BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati

Di larutnya malam yang menenggelamkan cahaya gemintang. Nyala lampu pun kian temaram seiring dengan redupnya mata yang mulai mengantuk. Namun, rasa kantuk yang datang ternyata tidak jua dapat membuat Revan tertidur. Pria pemilik senyum manis itu masih tampak gelisah sembari memegangi sebuah bingkai foto di tangannya.

"Aku menjagamu sedari kecil hingga kamu dewasa. Telah banyak orang yang aku kalahkan saat mereka ingin mengganggumu, Azki. Tapi sekarang, giliranku yang dikalahkan oleh satu hal bernama takdir. Ternyata, lamanya waktu dan banyaknya kenangan yang telah kita lalui bersama, tak kuasa menyatukan kita. Tidak ada arti apa-apa di hadapan garis tangan yang telah ditentukan. Aku sakit, Azki. Mencintaimu menjadi luka paling tidak berdarah, namun ternyata paling menyakitkan bagiku."

Revan menatapi potret wajah Azkira bersama dirinya dalam bingkai foto itu. Tidak terasa, air matanya lolos begitu saja. "Setelah ini aku tidak tahu lagi, Azki. Apakah aku masih bisa jatuh cinta pada orang lain, atau mungkin tidak? Karena semua rasa cintaku telah habis terbawa olehmu."

Tidak terasa, racauan kegundahan Revan itu menjadi pengantar tidur bagi dirinya sendiri. Dia tidur sambil memeluk fotonya bersama Azkira. Pria itu tengah merasakan patah hati paling patah yang pernah dia alami selama hidupnya.

****

Suasana pagi di rumah megah Antoni. Seperti kemarin, Azkira tetap bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk keluarga suaminya, yang hanya bertiga sudah terhitung bersama dirinya. Wanita itu tampak cekatan dengan alat maupun bahan-bahan masakannya.

"Non, biar Bi Inah bantu," ucap seorang asisten rumah tangga bernama Inah.

"Tidak apa, Bi. Bibi kerjakan saja pekerjaan yang lain. Azki hanya membuat sarapan 'kok. Kalau untuk makan siang baru Bibi yang masak," ujar Azkira sambil tersenyum ramah.

"Baik, Non. Kalau begitu, Bi Inah mau lanjut mengepel lantai dulu," cakap Bi Inah sambil membungkukkan badannya.

"Bibi, tidak perlu begitu. Azki bukan atasan Bibi, jadi bersikaplah biasa saja," kata Azkira sambil merangkul Bi Inah, layaknya seorang anak pada ibunya.

"Duuh, terima kasih, ya, Non." Mata Bi Inah berkaca-kaca.

"Sudah, sekarang Bibi lanjutkan tugasnya. Azki juga mau masak," imbuh Azkira yang tidak mau melihat ada air mata yang jatuh pagi ini.

Berkutat di dapur memang menjadi hal yang disukai Azkira. Walau tidak terlalu pandai, tapi dia memiliki minat memasak sudah sedari dulu, saat dirinya masih kecil. Dia suka menuangkan perasaannya dalam cita rasa masakan. Baginya, memasak adalah seni tertinggi untuk menyenangkan hati.

"Selamat pagi, Ayah. Duduklah, pagi ini Azki memasak nasi goreng spesial. Kuharap kalian menyukainya," tutur Azkira pada Antoni yang baru saja duduk di meja makan. Wanita itu bicara seakan lupa pada kesedihannya.

"Waaah, Ayah tidak sabar untuk segera menyantapnya," ucap Antoni sangat antusias.

"Pagi, Ayah." Tiba-tiba Fathan datang.

"Pagi, Nak. Mari sarapan bersama. Azki sudah membuatkannya untuk kita," ajak Antoni dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya.

Kali ini Fathan duduk di sana bersama Antoni. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa dia selalu saja menyiapkan sarapan sediri? Bukankah ada Bi Inah?" batin Fathan.

Azkira memeprsilakan mereka untuk menyantap sarapan paginya. Dia tidak melihat kepada Fathan karena merasa enggan. Akan tetapi, Wanita itu melihat kepada Antoni Sang Ayah Mertua, dan tidak sabar menunggu reaksinya.

"Bagaimana rasanya, Ayah? Apa itu baik?" cetus Azkira.

"Hemm! Ini nasi goreng terbaik dan terenak yang pernah Ayah makan," jawab Antoni sambil manggut-manggut dan terus mengunyah. Lelaki paruh baya itu pun makan dengan lahap.

Azkira merasa senang karena Ayah Mertuanya itu menyukai masakannya. "Selamat makan, Ayah," imbuh Azkira yang dijawab anggukkan oleh Antoni.

"Ciiihh ... berlebihan!" cicit Fathan pada mereka berdua.

