"Cepat katakan padaku! Di mana selingkuhanmu bersembunyi? Kamu ke sini untuk menemuinya 'kan? Ciiiihh! Dasar murahan," cemooh Fathan yang masih setia pada praduganya.
"Cukup!" Tiba-tiba Azkira berteriak sambil berontak sekuat tenanga, sampai Fathan tidak bisa lagi menguasai tubuh Wanita itu.
"Cukup, Bang! Kalau waktu itu kamu membenci aku karena alasana yang berkaitan dengan kinerja dan keteledoranku yang membuat kesalahpahaman besar, aku masih bisa terima. Walau tetap saja, aku tidak melakukan semua kesalahan seperti yang Abang dan semua orang tuduhkan! Tapi, kalau Abang menyiksaku hanya karena praduga Abang yang juga tidak pernah aku lakukan di dalam rumah tangga ini, sungguh ... aku tidak kuat, Bang," ungkap Azkira sambil terus menangis.
Fathan terdiam mendengar semua curahan hati Azkira. "Dia memanggilku Abang? Apa dia benar-benar telah menganggap aku suaminya? Ahh, apa istimewanya dipanggil Abang olehnya? Itu tidak mengubah apapun, bukan? Tapi kenapa aku merasa senang?"
Kala itu Fathan hanya berbisik di dalam hatinya. Namun, dia tidak jua menanggapi ocehan Azkira secara langsung. Lelaki itu malah salah fokus pada kata-kata Azkira, yang memanggil dirinya dengan sebutan 'Abang'. Munafikkah jika dia masih tidak mau mengaku bahwa dirinya mulai tertarik pada Azkira? Entahlah, jalan pikirannya terlalu sulit untuk ditebak.
"Ayo pulang!" ajak Fathan dengan nada datar.
Azkira masih menangis merasakan sakit di wajah akibat tamparan Fathan. Namun, ada yang lebih terluka yaitu hati dan perasaannya. Ya! Fathan selalu mahir dalam hal menyakiti dan memberikan luka pada Azkira.
"Apa kamu tidak mendengarku?" Fathan menyeka air mata Azkira, lalu dia menuntun Azkira agar pindah ke kursi depan di samping kursi kemudinya.
"Apa lagi ini, wahai Tuhan? Dia baru saja membuatku menangis dengan sengaja. Lalu, sekarang dia menyeka air mataku dengan tangannya sendiri. Apa itu pertanda sesalnya? Atau semuanya hanya kepalsuan yang kembali dia tunjukan seperti biasanya," batin Azkira yang akhirnya menurut pada Fathan.
Mobil Fathan pun melaju dengan kecepatan sedang. Kemudian, tampak dia menelepon seseorang, beberapa saat setelah mobilnya berjalan cukup jauh. Sementara itu, Azkira hanya diam dengan tatapan lurus ke depan.
[Halo, tolong kamu urus dulu semuanya. Sepertinya ak tidak bisa datang hari ini.] Fathan memberi titah pada seseorang yang berada di ujung telepon.
[Baiklah, serahkan padaku,] jawab seseorang di sana. Fathan hanya mengangguk dan langsung mematikan teleponnya.
Selepas mengakhiri pembicaraannya di telepon, Fathan melirik ke arah Azkira. Wanita yang masih tertutup kabut kesedihan itu pun sebenarnya tahu, bahwa dirinya sedang diperhatikan. Namun, dia lebih memilih acuh dan pura-pura tidak tahu saja.
Detik kemudian, mereka pun sampai di rumah, setelah menempuh berpuluh-puluh menit perjalanan. Fathan membukakan pintu mobilnya untuk Azkira, usai dirinya turun lebih dulu. Benar-benar sikap yang tidak biasanya.
Azkira belum habis dengan rasa herannya, tapi Fathan sudah menambah rasa heran Azkira kembali. Dia menggandeng tangan Azkira dengan posesif. Sampai di dalam rumah, Fathan mengantarkan Azkira untuk masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Pria dengan sikap misterius tersebut keluar lagi dari dalam kamar.
"Apa yang sedang dia rencanakan? Apa dia akan menyiksaku lebih parah lagi setelah ini?" Ada perasaan was-was dalam diri Azkira, saat menerima perhatian yang Fathan berikan padanya.
Tak lama Fathan datang lagi. Membawa sebuah nampan yang berisi makanan di tangannya. Lalu, Pria itu menaruh nampan tesebut di atas nakas.
"Untuk apa dia membawa makanan sebanyak itu?" pikir Azkira sembari menunduk menyembunyikan mimik wajah herannya.
"Kamu mau sarapan sendiri, atau mau kusuapi?" Fathan bertanya sembari duduk di tepi ranjang, di samping Azkira.
Azkira mengangkat wajahnya. "Aku sudah sarapan," jawabnya pelan.
"Sarapanmu belum selesai, bahkan tadi kamu baru mau memulainya!" tandas Fathan.
