Keesokan harinya, Fathan menghubugi kekasihnya, Ellena. Beberapa kali dia menekan panggilan keluar yang ditujukan pada nomer ponsel Ellena, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Fathan yang kesal dan merasa diabaikan pun langsung mengambil kunci mobil dan bergegas hendak ke mendatangi Ellena ke rumahya.
Jarak tempuh dari rumah Fathan menuju rumah Ellena sendiri berkisar sekitar kurang dari satu jam lamanya. Selama dalam perjalanannya itu Fathan tampak mengeraskan rahangnya yang sudah tegas, karena merasa kesal. Tidak biasanya Ellena lama menjawab panggilan telepon darinya.
Sesampainya di depan rumah Ellena, dia langsung masuk ke dalam seperti biasanya. Namun, alangkah terkejutnya Fathan melihat apa yang sedang berlangsung di hadapan matanya. sekitar belasan orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan hadir memenuhi ruangan rumah itu.
Mereka semua tampak sumringah menyaksikan dua sejoli yang sedang saling menyematkan cincin di jari manis secara bergantian.
"Pengkhianat!" cerca Fathan sambil menatap tajam kepada dua orang yang tak lain adalah Kekasihnya, dan Fatih, sahabatnya sendiri.
Sontak kehadiran Fathan yang tidak diduga-duga itu pun membuat semua orang yang hadir di sana saling menatap penuh tanya. Ellena dan Fatih tertunduk lesu seakan setuju pada sebutan 'pengkhianat' yang terlontar dari mulut Fathan. Ketegangan terasa memenuhi ruangan rumah itu.
Fathan yang tidak ingin terluka lebih lama karena menyaksikan pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasih dan sahabatnya itu pun segera pergi dari sana. Fathan tidak pernah menduga bahwa dirinya akan menerima sebuah pengkhianatan dari dua orang terdekatnya sekaligus dalam waktu bersamaan. Ada rasa pedih dan lebam yang begitu gencar menggerogoti hati Fathan.
"Aaaarrggggg! Mengapa kalian sampai hati menikamku dari belakang? Kenapa tidak sekalian saja kalian habisi nyawaku, huh?" raung Fathan sambil memukul-mukulkan tangannya pada stir mobil yang dia kendarai.
"Kalian akan menanggung semua akibatnya!" tandas Fathan, dikuasai amarah yang membakar dan begitu menggebu-gebu. Dia terus mengemudi ke sembarang arah untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.
Di tempat yang berbeda. Tepatnya di Chili Sauce Resto milik Fathan. Azkira terlihat hadir di sana dengan membawa sebuah map berwarna coklat yang berisi surat pengunduran dirinya. Gadis itu berdiri dengan langkah gamang dan wajah memias lesu.
Di sana juga terlihat ada Dion. "Kamu yakin mau resign, Azki? Padahal, kinerja kamu sangat bagus, loh. Saya berharap kamu bisa tetap bekerja di sini. Terkait pemberitaan yang beredar, lebih baik dilupakan saja. Saya percaya kamu tidak melakukan semua itu," papar Dion. Dia merasa keberatan dengan pengunduran diri Azkira.
"Mohon maaf, Pak. Keputusan saya sudah bulat," tandas Azkira sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Maaf kalau saya lancang bertanya. Sebenarnya, apa ada masalah lain? Apa gaji kamu kurang? Kita bisa bicarakan mengenai hal itu dulu kalau memang itu yang jadi masalahnya," bujuk Dion yang memang sangat menyukai kinerja Azkira yang gigih, rajin dan ulet.
"Terima kasih banyak, Pak Dion. Tapi, sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak ada masalah dengan gaji dan prosedur kerja di sini, atau fitnah yang mengudara di luar sana. Hanya saja, ada alasan lain yang tidak bisa saya utarakan, Pak," beber Azkira bersikukuh.
"Kalau itu masalahnya, saya tidak bisa bantu atau memaksa kamu untuk tetap bekerja di sini. Semoga kamu dapat penyelesaian terbaik untuk masalah kamu. Dan jangan ragu untuk datang ke sini kalau kamu ada niat untuk kembali bekerja. Chili Sauce Resto membutuhkan seorang pekeja yang gigih seperti kamu," tutur Dion.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan melupakan semua kebaikan yang saya terima selama saya bekerja di sini. Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Azkira sambil membungkuk.
"Tunggu sebentar, Azki. Ini gaji terakhir kamu. Tolong diterima, ya." Dion mencegah langka Azkira dan memberikan sebuah amplop berisi sejumlah uang sebagai gaji terakhirnya.
"Terima kasih, Pak Dion," imbuh Azkira.
"Sama-sama, Azki."
Lalu, Azkira meninggalkan restoran itu dengan sedih hati. Sebenarnya, dia masih butuh pekerjaan ini, tapi ada harga diri yang lebih penting untuk diselamatkan. Kehormatan dirinya jauh berada di atas segalanya. Azkira tidak sudi bernaung di bawah perusahaan milik orang yang nyaris merenggut kesuciannya.
Tidak lama selepas Azkira pergi dari sana. Fathan pun datang lagi ke restoran miliknya itu. Dengan mata yang memerah terbakar kemarahan, dia langsung memanggil Dion dan mengajaknya duduk sambil minum kopi bersama. Hal itu memang cukup sering dulakukan Fathan, saat pikirannya sedang merasa kacau.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
sabar
2022-12-31
1
Vita Zhao
Rasain tuh Fathan emang enak di khianati 😅😅😅
2022-11-02
3