Saat Fathan sedang sibuk bicara di telepon, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Azkira untuk melarikan diri. Namun, ternyata keberuntungan tidak sejalan dengannya. Kerena mata Fathan tetap jeli, dan dia mampu menangkap Azkira saat sudah di ambang pintu hendak keluar.
Azkira memekik. "Lepaskan aku! Tolong aku ... yang di ujung telepon sana, toloooong. Aku sedang disandera!" teriak Azkira dengan senagaja.
[Jangan pecaya, Dion. Istriku memang suka mengada-ada.] Fathan bicara dengan santainya, pada penelepon yang ternyata adalah Dion.
[Baiklah, Fathan. Kalau begitu kalian lanjutkan saja. Untuk perkembangan selanjutnya akan aku kabarkan lagi padamu nanti,] imbuh Dion, sebelum keduanya memutusan untuk mengakhiri percakapan telepon mereka.
"Kenapa kamu begitu ingin lari dariku? Apa kamu suka sekali dikejar, hum?" Fathan menatap Azkira dengan tatapan nakalnya.
"Katakan saja yang sejujurnya, Azkira. Aku tahu sebenarnya kamu menyukai-"
"Aku tidak sedang ingin mendengar apapun yang kamu katakan saat ini! Jadi, diamlah dan jangan bicara padaku. Aku tidak ingin kamu terus mengulangi kata-katamu itu karena aku tidak mendengarnya. Satu lagi, jangan terlalu percaya diri."
Lagi, Azkira berhasil menyelah kata-kata Fathan dengan balasan telak. Lantas, Wanita itu mengambil tas selempangnya dan pergi berlalu dari sana. Tidak perduli pada Fathan yang masih saja bicara ini dan itu dengan tujuan memuaskan dirinya untuk membuat Azkira jengkel.
Fathan gemeratak sembari meremas rambutnya frusrasi. "Wanita ini membuatku pusing saja!" ujarnya seraya menghentakkan kaki dan pergi mengekor menyusul Azkira.
"Hei, mau kemana kamu? Apa kamu sudah lupa? Kamu butuh izin dari suamimu untuk pergi atau melakukan hal apapun." Fathan bicara dengan sedikit berteriak dan terus mengejar Azkira.
"Suami ... suami! Suami macam apa dia? Dia lebih mirip penjahat berdarah dingin," cicit Azkira tak mengindahkan perkataan Fathan.
Fathan terus bicara tak henti-henti. Hingga mulutnya berhasil dibungkam oleh Azkira yang tiba-tiba berhenti dan membuat Fathan nyaris menabraknya. Tak ayal, hal itu menambah ocehan Fathan semakin meluas, panjang, dan lebar.
"Baik, kalau begitu aku pamit, Bang." Azkira mengucapkan kalimat itu dengan terpaksa sembari mencebikkan bibirnya.
"Ya Tuhan. Ulangi lagi dengan benar!" perintah Fathan.
"Lelucon macam apa lagi ini? Sungguh, aku muak dengan sikapnya yang mudah berubah-ubah dengan cepat. Tapi baiklah, aku akan mencobanya."
"Aku izin pergi keluar, Bang," ulang Azkira.
Fathan tersenyum menyeringai. "Aku tidak mengizinkanmu!" tandasnya.
Mata Azkira terbelalak lebar, lalu dia membidikkan tatapan tajam pada Fathan. "Dasar manusia tidak punya perasaan! Kenapa kamu melakukan ini padaku?" rengek Azkira sambil memaki.
"Aku suamimu dan kamu wajib mendengarkanku, Sayang." Fathan benar-benar membuat Azkira ingin mencekiknya.
****
Keesokan harinya, Fathan menemui Dion. Mereka sudah duduk di satu meja di sebuah kedai kopi. Tampaknya mereka sangat serius mengenai pembicaraan yang sedang mereka bincangkan.
Fathan menghela napas kasar. "Jadi benar, semua yang dikatakannya adalah jujur? Mengenai pengakuannya, pembelaan dirinya, dan bahwa malam itu dia hanya menjadi korban fitnah?" Fathan bicara dengan seraut wajah sesal.
"Benar Fathan. Semua pengakuan Azkira adalah jujur. Saat kutemui pria dalam foto itu, dia mengaku bahwa dia hanya disuruh seseorang dengan sejumlah bayaran yang dijanjikan.
"Apa dia juga mengatakan siapa yang menyuruhnya?"
"Aku masih mencari tahu. Dia meminta sejumlah bayaran untuk itu," terang Dion.
"Pastikan kau mendapatkan informasi itu, Dion. Berikan saja sejumlah uang padanya, tapi jangan biarkan dia memeras.
"Oke, akan aku masih menunggu kabar dari orang yang aku suruh menyelidiki. Aku mencurigai seseorang di restoran," papar Dion lagi.
"Mereka yang terlibat dalam kasus itu, harus menerima dan merasakan ganjarannya." Fathan merasa geram.
Ternyata, selama ini diam-diam Fathan mencaritahu informasi mengenai siapa dalang di balik skandal isu yang melibatkan istrinya, Azkira. Dan terbukti bahwa semua pembelaan diri juga pengakuan Azkira adalah benar. Dia hanya menjadi sasaran fitnah dari orang yang sepertinya sengaja ingin mencemarkan nama baik Chili Sauce Resto.
Wajah Fathan tiba-tiba berubah murung. Dia merasa bersalah karena selama ini sudah menyalahkan dan menuduh Azkira sedemikian rupa. "Huuuufft, aku sangat bodoh," ujar Pria itu merutuki dirinya sendiri.
"Fathan, kau tidak apa-apa?" Dion bertanya sembari mengerutkan dahinya.
"Entahlah, Dion. Aku tidak yakin kalau Azkira akan memaafkanku setelah semua ini. Aku sudah berbicara terlalu banyak mengenai hal yang tidak pernah dia lakukan dan aku memaksa dia untuk mengakuinya. Ough! Itu sangat memalukan." Fathan membuang napas kasar.
"Ya, kurasa ini akan jadi pelajaran yang berharga untukmu, Kawan. Kuharap, sebentar lagi dirimu juga akan menyadari bahwa Azkira adalah wanita yang cukup menarik, benar?" ledek Dion.
"Sialann! Tutup mulutmu itu sebelum aku menyumpalnya dengan sandal jepit!" tandas Fathan.
"Kenapa? Apa aku membuatmu cemburu karena telah memuji istrimu?" Dion melanjutkan sambil tertawa usil.
"Diamlah, jangan buat aku tambah pusing!" larang Fathan.
"Baiklah, aku menunggu saat-saat temanku akan mengejar cinta istrinya."
Mendengar Dion yang seolah-olah tak puas meledekinya, Fathan pun bangkit dan mulai bergerak mengejar Dion yang sudah lebih dulu berlari. Sayangnya, sebuah nada panggilan masuk terdengar berdering di ponselnya.
[Ya, Bi Inah. Ada apa?] kata Fathan saat menerima panggilan masuk yang ternyata dari Bi Inah.
[Non Azki, Den. Dia tidak sadarkan diri.] Bi Inah bicara dengan nada panik.
[Apa yang terjadi padanya, Bi?] Fathan menjadi sangat kaget dan cemas.
[Tidak tahu, Den. Tadi Bibi masuk untuk menaruh pakaian ke dalam lemari Den Fathan. Lalu Bibi lihat, Non Azki sudah tergeletak di lantai kamar.]
[Oke, Bi. Saya pulang sekarang.]
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Vita Zhao
Baru nyadar ya lo Fathan, klok lu b*doh😌
2022-11-13
3