BAB 10 Kesakitan

Di rintihnya kesakitan, di perihnya luka, dan di terhinanya perasaan. Azkira seakan mati. Dunianya sudah berakhir kala itu. Bukan lantaran Fathan telah merenggut kegadisannya saja, melainkan kata-kata Fathan yang terus menderanya dengan cela dan cemoohan.

Azkira lemas bagai tak bertulang. Rasa nyeri di bagian inti tubuhnya begitu merajam. Akan tetapi, ada bagian yang lebih sakit dari pada itu. Adalah hati dan perasaan Azkira, yang bagai koyak dirobek oleh perangai buruk Fathan terhadapnya.

Fathan bangkit dari kungkungannya pada tubuh Azkira. Usai sebuah pelepasan yang dia hentakkan dengan ganasnya. Lantas, Pria itu tergelepak lunglai di sisi Azkira.

'Bukan ini yang aku mau, Tuhan. Sungguh, Engkau pun pasti tahu bukan ini yang aku mau.'

Dalam ketidakberdayaannya, Azkira menjerit dalam hatinya. Andai suara jeritan itu dikeluarkan, pastilah mampu mengguncangkan ruangan kamar itu saking kerasnya. Tahukah kalian bagaimana perasaan Azkira kala itu? Rasanya, tertusuk duri atau tergores pisau mungkin lebih baik dari pada menerima kenyataan yang dialaminya tersebut.

"Katakan berapa pun uang yang kamu inginkan. Aku akan memberikannya," ucap Fathan dengan deru napas yang masih sedikit tersengal.

Sontak saja, kata-kata Fathan membuat luka Azkira bagai disiram dengan air garam. Perih menjalar hingga ke sanubarinya. Namun, keadaannya yang sangat lemah membuat Azkira hanya bisa mengatupkan bibir, memejamkan mata, dan meneteskan bulir bening dari sudut-sudut netranya.

Fathan meringsut ke bibir ranjang dan bergegas mandi. Dia sama sekali tidak menghiraukan Azkira, bahkan untuk sekedar merasa iba. Entah terbuat dari apa hati Fathan itu.

Fathan mengalirkan air ke seluruh tubuhnya. "Jadi, ini pertama kalinya juga?" gumam Fathan dengan seringai puas.

"Baguslah, setidaknya aku tidak terlalu rugi memberikan keperjakaanku pada Wanita menyebalkan itu. Tapi, apa dia merasa kesakitan saat miliknya aku dobrak hingga megeluarkan darah? Ahh, masa bodoh! Apa perduliku. Dia juga menikmatinya, bukan?" imbuh Fathan lagi.

Pria itu terus saja bergumam sambil memutar ulang ingatannya saat melakukan serangan ganasnya pada Azkira tadi. Usai menyelesaikan mandinya, dia pun keluar dengan santainya. Lalu, dengan tubuh yang masih terlilit handuk di bagian bawahnya, Fathan mengambil sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang dari laci nakas.

Dia kemudian berjalan menghampiri Azkira yang masih terbaring dengan isak pilunya. Lantas, melemparkan amplop berisi uang itu pada Azkira. Azkira tampak memejamkankan mata sambil meremmas ujung seprai. Sampai hati Fathan menyiksa lahir dan bathin Azkira dengan bertubi-tubi perilaku kasar dan sikap yang merendahkan.

Fathan mengenakan pakaiannya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Azkira dengan sejuta luka yang dia torehkan. Sementara, Wanita malang itu sedang berusaha bangkit dengan tubuh yang gontai. Dia meratapi kesakitannya di bawah guyuran air di dalam kamar mandi.

****

Malam harinya, sekitar pukul 07.00 WIB. Antoni datang, sepertinya dia pulang agak telambat dari biasanya hari itu. Azkira menyapa Ayah Mertuanya tersebut dengan keramahan. Dia juga menyiapkan secangkir teh hangat. Sebelum ini, Antoni memang terbilang sering mengunjungi rumah Sinta saat Azkira masih tinggal dengan Neneknya itu. Jadi Azkira tahu takaran teh yang disukai Antoni, karena dia sudah sering membuatkannya.

"Azki sayang, kemana suamimu? Apa dia belum pulang sejak tadi pagi? tanya Antoni sembari menyesap tehnya.

