BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai

'Inikah jalan takdir yang harus aku lalui? Mengapa aku dihadapkan pada kobaran api kemarahan sejak awal pernikahanku dengannya? Apa semesta begitu membenciku hingga ia seolah sengaja membuatku terjebak dalam perangkap yang sulit aku hindari?'

Azkira meratap pilu menahan semua siksa yang Fathan berikan saat itu, di hari pertama dia tinggal satu atap dengan Fathan. Sambil terisak, Azkira mencoba bangkit dan membawa pandangannya pada Fathan, yang masih berdiri dengan nanar geram.

"Kau boleh menyiksaku sepuasmu, bila perlu. Tapi, jangan harap aku akan mengakui semua hal keji yang kau tuduhkan kepadaku! Bahkan, jika aku harus mati terhunus pedang sekali pun, aku akan tetap teguh pada pendirianku. Soal anggapan murahanmu tentang harta dan fasilitas, sebaiknya simpan saja kalimat itu untukmu sendiri!" tandas Azkira dengan tatapan tajam.

Entah berasal dari mana nyalinya itu. Akan tetapi, hal tersebut berhasil membungkam mulut Fathan. Pria itu meraup kasar wajahnya sendiri. Sedangkan, Azkira berlari keluar dan pergi meninggalkannya.

Azkira terus berlari terlunta-lunta di jalanan yang entah di mana. Dia sudah tidak perduli lagi tentang arah dan tujuannya. Yang dia ingin saat itu hanya pergi menghindar dari Fathan dan siksaannya.

Cukup jauh Azkira melangkah. Tidak berapa lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Seakan mengabulkan keinginan yang sempat menjadi pinta Azkira. Ya, keinginan untuk menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran hujan, tanpa diketahui orang lain.

"Aku pasrahkan segala urusanku pada-Mu wahai Pemilik kemarau dan hujan. Aku pasrahkan segalanya. Tidak akan aku sesali suratan takdirku ini, tapi tolong ... izinkan aku berlari dan melepaskan diri sejenak, dari pedihnya hina dan siksa yang terus menghantamku tanpa perasaan." Azkira menangis, berteriak, meraung-raung bersamaan dengan gencarnya suara hujan yang semakin lebat.

Di dalam kamarnya, Fathan terduduk sambil memijat-mijat keningnya. "Shittt! Bisa-bisanya dia mematahkan argumenku dan sekarang dia pergi entah kemana. Bagus! Sebentar lagi Ayah akan menanyakan keberadaannya dan memarahiku," cicit Fathan mengumpat.

Bukannya berusaha mengejar atau mencari Azkira, Fathan justu sibuk memikirkan dirinya sendiri. Dia khawatir kalau-kalau ayahnya akan memarahinya karena membuat Azkira lari dari rumah.

"Siaaaal! Di luar hujan lebat lagi. Kemana dia pergi? Ahh, masa bodoh. Aku 'kan tidak menyuruhnya untuk pergi," gerundal Fathan tanpa rasa bersalah.

Azkira terus berjalan di bawah hujan. Hingga dia melihat sebuah taman dan singgah di sana. Sambil duduk di sebuah bangku panjang, Azkira pun menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan semua amarah dan rasa kecewa yang tak saggup lagi ditahannya. Dia memeluk kesakitannya begitu lama. Sendirian di derasnya hujan kala itu.

"Azki ...," lirih Revan yang ternyata juga ada di taman itu, di bangku lain yang berbeda. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Azkira.

Dari jarak yang dekat tampaklah wajah Azki yang sudah memucat, bibir yang gemetar dan air mata yang tampak bersaing dengan jatuhan air hujan ke wajahnya. Revan ingin merangkul Azkira. Memeluk dan menenangkannya seperti biasa. Namun, niatnya dia urungkan. Revan sadar Azkira kini sudah menjadi istri orang.

"Azki ...," lirihnya mengulang sebuah seruan. Akan tetapi, suaranya tidak dapat didengar karena terhalang oleh derasnya hujan.

