Seorang gadis tampak tersenyum ceria ke arah lensa kamera. Senyumnya bertahan disepanjang hari, membuat pemuda yang tengah memotretnya menggelengkan kepala kecil. Gadis itu seolah-olah tidak pernah lelah, sekalipun ia harus terus tersenyum.
Bunyi bidikan lensa kamera yang berada di tangan pemuda tampan berseragam SMA tersebut mengalihkan perhatian.
"Cantik, tapi senyumnya kurang," kekehan kecil terdengar saat ia memperlihatkan hasil jepretannya.
"Kak Seno ih, aku 'kan lagi bengong," ketus gadis cantik tersebut.
Dengan gemas, si pemilik nama mengacak-acak pucuk kepala gadisnya.
"Ish, nanti rambutnya kusut Kak," gerutunya.
Alih-alih berhenti l, pemuda tampan bernama Seno yang menggunakan seragam putih abu-abu itu malah tersenyum manis. Ia sengaja datang pagi sekali untuk membawakan satu bouquet bunga bagi gadisnya. Ia bahkan rela membolos demi menghadiri acara kelulusan
gadis kecilnya itu.
"Kakak nggak mau berangkat sekolah? kok masih di sini terus?"
"Baru sadar Non?" sindir Seno.
Nara, gadis itu mengerucutkan bibir mendengar ucapan lawan bicaranya.
"Bolos demi menghadiri kelulusan kamu, memangnya salah? masuk sekolah juga paling jamkos, sekarang jadwalnya class meeting."
Gadis cantik itu memukul bahu sang kekasih ringan. "Tapi, 'kan Kakak sudah mau kelas dua belas. Masa bolos terus? class meeting juga pasti ada absensi."
Pemuda tampan itu tersenyum simpul sambil mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya. Menunjukkan kepada sang gadis sebagai tanda kepemilikan. Kalung dengan bandul berbentuk lambang infinity itu tampak simpel dan manis, cocok sekali untuk gadisnya.
"Teruntuk Nara, Kakak cuma bisa kasih ini sebagai kado perpisahan," ucap Seno sambil tersenyum simpul.
"Apaan sih, kayak mau kemana aja!" gerutu Nara. Bohong jika ia tidak suka dengan hadiah yang telah dipersiapkan oleh Seno.
"Sini, Kakak pakein."
Nara mengangguk. Ia kemudian membiarkan pemuda itu memakaikan kalung tersebut di lehernya.
"Suka?" tanya Seno.
"Suka banget. Terima kasih, Kak Seno."
Seno tersenyum tipis sambil menguyar rambutnya santai. Ia memang sengaja memberikan itu sebagai hadiah perpisahan bagi sang kekasih hati.
Nara gadis yang periang. Gadis yang mewarnai hari-harinya selama ini. Nara juga yang berhasil menjadi satu-satunya gadis yang mampu meluluhkan hati ketua geng seperti Arseno Kalingga.
Seno sengaja bolos sekolah supaya dapat menghabiskan waktu bersama Nara. Ia merasa sangat membutuhkan itu. Padahal besok mereka masih bisa bertemu, namun seolah-olah tidak ada waktu lagi, Seno ingin puas memonopoli waktu Nara hari ini.
Dengan segala rasa bahagia yang melingkupi rongga dada, hari itu Seno menghabiskan waktunya bersama Nara. Ketika langit yang seharusnya berubah menjadi jingga, malah berubah menjadi abu-abu kelabu, Seno baru memulangkan Nara. Walaupun ia masih merasa belum puas.
"Masuk gih, nanti Ayah nungguin."
"Iya, Kakak hati-hati dijalan. Jangan ngebut bawa motornya."
"Iya cantik, salam juga buat Ayah. Maaf nggak bisa mampir, lain kali kalau ada waktu pasti mampir."
Nara menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Jangan rindu, aku selalu ada di sisimu kok cantik. Walaupun nanti kamu gak bisa lihat aku lagi."
"Eh? Kakak bicara apa sih!" belum sempat Nara mendapatkan jawaban yang pasti, Seno sudah kembali menyalakan mesin motornya.
"Masuk."
"Iya. Tapi, jawab dulu pertanyaan aku. Kakak mau kemana? kenapa Kakak bicaranya aneh?"
