"Jangan, Pak! Saya mohon ... jangan lakukan ini," raung Azkira sambil terus memberikan perlawanan.
Melihat Azkira yang terus menangis dan juga tak berhenti memohon, Fathan menghentikan aksi bejadnya itu. Dia membuat jarak dengan Azkira, lalu memberikan kembali pakaian Azkira yang terlanjur dia tanggalkan dengan paksa. Entah karena iba atau ada maksud lain, tapi waktu itu Fathan benar-benar berhenti menyentuh Azkira.
Pria itu berjalan menjauh beberapa langkah dari ranjang, sembari meremmat rambutnya frustasi. "Dasar Gadis sialan! Kamu membuatku marah di waktu yang salah," hardiknya dengan emosi yang sudah tersulut.
Azkira masih menangis sampai tak ada lagi suara. Hanya hujan air mata yang terus terurai bersamaan dengan rintik gerimis yang mengundang di luar sana. Selain musim penghujan, saat itu semesta seakan tahu bahwa ada seorang gadis yang sedang tercabik-cabik hatinya. Meski akhirnya mahkota kegadisannya tetap utuh, namun harga dirinya terlanjur terluka dan hancur lebur berkeping-keping.
"Tolong biarkan saya pulang, Pak. Saya takut nenek saya mencemaskan saya di rumah," lirih Azkira dengan keadaannya yang sudah sangat kusut.
Fathan meyoroti Azkira dengan pandangan yang mulai meredup. Mungkin pria itu akhirnya sadar, bahwa perbuatannya adalah sebuah kesalahan besar. Dia kembali duduk di tepi ranjang dengan perlahan.
Mendapati Fathan yang hanya diam tak menjawab, Azkira mengulangi kata-katanya. "Pak, tolong biarkan saya pulang. Nenek saya pasti sangat mengkhawatirkan saya," kata Azkira lagi.
"Tidurlah dulu di sini! Di luar hujan dan ini sudah sangat larut. Saya akan mengantar kamu pulang besok pagi," titah Fathan dengan suara beratnya yang khas.
"Tapi, Pak-"
"Jangan membantah! Jangan pancing kemarahan saya lagi, atau kamu akan menanggung akibatnya," ancam Fathan menyela kata-kata Azkira.
Azkira langsung meringkuh memeluk lututnya. Keberaniannya kembali diruntuhkan oleh kata-kata bernada ancaman yang keluar dari mulut Fathan. Wajahnya ditundukkan dalam-dalam dengan tubuh yang gemetar didera ketakutan.
"Shiiitt! Apa aku semenakutkan itu baginya?" umpat Fathan sambil menatapi Gadis malang tersebut.
"Tidurlah dengan benar!" tandas Fathan yang melihat Azkira tak juga merebah. Dia menarik lengan Azkira, dan membuat gadis itu kembali berteriak.
"Jangan! Jangan sentuh saya, Pak," jeritnya dengan gigil ketakutan. Perasaannya benar-benar kacau dan tidak karuan.
"Kalau begitu tidurlah dengan benar!" ulang Fathan memberi perintah.
Azkira terpaksa menuruti Fathan. Dia tidak mau mengambil resiko dengan mebuat Pria itu marah lagi. Sebab, ada simbol kehormatan yang harus tetap dia jaga dengan baik. Azkira pun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu dengan perasaan was-was.
Fathan bergerak mematikan lampu kamar. Kemudian, dia mengambil satu bantal dan tidur di sebuah single sofa yang ada di kamar penginapan itu. "Apa yang sudah aku lakukan ini?" gumamnya sambil memijat-mijat keningnya sendiri.
"Mimpi buruk apa yang sedang aku alami ini? Kenapa aku harus menerima sesuatu yang tidak pernah aku harapkan? Apa hidup ini begitu tidak memihak untuk membiarkan aku tenang?" jerit Azkira dalam hati yang berkabut duka. Malam itu dia tidak dapat tidur dengan nyenyak meski tempat itu begitu nyaman.
****
Keesokan hari pagi-pagi sekali. Azkira yang belum tidur sepanjang malam pun sudah duduk dengan posisi memeluk dirinya sendiri. Kantung matanya tampak sembab, bagian putih matanya sedikit memerah akibat terlalu banyak menangis. Kepalanya pun terasa sangat berat dan sakit.
Fathan yang tertidur di sofa kala itu menggeliat dan bangun. Dia melihat ke arah Azkira, lalu melihat pada arloji yang ada di pergelangan tangan sebelah kirinya. "Masih jam setengan enam pagi. Apa dia terus terjaga sepanjang malam?" batin Fathan bertanya-tanya.
Dia bangkit dari sofa itu, lalu bergegas membuka pintu kamar. "Ayo, saya antar kamu pulang." lontar Fathan.
Keduanya pun bertolak dari penginapan itu menuju ke rumah Azkira, tepatnya rumah neneknya. Karena Azkira selama ini memang tinggal bersama Sang Nenek. Sementara, kedua orang tuanya telah lama meninggal dalam sebuah tragedi kecelakaan, sejak dirinya duduk di bangku SD.
"Kemana arah rumahmu?" tanya Fathan dengan nada datar. Kala itu mereka sudah menempuh sekitar 30 menit perjalanan.
"Kanan lurus saja, Pak. Nanti ada gang masuk. Rumah saya ada di sebelah kanan jalan dengan cat berwarna putih," jawab Azkira yang tampak sangat lemas.
Sekilas semua itu tampak tidak masuk akal. Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi?Seorang owner sebuah restoran bermalam dengan waitressnya dalam satu kamar. Dan atas sebuah paksaan juga masalah yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi sekali lagi begitulah seorang Fathan. Dia tidak pernah berpikir ulang saat mengambil sebuah tindakan sekali pun itu sangat merugikan orang lain.
Sesampainya di depan rumah Nenek Azkira. Keadaan menjadi sangat gelap dan kepalanya terasa sangat berat. Lalu, semuanya tidak bisa dikendalikan lagi. Azkira hilang kesadaran dan pingsan.
"Hey! Bangun ... kenapa kamu pingsan di dalam mobil saya?" ucap Pria itu tanpa rasa bersalah.
"Aaarrrhhh, Gadis pembawa siaaal!" maki Fathan. Lantas, dia bergegas membawa Azkira ke rumah Neneknya yang sempat dia beritahukan sesaat sebelum kesadarannya hilang.
"Permisi ...," ujar Fathan sambil membopong tubuh Azkira yang tak berdaya itu.
"Ya ampun, Azki! Apa yang terjadi pada Cucuku?" sentak seorang wanita tua yang tidak lain adalah Sinta, neneknya Azkira.
"Dia pingsan, Nek," jawab Pria itu yang seolah tidak berdosa atas semua yang terjadi pada Azkira.
"Cepat bawa dia masuk!" titah Sinta sembari panik bukan kepalang.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
gulla li
Syukurlah gak diapa-apqin
2022-12-29
1
Vita Zhao
Menegangkan Mak😘😘
2022-11-01
1