..."Lebih baik sebuah pondok bambu yang penuh keriang gembiraan, dari pada sebuah istana yang penuh kemuraman."...
...Un Familiar Brother...
...🫐🫐...
Angin malam di kota Kembang cukup dingin juga kencang hari ini. Ketika kuda besinya dengan gesit membelah jalanan, hatinya terus menerus merutuki kebodohan yang membawanya kembali. Ia merasa bodoh dengan datang ke rumah itu. Tempat mengerikan dimana ibunya tersiksa lahir dan batin.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk pulang, untuk tuk berbagi kehangatan, nyatanya menjadi tempat paling mengerikan. Jika diibaratkan, lebih baik sebuah pondok bambu yang penuh keriang gembiraan, dari pada sebuah istana yang penuh kemuraman.
Perasaan yang campur aduk, membagi fokus Arga yang tengah berkendara. Alhasil ia kehilangan kendali. Jalanan berkelok di depannya, hampir saja menjadi momok mengerikan yang siap membuat nyawanya melayang. Untung saja ia lekas menarik tuas rem.
Bersamaan dengan itu, dari arah berlawanan terdapat sebuah truk tangki pengangkut bahan bakar minyak. Kesadaran Arga yang baru saja terkumpul langsung dipaksa untuk memikirkan cara terbaik untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Secara spontan Arga kemudian membanting stir ke kiri, masih ada peluang untuk selamat.
Kecelakaan mau memang dapat terelakkan antara Arga dan mobil truk kontainer pengangkut bahan bakar minyak, namun sebagai gantinya, Arga harus rela terpelanting dari motor CBR250RR miliknya yang kehilangan keseimbangan.
"Argh."
Rintihan kecil lolos dari mulut Arga saat tubuhnya berhenti berguling setelah terpelanting. Ia kemudian mencoba berdiri setelah mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa, Arga lantas bergerak untuk mendekati motor CBR250RR miliknya. Untung saja malam ini ia menggunakan jaket yang cukup tebal, sehingga permukaan kulitnya tidak langsung bersentuhan dengan aspal.
Kendati demikian, salah satu tangannya tergores cukup dalam. Entah terkena apa, mungkin tergores saat ia terpelanting dan berguling-guling.
"Sial!" gerutu Arga saat ia kesulitan membuat motornya berdiri.
Arga kemudian mengeluarkan handphone untuk menghubungi seseorang. ia tidak akan sanggup menyetir sendiri ke markas. Kondisi jiwa dan raganya sedang tidak stabil. Tak berselang lama, datang sebuah mobil sedan berwarna merah menyala yang telah dimodifikasi mendatangi Arga.
"Bos, kenape?" Tanya pemuda bertubuh gempal yang baru saja keluar dari kursi penumpang.
"Ta, lo gak papa?" tambah Libra yang ikut keluar dari jok penumpang depan.
Arga mengangguk dengan santai, walaupun kenyataanya ia hampir mokad beberapa saat yang lalu.
"Itu tangan lo kenapa berdarah?" Orion yang baru saja turun langsung menyadari luka di tangan Arga.
"Bukan apa-apa," ujar Arga sekenanya. Detik berikutnya ia melemparkan kunci motor CBR250RR miliknya kepada Libra. Ditangkap dengan sigap oleh pemuda yang malam ini menggunakan jaket kebanggaan geng SPHINIX tersebut.
"Bawa motor gue, kita balik ke basecamp."
"Oke."
Mereka kemudian kembali ke basecamp dengan Libra yang mengambil alih kemudi kuda besi milik Arga. Sedangkan Arga ikut bersama Orion dan pemuda bertubuh gempal tadi.
Rumah Arga pulang bukan lagi bangunan megah, serta mewah dengan gerbang menjulang itu.
Kini tempatnya untuk pulang adalah tempat ini. Markas atau Basecamp SPHINIX. Rumah bagi puluhan remaja pincang kasih sayang. Hampir separuh dari mereka memiliki kekurangan dari segi kasih sayang. Entah Ayahnya yang tukang selingkuh, ibunya yang doyan main dengan pria lain, atau kedua orang tuanya yang workaholic, mereka semua yang menjadi korban ada di sini.
