¹⁶UFB

"Ish, gue sebel sama Arga. Bisa-bisanya dia malu-maluin gue kayak tadi," gerutu gadis cantik yang baru saja mengambil posisi duduk itu.

"Kenapa lagi cowok lo?"

"Dia malu-maluin gue. Sebel deh!" keluhnya.

"Udahlah, Xa. Mungkin tadi Arga lagi nggak mood aja."

"Apanya yang nggak mood? Tadi dia baru nyamperin cewek miskin itu!"

"Junior?" Tebak salah satu temannya.

Alexa memutar bola mata malas, seraya melipat tangan di dada. "Of course. Cewek miskin yang sekelas sama Rene, kelas XI IPA 6 "

"Oh, yang sempat dijuluki otak emasnya SMA Angkasa bukan sih?" sahut teman Alexa yang lain.

"Please deh Put, jangan mulai. Dia sama gue aja, pasti lebih smart gue. Secara guru les gue aja orang-orang pilihan." Pemilik nama lengkap Alexa Natadisastra itu memutar bola matanya jengah.

"Cewek yang modal otak doang sama tampang sok polos kayak dia tuh banyak," imbuhnya.

Putri mengangguk paham. Ia kemudian mengarahkan dagunya ke arah jam sepuluh. "Junior yang Lo maksud itu, 'kan?"

Alexa menoleh, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin. Maniknya kemudian menangkap sosok yang tengah mereka perbincangkan memasuki area kantin.

"Sikat aja, mumpung Arga and the geng lagi main basket di lapangan outdoor," timpal sahabat Alexa yang lainya.

"Gak usah lo kasih tau, gue juga paham." Bibir yang terpulas lip mate waterproof dari brand Dior yang terlihat natural itu menyunggingkan senyum miring.

Di SMA Angkasa siapa yang tidak mengenal Alexa Natadisastra. Putri sematawayang Utama Natadisastra. Anak emas sekaligus putri kesayangan Utama serta istrinya, Sussanne Natadisastra.

Alexa juga punya tabiat dan tempramen yang buruk, sehingga banyak orang yang tidak mau berurusan dengannya. Jika sudah menginginkan sesuatu, Alexa pasti akan mendapatkannya dengan cara apapun. Putri dan Decha adalah dua sahabat sekaligus kaki-tangan nya.

Dikarenakan Alexa selalu diajarkan untuk menjadi Winner oleh orang tuanya, ia tidak pernah mau menerima kekalahan sekecil apapun. Alhasil, tabiat yang terbentuk dari parenting tersebut membuat Alexa segan untuk menghalalkan segala cara demi meraih apa yang seharusnya menjadi miliknya.

"Gue punya rencana," ujarnya dengan senyum miring yang masih tersungging.

...🫐🫐...

"Nar, mau kemana?"

Gadis yang hendak menaiki anak tangga itu menoleh kala namanya dipanggil. Ia lalu menemukan sang sahabat yang muncul dari balik pintu kelas XI IPA 2.

"Mau ke kantin atas, nganterin kembalian uang kebersihan."

"Bukanya hari ini bukan jadwal lo?"

"Iya, hari ini bagian Nuri sama Fikar. Tadi mereka amanah sama aku, soalnya mau kumpul Dewan."

"Oh, pasti mau ada rapat buat Mubal tuh."

"Iya."

Hari ini memang bukan jadwal Alea untuk menagih uang kebersihan, namun karena anggota OSIS yang bertugas harus menghadiri kumpulan Dewan, anggota inti di Organisasi pramuka yang menjabat dalam struktur organisasi tersebut. Jadilah mereka berhalangan hadir, karena harus menghadiri kumpulan dengan wacana membahas soal mubal atau musyawarah ambalan. Jika di dalam OSIS ada sidang AD/ART atau sidang Anggaran dasar/anggaran rumah tangga, dalam organisasi ada yang namanya mubal atau musyawarah ambalan. Tujuannya hampir sama, yaitu mengevaluasi kerja para dewan (anggota inti yang menjabat dalam struktur organisasi Pramuka) selamat satu tahun periode jabatan mereka. Apa program kerja dijalankan dengan semestinya, atau tidak.

Karena alasan itu pula, jadilah Nara dimintai tolong untuk menggantikan mereka.

"Ya udah, gue temenin. Takut digangguin si cowok jadi-jadian."

Nara tersenyum tipis mendengarnya. "Namanya Aries Iki loh. Bukan cowok jadi jadian. Dia juga termasuk kakak kelas yang ganteng loh, kata temen-temen sekelas kita."

"Tau ah, gue kesel sama namanya. Kenapa juga harus zodiak gue yang dia pake buat namanya si dia."

Nara geleng-geleng kepala sendiri mendengarnya. Hanya karena Iki selalu menganggu, Cacha enggan sekali berurusan dengan pemuda berwajah Europe itu. Ditambah lagi nama Iki berawalan Aries yang merupakan zodiak Cacha.