Lelaki itu pun menyuapkan nasi goreng buatan Azkira ke dalam mulutnya. Lantas, tiba-tiba dia diam sejenak. "Eemmm, ternyata memang enak. Tampilan nasi goreng ini biasa saja, tapi rasanya seprti lain. Rasanya seperti hangat menyentuh hati. Lebih mirip masakan Ibu," gumam Fathan di dalam hati.

"Bagaimana Fathan? Rasanya enak sekali, bukan?" tanya Antoni sambil terus saja memperlihatkan rona bahagianya.

"Ehemm." Fathan nyaris tersedak.

"Biasa saja, Yah. Rasanya seperti nasi goreng biasa dan tidak ada yang istimewa," lontar Fathan dengan nada olokkan.

"Ahh, yang benar saja. Pasti lidahmu sedang tidak sehat," urai Antoni tidak terima.

"Ayah, ketulusan memang hanya bisa dirasakan oleh hati yang tulus juga. Seperti nasi goreng ini. Rasanya akan sampai ke hati jika seseorang memakannya dengan cinta dan rasa syukur," sindir Azkira.

"Hemm, kamu benar, Azki. Ayah setuju padamu," timpal Antoni.

Fathan diam terbungkam. Dia memicingkan mata pada Azkira dan disambut dengan senyum ejekan oleh Azkira. Di meja makan itu ada dua keadaan yang saling bertentangan yakni hangatnya cinta dan dinginnya kepalsuan.

Menit demi menit berlalu. Semua orang menghabiskan sarapannya, tak terkecuali Fathan. Hal itu membuat Azkira mengetahui bahwa sebenarnya Fathan juga sangat suka dengan masakannya. Kalau tidak, mana mungkin porsi makan yang sengaja Azkira lebihkan untuk Fathan tersebut habis.

"Fathan, Ayah akan pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mungkin bisa sampai satu atau dua bulan. Paman Manggala ingin Ayah mengawasi perkembangan bisnis kami secara langsung," terang Antoni saat mereka sudah duduk santai di ruang keluarga.

"Oke, Ayah. Good luck dengan bisnisnya," jawab Fathan sambil manggut-manggut. Pria itu mengalihkan kembali perhatiannya pada layar ponsel yang sedang dipeganginya.

"Ingat Fathan, jaga istrimu baik-baik. Ayah tidak mau mendengar ada hal buruk terjadi padanya," ucap Antoni mewanti-wanti Fathan.

"Ayah, yang anak Ayah itu Fathan, bukannya dia," sanggah Fathan sembari berdecak kesal.

"Ayah tahu, Fathan. Tapi untuk saat ini dan seterusnya, Azkira juga sama saja. Dia anak Ayah, kerena dia sudah menikah denganmu." Antoni tidak ingin dibantah lagi.

"Ya! Terserah pada Ayah saja," balas Fathan, dia merasa percuma saja berdebat dengan Ayahnya itu.

****

Sore harinya Antoni berpamitan untuk pergi ke luar kota. Tampak seorang sopir sudah menantinya untuk mengantarkan Antoni ke bandara. Tidak lupa Antoni memberi pelukan pada Anak dan Menantunya itu sebelum dia pergi. Lantas, dia pun bertolak meninggalkan rumahnya menuju bandara.

Seperginya Antoni, Fathan kembali bersikap seperti sebelumnya pada Azkira. Tatapan matanya dingin dan penuh celaan. Namun, Azkira mencoba masa bodoh dengan sikap suaminya tersebut. Dia tidak ingin terus meratap, karena hal itu justru akan melemahkan dirinya. Walaupun, jauh di dalam lubuk hati Azkira, dirinya tetaplah seorang wanita yang butuh diperlakukan dengan sikap lembut dan penuh kasih sayang.

"Jangan besar kepala hanya karena ayahku sangat sayang padamu," lontar Fathan seraya kembali masuk ke dalam rumah.

"Jangan khawatir, Pak Fathan. Karena kasih sayang hanya akan membesarkan hati, bukan kepala!" tukas Azkira yang berjalan dengan cepat mendahului langkah Fathan.

Fathan merasa geram pada Azkira yang dirasa semakin berani. "Wanita sombong," maki Fathan. Langkahnya sempat terjeda beberapa saat karena mendengar kata-kata Azkira tadi. Kemudian, dia mulai berjalan lagi dan berniat melakukan perhitungan dengan Azkira yang sudah berani mendebatnya.

Bersambung ....