Basecamp yang mereka maksud adalah bangunan dua tingkat yang sudah lama tidak terpakai. Di beberapa bagian bangunan cat temboknya sudah mengelupas, beberapa plafon yang ada yang sud berlubang. Bangunan tersebut adalah rumah peninggalan almarhum kakek Arga. Rumah itu juga sempat menjadi incaran Utama Natadisastra, namun kakek Arga sudah mengalih namakan tanah serta bangunan tersebut menjadi milik cucu sematawayang, Arganta Natadisastra.
Saat Arga menjabat sebagai ketua geng SPHINIX, ia merubah total rumah tersebut menjadi basecamp. Dulu markas geng SPHINIX berukuran sangat kecil, sehingga tidak dapat menampung semua anggota. Sekarang tempat ini menjadi rumah pulang bagi mereka, para berandalan, biang onar, tukang tawuran, player, pemabuk, bahkan para pemuda haus akan kasih sayang. Mereka berkumpul di sini, menjadi satu keluarga yang saling menerima, juga mengerti minat dan bakat masing-masing. Mereka juga mencoba untuk saling menyembuhkan satu sama lain.
SPHINIX adalah geng yang menjunjung tinggi rasa solidaritas dan kekeluargaan diantara para anggotanya. Mereka akan selalu terbuka untuk siapapun yang mau ingin ikut bergabung. Pendiri pertama SPHINIX berharap organisasi ini bisa menjadi tempat bernaung bagi para pemuda yang sejatinya menjadi korban dari pincang kasih sayang. Mereka akan menemukan keluarga baru di SPHINIX.
Selain saling mendukung minat dan bakat masing-masing, mereka juga tak selamanya identik dengan tawuran. Toh, mereka tidak akan turun ke jalan jika tidak ada yang mengundang. Selain itu, mereka juga punya panji-panji yang harus dipatuhi. Boleh saling menghargai, menghormati, serta toleransi, namun mereka tidak diperbolehkan berbaur dengan obat-obatan haram jika ingin bergabung dengan SPHINIX. Selain itu, mereka juga dilarang mencampurkan masalah organisasi dan pribadi, utamanya soal hati.
Oleh karena itu, sampai saat ini mereka totalitas, tidak membiarkan satu pun mahluk berjenis kelamin perempuan menjadi anggota SPHINIX.
Dalam membentuk organisasi SPHINIX agar menjadi wadah yang kokoh dan berkembang dengan semestinya, para pendiri membuat 7 panji-panji yang harus ditaati. Peraturan peraturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, dan harus ditaati sajak masa perekrutan.
Bukan hanya siswa dari SMA Angkasa saja yang menjadi anggota geng SPHINIX. Ada juga beberapa anak dari sekolah tetangga, bahkan dari luar kota. Mereka sering berkumpul untuk sekedar mempererat tali persaudaraan di antara sesama anggota. Sesekali mereka mengadakan acara touring, camping, sunmory, balapan persahabatan, latihan sepeda BMX antar sesama anggota, dan sebagainya.
Ciri khas mereka adalah penggunaan atribut kebanggan seperti jaket berlogo ataupun T-shirt berlogo gang SPHINIX. Ada juga beberapa yang membuat logo permanen menggunakan tinta hitam di tubuh mereka. Namun, tindakan itu tidak diwajibkan. Mengingat mereka bukan berasal dari satu agama, melainkan berbeda-beda agama.
Logo kebanggaan geng SPHINIX sendiri adalah dua burung melegenda, yaitu elang biru dan burung Pionix api. Dulu dua hewan unggas tersebut melambangkan dua kubu yang menjadi sekutu. SPHINIX si Elang Biru, dan PIONIX si burung Api.
Tetapi kini karena kesalahpahaman berujung kematian tragis yang dialami oleh Seno, dua kubu itu menjadi lawan beradu. SPHINIX yang lebih dominan menguasai PASKA atau Pasukan Angkasa. Sedangkan PIONIX melepaskan diri dan membentuk PASPI atau Pasukan Api di sekolah mereka, yaitu SMA Langit. Dipimpin langsung oleh Alexander.
"Ehh, kenapa nih?" Ribut para anak SPHINIX ketika melihat leader mereka kembali dengan kondisi terluka.
