..."Seperti layaknya fhi dalam aljabar, rasa ini berdiri sediri tanpa bisa diganggu gugat."...
...Un Familiar Brother...
...🫐🫐...
"Oke, jangan lupa hasil diskusi hari ini di-share ke anggota yang lain."
"Siap, Pak ketu!"
"Kalau gitu, rapat hari ini sampai di sini. Terima kasih atas kehadiran teman-teman sekalian!" Ujarnya, menutup pertemuan kali ini. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah mengucapkan salam, anggota yang lain serempak menjawab. Dikarenakan acar kumpulan sudah selesai, satu per satu anggota OSIS yang hadir mulai undur diri. Membuat ruangan yang tadinya ramai perlahan-lahan mulai lenggang. Hanya ada beberapa koordinator Sekbid atau seksi Bidang yang masih berjibaku dengan tugasnya masing masing.
"Nara."
"Iya, kenapa?" pemilik nama tersebut yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di seperangkat komputer, langsung menjawab saat namanya dipanggil.
"Istirahat dulu, kerjaannya bisa dilanjut nanti."
Gadis bermata bening itu mengangguk. Beberapa saat kemudian jemarinya lihai menggerakkan mouse guna mengarahkan kursor untuk meng-close pekerjaan yang dilakukan barusan setelah di-save.
"Hari ini kamu bawa bekal?" Tanya Arsen sambil membantu membenahi kertas kertas HVS yang berserakan di atas meja. Membatu meringankan tugas Nara yang sedang memilah beberapa kertas untuk digolongkan.
Nara menggelengkan kepala. "Tadi nggak sempat bawa."
"Kalau gitu kita makan siang di kantin, hari ini Mbok Inah masak menu kesukaan kamu."
Manik jernih Nara bergulir, menatap Fatir dengan antusias.
"Nasi uduk sama orek tempe?"
Arsen mengangguk mengiyakan, sedetik kemudian ia kembali berujar. "Ada sambal teri juga."
"Oke, berarti habis ini kita langsung ke kantin." Nara menyahut dengan antusias.
Arsen tersenyum tipis melihat respon lawan bicaranya. Menurut Arsen, mengajak Nara makan itu gampang-gampang susah. Menu makanan biasa seperti nasi uduk saja dapat membuat Nara langsung menerima ajakannya dengan antuasias. Berbanding terbalik jika Arsen mengajak Nara makan di restoran cepat saji seperti McDonald's, KFC, Starbucks, burger king, beserta jajarannya. Nara akan menolak dengan 1001 cara. Jika ditanya kenapa, maka ia akan menjawab tempat tersebut tidak sesuai dengan lidah dan uang di kantongnya.
Nara dan Arsen memang sudah berteman sejak lama. Mungkin semenjak duduk di bangku sekolah dasar. Nara tidak ingat kapan tepatnya, namun hingga saat ini Nara selalu berteman baik dengan Arsen. Orang tua Arsen juga sangat welcome pada Nara. Mereka tak segan-segan mengulurkan tangan jika Nara dan ayahnya sedang butuh bantuan.
"Kenapa berhenti makan?"
Dengan alis bertaut, Arsen melontarkan sebuah pertanyaan saat melihat gadis di hadapannya berhenti mengunyah.
Nara menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyum. Matanya tidak sengaja menangkap keberadaan sang ayah yang sedang duduk di bawah pohon mangga yang lebat daunnya seraya mengibaskan topi usang miliknya.
Jika diperhatikan lebih jeli lagi, sang ayah pasti sedang kepanasan setelah menyapu setiap sudut sekolah yang sangat luas. Matahari juga sedang bersinar terik-teriknya. Mengingat sekarang sang Surya tengah berada tepat di atas cakrawala.
"Kamu tunggu dulu disini sebentar." Arsen tiba-tiba menarik kursi, mendorong ke belakang, sebelum ia pergi begitu saja meninggalkan Nara.
"Kamu mau kemana?"
Arsen tidak sempat menjawab. Laki-laki itu sudah terlebih dahulu membelah keramaian kantin yang siang ini seperti siang-siang sebelum, dipadati oleh para siswa-siswi yang kehausan juga kelaparan.
Nara bukan tidak mau menemui sang ayah, hanya saja sang ayah sudah mewanti-wanti agar Nara menyembunyikan identitas orang tuanya yang asli. Ayahnya hanya seorang penjaga sekolah, sekaligus seorang tunarungu. Nara selalu bertanya kenapa harus menyembunyikan identitas, padahal Nara tidak malu sama sekali memiliki ayah spesial seperti ayahnya. Namun, ayahnya selalu berkilah.
