¹²UFB

..."Apapun yang paling mahal dan berharga di dunia ini, tidak bisa dibandingkan dengan sebuah keluarga."...

...Un Familiar Brother...

...🫐🫐...

"Lah, lo ngapain disini?!"

"Aku?" Nara yang tampak kebingungan, terlihat menunjuk dirinya sendiri.

"Ya iyalah, jelmaan Dewi Pallas yang terhormat," awab suara Iki, teramat ketus.

"Ketimbang Dewi Pallas, dia lebih mirip Dewi Venus, Ki. Dewi cinta, eakkk," sahut suara lain dari belakang Iki

Dewi Pallas (パラス, Parasu ) yang mereka maksud adalah seorang dewi yang merupakan adik perempuan Athena dari film kartun Saint Saiya. Dewi Pallas diceritakan memiliki hubungan mendalam dengannya sejak zaman mitos. Dewi Pallas menyimpan kebencian yang mendalam terhadap Athena, dan pengaruhnya menyebabkan kekuatan Athena berkurang. Ia bertujuan untuk menghancurkan para Orang Suci, serta tubuh dan jiwa Athena.

Iki berdecak seraya berkacak pinggang. "Yehh, Bambang Sugiyono, dia 'kan kupu-kupu berbulu domba!"

"Typo, typo, gue koreksi dulu. Bukan kupu-kupu berbulu domba, tapi serigala berbulu domba, Ki."

"Ce ilee, serigala berbulu domba mah udah biasa. Udah kalah famous sama kupu-kupu berbulu domba!"

"Tapi gini ya Ki, logikanya mana ada kupu kupu berbulu dom...."

"Ada lah, kan itu kiasan," elak Iki, lihai.

"Udah, udah. Waktunya kerja! Pelanggan udah mulai dateng lagi," lerai Nindi.

"Oke, Mak bos!" Jawab mereka serempak.

"Ayok, Nar. Tempat kerja kita di depan," ajak Nindi yang langsung jawab anggukan oleh pemilik nama.

"Ehh, gue belum beres ngomong, beb!" seru Iki, heboh sendiri.

"Tau ah, males." Ketus Nindi yang langsung menggiring Nara keluar dari ruangan.

Nara tidak menyangka jika tempat kerjanya merupakan tempat kerja pada anak geng SPHINIX. Bohong jika ia tidak terkejut saat melihat Iki beserta anggota geng SPHINIX yang lain. Ia pikir cafe tempat Nindi bekerja cafe biasa, bukan tongkrongan para anggota geng SPHINIX.

Untung saja ada Nindi yang menjadi teman dan tutor Nara selama bekerja. Nara sendiri bagian tugas membantu Nindi mengurus administrasi, serta membantu menjadikan pramusaji saat pelanggan membludak. Jam kerjanya dimulai dari pulang sekolah hingga cafe tutup pukul sembilan malam untuk weekdasy atau hari kerja.

Sedangkan weekend atau akhir pekan, mereka akan menerapkan sistem kerja full time dengan upah yang dibayar setiap awal bulan. Setiap pekerjaan juga punya jatah libur, yang digolongkan kedalam dua bagian, yaitu cuti hari-hari penting dan cuti sakit.

"Nindi, aku mau tanya boleh?"

Nindi mengangguk seraya menutup pembukuan keuangan. "Silahkan saja."

"Pemilik cafe ini ikutan semacam organisasi SPHINIX, ya?"

Nindi mengangguk, ia tahu alasan kenapa Alea bertanya begitu. Karena pertama, rata-rata pekerja di cafe ini adalah laki-laki. Kedua, kebanyakan dari mereka itu terlihat seperti anak geng pada umumnya, tampak begajulan. Terlihat dari tato yang melekat di beberapa bagian tubuh mereka, kalung rantai, tindik, serta cara berpakaian mereka.

"Iya, memangnya kenapa?" Nindi balik bertanya.

Nara menggeleng tipis, "Enggak, unik aja gitu konsep Cafe sama para stafnya. Membaurkan suasana yang tidak impossible menjadi kebalikannya." Ungkap Nara. "Soalnya aku baru lihat cowok yang badanya penuh tato metik sayuran di kebun. Terus cowok tindikan yang kelihatan begajulan bisa finishing makanan."

Nindi tersenyum tipis sambil menepuk bahu Alea. "Ini yang namanya kemungkinan di antara 1001 ketidakmungkinan. Mereka semua solid dan rasa kekeluargaan nya patut diacungi jempol. Semuanya ramah, jangan cuma lihat dari cover nya doang. Mereka sebenarnya orang-orang baik."

Nara mengangguk. Salam sekali lihat pun, mereka memang punya nurani yang berbanding terbalik dengan penampilan fisik mereka.

