Di larutnya malam yang menenggelamkan cahaya gemintang. Nyala lampu pun kian temaram seiring dengan redupnya mata yang mulai mengantuk. Namun, rasa kantuk yang datang ternyata tidak jua dapat membuat Revan tertidur. Pria pemilik senyum manis itu masih tampak gelisah sembari memegangi sebuah bingkai foto di tangannya.
"Aku menjagamu sedari kecil hingga kamu dewasa. Telah banyak orang yang aku kalahkan saat mereka ingin mengganggumu, Azki. Tapi sekarang, giliranku yang dikalahkan oleh satu hal bernama takdir. Ternyata, lamanya waktu dan banyaknya kenangan yang telah kita lalui bersama, tak kuasa menyatukan kita. Tidak ada arti apa-apa di hadapan garis tangan yang telah ditentukan. Aku sakit, Azki. Mencintaimu menjadi luka paling tidak berdarah, namun ternyata paling menyakitkan bagiku."
Revan menatapi potret wajah Azkira bersama dirinya dalam bingkai foto itu. Tidak terasa, air matanya lolos begitu saja. "Setelah ini aku tidak tahu lagi, Azki. Apakah aku masih bisa jatuh cinta pada orang lain, atau mungkin tidak? Karena semua rasa cintaku telah habis terbawa olehmu."
Tidak terasa, racauan kegundahan Revan itu menjadi pengantar tidur bagi dirinya sendiri. Dia tidur sambil memeluk fotonya bersama Azkira. Pria itu tengah merasakan patah hati paling patah yang pernah dia alami selama hidupnya.
****
Suasana pagi di rumah megah Antoni. Seperti kemarin, Azkira tetap bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk keluarga suaminya, yang hanya bertiga sudah terhitung bersama dirinya. Wanita itu tampak cekatan dengan alat maupun bahan-bahan masakannya.
"Non, biar Bi Inah bantu," ucap seorang asisten rumah tangga bernama Inah.
"Tidak apa, Bi. Bibi kerjakan saja pekerjaan yang lain. Azki hanya membuat sarapan 'kok. Kalau untuk makan siang baru Bibi yang masak," ujar Azkira sambil tersenyum ramah.
"Baik, Non. Kalau begitu, Bi Inah mau lanjut mengepel lantai dulu," cakap Bi Inah sambil membungkukkan badannya.
"Bibi, tidak perlu begitu. Azki bukan atasan Bibi, jadi bersikaplah biasa saja," kata Azkira sambil merangkul Bi Inah, layaknya seorang anak pada ibunya.
"Duuh, terima kasih, ya, Non." Mata Bi Inah berkaca-kaca.
"Sudah, sekarang Bibi lanjutkan tugasnya. Azki juga mau masak," imbuh Azkira yang tidak mau melihat ada air mata yang jatuh pagi ini.
Berkutat di dapur memang menjadi hal yang disukai Azkira. Walau tidak terlalu pandai, tapi dia memiliki minat memasak sudah sedari dulu, saat dirinya masih kecil. Dia suka menuangkan perasaannya dalam cita rasa masakan. Baginya, memasak adalah seni tertinggi untuk menyenangkan hati.
"Selamat pagi, Ayah. Duduklah, pagi ini Azki memasak nasi goreng spesial. Kuharap kalian menyukainya," tutur Azkira pada Antoni yang baru saja duduk di meja makan. Wanita itu bicara seakan lupa pada kesedihannya.
"Waaah, Ayah tidak sabar untuk segera menyantapnya," ucap Antoni sangat antusias.
"Pagi, Ayah." Tiba-tiba Fathan datang.
"Pagi, Nak. Mari sarapan bersama. Azki sudah membuatkannya untuk kita," ajak Antoni dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya.
Kali ini Fathan duduk di sana bersama Antoni. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa dia selalu saja menyiapkan sarapan sediri? Bukankah ada Bi Inah?" batin Fathan.
Azkira memeprsilakan mereka untuk menyantap sarapan paginya. Dia tidak melihat kepada Fathan karena merasa enggan. Akan tetapi, Wanita itu melihat kepada Antoni Sang Ayah Mertua, dan tidak sabar menunggu reaksinya.
"Bagaimana rasanya, Ayah? Apa itu baik?" cetus Azkira.
"Hemm! Ini nasi goreng terbaik dan terenak yang pernah Ayah makan," jawab Antoni sambil manggut-manggut dan terus mengunyah. Lelaki paruh baya itu pun makan dengan lahap.
Azkira merasa senang karena Ayah Mertuanya itu menyukai masakannya. "Selamat makan, Ayah," imbuh Azkira yang dijawab anggukkan oleh Antoni.
