²UFB

Deru motor CBR250RR yang baru saja memasuki halaman sekolah terdengar menggema di mana-mana. Sekitar sepuluh motor CBR250RR dengan warna berbeda satu per satu mulai berjejer dengan rapih di parkiran. Satu persatu dari si pemilik kuda besi itu kemudian membuka helm full face yang menutupi wajah mereka.

"Njirrr, bau-bau kebebasan," celetuk salah seorang pemuda di antara para pengendara.

"Nggak sekolah seminggu, tapi rasanya kek setahun!" lanjut yang lain.

"Ya iyalah, orang lo cuma bisanya ngabisin ciki di rumah gue, o'on."

"Tau aja lo saudara."

Iki mendengus sebal mendengarnya.

"Ngomong ngomong si Arga kemana nih? Belum dateng?" Tanya Libra mencari cari keberadaan sang leader.

"Cabut. Dia kayaknya gak masuk," instruksi Eden selaku wakil leader. Ia beranjak pergi seraya menenteng ransel hitamnya.

"Hah, masa gak masuk? Di-skor seminggu masa kurang?" Iki geleng-geleng kepala sendiri membayangkan kelakuan leader mereka. "Di-skor seminggu aja masih minta nambah, nanti kalau tiba-tiba drop out gimana tuh?"

Hampir seluruh anggota inti geng SPHINIX memang di-skor selama seminggu. Mereka dilarang datang ke sekolah, namun pembelajaran tetap dilakukan secara daring. Orang tua mereka juga dipanggil ke sekolah sebagai peringatan lisan ke sekian kalinya.

Semua ini berawal dari insiden tawuran seminggu yang lalu. Video amatir yang merekam peristiwa tersebut entah bagaimana caranya bisa sampai ke tangan kesiswaan, bahkan viral di media sosial. Sialnya lagi pihak sekolah langsung memberikan skorsing selama seminggu di hari ketiga ketika mereka baru masuk sekolah.

"Impossible sih kalau Arga di-drop out, secara sekolah ini punya bokap nya, cuy."

"Oh iya, lupa!" ralat Iki.

Mana mungkin Arganta Natadisastra di-drop out dari sekolah milik ayahnya sendiri. Rasanya mustahil. Kecuali jika Arganta sendiri yang bersikap persuasif guna memancing amarah sang ayah. Arganta and the geng memang sudah berada ditingkat dua belas. Beberapa bulan lagi mereka akan melangsungkan Ujian guna meraih kelulusan, itu pun jika tidak ada tanggungan nilai dan sebagainya.

Mengingat para guru sudah hafal betul gelagat dan tabiat anak geng SPHINIX yang sering membuat kepala pusing. Poin plus nya, mereka terdiri dari anak sultan berwajah malaikat tampan. Ibaratnya, mereka itu sekumpulan siswa berlebel hitam di mata guru-guru, namun tetap memiliki titel anak emas bagi sekolah. Dikarenakan mereka itu pentolan sekolah yang tak ada harganya.

BRUK!

"Shitt!" umpat kecil lolos dari bibir lelaki yang baru saja berhasil meloncati tembok belakang sekolah. Spot langganan untuk para siswa kabur, atau sebagai jalan alternatif bagi para siswa yang telat masuk sekolah.

"Sepi," lirihnya sambil meraih ransel yang sudah terlebih dulu ia lempar.

Arganta Natadisastra. Nama yang tertera di name tag siswa tersebut.

Ya. Memang Arganta yang baru saja melewati tembok pembatas yang berlokasi dekat pembuangan sampah. Arga datang terlambat, jadi ia memilih jalur alternatif.

Arga kemudian dengan santai berjalan memasuki area sekolah. Saat berbelok di persimpangan koridor, ia dikejutkan dengan kemunculan seorang pria paruh baya. Semua penghuni SMA Angkasa pasti mengenal pria paruh baya tersebut, tidak terkecuali Arganta Natadisastra.

Pria paruh baya itu adalah pria tuna rungu yang berprofesi sebagai tukang sapu.

Setelah memastikan keadaan aman terkendali, Arganta kembali melanjutkan langkahnya dengan santai. Wajah rupawan nya tampak datar, dihiasi beberapa luka memar dan luka gores kenangan satu minggu yang lalu. Bukan Arganta namanya jika tumbang begitu saja. Seantero kota Dilan saja sudah tahu jika ketua geng SPHINIX selalu berhasil memenangkan pertarungan.

"Kamu baru datang?" tanya guru perempuan yang tengah menerangkan materi sejarah di depan kelas yang baru saja Arganta masuki.