"Ya! Kamu sangat benar Pria aneh. Aku memang baru ingin sarapan, tapi kamu malah menangkapku seperti pencuri," cicit Azkira di dalam hati.
"Apa aku harus mengulangi pertanyaanku lagi?" kata Fathan yang tak kunjung mendapat respon berupa tindakan dari Azkira.
"Tidak mau. Aku sudah tidak punya selera untuk sarapan," imbuh Azkira bersikukuh.
"Kalau begitu aku akan menyuapimu!" kata Fathan memaksa.
"Ya ampun! Entah terbuat dari apa Pria ini. Apa dia tidak tahu arti kata 'tidak mau'?" bisik hati Azkira.
"Jika kamu tidak ingin aku suapi, maka kamu yang harus menyuapiku." Pria itu mengancam Azkira dengan sebuah pilihan.
"Kuharap harimu malam terus setelah ini! Agar kamu terus tertidur dan tidak menggangguku. Dasar aneh, menyebalkan," maki Azkira yang hanya gaduh di dalam hati.
Sedang asyiknya Azkira berperang dengan kemelut di pikirannya, Fathan sudah menyendok makanan dan hendak memasukkannya ke mulut Azkira.
"Buka mulutmu," titahnya.
Dengan ragu-ragu, akhirnya Azkira menurut saja. Hanya itu dan itu lagi yang bisa dia lakukan di setiap akhir perjuangannya melawan Fathan. Entah sampai kapan semua itu akan berakhir.
Suapan demi suapan pun terus dilakukan oleh Fathan. Bahkan, sesekali dia tampak menyuapkan makanan itu ke mulutnya sendiri. Dalam arti kata, dia memakai sendok yang sama dengan Azkira. Andai sikap Fathan pada Azkira sebelumnya tidak kasar, sungguh itu terlihat sangat manis. Rasanya, ada kemungkinan Azkira juga akan suka diperlakukan demikian oleh Fathan. Sayangnya, Fathan sudah menyuguhkan luka lebih dulu kepada Azkira. Sehingga perilaku manis pun tak mampu membuat Azkira lupa pada kepahitan yang Fathan torehkan sebelumnya.
"Cukup, aku sudah sangat kenyang," ucap Azkira.
"Baiklah, akan aku habiskan." Fathan mengangguk, lalu menghabiskan makanan itu.
"Ha? Dia menyuapiku, makan dengan sendok yang sama denganku, sekarang dia menghabiskan sisa makanan itu? Apa dia sedang demam." Sambil berpikir begitu, tanpa sadar Azkira meletakkan tangannya di kening Fathan. Persis seperti orang yang sedang memastikan suhu tubuh, dan memang itulah yang sedang Azkira lakukan.
Fathan memelankan kunyahan terakhir di mulutnya kala itu. Dia mengerutkan dahi mendapati Azkira, yang entah sedang melakukan apa. Karena Fathan tidak tahu. Cukup lama Azkira melakukannya seperti orang yang benar-benar tidak sadar.
"Apa yang tangannya lakukan pada keningku? Apa ini ucapan terima kasihnya padaku, karena aku telah menyuapinya?" Fathan menyimpulkan sebuah senyuman.
"Aku mengerti," ucap Fathan yang tiba-tiba meraih tangan Azkira, lalu mencium dan menghirupnya dalam-dalam.
Kata-kata dan perbuatan Fathan tersebut, sontak membuat Azkira tersadar. "Apa yang kamu mengerti?" ujar Azkira yang spontan menarik tangan yang sedang diciumi oleh Fathan.
"Wajahmu memerah?" ledek Fathan.
"Tentu saja. Ini bekas tamparanmu tadi!" tandas Azkira sambil salah tingkah.
"Benarkah? Tapi kurasa, warna merahnya berbeda," tutur Fathan sembari memindai wajah Azkira dengan seksama. Azkira semakin salah tingkah dibuatnya.
"Berhenti! Mau apa kamu?" sentak Azkira dengan jantung yang berdegup kencang.
Fathan menaruh piring makanannya yang telah kosong. Lantas, dia kembali mengodai Azkira. "Aku hanya ingin memastikan. Apakah yang membuat wajahmu merah seperti ini adalah bekas tamparanku atau ...."
"Menyingkir dariku!" selah Azkira menjeda kalimat Fathan.
Fathan tidak perduli, sekali pun Azkira terus berusaha membuat tubuhnya menjauh dari dirinya. Wanita itu mendorong dada Fathan setiap kali Fathan mendekat. Namun, entah mengapa Fathan justru merasa tertantang untuk semakin merapatkan tubuhnya pada Istrinya itu.
[Bunyi telepon berdering dengan sangat nyaring.]
"Siaaaal!" dengus Fathan. Lalu, dia meraih ponselnya itu.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Vita Zhao
masih betah ajah punya suami kayak fathan😡
2022-11-11
1