"Lo pulang sama gue," tukas Arganta Natadisastra tidak terbantahkan.
Suasana akward begitu kentara menyelimuti ruangan 4 × 4 meter persegi tersebut. Ada yang saling tatap untuk beberapa saat, bergumam lirih, ada pula yang seolah-olah tengah berperang dengan batin sendiri.
"Eh Ta, sejak kapan lo dateng?" sapa Genta, membuka suara.
"Yang lain mana, nggak ikut?"
"Di belakang, mereka nunggu hasil balapan."
"Lo pasti menang 'kan?" tanya Iki antusias.
"Menurut lo?" Arga balik bertanya.
"Ya, pasti lah menang. Orang leader SPHINIX yang turun. Iya, 'kan brother?" Iki meminta dukungan dari kawan-kawannya.
"Yoi, pasti lo menang, Ta. Kemampuan lo sih nggak usah diragukan lagi."
"Ya iya lah, keturunan lucif ....mmmhhpp."
"Asal ae lo ngomong nye," potong Ibo saat Iki akan mengatakan Lucifer.
"Buahh A¥¥jsj££tjj£€£t, tangan lo bau poop doggy. Gila!" Iki berdecak kesal saat tangan besar Ibo berhasil disingkirkan. Bukan bau poop doggy sungguhan, cuma bau campuran rempah-rempah. Iki mah memang suka hiperbola.
Ibi tertawa congkak. "Lupa, habis poop tadi."
"Goblok, pantesan." Iki langsung musuh-musuh sendiri sembari mengambil beberapa lembar tisu basah yang ada di atas water dispenser.
"Gue cabut." Instruksi suara bariton Arga, mengambil alih perhatian.
Terutama Nara, karena tubuhnya tiba-tiba ikut terseret dengan kepergian si pemilik suara. Lebih tepatnya pemilik suara bariton itu menautkan tangannya di pergelangan tangan Nara.
"Eh, kasar banget bos. Itu cewek loh, sama kayak porselen. Muda pecah boss!" lerai Ibo yang iba melihat Nara bak diseret-seret.
"Ho'oh, harusnya aja dikasih segel fragile, soalnya benda rapuh, dan mudah pecah eaaakk."
"San ae lo bambang!"
Tawa Iki mengudara. Baginya tiada hari tanpa tertawa, seperti makan sayur tanpa garam.
"Kalo lo pada balik, jangan lupa bawa makanan buat yang lain," pesan Arga sebelum benar-benar pergi bersama Nara, tanpa mengindahkan ucapan teman-temannya.
"Wokeeee bosque."
Setelah keduanya menghilangkan, Iki kembali buka suara. "Gue bingung deh."
"Bingung kenapa, Ki?"
"Gue rasa ada yang beda gitu sama si Arga."
"Maksudnya?"
"Dia berubah!" asumsi Iki.
"Memangnya Arga power rangers, bisa berubah?" canda Ibo.
"Elah gobl*k, bukan berubah gitu maksud gue!" Kesal Iki.
"Lah, terus gimana?"
"Ya, gitu. Ada yang aneh sama si Arga."
"Tau ah, gue gak ngerti." Ibo memilih acuh dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitu pula dengan yang lain.
Sedangkan Iki masih tampak bergulat dengan asumsinya sendiri.
"Pada nyadar nggak sih kalau Arga itu tiba-tiba sok akrab sama Nara?" gumam Iki. "Padahal tumben banget Arga mau nganterin cewek pulang, padahal biasanya ogah banget."
...🫐🫐...
"Kak, lepasin!" Nara berontak saat Arga benar-benar membawanya keluar. "Kak, tas sama handphone aku masih di dalam!"
Seruan itu ternyata berhasil membuat langkah lebar Arganta Natadisastra berhenti seketika.
"Ceroboh."
Nara menatap bingung lawan bicaranya. Kenapa tiba-tiba Arga mengatai Nara ceroboh? bukannya tadi Arga yang membawa Nara keluar tanpa mendengarkan kata-kata Nara?
"Aku ceroboh? Dari mana Kakak dapat menyimpulkan jika aku ceroboh? bukannya kita tidak saling kenal sebelumnya?"
Onyx gelap Arga berkilat, menatap lawan bicaranya lekat."Kata siapa? Gue lebih dari sekedar tahu soal lo."
Nara sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut apa maksud dari ucapan Arga. Pasalnya Arga itu sukar dimengerti.
"Ambil tas lo, habis itu gue anter pulang."
"Aku bisa pulang sendiri, Kak."