Proses belajar mengajar sudah berjalan sejak tadi, bahkan hampir selesai. Sedangkan Arganta baru saja datang dengan tampang santai.

"Kamu telat lagi, Arga?"

"Hm. Memangnya kenapa?" Tanyanya balik.

Dengan santai ia melangkah memasuki kelasnya. Dua kancing teratas bajunya terbuka, ujung bajunya tidak dimasukkan. Ransel hitam tersampir begitu saja di bahu. Wajah flatnya menatap sekeliling dengan datar.

"Ngapain lo lihat-lihat?"

Pemuda berkacamata tebal yang kedapatan melirik Arganta langsung menunduk. Terlalu takut untuk berkontak mata dengan leader geng SPHINIX tersebut. Terlalu takut untuk menyelami onyx gelap sang leader.

"Ibu gak mau lanjut?" tanya Arganta datar, sesaat setelah ia sudah duduk di bangkunya.

Wanita berkemeja hijau lumut tersebut berdehem kecil. "Baik, kita lanjutkan belajarnya. Sekarang buka halaman 120, lalu kerjakan uji kompetensi dari halaman 120 sampai halaman 126."

Mendengar instruksi tersebut, sebagian besar penghuni kelas langsung lemas. Ada pula yang langsung menyuarakan protes, karena terlalu banyak soal yang diberikan. Namun, Bu Guru tak mengindahkan.

"Untuk kamu, Arga. Setelah jam Ibu selesai, Ibu tunggu di ruangan kesiswaan."

"Hm."

Arganta sudah terlalu biasa menerima panggilan kehormatan seperti itu. Mungkin jika ditotalkan, pelanggaran yang ia lakukan selama masa putih abu-abu akan memecahkan rekor MURI. Anggota OSIS, POLSIS, MPK, bahkan kesiswaan sekalipun sudah pening dibuatnya.

...🫐🫐...

"Lo tau nggak ruangan apa yang paling cocok buat penderita malarindu?" celoteh Iki tiba-tiba.

Laki-laki itu berdarah blasteran itu menatap lawan bicaranya dengan senyum jenaka yang terpatri di. Maniknya sesekali mengerling, membuat lawan bicaranya memutar bola mata malas.

"Ruangan apaan? Memang ada?"

"Ada dong, kudet lo."

"Ruangan apaan memangnya?"

"Ruangan I see you."

Libra terdiam untuk beberapa saat. "Itu ICU, Bambang. Gak nyambung!"

"Nyambung dong. Kan bacanya I see you!" Sewot Iki. Iya memang suka ngelawak, bahkan bercita-cita menjadi seorang stand up comedy, namun lawakan yang ia bawakan kadang terlalu garing.

"Pede amat lo sama lawakan receh aja."

"Iya dong. Gini-gini cita-cita mulia gue jadi stand up comedy alias pelawak, supaya bisa buat orang ketawa terus."

"Terserah Lo, deh. Gue sebagai saudara yang baik ikut mengamini aja," ujar Libra seraya menepuk-nepuk bahu Iki.

Walaupun candaan yang Iki lontarkan terkadang garing, namun ia adalah salah satu happy virus di geng SPHINIX. Setiap kumpul di markas, atau di kantin sekolah seperti saat ini, Iki yang akan paling banyak bicara.

Para inti geng SPHINIX yang juga merangkap sebagai inti anggota PASKA biasa duduk di meja pojok sebelah kiri. Dekat dengan stand soto mie dan bakso. Sudut tersebut secara tidak langsung sudah menjadi salah satu wilayah kekuasaan mereka.

Dari ambang pintu, kedatangan sang leader tentu saja membuat banyak kaum hawa melirik. Bukan saja tertarik, mereka bahkan berlomba-lomba menjadi fans fanatik nomer wahid.

Dari gelagatnya, pemuda yang baru saja keluar dari ruang kesiswaan itu tampak biasa saja. Tidak seperti siswa kebanyakan yang baru keluar dari ruang kesiswaan.

"Anjirrrr, pesona leader mah beda. Semua cewek auto pindah haluan semua."

Arganta menatap datar ke arah asal datangnya sindiran tersebut. Ia tidak pernah berniat sedikitpun untuk menjadi populer atau famous. Mereka saja yang mengejar-ngejar dirinya seperti orang gila. Toh, semua itu tidak ada artinya bagi Arganta.

"Yang ngelaporin kita ke OSIS udah ketangkep, Ta?" tanyanya Libra, angkat bicara.