"Kunaon, kunaon?!" Ribut Iki yang muncul sambil membawa spatula di tangannya. Jangan lupakan celemek berwarna merah jambu yang juga melekat di badan mungilnya.
"Ck, lo lagi masak? Pake celemek pink pula, malu-maluin aja?!" semprot Libra.
"Ye, yang penting anak-anak gue bisa makan. Iya gak everybody?"
"Iya atuh. Cacing-cacing di perut udah meronta-ronta, minta diisi ini, Mak Ki," jawab beberapa anggota SPHINIX, serempak.
"Tuh kan, anak-anak gue nggak ada Bapaknya. Jadi pada kelaparan. Lihat, perut mereka udah pada buncit, ciri-ciri busung lapar itu." Kekeh Iki jenaka.
"Astaghfirullah, masa six pack gini disebut busung lapar. Terhina atuh, Ki?" Seloroh salah satu anggota sambil memperlihatkan perut kotak-kotak hasil kerja di bengkel milik geng SPHINIX.
"Iya. Lo aja kali yang gak punya pack. Kita mah punya, atuh."
"Iye, iye. Terserah lo pada, anak pig."
"Sekate-kate lo bilang anak pig. Apa kabar ama lo, emak pig." Serobot Ibo, mewakili.
"Asuuu, gak suka gue kalau udah gini." Ketus Iki.
Ruangan utama basecamp SPHINIX berangsur-angsur dipadati oleh para anggota yang tinggal di sana. Mereka kaget saat melihat sang leader pulang dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
"Motor lo di depan," ujar Libra sambil menyerahkan kunci motor milik Arga..
"Hm."
"Diem dulu Ta, mau gue obatin." Libra mencegah Arga yang hendak beranjak. Ia dengan sigap mengambil kotak P3K.
"Biarin, ini cuma luka ringan."
Libra langsung beraksi mendengar penolakan Arga. "Nanti infeksi, Ta? Terus diamputasi. Lo mau putus...."
"Nauzubillah hi min dzalik."
Sela Iki dan Ibo, pemuda bertubuh paling tambun di antara anggota geng SPHINIX.
"Sans ae lo berdua!" Kesal Libra.
"Kita cuma menyela, ya kan Bro?" Pemuda bertubuh gempal itu mengangguk mantap. Mengiyakan ucapan Iki.
Libra mendengus sebal seraya melanjutkan tugasnya untuk mengobati Arga. Begini-begini ia mantan anak PMR alias palang merah remaja.
"Lo pada udah makan?" Tanya Arga ketika lukanya selesai diobati.
Mereka menggeleng bersamaan. Libra selaku penanggung jawab keuangan sekaligus lantas bersuara.
"Kebutuhan pangan habis, Ta. Karena kemarin duitnya dipake buat santunan anak yatim di panti asuhan tempat tinggalnya Ibo. Jadi, kita harus ngirit uang kas yang masih ada."
Arga mengangguk singkat. "Uang kas sisa berapa?"
Libra tampak mengingat-ingat untuk sejenak. "Tujuh juta tujuh ratus tujuh puluh tujuh ribu tujuh ratus rupiah."
"Elah, fanatik banget sama angka tujuh, Lib." Kekeh salah satu di antara mereka.
"Iya dong, nomor kramat gue tuh." Bangga Libra. Padahal pada kenyataannya memang uang kas ada 7.777.700 rupiah.
"Kenapa gak dipake dulu?" Arga bertanya.
"Peralatan di bengkel perlu banyak duit buat diservis dan diganti. Persediaan bahan bakar di bengkel juga udah habis, gym kita juga lagi sepi pengunjung, Ta."
Arga paham akan maksud dari ucapan Libra. Toh, pengeluaran organisasi belakangan sedang membengkak, berbanding terbalik dengan pemasukan yang sedang minum.
"Ada event apa dalam waktu dekat ini?" Arga beralih pada Orion.
"Balapan liar. Juara 1 hadiahnya 10 juta, plus spareparts motor. Evennya di tempat biasa, area fifty one."
"Kita turun."
"Tapi Ta, kondisi anak anak lagi nggak prima," celetuk Libra.
