Malam itu Nara tampak hilir mudik membawa nampan. Mengantarkan pesanan para pelanggan yang membludak. Hal bisa dikatakan biasa, mengingat malam minggu begini tempat-tempat yang cozy dan asik dijadikan sebagai tempat nongkrong dan kongkow-kongkow pasti akan ramai dikunjungi.
Tepuk tangan juga beberapa kali terdengar dari para pengunjung, karena pada malam di akhir pekan begini ada penampilan spesial dari guest star band yang didatangkan untuk menghibur para pengunjung. Mereka juga diperbolehkan untuk request lagu-lagu lawas hingga lagu-lagu zaman sekarang.
"Huft, akhirnya selesai juga," lirih Nara setelah menutup pintu Cafe rapat-rapat, kemudian membalikkan papan kecil bertuliskan open menjadi close. Tanda jika cafe telah tutup.
"Hualah, waktunya istirahat guys," pekik suara familiar yang khas dari arah dapur.
Malam minggu kali ini tampaknya berbeda. Pasalnya setelah cafe tutup pada jam operasional yang biasa, anak-anak geng SPHINIX datang bergerombol, memenuhi ruang utama Lumiere cafe. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa berbagai alat musik, minuman, serta makanan ringan dan makanan cepat saji.
"Nar, sini," panggil Nindi.
Hari ini Nindi juga memang tidak pulang lebih awal seperti biasanya. Ia bahkan menyempatkan waktu untuk bersenda gurau dengan anak-anak SPHINIX. Nara sendiri sungkan untuk bergabung. Mengingat ia pernah melakukan tindakan kurang menyenangkan, yaitu melaporkan geng SPHINIX.
"Ayo Nar, gabung," ajak Genta, angkat bicara.
Nara akhirnya mengalah. Langkah kecil Nara perlahan-lahan mulai meringkas jarak di antara mereka. Ia kemudian mengambil posisi
duduk di sebelah Nindi.
"Lo anak Osis yang waktu itu ngelaporin kita 'kan?" ungkit salah seorang pemuda yang tengah merokok di sisi kiri Libra.
Nara mengangguk dengan kikuk. "Iya."
"Weh, dunia ternyata sempit banget. Selebar daun kelor kali, sampe-sampe kita bisa lihat dalang dari skorsing masal anggota geng SPHINIX di sini."
Semua mata beralih, jadi menatap Nara. Terutama Libra yang memang memperlihatkan ketidaksukaannya pada Nara sejak awal.
"Maaf," ucap Nara seraya menunduk. "Aku memang salah, tapi aku bukan sengaja. Video itu juga bukan aku yang ngambil, aku cuma diminta untuk memberikan ke pihak OSIS," tuturnya.
Bersama dengan itu, keheningan menjadi penengah di antara mereka. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
"Basi!" ujar suara bariton itu, memecahkan keheningan di antara mereka. "Gue benci mayonaise," lanjutnya, menyerukan ketidaksukaannya.
Ia kemudian menggunakan onyx hitam miliknya untuk menatap yang lain. "Kenapa? Basi. Yang udah lewat, ya udah. Ngapain harus diungkit-ungkit."
"Ah, iya ya...." Iki terkekeh, mencairkan suasana di antara mereka.
Sang leader tengah berusaha memberikan kode, supaya mereka tidak lagi mengungkit-ungkit masalah yang sudah berlalu.
"Bener kata Arga, kejadian itu udah lama. Lagian Nara juga udah minta maaf," tambah Genta.
"Lo belain dia, Gen?" Libra tampak tidak suka saat Genta berbicara demikian.
"Bukan gitu, Lib. Tuhan aja Maha Pemurah, lagi Maha Memaafkan dosa-dosa makhluk-Nya. Lah kita yang cuma manusia biasa masa gak bisa memaafkan terhadap sesama?" imbuh Genta.
Libra mendengus tidak suka.
"Udah, udah. Mendingan kita makan lagi, keburu dingin." Iki ikut turun tangan untuk menengahi. Tanpa permisi, ia kemudian menyumpalkan burger berukuran medium ke mulut Libra.
"Uhuk, uhuk. Sial*n lo?!" Libra sampai terbatuk-batuk karena tindakan Iki.
"Anjirrrr! Maaf Lib, sengaja." Iki tertawa renyah, membuat Libra kian bad mood.
Melihat interaksi dua orang saudara itu, yang lain jadi ikut terhibur. Termasuk Nara. Ia tersenyum kecil melihat interaksi mereka. Diam-diam ia mulai menilai jika pergaulan anak-anak geng seperti geng SPHINIX tidak selalu berbau negatif.
Nara sempat berpikir seperti kebanyakan orang, jika anak geng motor seperti geng SPHINIX itu pasti tidak jauh dari topik otomotif ketika berkumpul. Akan tetapi, ternyata mereka juga membahas topik lain ketika berkumpul seperti saat ini. Bahkan topik yang sangat sepele.
"Makan Nar, masih banyak nih burger nya."
Nara mengangguk tipis. Kini tinggal ia sendiri yang berjenis kelamin perempuan di sini. Nindi sudah pamit pulang setengah jam yang lalu. Awalnya Alea juga ingin melakukan hal yang sama, hanya saja ia malah tertahan di sini.
"Nih makan, badan lo kurus kayak lidi soalnya." Iki menyodorkan makanan junk food tinggi kalori itu ke arah Nara. "Banyakin makan junk food biar gemuk."
Nara menggumamkan terima kasih. Kemudian bertanya. "Kok yang ini masih utuh?"
"Yang ini mau buat battle," jawab Iki seraya menggigit chicken nugget McDonald's yang berlumuran saus.
"Battle?"
