..."Kamu itu kayak rumus mencari sisi menggunakan aturan sinus kosinus, memusingkan juga membingungkan dalam waktu bersamaan."...
...Un Familiar Brother...
...🫐🫐...
Dua orang gadis terlihat sedang sibuk berkutat dengan lembaran kertas HVS yang berserakan. Buku-buku paket bertebaran di atas meja, beberapa terbuka dan diberi tanda baca. Mereka sengaja mengambil posisi tempat duduk yang cukup jauh dari pengunjung perpustakaan yang lain. Alhasil mereka memutuskan untuk duduk dipojokan, diapit oleh rak-rak buku serta jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lapangan basket di bawah sana. Sengaja duduk di sana, karena mereka mau fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka.
"Udah belum sih? Kok lama, Cha?" tanya gadis berambut sepunggung itu, penasaran. Pasalnya sejak tadi sahabatnya tidak ada respon sedikitpun. Ia kemudian dibuat terkaget-kaget. "Baru rumusnya? belum kamu pecahin satu soal pun?"
"Mumet, rumusnya juga lupa lagi hehe," kekeh lawan bicaranya sambil nyengir kuda.
"Dasar. Mana, sini aku lihat."
Dengan semangat 45 Cacha menggesekkan buku tugasnya ke hadapan Nara. Membiarkan gadis pintar itu mengoreksi pekerjaan yang sudah empat puluh menit belakangan ini coba kerjakan sendiri. Namun, hasilnya begitu nihil. Tidak ada satu pun soal yang terjawab.
*Rumus aturan Sinus
BC/sin A
Ac/sin B
AB/sin C
*Rumus Aturan Cosinus
AB \= AC + BC - 2 × AC × BC Cos C
AC \= AB + BC - 2 × AB × BC Cos B
BC \= AB +AC - 2 × AB × AC Cos A
"Ini yang rumus Cosinus nya salah, Cha."
"Masa ah, perasaan bener deh?"
Nara menatap sahabatnya sejenak, sebelum mengarahkan pena yang berada di tangannya ke atas kertas.
"Harusnya AC nya itu punya kuadrat ², sama BC nya juga punya kuadrat ². Gitu!" ujar Nara sambil mengoreksi beberapa rumus di buku catatan Cacha.
a2 \= b2 + c2 - 2 bc cos A
b2 \= c2 + a2 - 2 ac cos B
c2 \= a2 + b2 - 2 ab cos C
"Ah iya, khilaf euy," kekeh Cacha. Ia lantas meraih meraih tip-x dari dalam tempat pensil. Menghapus bagian yang salah dengan cairan putih tersebut.
"Kamu kurang teliti, plus...."
"Lamban," sela Cacha dengan memutar bola mata. "Ibarat memory ya, kapasitas otak gue itu cuma beberapa Giga byte, beda sama lo yang kapasitas otaknya nyampe 1 Tera." Ketusnya.
Nara tersenyum tipis, lalu menjitak dahi lebar Cacha pelan. "Dih, perumpamaan dari mana coba?"
"Dari pelajaran sastra Indonesia lah," jawab Cacha. "Tapi, kenyataanya malah lebih pahit dari perumpamaan."
Nara geleng-geleng kepala sendiri setiap melihat sang sahabat merendahkan dirinya sendiri, hanya karena ia kurang tanggap dalam menyerap materi pembelajaran. Padahal setiap orang juga punya kapasitas daya tangkapnya masing-masing.
Keduanya kemudian kembali asik mengerjakan tugas sambil mengobrol, sampai-sampai tidak sadar ada yang datang menghampiri. Mencuri perhatian para pengunjung perpustakaan yang lain, karena penasaran akan kemunculannya.
"Kenapa lo berangkat sendirian?"
Nara mendongrak, menatap pemilik suara bariton yang baru saja angkat bicara.
"Takut telat, Kak." Nara menjawab sekenanya.
"Lo nggak percaya sama gue?"
"Maksud Kakak apa? Bukanya Kakak kemarin cuma bicara omong kosong? buat apa juga aku nunggu sesuatu yang tidak pasti. Kalau telat ke sekolah, 'kan aku juga yang repot."
Arga menatap Nara dengan tajam. Raut wajahnya menyiratkan ketidaksukaan atas jawaban tersebut.
"Pulang sekolah bareng gue!"
"Aku ada kumpulan OSIS."
"Gue tunggu!"
"Nanti pulangnya telat. Ada briefing sekbid juga. Jadi...."
"Gue tunggu di parkiran. Jangan coba-coba kabur!"
Nara menatap punggung pemuda tampan yang mulai menjauh itu. Belum sempat ia menolak tawaran yang dibumbui pemaksaan itu, si pelaku sudah melenggang pergi begitu saja.
"Nar, kamu beneran ditawarin berangkat sekolah bareng kak Arga?" tanya Cacha tak percaya. Sejak tadi hanya melongo cengo melihat interaksi keduanya.
Bukan hanya Cacha yang penasaran, banyak pasang mata lain juga tampak penasaran dengan hubungan Arga dan Nara.
"Nanti aku ceritain, sekarang kerjain dulu tugasnya."
"Janji ya?" desak Cacha.
"Iya, janji."
Nar tidak tahu harus apa, yang pasti hidupnya tidak akan mudah lagi karena berhubungan dengan Arganta Natadisastra.
...🫐🫐...
"Elahh, ini rumus gimana sih menghafalnya? Gue kok gak ngerti-ngerti seh?!" Ketus pemuda yang tengah mencoret-coret kertas HVS tersebut.
Kedua tangganya sejak tadi tak tinggal diam, mengotret juga mengacak rambutnya frustasi. Sama halnya dengan kakinya yang terbalut sepatu converse, pun ikut tak tinggal diam. Sesekali ia menendang kesal kaki meja perpustakaan yang kini ditempati.