Arga menatap Libra dan Orion bergantian. "Gue yang turun. Lo berdua cukup handle kebutuhan gue."
Belum sempat ada yang menyuarakan pendapat, Arga kembali buka suara. "Besok gue mau lihat persiapannya di bengkel."
Mau tidak mau, Libra dan Orion hanya bisa mengiyakan.
"Sekarang lo semua pergi ke cafe, makan di sana. Bilang ke Nindi kalau gue yang suruh," tambahnya yang langsung disahuti oleh kegembiraan para anggota.
Mereka langsung melakukan tos ria, dilanjut dengan teriakan penuh semangat dari Libra.
"SPHINIX?"
"SATU NYALI, SATU JATI DIRI, HARGA MATI!"
"SPHINIX?!"
"SATU NYALI, SATU JATI DIRI, HARGA MATI!"
...🫐🫐...
"Mereka semua udah makan Nin?" pertanyaan itu Arga tujukan kepada wanita berkacamata di balik meja.
"Udah, sebagian habisin sisa menu hari ini."
"Laporan hari ini, Nin?"
Perempuan berkacamata itu mengangguk, ia lantas membuka buku catatan, menunjukkan beberapa gambar grafik yang tersusun dengan apik.
"Pemasukan lumayan meningkat dari bulan lalu, pelanggan juga mulai request menu baru. Kalau nggak ada kendala, Genta bilang minggu depan kita bisa launching menu baru, menu-menu vegan." Perempuan bernama Nindi itu menjabarkan dengan cermat. "Pengeluaran juga stabil, stok bahan makanan masih banyak. Sayuran organik yang ditanam anak-anak juga udah siap panen."
Arga mengangguk paham. Nindi memang sosok yang paling bisa diandalkan untuk mengelola cafe kecil miliknya. Cafe yang ia bangun dari uang tabungan sendiri. Uang reward dari kemenangan event-event balapan yang ia ikuti.
Sekarang, omset cafe ini dalam sebulan bisa mencapai jutaan rupiah. Terbilang lumayan bagi pemasukan Arga. Arga juga sengaja memperkerjakan orang-orang terdekatnya. Bahkan sebagian anggota geng SPHINIX lah yang bekerja di cafe ini.
"Oh iya Ta, besok ada pekerja baru. Dia butuh kerja sampingan, makanya aku tawarin kerja disini."
Alis pemuda tampan itu terangkat sebelah. Pekerja baru? Padahal selama ini Nindi tidak pernah kekurangan staf yang membantunya mengelola cafe.
"Siapa?"
"Ada, temen SD aku."
"Hm. Cowok?"
"Cewek. Boleh 'kan, Ta?" Tanya perempuan itu pelan. Takut-takut, sang owner tak mengizinkan.
Selama bekerja di cafe ini, Nindi memanglah satu-satunya staf perempuan. Semua itu sudah sesuai peraturan sang owner, Arganta Natadisastra. Nindi juga bisa bekerja di sini karena Arga yang mengenal dirinya semenjak lama.
"Dia pinter kok Ta, cekatan juga. Dia disini mau kerja jadi waiters sama bantuin aku kelola keuangan. Gimana, kamu kasih izin?"
"Namanya?"
"Nara."
Arga menatap Nindi penuh tanya. Nindi yang ditanya demikian tentu saja gugup setengah mati.
"Nama lengkapnya?"
Dengan susah payah Nindi menelan ludah. Ia kemudian memberanikan diri untuk menjawab. "Aleanska Nara. Dia satu sekolah sama kamu, Ta."
Arga tak menjawab. Ia terdiam cukup lama mendengar nama siapa yang baru saja meluncurkan dari mulut Nindi.
"Jadi, gimana Ta? kamu izinin?"
"Hm."
Nindi kicep mendengar jawaban Arga. Ia masih agak tidak menyangka, namun Arga kembali menambahkan.
"Besok dia bisa mulai bekerja."
🫐🫐
TBC
Tanggerang 08-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
aku auto ngebayangin oppa Jin, pas baca Iki PK celemek pink ☺️
2024-05-22
0
Cegilnya Matthias
Lanjut Thor
2022-11-09
1
Anis Hasan
lanjut
2022-11-09
1