'Inikah jalan takdir yang harus aku lalui? Mengapa aku dihadapkan pada kobaran api kemarahan sejak awal pernikahanku dengannya? Apa semesta begitu membenciku hingga ia seolah sengaja membuatku terjebak dalam perangkap yang sulit aku hindari?'
Azkira meratap pilu menahan semua siksa yang Fathan berikan saat itu, di hari pertama dia tinggal satu atap dengan Fathan. Sambil terisak, Azkira mencoba bangkit dan membawa pandangannya pada Fathan, yang masih berdiri dengan nanar geram.
"Kau boleh menyiksaku sepuasmu, bila perlu. Tapi, jangan harap aku akan mengakui semua hal keji yang kau tuduhkan kepadaku! Bahkan, jika aku harus mati terhunus pedang sekali pun, aku akan tetap teguh pada pendirianku. Soal anggapan murahanmu tentang harta dan fasilitas, sebaiknya simpan saja kalimat itu untukmu sendiri!" tandas Azkira dengan tatapan tajam.
Entah berasal dari mana nyalinya itu. Akan tetapi, hal tersebut berhasil membungkam mulut Fathan. Pria itu meraup kasar wajahnya sendiri. Sedangkan, Azkira berlari keluar dan pergi meninggalkannya.
Azkira terus berlari terlunta-lunta di jalanan yang entah di mana. Dia sudah tidak perduli lagi tentang arah dan tujuannya. Yang dia ingin saat itu hanya pergi menghindar dari Fathan dan siksaannya.
Cukup jauh Azkira melangkah. Tidak berapa lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Seakan mengabulkan keinginan yang sempat menjadi pinta Azkira. Ya, keinginan untuk menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran hujan, tanpa diketahui orang lain.
"Aku pasrahkan segala urusanku pada-Mu wahai Pemilik kemarau dan hujan. Aku pasrahkan segalanya. Tidak akan aku sesali suratan takdirku ini, tapi tolong ... izinkan aku berlari dan melepaskan diri sejenak, dari pedihnya hina dan siksa yang terus menghantamku tanpa perasaan." Azkira menangis, berteriak, meraung-raung bersamaan dengan gencarnya suara hujan yang semakin lebat.
Di dalam kamarnya, Fathan terduduk sambil memijat-mijat keningnya. "Shittt! Bisa-bisanya dia mematahkan argumenku dan sekarang dia pergi entah kemana. Bagus! Sebentar lagi Ayah akan menanyakan keberadaannya dan memarahiku," cicit Fathan mengumpat.
Bukannya berusaha mengejar atau mencari Azkira, Fathan justu sibuk memikirkan dirinya sendiri. Dia khawatir kalau-kalau ayahnya akan memarahinya karena membuat Azkira lari dari rumah.
"Siaaaal! Di luar hujan lebat lagi. Kemana dia pergi? Ahh, masa bodoh. Aku 'kan tidak menyuruhnya untuk pergi," gerundal Fathan tanpa rasa bersalah.
Azkira terus berjalan di bawah hujan. Hingga dia melihat sebuah taman dan singgah di sana. Sambil duduk di sebuah bangku panjang, Azkira pun menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan semua amarah dan rasa kecewa yang tak saggup lagi ditahannya. Dia memeluk kesakitannya begitu lama. Sendirian di derasnya hujan kala itu.
"Azki ...," lirih Revan yang ternyata juga ada di taman itu, di bangku lain yang berbeda. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Azkira.
Dari jarak yang dekat tampaklah wajah Azki yang sudah memucat, bibir yang gemetar dan air mata yang tampak bersaing dengan jatuhan air hujan ke wajahnya. Revan ingin merangkul Azkira. Memeluk dan menenangkannya seperti biasa. Namun, niatnya dia urungkan. Revan sadar Azkira kini sudah menjadi istri orang.
"Azki ...," lirihnya mengulang sebuah seruan. Akan tetapi, suaranya tidak dapat didengar karena terhalang oleh derasnya hujan.
Azkira tersadar ada yang berdiri di sampingnya. Dia pun menoleh dan mendapati Revan sedang menangis dalam senyumnya. "Abang ...," lirih Azkira sambil kembali menumpahkan tangisnya.
Revan duduk tepat di sebelah Azkira. Dia ingin bertanya pada Wanita yang bagai adiknya sendiri itu, tapi bibirnya kelu dan lidahnya pun seakan membeku. Akhirnya, baik Revan maupun Azkira hanya saling menatap dalam diam dan tangis yang terus teruarai.
"Abang sedang apa di sini?" tanya Azkira dengan sisa isakan yang masih terdengar.
"Sedang menikmati hujan. Kamu kenapa hujan-hujanan juga? Apa rumah barumu tidak senyaman pelukan Abang untuk berteduh?" kata Revan sambil meledeki Azkira.
"Azki hanya sedang ingin bermain hujan saja," bohong Azkira sembari menunduk.
"Jangan bohongi aku, Azki. Aku sudah melihat tangisanmu sedari tadi. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Kenapa Azki? Apa suamimu menyakiti perasaanmu?" gusar Revan di dalam hati.
"Ingin bercerita?" lontar Revan.
Azkira hanya menggelengkan kepala. Walau di dalam hatinya sungguh dia ingin mengadu pada Revan. "Tidak, Azki. Bang Revan tidak boleh tahu tentang penderitaanmu ini," batin Azkira bicara pada dirinya sendiri.