Ayah Nara berkata hanya ingin menjaga sang putri, supaya tidak ditindas oleh anak-anak lain.
Sebutir air matanya hampir saja lolos saat Nara menangkap pemandangan yang begitu menyentuh hati. Arsen terlihat menghampiri sang ayah dengan membawakan satu kantong kresek hitam berukuran sedang. Nara tebak, isi kantong keresek hitam berukuran sedang itu pasti berisi makanan dan minuman.
Ayah Nara terlihat tersenyum tipis saat menerima pemberian Arsen. Detik berikutnya ia menoleh, menatap ke arah sang putri sambil tersenyum hangat. Seolah-olah ia berkata bahwa ia baik-baik saja lewat senyuman tersebut. Arsen tampak mengobrol sejenak dengan ayah Nara. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Nara suka berteman dengan Arsen, karena Arsen berbeda dari yang lain. Cuma Cacha dan Arsen lah yang dapat menerima Nara apa adanya.
Selama mengenyam pendidikan di SMA Angkasa, Nara menyembunyikan identitasnya dengan bantuan Arsen. Karena alasan itu pula ia jadi tidak dapat semerta-merta menolong sang ayah ketika diejek oleh siswa-siswi lain. Mereka suka sekali mengolok-olok ayah Nara yang tidak dapat mendengar.
"Terima kasih, kamu selalu mau bantu Ayah aku," ucap Nara dengan suara lirih.
Arsen mengangguk dan kembali duduk. "Oh, iya. Kamu jadi kerja paruh waktu, Nar?"
"Iya."
"Kerja dimana?"
"Aku kerja paruh waktu di cafe dekat pertigaan taman, ada temen lama yang ngajakin kerja di sana." Nara memang memberitahu pasal pekerjaan sampingan yang baru ia dapatkan.
Kemarin malam ia mendapat SMS dari teman lamanya yang ia jumpai beberapa hari yang lalu. Katanya Nara boleh kerja paruh waktu di cafe tempat temannya itu bekerja. Nara tentu senang bukan kepalang. Setidaknya dengan uang hasil kerja paruh waktu nya, Nara bisa mencicil biaya SPP.
"Om Andra memangnya tahu soal rencana kamu mau kerja?"
"Tahu. Aku udah bicara kok sama Ayah. Lagi pula, kerja paruh waktu nya setelah pulang sekolah sampai jam sembilan malam. Jadi, tidak menganggu jam sekolah aku."
Nara memang hanya tinggal berdua bersama ayahnya di sebuah kontrak kecil yang bisa dikatakan sudah tidak layak huni. Namun, karena si pemilik sangat baik, jadi mereka betah tinggal lama di sana. Selain itu, biaya sewanya juga lumayan ramah di kantong. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan dapur dan kebutuhan sehari-hari, ayah Nara hanya mengandalkan upah yang didapatkan dari bekerja sebagai tukang sapu di sekolah. Jika sedang libur kerja, ayah Nara juga akan mencari pekerjaan serabut untuk menambah penghasilan.
Nara sendiri tidak mau tinggal diam melihat ayahnya banting tulang begitu gigih. Ia juga ikut bekerja sebagai buruh cuci gosok, pengantar koran, sampai penjualan keripik milik tetangganya.
"Ehh, lo, kaum miskin."
"Kamu panggil aku?" Nara menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iya lah, siapa lagi di sini yang miskin selain Lo?!"
Nara menghela napas mendengarnya. "Ada apa?"
"Lo belum bayar uang kas. Kenapa-kenapa?!"
"Udah kok, minggu kemarin aku bayar sekalian sama minggu ini." Nara menjawab dengan sejujur-jujurnya. Ia memang sudah membayar uang kas Minggu lalu, sekaligus dengan Minggu ini.
Gadis dengan rambut model wolf cute yang berdiri di hadapan Nara itu menyunggingkan senyum remeh.
"Kapan? Gak ada dicatetan tuh. You lie?"
Nara menggeleng. "Minggu kemarin aku udah bayar."
"Tapi dicatetan gue gak ada!" Sengit Rene, si Bendahara kelas XI IPA 6 yang dijuluki bangkling atau bang keliling tersebut.
"Mungkin kamu lupa Ren, Nara pasti udah bayar." Arse ikut angkat bicara.
"Minggu kemaren aja dia masih nunggak. Bisa jadi sekarang dia bohong."
"Muak gue sekelas sama anak miskin kayak si Nara. Perkara uang kas aja nggak sanggup bayar, sampai-sampai bohong segala," tambah teman Rene. Risa namanya. "Mana gak punya identitas yang jelas lagi. Anak siapa coba? Jangan-jangan anak haram," lanjutnya.