"Rumus apaan sih, Ki? Ribut aja lo dari tadi."
"Perasaan dulu pas kelas sebelas semester dua pernah diajarin materi ini deh? Kok, gue lupa, ya?" timpal Iki lagi.
"Rumus apaan geblek, sini biar gue yang ngerjain. Gue 'kan, smart!"
"Elah, sok pintar dirimu, Nak. Kapasitas otak sebelas-dua belas sama gue juga!"
"Ehh, gue emang pinter goblok," kesal Libra sambil merebut buku milik Iki. "Ini mah gampang, tinggal dikali-kali aja."
"Dikali-kali gimana maksud lo? Udah jelas-jelas di sana itu harus ditambah, dikurang, terus dikali sin atau cos, geblek siah."
Libra berdecak. "Eleh, ini rumus baru, Ki. Ambil gampangnya aja, yang penting ada hasilnya."
"Aturan dari mana tuh, masa bisa bikin rumus sendiri? O'on sia!"
"Dari gue lah, rumus edisi terbaru nih," sombong Libra. Itu adalah jalan ninja nya jika tidak bisa menjawab tugas matematika.
Pembicaraan keduanya terjeda sejenak saat seseorang tiba-tiba berdiri di depan mereka.
"Arga mana?"
"Ehh, Medusa, mana gue tahu leader di mana. Yang suka ngintilin dia 'kan situ, kok nanya ke kita sih?" jawab Iki sewot.
"Gak lihat lo, kita lagi ngisi tugas. Punya mata kok gak dipake?!" Timpal Libra, pedas.
"Arga mana?"
Gadis cantik berseragam SMA Angkasa itu beralih, bertanya pada Orion yang tengah fokus menatap layar handphone. Orion hanya melirik acuh ke arahnya, sebelum merespon.
"Apaan?"
"Gue tanya, Arga dimana?"
Wajah flat Orion tampak tidak menunjukkan respon. Namun, ja sempat melirik ke arah pintu. Benar saja, saat Alexa menoleh, sosok yang ia cari-cari tengah berdiri dengan badan bersandar pada kusen pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Itu yang lo cari," tukas Orion. Ia pun kembali melanjutkan main game di handphone yang sempat tertunda karena Alexa.
Alexa langsung meninggalkan Orion, bergegas menghampiri sosok yang akhir-akhir ini sulit ditemui. Walaupun ya, mereka terkadang berangkat sekolah dan pulang sekolah bersama. Itu pun jika ia yang memaksa dengan sedikit tips and trik.
"Kamu dari mana aja? Aku nyariin kamu dari tadi."
Netra tajam lawan bicaranya bergulir kesamping, menatap acuh kepada lawan bicaranya.
"Bukan urusan lo."
"Kamu kenapa sih? Kamu berubah tau gak, Ta!" ujar Alexa sambil menatap pemuda tampan di hadapannya dengan penuh tanya.
Alexa memang cukup risih mendengan rumor tentang Arga yang punya mainan baru. Awalnya Alexa pikir itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, semakin hari semakin gencar rumor tentang kedekatan Arga dengan mainan itu berhembus. Membuat perasaan tidak nyaman dan risi kian hari kian menguat di hatinya.
"Ini pasti gara gara cewek miskin itu, 'kan?"
Arga acuh tak acuh. "Bukan urusan lo."
"Jadi benar?"
"Jangan banyak tanya!"
"Dia itu cuma cewek miskin yang caper sama kamu Ta. Dia pasti iri dan mau rebut kamu dari aku!" ujar Alexa menggebu-gebu.
Bohong jika dirinya tidak cemburu mengenai kedekatan Arga dan mainan barunya. Ia cukup khawatir, jika dibiarkan lama-lama maka takutnya tumbuh benih-benih bernama cinta.
"Bukan urusan lo!" desis Arga tajam, ia kemudian berlalu menuju ketiga sahabatnya. Tak memperdulikan Alexa.
"Kamu gak bisa gitu sama aku Ta, aku sayang kamu. Kita kan .... bersaudara."
Langkah Arga berhenti saat itu juga. Onyx tajamnya tampak berkilat marah. Semua mata di ruangan juga kini fokus kepada kedua most wanted SMA Angkasa.
Sudah bukan rahasia umum lagi jika hubungan darah keduanya yang toxic bukan sekedar isapan jempol belaka. Alexa itu sangat posesif pada Arga yang notabene berbagi darah sama dengannya. Sebagian besar siswi yang menyukai Arga bahkan lebih memilih mundur alon-alon, dikarenakan sikap Alexa yang terlalu agresif jika ada siswi yang berani mendekati Arga.
Alexa bahkan tak segan-segan untuk melakukan bullying pada siswi yang berhasil mendekati Arga, walaupun ia tahu jika Arga tak menaruh minat pada gadis manapun. Bukan hanya kecantikannya yang disegani, Alexa juga jadi terkenal punya kepribadian yang ditakuti.
Alexa menelan saliva susah payah saat onyx hitam Arga menatapnya begitu lekat. Pemuda rupawan itu juga kini sudah kembali berdiri tepat di hadapannya. Menatap Alexa dengan tatapan siap membunuh.
"Kita memang ada hubungan darah sama gue, tapi bukan berarti lo bisa ikut campur sama kehidupan gue."
"...."
"Lo nggak berhak ngatur-ngatur gue. Apalagi sampai ganggu dia. Camkan itu baik-baik, Alexandria Natadisastra."
...🫐🫐...
TBC
Tanggerang 12-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Nyerahh
2022-11-12
3
Next Thor 😅😅
2022-11-12
3
Anis Hasan
lanjut
2022-11-12
3