Azkira menunduk dalam-dalam. Sungguh, dia tidak ingin mendengar nama itu disebut. Karena mengingatnya, sama halnya dengan mengingat luka yang menyakitkan.

"Tadi sempat pulang, Yah." Azkira menjawabnya dengan singkat.

"Baiklah, Ayah berharap kalian bisa saling akrab untuk semakin mengenal satu sama lain. Ayah yakin bahwa kamu adalah yang terbaik untuk Putra Ayah, Nak," tutur Antoni, yang tidak tahu betapa jahatnya Fathan pada Azkira.

"Ya! Mungkin saja aku memang yang terbaik bagi dia, tapi tidak dengan dirinya bagiku," batin Azkira dibarengi dengan ulasan senyum keterpaksaan.

Setelah sedikit berbincang-bincang, Azkira pamit kepada Antoni untuk masuk ke kamar. Sedangkan Antoni, masih ingin menghabiskan teh buatan Azkira. Suasana di luar masih sangat dingin setelah hujan yang mengguyur hampir seharian kala itu.

"Apa dia pikir semua hal dapat dibeli dengan uang? Dia mengira kehormatanku bisa dia bayar dengan uang dan hartanya? Ciiihh! Aku akan lihat, seberapa bisa uangnya mampu memberikan apa yang dia inginkan!" gerutu Azkira sambil menaruh kembali amplop berisi uang itu ke laci nakas.

Selepas itu Azkira mengambil satu bantal dan sebuah selimut, lalu dia tidur di sofa. Ya, malam ini dia akan tidur di sofa dan membiarkan Fathan menikmati tempat tidurnya. Sambil menatap ke atas langit-langi kamar, Azkira merenungi setiap kesakitan dan berusaha untuk mengumpulknnya sebagai sesuatu yang akan membuatnya lebih kuat lagi.

Beberapa jam kemudian. Suara handle pintu kamar yang dibuka terdengar. Dengan perlahan Fathan masuk ke dalam kamar sambil sedikit memelankan langkah kakinya.

"Kemana dia?" ujar Fathan sambil berdiri. Dia mengedarkan pandangannya ke seisi kamar saat itu.

Langkah kaki Fathan semakin maju, dan tampaklah Azkira yang sudah tidur dengan lelap di atas sofa. "Kenapa dia tidur di sofa? Apa dia sedang mengharap perhatianku?" cibir Fathan sembari mengulum senyuman sinis.

Pemilik dada bidang dengan sedikit bulu tipis itu pun duduk di bibir ranjang. Lalu, dia tersentak saat melihat seprai yang masih terdapat bercak darah yang sudah mengering. "Shiiiit! Apa dia tidak bisa mengganti seprainya?" cicit Fathan.

Dia menyentuh bekas darah itu, dan menoleh ke arah Azkira. "Apa tadi dia kesakitan?" gumam Fathan lagi.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Sulis Tiyono

Sulis Tiyono

maaf q bilang goblok uang ambil buat kontrak rumah jgn sampai ketahuan tinggalnya klu mendingan cari usaha buat pelajaran tu laki2 nnt akan menyesal

2022-12-31

1

Sulati Cus

Sulati Cus

ambillah buat modal kabur

2022-11-23

1

Sulati Cus

Sulati Cus

dasar edan dikira kegadisan di per jualbelikan?