"Gin nih, berhubung ini malem minggu. Dari pada boring mending kita happy-happy."
"Maksud lo?" Genta ikut bertanya. Ia telah menghabiskan burger yang Iki sumpalkan ke dalam mulutnya.
Iki menyudahi kunyahannya. "Kita main TOD, gimana?"
"Ah basi." Libra nyeletuk santai. "Yang lain, kek. Biasanya juga main kartu bridge atau tarot."
"Dengerin dulu cara mainnya, Bro." Iki mendengus sebal. "TOD ini rules nya gini, kalau ada yang pilih dare, dia harus nerima suapan dari yang muter botol plus jalanin dare nya. Kalau...."
"Hah?" bingung yang lain, kompak.
"Jangan motong dulu!" kesal Iki. "Intinya kalau milih truth, berarti selamat. Kalau dare jadi double konsekuensi."
"Kenapa gitu?" Ibo iku melontarkan pertanyaan.
Iki tersenyum tipis sebelum menjawab. "Karena.... kalau ada yang pilih dare, kita gak bakal tahu apa yang bakal diminta buat dilakuin. So, to the points, dare itu terlalu membag*ngkan."
"Namanya juga truth or dare?!"
"Justru itu, gue cuma mau tes kejujuran sesama bangs*d disini, lewat truth or dare ini." Iki tetap bersikukuh. "Jadi siapa yang mau ikutan?"
"Ogah. Gue mending..."
"Cemen lo, Lib. Gak ikutan, tanda-tanda banyak rahasia," celetuk Iki.
Libra melotot tak suka. Niat awalnya memang enggan mengikuti permainan nyeleneh tersebut, eh malah ia jadi merasa diragukan begini.
"Oke, gue ikutan."
"Nah, gitu dong saudara." Senang Iki. Ia lantas memberikan kedipan manja pada Libra.
"Siapa lagi nih yang mau ikutan?"
Dikarenakan berbeda dari biasanya, anak-anak lain jadi tertantang untuk join. Orion juga dipaksa ikut oleh Iki, tidak terkecuali sang Leader.
"Kalau Lo gimana, Ta?" tanya Iki.
Pemilik nama panggilan itu menoleh pada satu-satunya perempuan di sana. "Kalau dia ikut, gue ikut."
Perkataan Arga tentu saja membuat yang lain sukses menatap ke arah Nara.
"Lo wajib ikutan kalau gitu," ujar yang lain, berkata secara bersamaan.
Nara tidak dapat menghindari permainan tersebut, saat botol minuman yang digunakan sebagai perantara diputar oleh Iki.
"Stop." Iki mengakhiri putaran botol tersebut. Ia tersenyum misterius saat target pertama nya adalah Libra. "Truth or dare? Truth dong pastinya. Masa dare?"
"Truth, siapa takut!" Libra menjawab dengan santai sambil menyesap batang nikotin.
Iki mengangguk-angguk paham. "Malam minggu kemaren, lo jalan sama siapa ke Paradise Night? Anak Angkasa, Panca, Langit, atau anak mana?"
"Eh goblok, pertanyaan apaan tuh?!" Libra berdecak sebal mendengar pertanyaan Iki.
Anak-anak yang lain jadi tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi korban pertama dari permainan konyol Aries Iki. Nara sendiri mulai terlarut dalam canda dan tawa di antara mereka. Dari detik inilah sudut pandangnya berubah tentang mereka.
"So, anak mana?"
Libra berdecak sebal seraya mengapit batang nikotin nya di jemari. "Anak Panca, puas?!"
Iki terbahak mendengarnya. "Uwuuu, ada yang jalan sama anak Panca nih."
"Siapa nih namanya?"
"Kenalin dong!"
Goda mereka gencar. Gara-gara itu, muka Libra jadi terlihat merah, walaupun samar.
"T*ik lah. Gara-gara lo!" Libra melotot tajam ke arah Iki.
Sedangkan Iki hanya tertawa renyah. "Lanjut. Giliran lo yang puter botolnya."
Permainan kembali dilangsungkan. Canda dan tawa mengiringi permainan bermodalkan botol minuman tersebut. Sesekali mereka juga bersorak riuh saat mendengan aib satu per satu kawan mereka.
Permainan truth or dare anti-mainstream masih berlangsung. Sudah tiga baki yang tadinya berisi junk food ludes tak berbekas. Sudah banyak juga aib yang terungkap di sekeliling mereka.
Libra bahkan sudah tiga kali jadi korban. Oleh karena itu, sepanjang permainan ia kelihatan sebal sekali. Libra baru bisa tersenyum saat botol di tangannya berhenti dan mengarah pada Nara.
"Lo pilih apa?"
"Truth dong, masa dare." Support Iki sambil ngemil kentang goreng yang berada di nampan.
"Aku ....pilih truth."
Sesungguhnya Alea sudah ingin pulang, karena pasti Ayahnya sudah menunggu. Belum lagi Arsen dan Cacha, mereka sejak tadi sudah memberondong nya dengan ratusan telepon.
Kini giliran Libra melontarkan pertanyaan. Ia tentu tidak akan menyia-nyiakan nya. "Jawab jujur. Lo mantannya Arseno atau bukan?"
Semua mata langsung tertuju pada Nara kala pertanyaan tak terduga dilontarkan Libra. Nara langsung terpaku. Lidahnya kelu, jantungnya bergemuruh.
Bagaimana bisa Libra tahu soal hubungannya dengan Seno?
Lalu, apa yang harus ia jawab sekarang?
...🫐🫐...
...TBC...
Tanggerang 14-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
aihhhh...
2024-05-22
0
💕Erna iksiru moon💕
nah lho......di jawab jujur gak tuh?😁
2022-11-16
1