Azkira tersadar ada yang berdiri di sampingnya. Dia pun menoleh dan mendapati Revan sedang menangis dalam senyumnya. "Abang ...," lirih Azkira sambil kembali menumpahkan tangisnya.

Revan duduk tepat di sebelah Azkira. Dia ingin bertanya pada Wanita yang bagai adiknya sendiri itu, tapi bibirnya kelu dan lidahnya pun seakan membeku. Akhirnya, baik Revan maupun Azkira hanya saling menatap dalam diam dan tangis yang terus teruarai.

"Abang sedang apa di sini?" tanya Azkira dengan sisa isakan yang masih terdengar.

"Sedang menikmati hujan. Kamu kenapa hujan-hujanan juga? Apa rumah barumu tidak senyaman pelukan Abang untuk berteduh?" kata Revan sambil meledeki Azkira.

"Azki hanya sedang ingin bermain hujan saja," bohong Azkira sembari menunduk.

"Jangan bohongi aku, Azki. Aku sudah melihat tangisanmu sedari tadi. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Kenapa Azki? Apa suamimu menyakiti perasaanmu?" gusar Revan di dalam hati.

"Ingin bercerita?" lontar Revan.

Azkira hanya menggelengkan kepala. Walau di dalam hatinya sungguh dia ingin mengadu pada Revan. "Tidak, Azki. Bang Revan tidak boleh tahu tentang penderitaanmu ini," batin Azkira bicara pada dirinya sendiri.

"Abang antar kamu pulang, ya. Terlalu lama hujan-hujanan juga tidak baik," tutur Revan.

"Azki masih ingin di sini, Bang. Nanti saja pulangnya. Kalau Bang Revan mau pulang, tidak apa-apa duluan saja."

"Azki, apa sekarang kamu sudah tidak mau mendengarkan nasehat Abang lagi?" ucap Revan seolah memaksa Azkira agar mau pulang.

"Bukan begitu, Bang. Hanya saja, Azki-"

"Sudah, ayo kita pulang." Revan langsung menggandeng tangan Azkira dan mengantarkannya menggunakan sepeda motor.

"Kenapa takdir begitu tega memisahkan kita sebelum aku sempat mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padamu, Azki?" bisik Revan dalam hati.

Di bawah hujan, Revan mengantarkan Azkira pulang. Dan alangkah kagetnya dia, saat tahu bahwa jarak antara taman dan tempat tinggal Azkira lumayan jauh. Maklum saja, Revan memang belum tahu rumah Fathan dan ini pertama kalinya dia ke sana. Itu pun secara kebetulan karena dia dan Azkira berada di taman yang sama dan dalam waktu yang bersamaan pula.

"Terima kasih, ya, Bang. Azki masuk dulu," ucap Azkira, ketika dia sudah turun dari sepeda motor. Revan hanya mengulas senyum dan mengangguk. Lantas, mereka pun berpisah.

Azkira masuk dan dikagetkan oleh Fathan yang ternyata sudah berdiri di depan pintu. Tatapan mata Pria itu memindai tubuh Azkira yang basah kuyup terguyur hujan. Azkira melihat wajah Fathan sekilas dan setelah itu dia pergi ke kamar.

Azkira sudah berada di kamar dan dengan segera dia membersihkan dirinya. Beberapa menit berselang, Azkira pun selesai dan kini dia mengambil baju ganti. Belum sempat memakainya, tiba-tiba ada Fathan yang menyusul dirinya ke kamar.

"Kenapa kamu lari dari rumah? Apa kamu pikir aku akan mengejarmu? Ciiih! Jangan berharap," cemooh Fathan.

Azkira hanya diam meresapi sakitnya dibegitukan. Dia pun berusaha untuk acuh dan melanjutkan untuk mamakai bajunya. "Siapa juga yang ingin kamu pedulikan? Pria sombong!" umpat Azkira di dalam hatinya.

"Oh, atau mungkin kamu merindukan belaian dari seorang pria? Karena itu kamu pergi dan menemui pacarmu itu, benar?" hardik Fathan sambil menerka-nerka. Sebab, dia melihat Azkira dibonceng oleh Revan saat pulang tadi.