Episodes
1 BAB 1 PROLOG
2 BAB 2 Terjaga Sepanjang Malam
3 BAB 3 Merasa Penuh Dusta
4 BAB 4 Surat Pengunduran Diri Azkira
5 BAB 5 Perjodohan Yang Tidak Diharapkan
6 BAB 6 Pernikahan
7 BAB 7 Pengabaian
8 BAB 8 Bukan Salahku
9 BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai
10 BAB 10 Kesakitan
11 BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati
12 BAB 12 Dasar Munafik!
13 BAB 13 Kemalangan Yang Sempurna
14 BAB 14 Rasanya Berbeda
15 BAB 15 Lepaskan Aku!
16 BAB 16 Cukup!
17 BAB 17 Aku Tidak Tahu
18 BAB 18 Luka Yang Disengaja
19 BAB 19 Segurat Sesal
20 BAB 20 Hari Ulang Tahun
21 BAB 21 Hanya Milikku
22 BAB 22 Datar Dan Dingin
23 BAN 23 Api Kebencian
24 BAB 24 Cemas
25 BAB 25 Di Antara Dua Dilema
26 BAB 26 Butuh Waktu Sendiri
27 BAB 27 Tak Pernah Berubah
28 BAB 28 Pulang
29 BAB 29 Riuh Tangis
30 BAB 30 Surga Paling Sempurna
31 BAB 31 Tercengang
32 BAB 32 Sebuah Fakta
33 BAB 33 Milikilah Aku
34 BAB 34 Mengubur Harapan
35 BAB 35 Firasat
36 BAB 36 Cemburu
37 BAB 37 Mengalah
38 BAB 38 Bingkisan Terakhir
39 BAB 39 Foto
40 BAB 40 Rindu
41 BAB 41 Di Bawah Langit Yang Sama
42 42 Rahasia Di Balik Semua Yang Terjadi
43 BAB 43 Sebuah Titik Terang
44 BAB 44 Pulang
45 BAB 45 Aku Kakak Kandungnya
46 BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!
47 BAB 47 Maaf
48 BAB 48 Calon Istri
49 BAB 49 Berkabung
50 BAB 50 Curiga
51 BAB 51 Ada Apa?
52 BAB 52 Rencana Bulan Madu
53 BAB 53 Pulau
54 BAB 54 Api Dendam
55 BAB 55 Konsekuensi
56 BAB 56 Duka
57 BAB 57 Tamu Bawel
58 BAB 58 Kejutan
59 BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi
60 BAB 60 Sebuah Gelang
61 BAB 61 Akhir Yang Bahagia (TAMAT)
62 EPILOG DAN PROMO KARYA BARU
Episodes

Updated 62 Episodes

1
BAB 1 PROLOG
2
BAB 2 Terjaga Sepanjang Malam
3
BAB 3 Merasa Penuh Dusta
4
BAB 4 Surat Pengunduran Diri Azkira
5
BAB 5 Perjodohan Yang Tidak Diharapkan
6
BAB 6 Pernikahan
7
BAB 7 Pengabaian
8
BAB 8 Bukan Salahku
9
BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai
10
BAB 10 Kesakitan
11
BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati
12
BAB 12 Dasar Munafik!
13
BAB 13 Kemalangan Yang Sempurna
14
BAB 14 Rasanya Berbeda
15
BAB 15 Lepaskan Aku!
16
BAB 16 Cukup!
17
BAB 17 Aku Tidak Tahu
18
BAB 18 Luka Yang Disengaja
19
BAB 19 Segurat Sesal
20
BAB 20 Hari Ulang Tahun
21
BAB 21 Hanya Milikku
22
BAB 22 Datar Dan Dingin
23
BAN 23 Api Kebencian
24
BAB 24 Cemas
25
BAB 25 Di Antara Dua Dilema
26
BAB 26 Butuh Waktu Sendiri
27
BAB 27 Tak Pernah Berubah
28
BAB 28 Pulang
29
BAB 29 Riuh Tangis
30
BAB 30 Surga Paling Sempurna
31
BAB 31 Tercengang
32
BAB 32 Sebuah Fakta
33
BAB 33 Milikilah Aku
34
BAB 34 Mengubur Harapan
35
BAB 35 Firasat
36
BAB 36 Cemburu
37
BAB 37 Mengalah
38
BAB 38 Bingkisan Terakhir
39
BAB 39 Foto
40
BAB 40 Rindu
41
BAB 41 Di Bawah Langit Yang Sama
42
42 Rahasia Di Balik Semua Yang Terjadi
43
BAB 43 Sebuah Titik Terang
44
BAB 44 Pulang
45
BAB 45 Aku Kakak Kandungnya
46
BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!
47
BAB 47 Maaf
48
BAB 48 Calon Istri
49
BAB 49 Berkabung
50
BAB 50 Curiga
51
BAB 51 Ada Apa?
52
BAB 52 Rencana Bulan Madu
53
BAB 53 Pulau
54
BAB 54 Api Dendam
55
BAB 55 Konsekuensi
56
BAB 56 Duka
57
BAB 57 Tamu Bawel
58
BAB 58 Kejutan
59
BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi
60
BAB 60 Sebuah Gelang
61
BAB 61 Akhir Yang Bahagia (TAMAT)
62
EPILOG DAN PROMO KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!