Sepertinya permintaan Cacha, akhirnya Nara pergi ke kantin atas ditemani oleh sahabatnya.

"Buk, ini kembalian dari uang kebersihan yang tadi diambil anak OSIS."

"Oalah iya, hatur nuhun neng geulis."

Anggukan kecil Nara berikan sambil tersenyum ramah. Selesai memberikan uang tersebut, ia dan Chaca langsung bergegas pergi. Terlalu lama di sini, seperti bisa saja mengundang bahaya. Belum lagi tatapan tajam dan menelisik dari beberapa individu membuat mereka tidak betah berlama-lama.

Kanti atas memang terlalu mewah untuk mereka berdua. Dari auranya saja, kantin bawah dan Kanti atas itu sangat berbeda.

Namun, saat hendak beranjak pergi, tiba-tiba sesuatu yang dingin berwarna pekat, serta berbau menyengat tumpah dan mengotori seragam Nara. Peristiwa yang terjadi begitu cepat itu tentu saja membuat shock dan menarik perhatian banyak mata.

"Upss, sorry. Sengaja!" Decha mendeka seraya menutup mulutnya. Isi dari cup di tangganya kini telah seutuhnya tumpah dan berpindah. Mengotori baju Nara.

"Astaga, Nar. Baju lo...." Chaca ikutan shock melihat seragam Nara.

Nara sendiri apa lagi. Ia hanya bisa menatap nanar seragam putihnya yang kini sudah berubah warna menjadi kuning pekat, setelah terkena tumpahan minuman milik Decha. Ditambah lagi baunya yang menyengat, membuat Nara tampak menjadi sumber yang membuat orang lain risih. Nara sendiri bahkan mual mencium bau cairan yang mengotori seragamnya

"Sorry, I mean tadi tangan gue licin."

"Sorry? Tadi Kakak bilangnya Sengaja loh, gue belum tuli ya!" serobot Cacha tidak terima. Siapa juga yang terima sahabatnya diperlakukan demikian.

"Lo nuduh temen gue?" Putri bergerak maju, ikut bersuara.

"Enggak, cuma mengutarakan sebuah kesaksian aja, Kak. Kenapa, salah?"

Nara meraih lengan sang sahabat. Bisa panjang masalahnya jika Cacha membuat keributan di sini. "Udah Cha, kita pergi aja."

Cacha tak menghiraukan, ia memilih maju selangkah guna menjadi tameng bagi sahabatnya.

"Memangnya gue gak tahu kalau Kakak ini sengaja. Ngaku aja, atau gue laporin Kakak ke kesiswaan!"

Decha melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai. "Silahkan, gue nggak takut tuh. Lagian nggak ada bukti juga."

"Tapi, ada saksi. Dan saksi gue," sahut Cacha tak mau kalah.

"Girls, ada apa sih? kok rame banget?" tanya suara lembut milik Alexander Natadisastra yang baru saja menyibak kerumunan. Maju, mendekat, agar dapat berdiri di samping sahabatnya.

"Gue nggak sengaja numpahin jus kek bajunya dia." Telunjuk Decha terangkat ke arah Nara. "Terus temennya nggak terima dan banyak bacot."

"Ops, bajunya sampe berubah warna gitu. Kaya kepribadian si pemakainya, berubah-ubah." Alih-alih menengahi, Alexa malah datang untuk menambahi. Sindiran tiba-tiba Alexa layangkan.

"Maksud Kakak apa, ya?" Nara tidak bodoh. Sindiran itu jelas-jelas ditujukan kepada dirinya.

"Gak usah munafik, lo lebih dari kata pintar buat mengerti maksud dari ucapan gue."

Alexa maju selangkah. Kaki jenjangnya yang terbalut sneaker shoes hitam dari brand Fila kini berhadapan dengan kaki Nara yang menggunakan sepatu Converse biasa yang harganya seratus ribuan.

"Listen me, hidup lo nggak akan tenang lagi mulai hari ini, karena lo udah ngusik ketenangan gue." Alexa berbisik lirih. Senyum miring masih tercetak jelas saat ia menarik wajah cantiknya.

"Kasih duit aja buat laundry, beres 'kan? ucapnya kemudian sebelum berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Decha dan Putri saling pandang untuk beberapa saat. Mereka kemudian kembali menatap Nara dengan iba.

"Tuh, kayaknya muat laundry baju lo. Kembaliannya ambil aja."

Keduanya lantas berlalu begitu saja setelah melemparkan selembar uang kertas pecahan seratus ribu.

"Nar?" Cacha memanggil dengan ragu. Ia sudah mengepalkan tangannya sejak tadi. Sungguh tidak berperasaan para kakel alias kakak kelasnya itu.

Nara menggelengkan kepala. Ia kemudian berkata. "Anter aku ke toilet yuk. Bajuku perlu dicuci."