"Ya sudah, kita lanjut kerjanya."

"Oke."

Pekerjaan kembali dimulai saat pengunjung mulai berdatangan kembali. Semua bahan makanan yang diolah masih segar, karena baru dipetik langsung dari kebunnya. Cafe ini memiliki lahan khusus untuk membudidayakan berbagai macam sayuran, buah-buahan, bumbu, rempah, hingga unggas dan ikan.

Menjelang waktu malam, ketika sang fajar mulai menutup hari, Cafe semakin ramai dikunjungi. Kehadiran Nara juga tampak mencolok di antara pramusaji lainya yang berjenis kelamin laki-laki. Sosoknya yang ramah dan pintar membawa diri, membuat para pelanggan nyaman. Belum lagi wajah Nara yang tergolong cantik dan manis, membuat sebagian pelanggan berjenis kelamin laki-laki betah berlama-lama.

"Ihh, rame pisan!" Keluh Iki.

Pemuda tampan dengan muka glowing itu berkacak pinggang di samping meja kasir. Celemek berwarna pink masih melekat di tubuh kurusnya. Pemuda dengan julukan cute boy itu terlihat menyeka peluh beberapa kali. Ia memang menjadi salah satu magnet di sana, maka tak ayal jika pekerjaannya adalah sibuk mondar-mandir sambil membawa buku menu.

"Anj*r lah, ini sumpah rame banget." Ibo juga ikut berkomentar.

Dua acungan jempol mampir diberikan oleh anak-anak yang lain. Mereka tampak seragam menggunakan kaos hitam polos dengan logo SPHINIX berdiameter cukup kecil di atas dada bagian kiri.

"Kayaknya omset bulan ini bakal lumayan deh."

"Bener tuh, pelanggannya aja terus rame begini."

"Iya, kayaknya bulan depan kita bisa beli mesin coffe," imbuh Nindi menimpali.

"Amazing, Orion nanti pasti bakal ngeluarin jurus rahasianya," kekeh Iki antusias. Pasalnya ia tahu jika Orion itu bisa disetarakan dengan barista kelas atas jika suka berada di balik mesin coffe.

"Jurus rahasia?"

"Itu loh, jurus rahasia menjadi barista hebat yang sexy...." Iki terdiam seraya menoleh, menatap asal datangnya suara tersebut.

"Terusin aja."

"Hehe, gue lupa terusan nya," kilah Iki saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. "Sumpah demi Spongebob yang pinter buat api di dalem aer, barusan gue nggak sengaja, Yon."

Laki-laki yang menggunakan sweeter navy itu tidak menjawab. Manik tajamnya hanya menatap Iki malas. Kemudian netranya bergulir, menatap objek menarik di sebelah Nindi.

"Lo ngapain?"

"Kerja, Kak," cicit Nara seraya menunduk.

Orion menoleh, menatap Nindi untuk memperoleh jawaban dari rasa penasarannya.

"Iya, dia staf baru yang kerja mulai hari ini." Jawab Nindi membenarkan.

"Ck, Arga," gusar Orion dengan satu tangan mengacak rambutnya.

"Kenapa memang kalau dia kerja di sini, Yon? awalnya gue juga kaget, tapi kerjanya lumayan oke." Iki tiba-tiba berbisik di telinga Orion. Gengsi dong kalau kedengaran Nara.

Orion belum sempat bereaksi, saat satu orang lagi ikut bergabung bersama mereka.

"Woi, ngapain pada ngumpul di sini?"

Libra, laki-laki dengan telinga ditindik itu berjalan santai ke arah mereka. Senyuman tipisnya mengembang saat menyapa beberapa kawannya yang menjadi pramusaji sambil bertos ria.

"Udah pada ngumpul nih?" Tanyanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jelana jeans belel yang gunakan. Nampaknya Libra belum sadar, jika ada sosok baru diantara mereka.

Kepulan asap dari nikotin tersebut mulai mengudara saat berhasil ia hisap. Ia menatap bingung ke arah kawan-kawannya yang diam saja, padahal tadi mereka bising sekali.

"Kenapa lo pada? kok pada diem."

"Ah itu, kenalin Lib. Staf baru di cafe kita," ujar Nindi membuka suara. "Nar, kenalin ini Libra. Salah satu anggota SPHINIX yang sering bantu-bantu di sini."

"Uhuk, uhuk." Libra tiba-tiba tersedak kepulan asap rokoknya sendiri saat melihat siapa sosok yang dikenalkan Nindi.

"LO?!"

Saking kerasnya suara Libra, para pengunjung yang sedang menikmati makanannya saja sampai terkejut.

"Etdah bocah, silent napa tuh bibir. Suara lo itu ke toa rusak tau gak?!" ujar Iki, memperingati.

