Fathan pergi ke restorannya, tapi bukan untuk meeting. Dia hanya mencoba untuk menghindari Azkira dari jangkauan matanya. Secara hati sendiri, Fathan memang belum siap menerima kehadiran siapa pun usai kekecewaan karena pengkhianatan yang dilakukan Ellena pada dirinya.
"Hai, Bro! Bagaimana malam pertamamu? Apa itu mengasyikan?" ledek Dion sambil tertawa.
"Diam atau kusumpal mulutmu itu dengan sandal!" jawab Fathan sambil duduk dan membuang napas kasar.
"Hihihi. Kenapa kau sensitif sekali?" lanjut Dion sembari menepuk pelan punggung Fathan. Mereka memang sangat akrab meski dalam pekerjaan hubungan mereka adalah seorang Pemilik dan Manager.
"Entahlah, aku tidak yakin dengan semua ini." Fathan merasa enggan membahas pernikahannya.
"Bagaimana dengan omset restoran? Apa ada kemajuan, stabil, atau justru menurun?" imbuh Fathan mengalihkan topik pembicaraan.
Dion menghela napas panjang dan mengeluarkannya secara pelahan. "Beberapa hari belakangan ini, omset kita mengalami penurunan sekitar 20% dari biasanya," jawab Dion menyayangkan.
Fathan mengerutkan dahinya. "Kenapa bisa begitu, Dion? Apa ini ada kaitannya dengan berita yang beredar itu?"
"Sepertinya begitu, Fathan. Tapi aku percaya, Azki benar terkait pengakuannya. Dia sudah lama bekerja di sini dan kinerjanya sangat baik. Dia juga bukan tipe gadis yang berperilaku buruk seperti yang diberitakan," urai Dion.
"Berhenti membelanya, Dion. Kalau sudah begini, tidak ada fakta apapun yang bisa menyelamatkan dia dari kesalahan yang sudah diperbuatnya!" tandas Fathan sembari meremmat kepalan tangannya.
Tanpa memperdulikan Dion yang baru membuka mulutnya untuk bicara lagi, Fathan langsung pergi meninggalkan restoran. Dia tampak sangat marah dan berapi-api. Lantas, Pria itu langsung melesakkan laju mobilnya secepat kilat.
Di dalam kamar, tepatnya di depan jendela kaca yang tertup tirai. Azkira sedang berdiri sambil menyisihkan sedikit bagian tirai itu, lalu mengintip ke arah luar jendela. Dia mengulas senyum kala menyaksikan awan yang tampak gelap dan mendung menutupi permukaan langit.
"Sepertinya hujan akan turun dengan deras. Aku ingin berada di bawahnya. Agar bisa menangis sejadi-jadinya tanpa diketahui dan didengar oleh siapa pun," gumam Azkira seraya meneguk salivanya yang terasa getir.
Cukup lama Wanita bergigi kelinci nan manis itu berdiri menikmati mendung yang kian pekat. Hingga kakinya mulai terasa pegal dan dia pun melenggang untuk duduk di tepi ranjang. Selepas itu, matanya mengedarkan pandang ke segala sisi kamar dan berhenti saat dia melihat sofa yang digunakan Fathan untuk tidur semalam.
BRUGHHH!
Pintu kamar dibuka dan didorong dengan sangat keras oleh Fathan, dari arah luar. Azkira terhenyak dan kaget dengan kedatangan Fathan yang tiba-tiba dan tampak penuh amarah saat itu. Wanita malang tersebut pun berdiri membeku dengan tatapan ngeri dan was-was.
"Dasar murahan! Entah kenapa nasibku harus sesial ini." Fathan memaki sambil menyret dan menghempaskan tubuh Azkira ke atas sofa.
"Aakkkhhh!" pekik Azkira kesakitan.
"Beraninya kamu merugikan hidup dan usahaku!" cerca Fathan tiada henti.
"Sakiiiit," ringis Azkira sambil menangis.
Namun, bagai tidak punya perasaan Fathan malah menambahkan sebuah cengkeraman ke pipi Azkira. "Gara-gara ulahmu, restoranku jadi sepi dan omsetnya pun menurun!" lontar Fathan sambil terus memperkuat cengkeramannya.
Azkira hanya bisa menangis tersedu kala itu. Lalu, Fathan melepaskan cengkeraannya dengan sedikit memekik sehingga Azkira merasa semakin kesakitan. Wanita berambut lurus terurai itu memegangi kedua belah pipinya yang memerah dan mengedarkan rasa nyeri ke seluruh wajahnya.
"Tidak tahu diri!" imbuh Fathan yang belum puas melapiaskan kemarahannya.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku tidak merendahkan harga diri dan kehormatanku untuk bermesraan dengan pria yang tidak aku kenal. Aku hanya sedang menunggu ojek untuk mengantarku pulang. Semua itu bukan salahku! Pasti ada yang dengan sengaja menjebakku," raung Azkira yang akhirnya tidak tahan juga dengan diam dan mengalahnya pada Fathan.
"Diam! Jangan berani mengelak dari kenyataan. Kamu pikir aku akan percaya padamu setelah semua dampak buruk sudah dirasakan, huh?" bentak Fathan menggebu-gebu.
Azkira menggelengkan kepalanya sambil menyeka kasar pipi yang basah oleh air mata. "Sampai kapan pun aku tidak akan mengakui kesalahan yang tidak pernah aku lakukan ...," lirih Azkira.
"Apa yang kamu mau dari pernikahan ini, huh? Apa itu rumah, mobil, dan fasilitas lain yang belum kamu miliki? Cepat katakan! Aku akan memberikannya dan setelah itu pergilah dari hidupku!" cemooh Fathan.
Rasanya bagai terkena ujung tombak yang dihujamkan dengan sengaja dan berkali-kali tepat di jantungnya. Azkira tahu dan sadar sepenuhnya bahwa dia tidak sekaya Fathan. Tapi jauh dari dalam lubuk hati terdalamnya, Azkira tidak pernah terpikir untuk menjadikan pernikahannya sebagai upaya untuk memeras harta Fathan. Demi apapun, pikiran Fathan itu sudah sangat merendahkan dan menginjak-injak harga diri Azkira tanpa perasaan. Ingin rasa hati menyangkal setiap tuduhan keji yang Fathan lontarkan padanya. Namun, Azkira masih menyisakan kesabaran di dalam dirinya.
"Kenapa diam saja? Cepat katakan, Bodoh!" Sekali lagi, Fathan menjerembabkan tubuh Azkira.
"Aaaarrggghh, sakiitt!" jerit Azkira yang terdengar begitu pilu dan terasa ngilu di hati.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
Hay wanita2 saranku jgn berbuat bodoh klu udah kdrt ya lebih baik pergi diam biar kelg PD bingung baru mulai bicara yg benar JD ortu JD pendengar klu Ama suami saja gk bakalan di dengar Krn udah benalu harga diri sampai ngata2in segala laki di luar banyak mau cari model apa
2022-12-31
0
Vita Zhao
yang B*doh itu kamu fathan.
Azki kamu pergi aja deh
2022-11-06
2