berbarengan. Lantas, mata mereka bertemu tatap, tapi setelah itu Fathan membuang pandangannya ke arah lain. Sedangkan Azkira, dia hanya tertunduk dengan perasaan terhina.
"Silakan duluan, Pak Fathan," ucap Azkira mempersilakan.
"Huh! Aku tidak percaya ini. Seseorang mempersilakanku untuk mnggunakan kamar mandiku sendiri," cibir Fathan sambil tersenyum tidak simetris.
Untuk kesekian kalinya, Azkira memejamkan mata meresapi kesakitan yang disebabkan oleh cemoohan Fathan terhadapnya. "Huuuft! Ini salahku. Seharusnya aku tidak bicara," gumam Azkira saat Fathan sudah masuk ke bilik kamar mandi tersebut.
Beberapa menit kemudian, Fathan keluar dari sana dan berdiri tepat di hadapan Azkira yang sedang mengantri untuk masuk. "Jangan lupa untuk menyiramkan cairan disinfektan segera, setelah kamu memakai kamar mandiku!" tandasnya, kemudian berlalu.
Tidak terasa bulir bening membanjiri pipi Azkira. Rasa ngilu dan sesak begitu mengoyak dan merapuhkan jiwanya. "Kamu telah mengerdilkan keberanian dan rasa berhargaku berulang-ulang, Fathan," batin Andhira sambil melangkah ke kamar mandi.
Azkira pun kembali ke tempat tidurnya. Dia melihat Fathan sudah terlelap di atas sofa. "Cepat sekali dia teridur. Apa dia kelelahan?" batin Azkira
Wanita berkulit putih itu pun mengambil selimut, lalu dia memasangkannya ke tubuh Fathan. "Maaf, karena diriku kamu harus tidur di sofa, meski semua ini bukanlah kesalahanku," gumam Azkira.
Malam pun semakin larut. Rasa kantuk Azkira mulai tidak tertahankan. Dalam siksa pengabaian itu, akhirnya dia tertidur juga.
****
Pagi mulai menjelang. Mengakhiri malam panjang yang bergelimang penderitaan batin. Azkira sudah bangun dan mandi lebih awal. Lantas, selayaknya seorang istri dia pun bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga barunya.
Selekas kemudian, Fathan yang masih berada di dalam kamar pun terkejut saat melihat kasur yang sudah rapi dan tidak ada Azkira di sana. "Kemana dia?" gumam Fathan bertanya-tanya.
"Ahh, untuk apa aku memikirkannya? Bukankah lebih bagus kalau aku tidak melihatnya? Itu membuat hati dan pikiranku lebih tenang." Fathan pun beranjak untuk mencui muka.
Di meja makan. Azkira telah menata masakannya Walau sebenarnya ada asisten rumah tangga yang bekerja, tapi Azkira lebih memilih melakukannya sendiri. Saat itu Antoni datang menyapanya yang sedang sibuk menyiapkan keperluan sarapan untuk mereka.
"Pagi, Azki sayang. Apa kamu yang memasak dan menyiapkan semua ini?" tutur Antoni sambil menyunggingkan senyuman.
"Pagi, Ayah. Iya, hanya ini saja yang bisa Azki lakukan. Semoga Ayah, dan Bang Fathan suka," jawab Azkira sambil malu-malu.
"Tentu saja kami akan menyukainya, Sayang. Masakan anak perempuanku pasti juara," puji Antoni diiringi tawa hangat sebagai usahanya untuk menghargai Azkira.
Ada kehangatan yang Azkira rasakan dari sosok seorang ayah, yang sejak lama hilang dari hidupnya. Matanya berkaca-kaca terngiang suara almarhum ayahnya sewaktu dulu. Tapi, tangisnya itu ditelan kembali saat dia mendengar suara Fathan.
"Selamat pagi, Ayah," sapa Fathan pada Antoni. Dia tidak menyapa Azkira yang juga ada di hadapannya. Sikap Fathan itu sekali lagi seperti menjelaskan bahwa keberdaan Azkira tidaklah penting dan dia tidak berarti apa-apa untuknya.
"Pagi, Nak. Lihat! Istrimu sudah membuat sarapan yang lezat untuk kita," ucap Antoni dengan wajah gembira.
"Aku buru-buru, Yah. Hari ini ada meeting mendadak," ujar Fathan. Lalu, dia pun pergi tanpa menghiraukan Azkira.
Azkira tampak tertunduk. Dia tahu, sikap Fathan pagi itu hanyalah kesengajaan yang menunjukkan betapa tidak penting Azkira baginya. Kalian tahu, itu sangat menyakitkan dan membuat hati lebam.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
kesabaran tu penting tp harus punya prinsip klu keliwatan ya hrs di lawan gk usah takut
2022-12-31
1
Vita Zhao
Fathan bikin aku darting
2022-11-06
1