Seminggu kemudian, pernikahan Fathan dan Azkira pun digelar tanpa pesta. Hanya syukuran sederhana dan sangat jauh dari kata megah. Sumpah pernikahan pun telah terikrar di hadapan penghulu dan para saksi yang hadir. Azkira beberapa kali memejamkan mata, saat mendengar kata 'SAH' yang menggema memenuhi ruangan.
"Berikan aku kekuatan dalam ketidakberdayaanku ini, Ya Rab. Tentu Engkau lebih mengetahui yang terbaik bagi hidupku. Aku tidak ingin meratapi jalan takdir yang telah Engkau gariskan untukku. Meski sebenarnya, aku terlalu buta untuk melihat apa yang akan terjadi padaku ke depannya," risau hati Azkira beriring barisan doa dan harapan yang dia panjatkan.
Bukan kedua mempelai pengantin yang sangat bahagia seperti seharusnya. Namun, rona kebahagiaan itu justru terpancar dari binar mata Antoni, dan juga Sinta, selaku wali yang menginginkan pernikahan mereka terjadi.
Untuk wali nikahnya sendiri, wali Azkira diwakilkan oleh wali hakim. Sebab, dia tidak memiliki keluarga atau sesiapa pun yang memenuhi syarat untuk menjadi wali nikahnya. Sekali lagi, Azkira merasa bagai menaruh hidupnya di ujung tanduk. Entah akan bagaimana nasib pernikahan yang didasari perjodohan ini nantinya.
"Ayo, Azki sayang. Salami suamimu," titah Sinta sembari membibingnya mendekat pada Fathan.
Pria itu tampak menatap dingin ke arah Azkira. Lalu, dengan tangan gemetar Azkira pun memberanikan diri mengulurkan tangan untuk menyalami Fathan, yang baru saja resmi menjadi suaminya itu. Tangan Fathan tampak berat saat hendak menyambut uluran tangan Azkira, tapi akhirnya dia melakukannya juga. Menjabat tangan sembari melabuhkan ciuma pertamanya di kening Azkira, walau dengan keterpaksaan.
Semua orang memberi tepukan tangan sebagai suka cita dalam merayakan pernikahan mereka. Lantas, satu persatu orang yang hadir pun memberikan selamat pada kedua mempelai. Akan tetapi, ada sepasang mata yang dirundungi tangis dan dia sedang berdiri di ambang pintu. Perlahan dan pasti, Pemilik sepasang mata itu pun bergerak mendekat ke arah Azkira.
"Bang Revan ...," lirih Azkira. Ternyata orang itu adalah Revan.
"Azki, selamat menempuh hidup baru, ya. Walau telah nyata kamu menjadi pengantin seseorang, tapi di mata Abang kamu tetap adik kecilnya Abang yang cengeng," tutur Revan yang berusaha menyembunyikan tangisannya setelah tadi sempat menyeka tetesan air mata yang terlanjur jatuh membasahi pipinya.
"Abang ...." Azkira menghambur memeluk Revan dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan cengeng lagi, humm," pesan Revan padanya.
"Tugasku untuk menjagamu sudah selesai, Azki," batin Revan sambil mengusap lembut pucuk kepala Azkira.
"Ehemm," deham Fathan yang langsung membuat Azkira melepaskan dekapannya pada Revan, yang sudah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri itu.
"Abang permisi, ya." Revan langsung bertolak meninggalkan acara pernikahan Azkira, tanpa memberikan selamat pada Fathan. Andai boleh jujur, Revan merasa tidak cocok pada Fathan.
"Semurah itukah dirimu, hingga berani memeluk lelaki lain di acara pernikahanmu sendiri? Hahaha, aku sudah menduga hal ini," sindir Fathan dengan nada sarkas, setelah Revan pergi dari sana.
"Apa pikiran dan hatimu begitu kotor sampai semua yang kamu katakan hanya keburukan yang tidak kamu ketahui kebenarannya?" balas Azkira sambil berlalu. Namun, Fathan mencegah dengan memegangi pergelangan tangan Azkira.
"Beraninyanya kamu padaku!" kata Fathan berbisik di telinga Azkira dengan penuh penekanan.
"Eheem, kalian bisa pergi ke kamar jika sudah tidak tahan ingin bermesraan," ledek Dion yang kala itu turut hadir menyaksikan.
"Eemm .... Azki, selamat, ya. Ternyata ini alasanmu resign dari pekerjaan. Kalau begitu saya turut bersuka cita untuk kalian." Dion dengan percaya diri mengutarakan praduga yang menjadi alasan Azkira keluar dari pekerjaannya.
"T-terima kasih, Pak Dion, tapi bukan itu alasan sa-"
"Oh, ya. Saya harus segera datang ke restoran. Pokoknya selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua," pungkas Dion menyelelah kalimat Azkira.
Fathan tersenyum masam. "Oh, jadi sepicik itukah dirimu? Ternyata kamu begitu ingin menikah denganku, ya. Sampai-sampai berlaga tidak membutuhkan pekerjaan lagi dan keluar," hardik Fathan membuat perasaan Azkira kembali terluka.
Gadis itu hanya bisa menghela napas kasar dan membiarkan berbagai tuduhan miring yang dilontarkan terhadapnya. "Lepas, aku ingin pergi!" tukas Azkira sambil menepis cengkeraman tangan Fathan.
"Lihat saja, Azkira! Apa yang akan aku perbuat padamu setelah ini. Kamu harus membayar semua yang sudah kamu lakukan dengan rencana picikmu itu," ancam Fathan yang menggumam, sembari menuduh Azkira yang bukan-bukan.
****
Malam pun tiba. Azkira sudah diboyong ke rumah megah milik keluarga Antoni. Wanita itu sedang berusaha menerima segala yang harus terjadi padanya, sekali pun itu bukanlah hal yang dia harapkan. Dia akan mencoba membiasakan dirinya sebagai istri Fathan.
"Selamat malam, Azki sayang. Jangan sungkan-sungkan. Anggaplah ini seperti rumahmu sendiri, dan memang begitu kenyataannya 'kan." Antoni menyapa Azkira sebelum dia bergegas ke kamarnya.
"Terima kasih, Ayah," ucap Azkira sambil memaksakan senyuman.
"Tentu saja, Ayah. Dia akan lebih terbiasa dari yang kita tahu. Benar 'kan?" timbrung Fathan sambil menyeringai sinis. Azkira mengatupkan bibirnya sambil mengepalkan tangannya geram.
"Ayah harap juga begitu, Fathan," jawab Antoni yang tidak membaca kata-kata sarkas dari Fathan.
"Kalian istirahatlah. Nikmati malam kalian. Ayah juga ingin tidur." Gegas Antoni meninggalkan keduanya.
Seperginya Antoni dari sana, Fathan kembali membisikkan sesuatu di telinga Azkira. "Jangan berharap aku akan sudi menyentuhmu," katanya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Vita Zhao
Halah, nanti juga lu yang bucin Fathan😌
2022-11-05
1