"Ck, rumah lo di daerah Dago. Jam segini damri udah gak ada yang lewat."
Nara terhenyak. Benar juga perkataan Arga. Jam segini tidak ada damri yang lewat. Paling ada juga angkutan umum, tetapi itu terbilang tidak aman baginya. Jalan yang paling aman untuk dipilih memang pulang bersama ojek online atau bersama Arga.
"Cepetan ambil, gue kasih waktu lima detik!"
"Hah?!"
Nara tak menggubris. "Dimulai dari sekarang."
"Ish." Nara berdecak sebal sembari balik kanan, lalu berlari cepat, masuk ke dalam Cafe.
Arga hanya menyeringai tipis melihat tingkah Nara yang menggelitik perutnya. Ternyata mengerjai gadis itu cukup menyenangkan. Ketika kesal atau sebal, gadis itu akan memasang wajah cemberut yang menggemaskan.
"Wait, menggemaskan?!" Dean bergumam tak habis pikir. Ia mungkin sudah gila karena berpikir demikian.
"Kak?"
"Apaan?!" jawab Arga dengan suara keras. Ia kelepasan.
"Aku ...udah ambil barang-barang aku," cicit Nara seraya menunduk.
Arga menghela napas kala menyadari tindakannya yang sudah seperti bocah labil. "Ya udah, naik. Nggak usah banyak bacot, keburu malem. Gue anter lo pulang sekarang!"
Nara mengerucutkan bibir seraya menagngguk dan menerima helm yang diulurkan oleh Arga. 'Jutek banget sih, untung ganteng.'
"Bisa naik nggak lo? Malah bengong!"
"Eh, Bisa, Kak!" Nara tampak kikuk saat ketahuan bengong. Ia pun bergegas naik, mengisi kursi penumpang belakang.
"Pegangan."
"Iya, udah."
"Lo itu pendek, kurus, kering, gue nggak bakal tanggung jawab kalau lo jatuh atau terbang kebawa angin."
Alih-alih marah, Nara malah tertawa kecil mendengar ucapan Arga. Ternyata laki-laki dingin seperti Arganta Natadisastra bisa bergurau juga.
Nara sudah duduk di kursi penumpang belakang, namun ia merasa kurang nyaman karena rok sekolah yang masih ia gunakan tersingkap cukup tinggi, sehingga mengekspos sebagian pahanya.
"Ternyata paha lo lebih murah dari paha ayam McD," komentar Arga.
Nara tidak menimpali. Toh, bukan keinginannya juga pamer paha. Coba saja Arga berbaik hati lagi dengan meminjamkan jaketnya.
"Jaket gue belum lo balikin, jangan harap dipinjemin yang lain."
Tiba-tiba Arga bersuara, membuat Nara tercekat. Arga itu cenayang, ya?
Soal jaket Arga, benda itu masih tergantung di hanger belakang pintu kamarnya. Nara benar-benar lupa mengembalikannya, padahal benda itu sudah dicuci bersih dan dipastikan wangi.
Sepanjang perjalanan pulang, hanya ada keheningan yang menjadi penengah di antara mereka. Arga fokus dengan berkendara, sedangkan Nara sibuk bergulat dengan pikiran sendiri. Terbesit beberapa pertanyaan di benaknya. Misalnya, kenapa Arga tiba-tiba datang ke cafe tempatnya kerja? apa Arga juga sering ikut membantu di sana? Kenapa juga Arga mau repot-repot mengantarnya pulang?
"Pegangan yang erat."
"Hah?"
Suara Arga terdengar samar di antara kebisingan di sekitar mereka.
"Pegangan!"
"Pegangan? ahk?!" Nara langsung berjengit kaget saat Arga tiap-tiap melajukan kuda besinya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Spontan, kedua tangan Nara melingkar erat disekitar perut alot milik laki-laki rupawan tersebut. Untuk pertama kalinya, Nara merasa dekat dengan malaikat Izrail berkat pulang dibonceng Arga.
Kendaraan yang dibawa Arga menyalip kendaraan-kendaraan lain dengan kecepatan kilat. Arga tampak biasa saja, seolah-olah sudah biasa berkelit dengan gesit di jalanan. Berbeda dengan Nara yang sudah ketakutan setengah mati dengan bibir terus mengucapkan istighfar.
Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya ban motor Arga tergelincir, maka Nara tidak dapat membayangkan bagaimana nasib mereka. Mengingat Arga memacu kendaraannya dengan begitu cepat. Sakit takutnya, Nara bahkan tidak sadar ketika motor yang ditumpangi sudah berhenti di depan pagar rumahnya.
