Di rintihnya kesakitan, di perihnya luka, dan di terhinanya perasaan. Azkira seakan mati. Dunianya sudah berakhir kala itu. Bukan lantaran Fathan telah merenggut kegadisannya saja, melainkan kata-kata Fathan yang terus menderanya dengan cela dan cemoohan.
Azkira lemas bagai tak bertulang. Rasa nyeri di bagian inti tubuhnya begitu merajam. Akan tetapi, ada bagian yang lebih sakit dari pada itu. Adalah hati dan perasaan Azkira, yang bagai koyak dirobek oleh perangai buruk Fathan terhadapnya.
Fathan bangkit dari kungkungannya pada tubuh Azkira. Usai sebuah pelepasan yang dia hentakkan dengan ganasnya. Lantas, Pria itu tergelepak lunglai di sisi Azkira.
'Bukan ini yang aku mau, Tuhan. Sungguh, Engkau pun pasti tahu bukan ini yang aku mau.'
Dalam ketidakberdayaannya, Azkira menjerit dalam hatinya. Andai suara jeritan itu dikeluarkan, pastilah mampu mengguncangkan ruangan kamar itu saking kerasnya. Tahukah kalian bagaimana perasaan Azkira kala itu? Rasanya, tertusuk duri atau tergores pisau mungkin lebih baik dari pada menerima kenyataan yang dialaminya tersebut.
"Katakan berapa pun uang yang kamu inginkan. Aku akan memberikannya," ucap Fathan dengan deru napas yang masih sedikit tersengal.
Sontak saja, kata-kata Fathan membuat luka Azkira bagai disiram dengan air garam. Perih menjalar hingga ke sanubarinya. Namun, keadaannya yang sangat lemah membuat Azkira hanya bisa mengatupkan bibir, memejamkan mata, dan meneteskan bulir bening dari sudut-sudut netranya.
Fathan meringsut ke bibir ranjang dan bergegas mandi. Dia sama sekali tidak menghiraukan Azkira, bahkan untuk sekedar merasa iba. Entah terbuat dari apa hati Fathan itu.
Fathan mengalirkan air ke seluruh tubuhnya. "Jadi, ini pertama kalinya juga?" gumam Fathan dengan seringai puas.
"Baguslah, setidaknya aku tidak terlalu rugi memberikan keperjakaanku pada Wanita menyebalkan itu. Tapi, apa dia merasa kesakitan saat miliknya aku dobrak hingga megeluarkan darah? Ahh, masa bodoh! Apa perduliku. Dia juga menikmatinya, bukan?" imbuh Fathan lagi.
Pria itu terus saja bergumam sambil memutar ulang ingatannya saat melakukan serangan ganasnya pada Azkira tadi. Usai menyelesaikan mandinya, dia pun keluar dengan santainya. Lalu, dengan tubuh yang masih terlilit handuk di bagian bawahnya, Fathan mengambil sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang dari laci nakas.
Dia kemudian berjalan menghampiri Azkira yang masih terbaring dengan isak pilunya. Lantas, melemparkan amplop berisi uang itu pada Azkira. Azkira tampak memejamkankan mata sambil meremmas ujung seprai. Sampai hati Fathan menyiksa lahir dan bathin Azkira dengan bertubi-tubi perilaku kasar dan sikap yang merendahkan.
Fathan mengenakan pakaiannya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Azkira dengan sejuta luka yang dia torehkan. Sementara, Wanita malang itu sedang berusaha bangkit dengan tubuh yang gontai. Dia meratapi kesakitannya di bawah guyuran air di dalam kamar mandi.
****
Malam harinya, sekitar pukul 07.00 WIB. Antoni datang, sepertinya dia pulang agak telambat dari biasanya hari itu. Azkira menyapa Ayah Mertuanya tersebut dengan keramahan. Dia juga menyiapkan secangkir teh hangat. Sebelum ini, Antoni memang terbilang sering mengunjungi rumah Sinta saat Azkira masih tinggal dengan Neneknya itu. Jadi Azkira tahu takaran teh yang disukai Antoni, karena dia sudah sering membuatkannya.
"Azki sayang, kemana suamimu? Apa dia belum pulang sejak tadi pagi? tanya Antoni sembari menyesap tehnya.
Azkira menunduk dalam-dalam. Sungguh, dia tidak ingin mendengar nama itu disebut. Karena mengingatnya, sama halnya dengan mengingat luka yang menyakitkan.
"Tadi sempat pulang, Yah." Azkira menjawabnya dengan singkat.
"Baiklah, Ayah berharap kalian bisa saling akrab untuk semakin mengenal satu sama lain. Ayah yakin bahwa kamu adalah yang terbaik untuk Putra Ayah, Nak," tutur Antoni, yang tidak tahu betapa jahatnya Fathan pada Azkira.
"Ya! Mungkin saja aku memang yang terbaik bagi dia, tapi tidak dengan dirinya bagiku," batin Azkira dibarengi dengan ulasan senyum keterpaksaan.
Setelah sedikit berbincang-bincang, Azkira pamit kepada Antoni untuk masuk ke kamar. Sedangkan Antoni, masih ingin menghabiskan teh buatan Azkira. Suasana di luar masih sangat dingin setelah hujan yang mengguyur hampir seharian kala itu.
"Apa dia pikir semua hal dapat dibeli dengan uang? Dia mengira kehormatanku bisa dia bayar dengan uang dan hartanya? Ciiihh! Aku akan lihat, seberapa bisa uangnya mampu memberikan apa yang dia inginkan!" gerutu Azkira sambil menaruh kembali amplop berisi uang itu ke laci nakas.
Selepas itu Azkira mengambil satu bantal dan sebuah selimut, lalu dia tidur di sofa. Ya, malam ini dia akan tidur di sofa dan membiarkan Fathan menikmati tempat tidurnya. Sambil menatap ke atas langit-langi kamar, Azkira merenungi setiap kesakitan dan berusaha untuk mengumpulknnya sebagai sesuatu yang akan membuatnya lebih kuat lagi.
Beberapa jam kemudian. Suara handle pintu kamar yang dibuka terdengar. Dengan perlahan Fathan masuk ke dalam kamar sambil sedikit memelankan langkah kakinya.
"Kemana dia?" ujar Fathan sambil berdiri. Dia mengedarkan pandangannya ke seisi kamar saat itu.
Langkah kaki Fathan semakin maju, dan tampaklah Azkira yang sudah tidur dengan lelap di atas sofa. "Kenapa dia tidur di sofa? Apa dia sedang mengharap perhatianku?" cibir Fathan sembari mengulum senyuman sinis.
Pemilik dada bidang dengan sedikit bulu tipis itu pun duduk di bibir ranjang. Lalu, dia tersentak saat melihat seprai yang masih terdapat bercak darah yang sudah mengering. "Shiiiit! Apa dia tidak bisa mengganti seprainya?" cicit Fathan.
Dia menyentuh bekas darah itu, dan menoleh ke arah Azkira. "Apa tadi dia kesakitan?" gumam Fathan lagi.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
maaf q bilang goblok uang ambil buat kontrak rumah jgn sampai ketahuan tinggalnya klu mendingan cari usaha buat pelajaran tu laki2 nnt akan menyesal
2022-12-31
1
Sulati Cus
ambillah buat modal kabur
2022-11-23
1
Sulati Cus
dasar edan dikira kegadisan di per jualbelikan?
2022-11-23
1