Walaupun sulit, Nara tetap mencoba tersenyum demi sang sahabat.

"Ya udah, yuk. Gedek juga gue lama-lama ditempat gini, panas. Setan semua isinya!" Cacha berdecak kesal sambil menautkan jemarinya dengan milik sang sahabat.

"Makasih ya, Cha."

Cacha mengangguk antusias. Di dalam hati ia memuji. "Gue bangga punya sahabat sabar kayak lo, Nar."

...🫐🫐...

"Over ke gue, Ta!"

Pemilik nama panggilan itu menoleh, ia tampak mahir memainkan bola basket ditangannya. Dengan cekatan ia kemudian mengoper bola basket tersebut. Membiarkan benda berdiameter bulat itu beralih tangan kepada temannya.

Brug!

"Ayey!" Libra bersorak saat berhasil memasukkan bola yang diterimanya dari Arga ke dalam ring basket.

Bola kembali di-dribel di permukaan lapangan. Over sana-sini dengan strategi yang telah diperhitungkan. Sesekali Arga menunjukkan kebolehan melakukan shooting serta jump shot yang berhasil memukau para supporter. Leader tim basket inti SMA Angkasa itu memang selalu memiliki berbagai aksi memukau yang mengundang banyak reaksi.

Para anggota cheerleader juga semakin semangat memberi support kepada jagoan mereka. Walaupun ini hanya pertandingan persahabatan antar kelas, keramaian para penonton sudah seperti pertandingan antar sekolah.

Bunyi nyaring peluit yang cukup panjang menjadi instruktur bagi para pemain untuk menghentikan sejenak permainan mereka. Break diberikan untuk sekedar istirahat, meluruskan kaki, sampai menghilangkan dahaga.

"Widih, mantul bener main nya, Ta," puji Iki yang datang dengan membawa tiga botol air mineral dingin berukuran 600 mili liter. "Nih, minum dulu saudara-saudara."

"Tumben baek, kesambet dedemit mana lo?" sindi Libra seraya menerima air mineral tersebut.

"Gue baek lo sindir, gue goblok lo cibir. Serba salah deh gue di mata lo," kesal Iki dengan kedua tangan berada di pinggang.

"Udah jangan berisik!" Instruksi Orion dengan wajah flat andalannya.

Iki berdecak mendengar instruksi Orion. "Elah, leader kita aja no coment."

Arga jadi satu-satunya di antara mereka yang tidak buka suara. Ketika tengah meminta air mineral yang dibawakan oleh Iki, tiba-tiba onyx hitam miliknya menangkap kejanggalan pada gadis yang tengah berjalan di koridor kelas XI di sebelah barat.

"Ki, lo gantiin gue."

"Hah? Maksud lo apa ....woi! lo mau kemana, Ta??" Panggil Iki saat Arga berlalu dengan cepat, begitu saja. "Gue 'kan nggak mau main, Ta. Aing 'kan noob (gue 'kan payah)."

Libra tersenyum jumawa sambil menepuk bahu Iki. "Udah masuk aje, hitung-hitung buat otot perut lo. Biar six pack."

"Sans ae lo bambang!"

Tak lama kemudian bunyi peluit kembali terdengar. Membuat Iki mau tidak mau harus ikut masuk ke lapangan, menggantikan Arga yang pergi begitu saja.

"Dasar ceroboh," gumam Arga di tengah langkah lebarnya mengejar siluet itu. "Nggak ada yang boleh nyakitin lo, kecuali gue."

Ketika berhasil memangkas begitu banyak jarak di antara mereka, ia langsung menangkap pergelangan tangan siluet tersebut.

"Siapa yang lakuin ini sama lo?!"

"Kakak apa-apa, sih?"

"Ikut gue!" titah Arga, mutlak.

"Tapi Kak, aku mau...."

"Jangan keras kepala!" seru Arah seraya mengeratkan tautan tangannya.

"Eh, eh. Kak Arga jangan kasar dong sama Nara!" lerai suara dari arah samping, membuat Arga sadar bahwa ada orang lain di antara mereka.

"Lepasin Nara, Kak. Kita nggak ada urusan sama Kakak."

Arga tak menggubris. Ia tetap membawa Nara pergi bersamanya. Meninggalkan Cacha yang masih terbengong-bengong di tempat.

"Mereka sebenernya punya hubungan apa sih?!"

...🫐🫐...

...TBC...

Semoga suka 😘😘

Tanggerang 12-11-22

Terpopuler

Comments

🌸Erna iksiru moon🌸

🌸Erna iksiru moon🌸

mo di bawa kemana bang?anak gadis orany woyy🙄greget deh pen ngemplang anaknya si sussana eh sussane pantes kelakuannya kek demit😁

2022-11-12

1

Aduh, Arga. Kok gituu??

2022-11-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!