"Turun!"
Nara mendongkrak, lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Sadar jika sudah tida di tujuan, ia kemudian segera turun dengan kondisi kaki yang seperti jelly.
Onyx hitam Arga tampak memicing. "Kenapa lo?"
"Astagfirullah, kumpul, kumpul," gumam Nara, tak mengindahkan pertanyaan Arga. "Aku sampai lupa cara bernafas saking takutnya dibawa sama Kakak!"
Arga menyunggingkan senyum miring. "Kalau lupa cara bernafas, berarti lo udah mati."
Nara tak menggubris. Ia masih sibuk menormalkan deru jantungnya.
"Masuk, besok pagi gue jemput."
"Hah?" sadar akan maksud dari perkataan Arga, Nara dengan cepat menggelengkan kepala. "Aku berangkat sekolah naik damri aja, Kak."
"Gak ada penolakan."
"Eh, tapi, Kak...."
"Gue cabut!" potongan Arga. Lagi-lagi ia tak memberikan Nara kesempatan untuk menyuarakan pendapat.
"Ish, dasar nggak sabaran!"
...🫐🫐...
Sinar mentari pagi yang masih hangat tampak menyapa bumi. Banyak aktivitas yang sudah dimulai, sekalian sang fajar belum merangkak naik. Riuh anak-anak remaja berseragam putih abu yang baru saja menuruni Damri menjadi salah satu rutinitas yang mengisi hari-hari Nara.
Nara saja turun dari kendaraan beroda empat bernama Damri bersama sahabatnya. Transportasi umum itu memang jadi andalannya untuk berangkat ke sekolah. Oh iya, Nara juga tidak mengingkari janjinya dengan berangkat sekolah menggunakan Damri. Padahal semalam ada yang berkata akan menjemputnya.
Hanya saja orang itu tak kunjung muncul, sekalipun Nara sudah menunggu sekitar 40 menit lamanya. Jika tetap menunggu, maka yang ada Nara kan terlambat datang ke sekolah, dan terancam mendapatkan hukuman serta pengurangan poin.
"Ngelamun aja, Nar. masih pagi," tepukan halus mampir di bahu beserta sindiran halus tersebut.
Nara menoleh, menatap pada sang sahabat. "Kata siapa aku ngelamun? enggak juga tuh."
"Ngeles terus kayak bajai." dengan santai Cacha menimpali. Ia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas gendongannya.
"Nih, kesukaan lo."
Cacha kemudian menyodorkan satu kotak yogurt rasa BlackBerry serta empat buah coklat.
"Wah, yogurt blackberry sama coki-coki!" Nara tampak antusias saat menerima dua jenis makanan tersebut.
"Stok terakhir tuh, di rumah udah habis. Nanti pulang sekolah kita ke minimarket dulu. Kalau gak ada yogurt sama coki-coki, gue susah kalau mau nyuap lo." Cacha terkekeh kecil.
Sedangkan Nara tampak cemberut, namun tetap menerima yogurt dan coki-coki tersebut.
"Ih, apaan sih? menyuap itu tidak baik."
"Ya itu Fakta, lo 'kan doyan coki-coki. Otomatis gue gampang kalau mau nyuap lo."
Nara mengerucutkan bibir, membuat tawa Cacha terundang.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah diselingi obrolan-obrolan ringan. Bersamaan dengan itu, sebuah motor CBR250RR yang sangat familiar memasuki area sekolah, melewati Nara dan Cacha begitu saja.
Motor CBR250RR yang diketahui milik siapa itu kedapatan membawa penumpang di jok belakang. Bahkan si penumpang terlihat memeluk pinggang si pengemudi dengan mesra. Semu orang sontak saja menatap ke arah mereka berdua, tidak terkecuali Nara dan Cacha. Sekarang Nara tahu kenapa laki-laki itu mengingkari perkataanya sendiri. Atau mungkin, Nara yang terlalu berharap tinggi?
Sepersekian detik berikutnya, Nara menyunggingkan senyum tipis seraya bergumam. "Satu kursi, dua penumpang."
...****...
...TBC...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, vote, komentar untuk mengoreksi typo, like, rate bintang 🌟 lima, follow Author, share, tabur bunga sekebon 💐💐
Tanggerang 11-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
satu kursi dua penumpang, pangkuan donk yak🤣
2024-05-22
0
Anis Hasan
lanjut
2022-11-11
1
💕Erna iksiru moon💕
udah mah maksa sok kaya cenayang eh giliran maksa mo jemput gak taunya cuma omdo.sabar Nara....
2022-11-11
1