"Ciiihh ... berlebihan!" cicit Fathan pada mereka berdua.
Lelaki itu pun menyuapkan nasi goreng buatan Azkira ke dalam mulutnya. Lantas, tiba-tiba dia diam sejenak. "Eemmm, ternyata memang enak. Tampilan nasi goreng ini biasa saja, tapi rasanya seprti lain. Rasanya seperti hangat menyentuh hati. Lebih mirip masakan Ibu," gumam Fathan di dalam hati.
"Bagaimana Fathan? Rasanya enak sekali, bukan?" tanya Antoni sambil terus saja memperlihatkan rona bahagianya.
"Ehemm." Fathan nyaris tersedak.
"Biasa saja, Yah. Rasanya seperti nasi goreng biasa dan tidak ada yang istimewa," lontar Fathan dengan nada olokkan.
"Ahh, yang benar saja. Pasti lidahmu sedang tidak sehat," urai Antoni tidak terima.
"Ayah, ketulusan memang hanya bisa dirasakan oleh hati yang tulus juga. Seperti nasi goreng ini. Rasanya akan sampai ke hati jika seseorang memakannya dengan cinta dan rasa syukur," sindir Azkira.
"Hemm, kamu benar, Azki. Ayah setuju padamu," timpal Antoni.
Fathan diam terbungkam. Dia memicingkan mata pada Azkira dan disambut dengan senyum ejekan oleh Azkira. Di meja makan itu ada dua keadaan yang saling bertentangan yakni hangatnya cinta dan dinginnya kepalsuan.
Menit demi menit berlalu. Semua orang menghabiskan sarapannya, tak terkecuali Fathan. Hal itu membuat Azkira mengetahui bahwa sebenarnya Fathan juga sangat suka dengan masakannya. Kalau tidak, mana mungkin porsi makan yang sengaja Azkira lebihkan untuk Fathan tersebut habis.
"Fathan, Ayah akan pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mungkin bisa sampai satu atau dua bulan. Paman Manggala ingin Ayah mengawasi perkembangan bisnis kami secara langsung," terang Antoni saat mereka sudah duduk santai di ruang keluarga.
"Oke, Ayah. Good luck dengan bisnisnya," jawab Fathan sambil manggut-manggut. Pria itu mengalihkan kembali perhatiannya pada layar ponsel yang sedang dipeganginya.
"Ingat Fathan, jaga istrimu baik-baik. Ayah tidak mau mendengar ada hal buruk terjadi padanya," ucap Antoni mewanti-wanti Fathan.
"Ayah, yang anak Ayah itu Fathan, bukannya dia," sanggah Fathan sembari berdecak kesal.
"Ayah tahu, Fathan. Tapi untuk saat ini dan seterusnya, Azkira juga sama saja. Dia anak Ayah, kerena dia sudah menikah denganmu." Antoni tidak ingin dibantah lagi.
"Ya! Terserah pada Ayah saja," balas Fathan, dia merasa percuma saja berdebat dengan Ayahnya itu.
****
Sore harinya Antoni berpamitan untuk pergi ke luar kota. Tampak seorang sopir sudah menantinya untuk mengantarkan Antoni ke bandara. Tidak lupa Antoni memberi pelukan pada Anak dan Menantunya itu sebelum dia pergi. Lantas, dia pun bertolak meninggalkan rumahnya menuju bandara.
Seperginya Antoni, Fathan kembali bersikap seperti sebelumnya pada Azkira. Tatapan matanya dingin dan penuh celaan. Namun, Azkira mencoba masa bodoh dengan sikap suaminya tersebut. Dia tidak ingin terus meratap, karena hal itu justru akan melemahkan dirinya. Walaupun, jauh di dalam lubuk hati Azkira, dirinya tetaplah seorang wanita yang butuh diperlakukan dengan sikap lembut dan penuh kasih sayang.
"Jangan besar kepala hanya karena ayahku sangat sayang padamu," lontar Fathan seraya kembali masuk ke dalam rumah.
"Jangan khawatir, Pak Fathan. Karena kasih sayang hanya akan membesarkan hati, bukan kepala!" tukas Azkira yang berjalan dengan cepat mendahului langkah Fathan.
Fathan merasa geram pada Azkira yang dirasa semakin berani. "Wanita sombong," maki Fathan. Langkahnya sempat terjeda beberapa saat karena mendengar kata-kata Azkira tadi. Kemudian, dia mulai berjalan lagi dan berniat melakukan perhitungan dengan Azkira yang sudah berani mendebatnya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments