Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Azkira ikut pulang dengan Fathan. Di dalam mobil ketika dalam perjalanan pulang, Fathan lebih banyak diam. Tidak banyak bicara seperti biasanya.
Sesekali Azkira melirik pada Pria yang tengah fokus menyetir mobil itu. Rasa ingin membuka pembicaraan sebenarnya ada dalam benak Azkira. Namun, dia malas kalau-kalau kata-kata yang dia keluarkan akan memancing perdebatan panjang nantinya. Sebab, Fathan bukanlah tipe pendengar yang baik bagi Azkira. Lagi pula, Azkira bingung harus bicara apa.
Detik berikutnya, mereka pun sudah sampai di rumah Fathan. Pria itu turun dari mobil lebih dulu usai memarkirkannya di sebuah garasi. Lantas, dia pun masuk ke dalam tanpa menghiraukan Azkira.
"Bi Inah, tolong siapkan makan malamnya." Tanpa basa-basi lagi dia langsung duduk di meja makan.
"Baik, Den Fathan." Wanita paruh baya bernama Inah itu langsung saja memenuhi titah tuannya.
Azkira berjalan perlahan menuju kamar. Dia merasa canggung jika harus bergabung ke meja makan bersama Fathan. Di samping itu, selera makannya sedang tak baik seiring dengan suasana hatinya yang juga tidak menentu.
Detik kemudian, Azkira sudah berada di dalam kamar. Dia melihat seprai yang sudah diganti dan keadaan kamar waktu itu sangat rapi. Mungkin, Bi Inah yang mengerjakannya. Kira-kira itulah yang ada dalam benak Azkira.
Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu kamar saat Azkira tengah duduk melamun. Ya, Bi Inahlah yang mengetuk pintu. Rupanya, dia disuruh oleh Fathan untuk memanggil Azkira ke meja makan.
"Terima kasih, Bi, tapi Azki tidak lapar."
"Den Fathan sudah menunggu, Non. Nanti Bibi bisa dimarahi kalau Non Azki menolak," mohon Bi Inah.
"Huuuuft! Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain marah?" gerutu Azkira.
"Baiklah, Bi. Azki akan segera ke sana." Azkira merasa iba pada Bi Inah.
Pemilik mata indah itu pun telah hadir di meja makan. Tampak dia merundukkan wajahnya, menghindari tatapan Fathan padanya. Lantas, dengan perlahan Azkira menarik satu kursi dan duduk berdampingan dengan Fathan.
"Aku menyuruhmu ke sini untuk makan malam. Bukan untuk diam dan melamun." Fathan bicara tanpa menoleh sedikit pun pada Azkira.
"Apa dia sedang berlaga perhatian tehadapku? Ahh, masa bodoh! Memikirkan sikap anehnya membuatku merasa lelah." Azkira berusaha menepis pikiran-pikiran yang terlintas di dalam benaknya. Dia pun memaksa untuk makan walau hanya sedikit.
Selepas makan malam, Azkira lngsung pergi ke kamar. Dia merasa lengket dan ingin membersihkan tubuhnya dengan mandi. Semenetara Fathan, waktu itu dia masih sibuk dengan ponsel dan bicara di telepon dengan seseorang yang sepertinya, itu Dion.
Tubuh Azkira terasa segar setelah mandi beberapa saat yang lalu. Kini, Wanita itu sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya sambil meneguk saliva dengan kasar. Tentu saja, itu adalah Fathan.
Pria itu sudah berdiri di ambang pintu kamar, tanpa bersuara. Ada gelenyar aneh yang menyusuri jiwa kelelakiannya. Detik kemudian, dia sudah melingkarkan tangan kekarnya ke tubuh Azkira, hingga Wanita itu tampak terhenyak dan kaget.
"Lepaskan! Apa maumu?" Azkira berontak dan berusaha melepaakan diri, tapi usahanya itu selalu saja gagal.
"Kenapa? Apa kamu takut pacarmu marah, huh? Dasar Wanita curang!" hardik Fathan semakin mengeratkan dekapannya.
"Pacar apa? Aku tidak mengerti yang sedang kamu bicarakan. Minggirlah! Dadaku terasa sesak," lontar Azkira dengan suara kesesakkan.
"Ciiih! Tidak ada pencuri yang mau mengaku, kalau tidak penjara pasti akan penuh." Fathan masih saja menuduh Azkira memiliki kekasih simpanan.
"Aku bukan pencuri! Kamu lah yang jahat," lawan Azkira lagi. Dia tidak ingin diam saja. Sungguh, dia merasa marah kali ini, saat Fathan terus menuduh dan mengatainya yang bukan-bukan.
Fathan mendorong tubuh Azkira, hingga dia terhempas ke atas kasur empuk yang sudah berganti seprai itu. Lalu, Fathan mengambil potret keakraban Azkira dan Revan yang dikemas dalam sebuah frame kecil dari tas Azkira, kemudian membantingnya ke lantai hingga kacanya hancur berkeping-keping. Mata Azkira terbelalak menyaksikan semua itu.
"Oh tidak! Itu fotoku bersama Bang Revan. Kenapa kamu membantingnya?" Mata Azkira mulai mengembun.
"Kenapa? Keberatan karena aku membanting potret kemesraanmu dengan selingkuhanmu itu?" tanya Fathan yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Aku tidak pernah selingkuh. Apa maksud dari semua tuduhanmu itu?" Azkira meringsut turun dari atas ranjang.
"Kamu telah merusaknya!" Suara Azkira mulai bergetar seperti menahan amarah yang mulai membakar. Dia memunguti serpihan bingkai kaca yang sudah hancur itu hingga tanganya terluka dan berdarah, terkena goresan.
"Siaaaal! Dia lebih memilih menangisi fotonya bersama pacarnya ketimbang merasa bersalah dan meminta maaf padaku." Fathan meremmat kepalan tangannya sendiri.
"Aku tidak akan membiarkanmu mencurangi aku seperti ini," lanjut Fathan yang langsung membimbing tubuh Azkira untuk berdiri dan merapat ke tubuhnya.
"Dia kakakku. Orang yang selalu menjagaku sejak aku masih memakai seragam sekolah. Dia yang memasang badan untuk melindungiku dari teman-teman skolahku yang selalu mencari kesalahanku, membully-ku, menuduhku, bahkan memukulku. Dia yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri demi aku. Aku yang sekarang kamu anggap hina ini adalah berlian baginya. Apa kamu pernah menghargai seseorang, seperti dia menghargaiku? Lihat, sekarang kamu telah merusak kenanganku bersamanya. Bersama orang yang selalu ada untukku bahkan di saat Ayah dan Ibuku pergi meninggalkanku dalam kecelakaan. Kamu itu lebih jahat dari pada penjahat sekali pun!"
Azkira bicara sambil menatap lekat mata Fathan, yang kala itu masih melingkarkan sebelah tanganya di pundak Azkira. Nada bicara Azkira yang dalam dan penuh penekanan membuat Fathan terkesima, bibirnya kelu, lidahnya membeku tak dapat bicara. Tatapan mata Azkira yang tajam, terasa bagai sebilah pedang yang menghujam tepat di jantung Fathan.
"Atas dasar apa kamu menuduhku berselingkuh, memiliki simpanan, dan mencurangi dirimu?" imbuh Azkira dengan tatapan mata yang masih sama.
"Biar kutebak, jadi SUAMI yang tidak menginginkanku ini mulai cemburu padaku, begitu?" Azkira menyeringai sinis.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa mendengar semua ucapannya terasa bagai belenggu yang memasung tubuhku? Apa benar aku cemburu? Apa benar aku telah melakukan kesalahan padanya? Atau, benarkah aku mulai mengharapkan kehadirannya di dalam hidupku?" Fathan bertanya-tanya dalam batinnya, dengan keadaan membeku tanpa gerak, tanpa bicara.
Namun, lamunannya buyar ketika gerakan tubuh Azkira memercik dan memancing perhatiannya. Tanpa sadar, Fathan langsung meraih tangan Azkira yang berdarah itu, lalu menyesapnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Pria itu. Mungkinah dia merasa iba pada Azkira? Tidak ada yang tahu persis.
Azkira diam terpasrah. Sambil memejam, air mata Azkira berjatuhan dari ceruk sudut netranya. "Aahh, kenapa rasanya sesakit ini," gumam Azkira.
Lalu, entah bagaimana kejadiannya. Serpihan bingkai kaca di tangan Azkira sudah tidak ada. Sepertinya Fathan mengambilnya tanpa Azkira sadari, karena saa itu Azkira merasa benar-benar sangat kacau. Lantai kamar pun sudah bersih dari semua serpihan benda itu. Dan Azkira kini sudah ada di atas kasur, dalam kungkungan tubuh Fathan.
Deru napas terdengar berkejaran. Perasaan asing yang belum Azkira rasakan sebelumnya begitu gencar meringkuhi tubuhnya. Hingga tanpa sadar, geliat sensual dan rintihan yang terdengar begitu menggoda terus saja keluar dari dalam mulutnya. Kilapan peluh memandikan tubuh polosnya, dan juga Fathan. Perasaannya benar-benar terbang seringan kapas yang tertiup angin. Melambung jauh ke udara.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan." Azkira mendengar suara Fathan berbisik di telinganya.
Lalu di detik berikutnya, bagian inti tubuhnya terasa sangat penuh oleh milik Fathan. Perasaan Azkira pun semakin tidak karuan. Rasanya berbeda dengan saat pertama kali Fathan melakukannya. Kali ini lebih lembut, perlahan, dan membuat Azkira seakan menagih untuk terus dipacu lebih gencar.
Sekian puluh menit berlalu, suara berat Fathan mengeraang dan melolong dengan panjang. Dia menghentakkan miliknya lebih dalam lagi ke lorong cinta milik Istrinya itu. Ya! Keduanya pun menapaki puncak tertinggi dari sebuah pelepasan yang indah.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Vita Zhao
Ekhem, mencuri kesempatan dalam kesempitan nih fathan
2022-11-10
1