"Cukup! Berhenti menghina dan merendahkanku. Sikapmu itu membuat pikiranku semakin terbuka, bahwa berpendidikan tinggi, tampan dan mapan saja tidak menjamin seseorang sepertimu untuk berperilaku baik," lawan Azkira yang sudah panas terbakar kemarahan. Dia bahkan tidak memanggil suaminya dengan sebutan 'Pak Fathan' lagi.

"Beraninya kamu melawanku, huh!" Fathan mencengkeram rahang Azkira sambil menggemeratakkan giginya.

"Aku menikah denganmu bukan untuk diperlakukan semena-mena," jawab Azkira lagi.

Fathan mendorong tubuh Azkira sampai tubuh Wanita itu terpentok ke tepi ranjang. Lalu, dengan brutal Fathan mencopoti pakaian Azkira yang baru saja dia kenakan. "Baiklah, ini yang kamu inginkan, bukan?" ujar Fathan dengan suara berat.

"Minggir!" ronta Azkira sembari terus menepis tangan Fathan dari tubuhnya.

"Jangan munafik, Azkira. Bukankah kamu menginginkan tubuhmu untuk kusentuh?" olok Fathan sambil menyeringai.

Tidak perlu waktu lama. Pria itu sudah membuat tubuhnya dan tubuh Azkira sama-sama polos. Kemudian, dengan paksa dia menggagahi Azkira tanpa menghiraukan tangisan Wanita yang tampak kesakitan itu. Dan ya, seperti yang umum terjadi, darah segar berwarna merah pekat mengalir dari mahkota kegadisan Azkira.

Mendapati semua itu, Fathan pun tersadar bahwa itu adalah yang pertama kalinya untuk Azkira, juga dirinya. Namun, dia tetap saja tidak berbelaskasih dan masih tetap melanjutkan kebrutalannya itu dalam melaksanakan kewajibannya. Sehingga sesuatu yang harusnya terasa indah berubah menjadi saat-saat paling melukai bagi Azkira.

Bersambung ....

Teman-teman, jangan lupa untuk mampir ke novel keren karya sohib othor, Kak Weny hida. Dengan judul Terjerat Pesona Suami Tanteku. Dijamin seru dan pastinya sangat indah. Cuss, cepetan merapat. ❤❤🖤🖤

Terpopuler

Comments

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

smua crita novel bnyk yg sm hanya jdul dn nma yg berbda dah bs d tbak s istri yg traniaya dah d hina dan d siksa hbis hbsan d prkosa jg baru deh prgi meyerah syukur klau ga hmil