2022-11-23

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 PROLOG
2 BAB 2 Terjaga Sepanjang Malam
3 BAB 3 Merasa Penuh Dusta
4 BAB 4 Surat Pengunduran Diri Azkira
5 BAB 5 Perjodohan Yang Tidak Diharapkan
6 BAB 6 Pernikahan
7 BAB 7 Pengabaian
8 BAB 8 Bukan Salahku
9 BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai
10 BAB 10 Kesakitan
11 BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati
12 BAB 12 Dasar Munafik!
13 BAB 13 Kemalangan Yang Sempurna
14 BAB 14 Rasanya Berbeda
15 BAB 15 Lepaskan Aku!
16 BAB 16 Cukup!
17 BAB 17 Aku Tidak Tahu
18 BAB 18 Luka Yang Disengaja
19 BAB 19 Segurat Sesal
20 BAB 20 Hari Ulang Tahun
21 BAB 21 Hanya Milikku
22 BAB 22 Datar Dan Dingin
23 BAN 23 Api Kebencian
24 BAB 24 Cemas
25 BAB 25 Di Antara Dua Dilema
26 BAB 26 Butuh Waktu Sendiri
27 BAB 27 Tak Pernah Berubah
28 BAB 28 Pulang
29 BAB 29 Riuh Tangis
30 BAB 30 Surga Paling Sempurna
31 BAB 31 Tercengang
32 BAB 32 Sebuah Fakta
33 BAB 33 Milikilah Aku
34 BAB 34 Mengubur Harapan
35 BAB 35 Firasat
36 BAB 36 Cemburu
37 BAB 37 Mengalah
38 BAB 38 Bingkisan Terakhir
39 BAB 39 Foto
40 BAB 40 Rindu
41 BAB 41 Di Bawah Langit Yang Sama
42 42 Rahasia Di Balik Semua Yang Terjadi
43 BAB 43 Sebuah Titik Terang
44 BAB 44 Pulang
45 BAB 45 Aku Kakak Kandungnya
46 BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!
47 BAB 47 Maaf
48 BAB 48 Calon Istri
49 BAB 49 Berkabung
50 BAB 50 Curiga
51 BAB 51 Ada Apa?
52 BAB 52 Rencana Bulan Madu
53 BAB 53 Pulau
54 BAB 54 Api Dendam
55 BAB 55 Konsekuensi
56 BAB 56 Duka
57 BAB 57 Tamu Bawel
58 BAB 58 Kejutan
59 BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi
60 BAB 60 Sebuah Gelang
61 BAB 61 Akhir Yang Bahagia (TAMAT)
62 EPILOG DAN PROMO KARYA BARU
Episodes

Updated 62 Episodes

1
BAB 1 PROLOG
2
BAB 2 Terjaga Sepanjang Malam
3
BAB 3 Merasa Penuh Dusta
4
BAB 4 Surat Pengunduran Diri Azkira
5
BAB 5 Perjodohan Yang Tidak Diharapkan
6
BAB 6 Pernikahan
7
BAB 7 Pengabaian
8
BAB 8 Bukan Salahku
9
BAB 9 Saat-Saat Paling Melukai
10
BAB 10 Kesakitan
11
BAB 11 Kaih Sayang Hanya Membesarkan Hati
12
BAB 12 Dasar Munafik!
13
BAB 13 Kemalangan Yang Sempurna
14
BAB 14 Rasanya Berbeda
15
BAB 15 Lepaskan Aku!
16
BAB 16 Cukup!
17
BAB 17 Aku Tidak Tahu
18
BAB 18 Luka Yang Disengaja
19
BAB 19 Segurat Sesal
20
BAB 20 Hari Ulang Tahun
21
BAB 21 Hanya Milikku
22
BAB 22 Datar Dan Dingin
23
BAN 23 Api Kebencian
24
BAB 24 Cemas
25
BAB 25 Di Antara Dua Dilema
26
BAB 26 Butuh Waktu Sendiri
27
BAB 27 Tak Pernah Berubah
28
BAB 28 Pulang
29
BAB 29 Riuh Tangis
30
BAB 30 Surga Paling Sempurna
31
BAB 31 Tercengang
32
BAB 32 Sebuah Fakta
33
BAB 33 Milikilah Aku
34
BAB 34 Mengubur Harapan
35
BAB 35 Firasat
36
BAB 36 Cemburu
37
BAB 37 Mengalah
38
BAB 38 Bingkisan Terakhir
39
BAB 39 Foto
40
BAB 40 Rindu
41
BAB 41 Di Bawah Langit Yang Sama
42
42 Rahasia Di Balik Semua Yang Terjadi
43
BAB 43 Sebuah Titik Terang
44
BAB 44 Pulang
45
BAB 45 Aku Kakak Kandungnya
46
BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!
47
BAB 47 Maaf
48
BAB 48 Calon Istri
49
BAB 49 Berkabung
50
BAB 50 Curiga
51
BAB 51 Ada Apa?
52
BAB 52 Rencana Bulan Madu
53
BAB 53 Pulau
54
BAB 54 Api Dendam
55
BAB 55 Konsekuensi
56
BAB 56 Duka
57
BAB 57 Tamu Bawel
58
BAB 58 Kejutan
59
BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi
60
BAB 60 Sebuah Gelang
61
BAB 61 Akhir Yang Bahagia (TAMAT)
62
EPILOG DAN PROMO KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!