Nara menatap mereka tanpa suara. Di samping itu, malah Arsen yang merasa tidak suka Nara dijelek-jelekkan.
"Memangnya Ale nunggak berapa minggu, sini biar aku yang bayar." Arsen angkat bicara sambil merogoh saku celana abu-abunya. Mengeluarkan dompet kulit dengan logo khas dari dalam saku.
"Lo, kalo gak punya duit bilang aja. Gak usah bohong. Lihat tuh, ketua OSIS SMA Angkasa aja sampe rela bayarin uang kas lo," cibirnya Rene. Tatapnya tampak menyiratkan kemenangan, Karen berhasil membuat Nara tak berkutik.
"Aku udah bayar, Ren." Kekeuh Nara. Toh, ia juga tidak lupa.
Rene yang punya backing-an kelas kakap dari kelas dua belas, tentu saja tidak mau berhenti di sana. Lagipula backing-an nya Alexanderia Natadisastra, jadi dia tidak akan pernah takut pada siapa pun.
"Oh ya? gue ragu kalau cewek kayak lo punya duit buat bayar uang kas, jajan aja masih dijajanin."
Timpal Rene sambil menyenggol bahu Nara.
"Cih. Anak beasiswa tanpa identitas jelas, darimana coba punya duit,." tambah teman Rene, sebelum mereka berdua pergi meninggalkan Nara dan Arsen begitu saja.
"Nar, kamu gak papa?" tanya Arsen risau.
Sedangkan di sampingnya Nara hanya bisa mengangguk seraya mengatur napas.
"Ada ape nih rame rame?" tanya Cacha yang baru saja datang. "Ada apaan, Sen? perasaan kayak ada orang yang baru ribut."
Arsen tak menjawab. Maka Cacha beralih pada Nara.
"Ada apa, Nar? ada yang jahatin lo?!"
Nara menggelengkan kepala. "Enggak kok."
"Terus kenapa? Gara-gara gue ngantri beli soto bang Jamin, gue jadi kudet. Cerita dong, komuk kalian kok kayak bilang barusan habis ada apa-apa."
"Aku nggak papa kok," Pada akhirnya Nara menjawab seraya menyunggingkan senyum tipis.
"Nggak papa?" Cacha menatap sang sahabat memicing. "Bo'ong banget lo. Hayo, ngaku. Tadi ada aps?"
"Nggak ada apa-apa, cuma masalah kecil," sahut Arsen. "Udah, nggak perlu dibahas lagi."
Cacha ber-oh ria seraya mengipasi mangkok berisi siti favoritnya
"Mending kita sekarang ke kelas, sebentar lagi jam istirahat selesai."
"Eh, kok buru-buru?" bingung Cacha. "Soto gue belum habis, nih." Cacha menunjukkan sotonya yang belum tersentuh.
"Bentar lagi jam istirahat selesai, kamu gak lihat jam?"
"Hah?"
Nara menunjuk jam dinding di dekat pintu masuk. Benar saja, kurang dari lima menit lagi jam istirahat masuk akan selesai. Padahal Cacha belum sempat makan apapun.
"ASTAGA NAGA, KOK UDAH MAU HABIS AJA?! ANE KAN BELUM MAKAN SOTO MANG JAMIN?!" frustasi Cacha. Ternyata ia keterlaluan lama mengantri saat membeli.
Diam-diam Arsen mengamati raut wajah Nara yang pandai menyembunyikan ekspresinya. Padahal beberapa saat lalu gadis itu dicaci dan dimaki, namun sekarang lihatlah bagaimana caranya tersenyum begitu lebar.
🫐🫐
Srenggg
Srenggg
Bunyi minyak panas yang beradu dengan irisan bawang merah, bawang putih, serta bumbu yang ditumis di atasnya. Menguarkan aroma harus harum yang tercium ke seluruh ruangan.
"Umm, harumnya. Sampai terasa menggelitik ketek, njirr!" Seru pemuda bercelemek pink itu, heboh sendiri.
"Eh, kutil unta. Bukanya bantuin, malah nangkring di sono lo. Bantuin sini?!" Ujar pemuda bertubuh gempal yang berada dibalik penggorengan.
"Elah Gen, tujuh turunan Napoleon bonaparte juga udah tau kalau gue anti sama yang namanya masak," jawan pemuda yang tengah duduk di atas kabinet dapur.
"Bisa ae lo ngejawab.".
"Ya iya lah, gue kan otaknya encer kayak RM BTS hehehe.."
"RM pala lu peang, IQ jongkok aja bangga." Pemuda yang baru saja tiba dengan membawa barang belanjaan tersebut ikut menyahut.