"Iya, Lib. Lagi banyak pelanggan nih." Tambah yang lain.

"Sorry, refleks." Libra berkata, kemudian mematikan rokok yang tadi dihisap.

Mood-nya untuk merokok sudah hilang karena melihat wajah gadis di hadapannya. Biang keladi yang menjadi penyebab dirinya di-skor selama seminggu, karena insiden video tawuran kala itu. Bukan masalah skorsing saja yang membuat Libra kesal, tapi karena campur tangan masalah lain. Gara-gara kedapatan tawuran, Libra menjadi tahanan rumah selama seminggu, karena sang ayahnya marah besar. Fasilitas yang diberikan juga sempat disita dan beberapa kartu kredit miliknya dibekukan.

"Sumpah, gue tuh gedeg banget lihat muka lo." Libra mendengus dengan sorot mata tajamnya.

"Rasanya pengen bikin lo sengsara, karena udah bocorin video tawuran waktu itu."

"Oii Lib, udah. Silent, bro!" lerai Iki, menengahi.

"Sialan, gedeg gue lihat dia." Tunjuk Libra emosi.

"Yaelah zigot Aligator. Udah gue bilangin diem, dia itu cewek gobl*k. Masih disembur bae!"

"Persetan sama gender, gara-gara dia bokap jadi ngamuk!"

"Elah kutil onta, bisa diem gak sih lo!" Iki beranjak, mendekat lalu merangkul bahu Libra santai. "Udeh, masa mau nyakitin cewek. Di mana harga diri lo, human."

"Ahk, sial*n. Anj*ng banget tau gak?!" Libra berdecak sebal, kemudian berjalan menuju ruangan di belakang kasir. Wajahnya merah padam, tampak sekali menahan emosi.

Nara yang sejak tadi diam saja, bisa melihat begitu besar kebencian Libra padanya. Ia tak mau memperkeruh suasana, jadi memilih diam dan menerima semuanya. Padahal, ia hanya diminta memberikan video itu. Toh, video itu bukan ia yang mereka. Tapi, orang lain. Leon juga ada di sana waktu itu. Sayangnya, Leon memilih membelot. Mengkambing hitamkan Nara.

"Jangan dimasukin ke hati, dia cuma tertekan gara-gara di-skor. Bokap nya marah besar, maklum lah. Mana ada orang tua yang mau lihat anaknya kayak kek gitu," jelaskan Iki sebelum berlalu, menyusul Libra. Pada dasarnya Iki tidak marah pada Nara, cuma gak kesal. Namun, ia anaknya gampang memaafkan.

"Udah bubar, bubar. Pelanggan pada kebingungan lihat kita kayak gini," ujar Nindi melerai.

Orion menoleh ke arah Alea, gadis itu terlihat menunduk, menyembunyikan eskpresi bersalah di wajahnya.

"Lo nggak sepenuhnya salah," kata Orion.

Nara mendongrak mendengar suara Orion. Nara memang mengenal Orion Gaiden. Siswa kelas XII IPA 3 yang menjadi satu-satunya most wanted nya geng SPHINIX yang berada di kelas IPA. Karena rata-rata para most wanted geng SPHINIX berada di XII IPS I.

"Gue ke dalam dulu, Nin."

Nindi mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia kemudian menatap Nara. "Udah nggak usah dipikirin, mending kita kerja lagi."

"Hm."

Nindi yang tidak tahu menahu soal perselisihan diantara Nara dan anak anak SPHINIX tidak dapat membantu banyak. Nara hanya dapat menyimpulkan bahwa mereka kurang bersahabat dengan Nara.

Semua kejadian itu nyatanya tak luput dari jangkauan sepasang iris tajam yang tengah berdiri di ambang pintu. Seorang pemuda berjaket denim nampak berdiri tegap seraya menatap lurus ke arah objek yang mencuri perhatian netra tajamnya.

Dia, Arganta Natadisastra sudah berdiri di sana sejak tadi. Menyaksikan bagaimana Nara diberondong oleh kebencian Libra.

"Nin, aku boleh bantu bantu dibelakang nggak?"

"Boleh, memangnya kamu enggak capek?"

Nara menggelengkan kepala. "Enggak kok."

"Ya sudah, silahkan aja."

Nata bergegas menutup pembukuan yang tengah dikerjakannya. Beberapa menit lagi Cafe akan tutup, para pengunjung juga sudah berangsur-angsur menyusut. Meninggalkan tumpukan peralatan kotor di wastafel dapur yang tentu saja perlu dibersihkan.

Nara bergegas mengambil spon cuci piring, mencelupkannya ke dalam wadah kecil berisi cairan pencuci piring yang sudah berbusa karena tercampur dengan air. Ia tahu banyak anak-anak SPHINIX yang membencinya karena insiden kala itu. Namun, setidaknya ia harus mengerjakan tugasnya walaupun ditemani rasa canggung. Nara juga ingin mencoba berteman dengan mereka.