"Belum, kayaknya masih berkeliaran bebas."

Dari kedatangan Arganta, tampaknya ada yang tengah menahan gelagat ketakutan diantara hiruk-pikuk kantin.

"Mana orangnya? Biar gue hajar sekalian!" Orion iku angkat bicara dengan nada yang tidak bisa dikatakan biasa saja.

"Hmm, gue juga mulai nyium bau-bau pengkhianat disini!" celetuk Iki. Ikut memprovokasi.

Arganta hanya menatap datar ketiga sahabat dekatnya. Bohong jika ia tidak jengkel mengingat pelaku pelapor tawuran tempo hari. Gara gara video tersebut, ia dan kawannya di-skorsing seminggu. Jika saja si pelaku itu sudah tertangkap, ia tidak akan melepaskannya dengan mudah.

Bug!

"M-maaf, nggak sengaja."

Iki menoleh raut wajah marah. Tangannya terasa panas karena baru saja terkena cipratan kuah baso yang tumpah.

"Jalan pake mata dong, jangan pake dengkul?!"

"I--iya. Maaf Kak, gak sengaja."

"Dasar mata empat, pergi sono Lo! Bikin mood gue anjlok aja," ujar Iki kesal.

"Permisi, Kak."

Tanpa mereka sadari, sejak tadi onyx hitam Arganta ikut mengawasi. Menelisik gerak-gerik siswa berkaca tebal tersebut.

Seulas seringai tipis kemudian terbit di bibirnya, bukan jenis seringai jail atau sejenisnya. Lebih tepatnya seringai mengerikan juga menakutkan.

...🫐🫐...

Bunyi gebrakan yang cukup nyaring berhasil membuat siswa berkacamata tebal itu terlonjak kaget. Sepasang onyx gelap tampak menatap tajam ke arahnya.

"Lo ada dendam apa sama kita?"

"D-endam apa ya, Kak?" cicit suara siswi berkacamata itu ketakutan.

"Ck, sok nggak tahu. Udah pikun lo?" cibir Iki yang sedang asik menikmati permen kaki berwarna merah menyala.

"Maksudnya apa ya, Kak? A-ku nggak ngerti?"

"Lo yang ngaduin kita ke anak OSIS 'kan?" tanya sebuah suara lainya menginstruksi.

"Bukan, Kak."

"Cih. Terus kalau bukan lo, siapa lagi?" cibir Iki lagi.

Pemuda berkacamata itu menatap takut keempat siswa populer di tempatnya bersekolah. Ia juga bingung, entah mengapa mereka menyudutkannya seperti ini. Padahal ia sudah berkata jujur. Lagipula siapa yang berani membohongi mereka. Empat senior inti PASKA yang juga pengurus dan pemimpin geng SPHINIX.

Tadi sepulang dari sekolah, ada dua siswa yang memaksanya ikut ke gedung belakang sekolah. Entah apa tujuan mereka, yang pasti ia dicecar dengar berbagai pertanyaan juga tudingan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.

"Aku udah jujur, Kak."

Mengabaikan kedua temanya yang sibuk berargumen, lelaki berwajah tampan tampan yang dimaksud menatap kearah tawanan mereka tajam.

"Lo yang udah ngaduin kita ke anak OSIS?" kini giliran sang Leader yang bertanya. Membuat laki-laki berkacamata itu ketakutan luar biasa.

"Ada anak SPHINIX yang lihat Lo di lokasi kejadian. Lo..." kalimat sang Leader urung diselesaikan, kala suara cicitan berhasil menarik perhatian mereka.

"Maaf, nggak sengaja Kak!"

"Siapa lo?!" tanya Arganta tajam.

Arganta Natadisastra adalah orang tipikal yang sangat benci jika ucapannya disela. Tamatlah riwayat si pelaku penyela, jika sampai berani membuat seorang Arganta Natadisastra marah.

"Aku?"

"Lo, siapa?" tegas Orion. Ia kemudian melirik name tag yang tersemat di baju gadis tersebut. "Aleanska Nara. Lo ....anak kelas dua?"

🫐🫐

TBC

Semoga suka 😘

Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘😘

Tanggerang 02-11-22

Terpopuler

Comments

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

ditunngu singgahnya di karyaku

2022-11-28

0

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

nyicil ya thor

2022-11-28

0

💗Erna iksiru moon💕

💗Erna iksiru moon💕

wah udah bertatap muka langsung nih ma Arga nih neng Nara...eh itu lanjutan yg tawurannya gimana kirain Nara d keroyok😁

2022-11-02

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!