2022-12-18

2

Vita Zhao

Vita Zhao

Fathan kau mengingatkan ku kepada Daffa yang sangat kejam🤬🔪🔪🔪🔪

2022-11-07

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 PROLOG
2 BAB 2 Terjaga Sepanjang Malam
3 BAB 3 Merasa Penuh Dusta
4 BAB 4 Surat Pengunduran Diri Azkira
5 BAB 5 Perjodohan Yang Tidak Diharapkan
6 BAB 6 Pernikahan
7 BAB 7 Pengabaian
8 BAB 8 Bukan Salahku
9 BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai
10 BAB 10 Kesakitan
11 BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati
12 BAB 12 Dasar Munafik!
13 BAB 13 Kemalangan Yang Sempurna
14 BAB 14 Rasanya Berbeda
15 BAB 15 Lepaskan Aku!
16 BAB 16 Cukup!
17 BAB 17 Aku Tidak Tahu
18 BAB 18 Luka Yang Disengaja
19 BAB 19 Segurat Sesal
20 BAB 20 Hari Ulang Tahun
21 BAB 21 Hanya Milikku
22 BAB 22 Datar Dan Dingin
23 BAN 23 Api Kebencian
24 BAB 24 Cemas
25 BAB 25 Di Antara Dua Dilema
26 BAB 26 Butuh Waktu Sendiri
27 BAB 27 Tak Pernah Berubah
28 BAB 28 Pulang
29 BAB 29 Riuh Tangis
30 BAB 30 Surga Paling Sempurna
31 BAB 31 Tercengang
32 BAB 32 Sebuah Fakta
33 BAB 33 Milikilah Aku
34 BAB 34 Mengubur Harapan
35 BAB 35 Firasat
36 BAB 36 Cemburu
37 BAB 37 Mengalah
38 BAB 38 Bingkisan Terakhir
39 BAB 39 Foto
40 BAB 40 Rindu
41 BAB 41 Di Bawah Langit Yang Sama
42 42 Rahasia Di Balik Semua Yang Terjadi
43 BAB 43 Sebuah Titik Terang
44 BAB 44 Pulang
45 BAB 45 Aku Kakak Kandungnya
46 BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!
47 BAB 47 Maaf
48 BAB 48 Calon Istri
49 BAB 49 Berkabung
50 BAB 50 Curiga
51 BAB 51 Ada Apa?
52 BAB 52 Rencana Bulan Madu
53 BAB 53 Pulau
54 BAB 54 Api Dendam
55 BAB 55 Konsekuensi
56 BAB 56 Duka
57 BAB 57 Tamu Bawel
58 BAB 58 Kejutan
59 BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi
60 BAB 60 Sebuah Gelang
61 BAB 61 Akhir Yang Bahagia (TAMAT)
62 EPILOG DAN PROMO KARYA BARU
Episodes

Updated 62 Episodes

1
BAB 1 PROLOG
2
BAB 2 Terjaga Sepanjang Malam
3
BAB 3 Merasa Penuh Dusta
4
BAB 4 Surat Pengunduran Diri Azkira
5
BAB 5 Perjodohan Yang Tidak Diharapkan
6
BAB 6 Pernikahan
7
BAB 7 Pengabaian
8
BAB 8 Bukan Salahku
9
BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai
10
BAB 10 Kesakitan
11
BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati
12
BAB 12 Dasar Munafik!
13
BAB 13 Kemalangan Yang Sempurna
14
BAB 14 Rasanya Berbeda
15
BAB 15 Lepaskan Aku!
16
BAB 16 Cukup!
17
BAB 17 Aku Tidak Tahu
18
BAB 18 Luka Yang Disengaja
19
BAB 19 Segurat Sesal
20
BAB 20 Hari Ulang Tahun
21
BAB 21 Hanya Milikku
22
BAB 22 Datar Dan Dingin
23
BAN 23 Api Kebencian
24
BAB 24 Cemas
25
BAB 25 Di Antara Dua Dilema
26
BAB 26 Butuh Waktu Sendiri
27
BAB 27 Tak Pernah Berubah
28
BAB 28 Pulang
29
BAB 29 Riuh Tangis
30
BAB 30 Surga Paling Sempurna
31
BAB 31 Tercengang
32
BAB 32 Sebuah Fakta
33
BAB 33 Milikilah Aku
34
BAB 34 Mengubur Harapan
35
BAB 35 Firasat
36
BAB 36 Cemburu
37
BAB 37 Mengalah
38
BAB 38 Bingkisan Terakhir
39
BAB 39 Foto
40
BAB 40 Rindu
41
BAB 41 Di Bawah Langit Yang Sama
42
42 Rahasia Di Balik Semua Yang Terjadi
43
BAB 43 Sebuah Titik Terang
44
BAB 44 Pulang
45
BAB 45 Aku Kakak Kandungnya
46
BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!
47
BAB 47 Maaf
48
BAB 48 Calon Istri
49
BAB 49 Berkabung
50
BAB 50 Curiga
51
BAB 51 Ada Apa?
52
BAB 52 Rencana Bulan Madu
53
BAB 53 Pulau
54
BAB 54 Api Dendam
55
BAB 55 Konsekuensi
56
BAB 56 Duka
57
BAB 57 Tamu Bawel
58
BAB 58 Kejutan
59
BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi
60
BAB 60 Sebuah Gelang
61
BAB 61 Akhir Yang Bahagia (TAMAT)
62
EPILOG DAN PROMO KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!