"Eh, kenapa lo yang nyuci piring?"

Nara menoleh spontan saat mendengar suara dari samping.

"Biar gue aja, itu job desk gue."

Alea menggeleng. "Enggak pa-pa. Lagi pula pekerjaan aku sudah selesai."

Genta yang barusan berbicara tampak tertegun, ia merasa terenyuh mendengarnya. Beberapa tahun bekerja disini, tidak ada yang mau membantunya mencuci piring. Jikalau terlalu letih, Arga malah mengizinkan untuk mencari buruh cuci piring supaya dapat meringankan pekerjaannya. Tetapi kini, ia memiliki seseorang yang mau membantunya mencuci piring secara sukarela. Genta jadi tersentuh.

"Lo gak keberatan?"

"Enggak. Memangnya kenapa? Aku biasa nyuci piring kok. Segini mah, kecil." Nara tersenyum tipis sembari kembali fokus mencuci perabotan kotor. "Nindi memang enggak pernah bantuin kamu nyuci piring?"

Genta menggeleng samar "Enggak. Dia ada kerjaan lain kalau cafe udah tutup."

"Oh," respon Nara. "Kalau gitu mulai sekarang aku yang akan bantu kamu cuci piring. Jadi, kamu bisa kerjakan pekerjaan yang lain."

Gente tersenyum tipis, lantas mengangkat jempolnya ke udara. Dia senang bukan kepalang ada yang mau membantu meringankan pekerjaannya. "Ok, thanks ya, Nar."

"Iya, sama sama."

Interaksi tersebut tanpa sadar mencuri banyak perhatian. Anak-anak yang lain bahkan menatap Nara tak percaya. Ia pikir Alea seperti pekerja pekerja perempuan sebelumnya yang suka caper. Namun, enggan bekerja berat. Ternyata mereka salah. Lihat saja, gunung piring kotor bahkan tak jadi masalah bagi Nara. Ia juga anaknya riang dan ramah, ditambah lagi friendly.

"Ini bahan masakan buat besok?" tanya Nara selepas mencuci piring.

"Iya," awab pemuda bertato kalajengking di leher kirinya tersebut, kikuk.

"Boleh aku bantu cuci, Kak. Habis dicuci mau dimasukin kedalam lemari pendingin atau dibiarin diruang aja,?"

"Coolkas, tapi dibungkus sama plastik wrap dulu, tetep terjaga kesegaran sama bentuknya."

"Ok, aku bantu."

Laki-laki itu berdeham seraya menggaruk tengkuk. "Eh, terserah lo deh. Itu pun, kalo lo nggak keberatan."

"Enggak kok."

Nara tersenyum tipis, ia senang bisa bekerja disini. Apalagi diperbolehkan berkutat dengan sayur-sayuran di kebun, ia senang sekali.

Walaupun rata rata pekerjanya adalah laki-laki, namun semua itu tidak mengurangi loyalitasnya dalam bekerja. Lagi pula tidak selamanya mereka yang terlihat urakan tidak memiliki tabiat yang baik. Buktinya, di Cafe ini mereka memiliki tabiat yang jauh berbeda dari image begajulan yang menjadi titel mereka. Menurut Nara, cafe ini benar-benar antimainstream. Akan tetapi, ia bersyukur dapat bekerja disini.

...--Caffe Antimainstram--...

...Tempat ini nyaman, tenang dan penuh kehangatan....

...Mereka mengisinya sesuai aliran yang dapat diterima semua kalangan....

...Mereka yang terbuang tertampung disini....

...Mereka menciptakan inovasi dan kreasi dari balik image buruk yang melekat....

...Mereka berbeda, ditilik dari segi manapun....

...Mereka, ada disini. Di tempat, yang bisa kamu sebut cafe antimainstream....

...Tempat dimana kamu menemukan kemungkinan, diantara 1001 ketidakmungkinan....

...Note Aleanska Nara...

...🫐🫐...

TBC

Jangan lupa like, vote, komentar, rate 5 bintang 🌟, add ke library, tabur bunga 💐💐💐

Tanggerang 10-11-22

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

semangat Nara💪😘

2024-05-22

0

Anis Hasan

Anis Hasan

lanjut

2022-11-11

2

💗Erna iksiru moon💕

💗Erna iksiru moon💕

kabita ih pen ikut metik sayurnya.smoga Nara bisa melewati semua hari2 beratnya dg senyuman y Nara.smoga nanti semua menyukai apa yg ada pada dirimu krn kamu memang baik.awalnya smoga Genta Nindi n Orion yg welkam lama2 smua anggota nyaman sm kamu

2022-11-10

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!