"Abang antar kamu pulang, ya. Terlalu lama hujan-hujanan juga tidak baik," tutur Revan.
"Azki masih ingin di sini, Bang. Nanti saja pulangnya. Kalau Bang Revan mau pulang, tidak apa-apa duluan saja."
"Azki, apa sekarang kamu sudah tidak mau mendengarkan nasehat Abang lagi?" ucap Revan seolah memaksa Azkira agar mau pulang.
"Bukan begitu, Bang. Hanya saja, Azki-"
"Sudah, ayo kita pulang." Revan langsung menggandeng tangan Azkira dan mengantarkannya menggunakan sepeda motor.
"Kenapa takdir begitu tega memisahkan kita sebelum aku sempat mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padamu, Azki?" bisik Revan dalam hati.
Di bawah hujan, Revan mengantarkan Azkira pulang. Dan alangkah kagetnya dia, saat tahu bahwa jarak antara taman dan tempat tinggal Azkira lumayan jauh. Maklum saja, Revan memang belum tahu rumah Fathan dan ini pertama kalinya dia ke sana. Itu pun secara kebetulan karena dia dan Azkira berada di taman yang sama dan dalam waktu yang bersamaan pula.
"Terima kasih, ya, Bang. Azki masuk dulu," ucap Azkira, ketika dia sudah turun dari sepeda motor. Revan hanya mengulas senyum dan mengangguk. Lantas, mereka pun berpisah.
Azkira masuk dan dikagetkan oleh Fathan yang ternyata sudah berdiri di depan pintu. Tatapan mata Pria itu memindai tubuh Azkira yang basah kuyup terguyur hujan. Azkira melihat wajah Fathan sekilas dan setelah itu dia pergi ke kamar.
Azkira sudah berada di kamar dan dengan segera dia membersihkan dirinya. Beberapa menit berselang, Azkira pun selesai dan kini dia mengambil baju ganti. Belum sempat memakainya, tiba-tiba ada Fathan yang menyusul dirinya ke kamar.
"Kenapa kamu lari dari rumah? Apa kamu pikir aku akan mengejarmu? Ciiih! Jangan berharap," cemooh Fathan.
Azkira hanya diam meresapi sakitnya dibegitukan. Dia pun berusaha untuk acuh dan melanjutkan untuk mamakai bajunya. "Siapa juga yang ingin kamu pedulikan? Pria sombong!" umpat Azkira di dalam hatinya.
"Oh, atau mungkin kamu merindukan belaian dari seorang pria? Karena itu kamu pergi dan menemui pacarmu itu, benar?" hardik Fathan sambil menerka-nerka. Sebab, dia melihat Azkira dibonceng oleh Revan saat pulang tadi.
"Cukup! Berhenti menghina dan merendahkanku. Sikapmu itu membuat pikiranku semakin terbuka, bahwa berpendidikan tinggi, tampan dan mapan saja tidak menjamin seseorang sepertimu untuk berperilaku baik," lawan Azkira yang sudah panas terbakar kemarahan. Dia bahkan tidak memanggil suaminya dengan sebutan 'Pak Fathan' lagi.
"Beraninya kamu melawanku, huh!" Fathan mencengkeram rahang Azkira sambil menggemeratakkan giginya.
"Aku menikah denganmu bukan untuk diperlakukan semena-mena," jawab Azkira lagi.
Fathan mendorong tubuh Azkira sampai tubuh Wanita itu terpentok ke tepi ranjang. Lalu, dengan brutal Fathan mencopoti pakaian Azkira yang baru saja dia kenakan. "Baiklah, ini yang kamu inginkan, bukan?" ujar Fathan dengan suara berat.
"Minggir!" ronta Azkira sembari terus menepis tangan Fathan dari tubuhnya.
"Jangan munafik, Azkira. Bukankah kamu menginginkan tubuhmu untuk kusentuh?" olok Fathan sambil menyeringai.
Tidak perlu waktu lama. Pria itu sudah membuat tubuhnya dan tubuh Azkira sama-sama polos. Kemudian, dengan paksa dia menggagahi Azkira tanpa menghiraukan tangisan Wanita yang tampak kesakitan itu. Dan ya, seperti yang umum terjadi, darah segar berwarna merah pekat mengalir dari mahkota kegadisan Azkira.
Mendapati semua itu, Fathan pun tersadar bahwa itu adalah yang pertama kalinya untuk Azkira, juga dirinya. Namun, dia tetap saja tidak berbelaskasih dan masih tetap melanjutkan kebrutalannya itu dalam melaksanakan kewajibannya. Sehingga sesuatu yang harusnya terasa indah berubah menjadi saat-saat paling melukai bagi Azkira.
Bersambung ....
Teman-teman, jangan lupa untuk mampir ke novel keren karya sohib othor, Kak Weny hida. Dengan judul Terjerat Pesona Suami Tanteku. Dijamin seru dan pastinya sangat indah. Cuss, cepetan merapat. ❤❤🖤🖤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sri Wahyuni
smua crita novel bnyk yg sm hanya jdul dn nma yg berbda dah bs d tbak s istri yg traniaya dah d hina dan d siksa hbis hbsan d prkosa jg baru deh prgi meyerah syukur klau ga hmil
2022-12-18
2
Vita Zhao
Fathan kau mengingatkan ku kepada Daffa yang sangat kejam🤬🔪🔪🔪🔪
2022-11-07
2