"Gen, pesanan nomer delapan nasi goreng seafood extra pedas, pesanan nomer sembilan nasi goreng anjritt level lima, sama oseng-oseng baby cumi," kata Ibo menjabarkan sambil menempelkan sticky note berisi pesanan para pelanggan di lemari pendingin.
"Segera dieksekusi!" jawab Genta, pemuda bertubuh gempal yang berada di balik racikan semua hidangan lezat di Lumiere Cafe.
Suasana dapur Lumiere cafe hari ini sangat ramai. Lumiere memiliki arti cahaya tersebut digunakan sebagai nama cafe milik Arganta Natadisastra. Cafe yang hits di kalangan anak muda kota Kembang itu mengusung tema nyaman untuk kongkow-kongkow atau sekedar ngopi-ngopi cantik.
Berdiri semenjak dua tahun yang lalu, cafe itu didirikan dengan harapan dapat menjadi cahaya bagi semua kalangan. Kenapa menjadi cahaya? Karena di sana adalah tempat berkumpulnya para pemuda yang telah menjadi korban kekejaman dunia. Namun, mereka mendapatkan cahaya dari sang Ilahi, sehingga dapat kembali ke jalan yang benar.
Selain hits di kalangan kawula muda karena tempatnya yang nyaman, instagramable, Lumiere Cafe juga dengan sajian menu yang unik, dengan jajaran para waiters ganteng yang peluk-able.
Walaupun rata-rata para pekerja di Lumiere cafe berasal dari golongan yang tidak terduga, seperti mantan narapidana, biang onar, badboy, penyandang disabilitas, dan beberapa anak berandalan, misalnya Genta. Kepala Koki itu dulunya mantan pencuri kelas kakap yang sudah pernah berulang kali masuk bui, kini banting stir menjadi seorang koki. Ada juga Ibo, mantan preman pasar yang kini bergabung di Geng SPINIX dan bekerja sebagai waiters di Lumiere Cafe.
Arga selalu pendiri sekaligus pemilik dengan adanya cafe ini para anggota bisa menyalurkan nilai-nilai positif, terlepas dari image yang telah melekat pada mereka. Arga berharap dengan adanya cafe ini mereka dapat lebih mandiri dengan cara bekerja supaya dapat menghasilkan uang sendiri.
"Guys, attention please!" Nindi yang baru saja muncul tiba-tiba mengambil alih perhatian.
"Ada apa Mak?" Tanya Genta, angkat bicara.
Hari ini pengunjung cafe lumayan padat. Cukup menguras tenaga para pekerja dibalik layar, seperti Genta dan kawan-kawan. Mereka harus berjibaku dengan pesanan pelanggan sejak jam makan siang.
"Ada apa cinta, mungkin engkau rindu pada kakanda," cetus Iki, hiperbola.
Nindi tak menggubris sama sekali, membuat Iki menipiskan bibir.
"Ada apa nih Nin, pekerja barunya udah dateng?" Kini Genta yang kembali bersuara.
Nindi tersenyum tipis sambil mengangguk. Total ada 8 pemuda di ruangan tersebut. Menatap Nindi dengan antusias saat tahu mereka akan kedatangan teman baru.
"Cewek atau cowok?"
"Cewek," jawab Nindi. Dari jawaban itu, muncul lah pertanyaan-pertanyaan tidak berfaedah lainnya.
"Anak mana, Nin?"
"Umur berapa?"
"No HP nya kosong lapan...?"
"Please deh kawan-kawan, pertanyaannya di-cancel dulu."
Iki mengangguk sekilas, sebelum celingukan kesana kemari. "Mana? kok gak ada?"
Nindi berdehem keras, mengalihkan perhatian mereka. "Mulai hari ini dia kerja paruh waktu disini, semoga kalian bisa akrab."
Detik berikutnya pekerja baru yang dimaksud Nindi menunjukkan batang hidungnya, setelah Nindi menggeser kan badan
"Halo, salam kenal semuanya," sapanya ramah. "Aku Nara. Mulai hari ini kerja disini. Semoga kalian semua...."
"Loh, lo ngapain disini?!"
🫐🫐
TBC
Kaget, nggak? kaget, nggak? kaget lah, pasti 😂
Jangan lupa like, vote, komentar, rate 5 bintang 🌟, add ke library, tabur bunga 💐💐💐
Tanggerang 08-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Kaget lah, masa nggak
2022-11-11
0
Cegilnya Matthias
Pokoknya hidup Nara nggak akan B ajah setelah ini
2022-11-09
1
Cegilnya Matthias
Nah, loh, masuk kandang singa 🦁
2022-11-09
1