Seno menggelengkan kepala. "Sampai jumpa lain waktu, cantik. Kamu harus terus bahagia. Aku pulang, ya."
Setelah berkata demikian, Seno mungkin melakukan kuda besinya. Nara hanya bisa mengangguk dengan rasa penasaran yang belum terjawab. Sampai laki-laki itu hilang bersama kuda besinya, Nara masih setia berdiri di tempat.
🫐🫐
"Siapa mereka?" gumam Seno.
Sepulang dari rumah Nara, Seno tidak bergegas pulang. Pemberhentian berikutnya adalah markas SPHINIX, namun ia baru sadar jika ada yang mengikutinya. Mereka membuntuti Seno hingga masuk ruas jalan yang lenggang dan sepi.
"Mau apa lo?!" Tanya Seno saat motornya dihadang oleh empat motor lain yang mengikutinya.
"Gak usah banyak bacot, lo tahu apa mau kita."
"Siapa lo?" dahi Seno bertaut mendengar suara tersebut.
"Udah waktunya lo mati Seno, supaya PEONIX lepas dari genggaman lo?!"
"Apa maksud lo?" bingung Seno. Selama ia memimpin, ia selalu memberikan kebebasan pada dua kubu yang ia bawahi.
"SERANG?!" Titah salah satu di antara mereka.
Ternyata mereka bukan saja menghadangnya, tetapi berencana untuk melancarkan aksi keroyokan. Jika bertarung one by one, mungkin Seno tidak akan mudah kewalahan. Namun, ini one by four. Ditambah lagi Seno bertarung dengan tangan kosong, berbanding terbalik dengan lawan yang telah membekali diri dengan Sajam alias senjata tajam.
Cukup lama Seno bertahan, namun pada akhirnya ia tumbang setelah mendapatkan dua tusukan di bagian perut sebelah kiri. Tubuhnya tak mampu bangkit lagi, ketika pukulan bertubi-tubi ikut menambah rasa sakit.
"Argh!" Teriaknya putus asa ketika rasa nyeri begitu nyata mencengkeram.
"Hahaha, mati lo?!"
Bukannya menolong atas dasar rasa kemanusiaan, para pelaku yang sudah dirasuki set*n malah tega tertawa bahagia di atas penderitaan Seno. Salah satu dari keempat pelaku bahkan tega menendang perut Seno.
"ARGH?!"
Rintihan kesakitan Seno sore itu terdengar sangat memilukan. Namun, para pelaku seolah-olah tuli.
"Bang Seno?!"
Para pelaku yang tadinya tertawa bahagia, langsung waspada kala mendengar teriakkan yang cukup familiar di telinga mereka.
Ketika menoleh ke arah datangnya suara, mereka dapat menangkap sosok junior yang digadang-gadang akan menjadi The Next Leader di geng SPHINIX serta PASKA. Arganta Natadisastra, siapa lagi.
Entah dari mana datangnya pemuda yang masih menggunakan seragam sekolah dilapisi jaket dengan logo geng SPHINIX tersebut. Yang pasti para pelaku langsung ketar-ketir, karena Arganta tiba-tiba muncul.
Arganta langsung turun dari kuda besi miliknya. Ia sempat menghajar salah satu pelaku ketika mereka hendak melarikan diri.
"SIALAN. BERANINYA LO MAIN KEROYOKAN ANJ*NG!!" umpat Arganta emosi.
Walaupun pada akhirnya para pelaku berhasil melarikan diri, tetapi Arganta tak bodoh. Ia sempat mengingat plat motor salah satu di antara mereka. Selain itu, jaket berlogo burung api yang dikenakan para pelaku tentu tidak familiar lagi. PIONIX, siapa lagi? Geng motor sekutu SPHINIX yang ternyata telah berkhianat, bahkan mereka tega melakukan tindakan keji seperti ini.
"Bertahan Bang. Gue bakal bawa lo ke rumah sakit!"
Arganta bergegas memapah tubuh lunglai Seno. Berharap jika ia masih bernegosiasi dengan malaikat maut. Namun, pikirannya mulai kalut saat melihat darah merembes dari celah seragam SMA yang dikenakan Seno.
"Bertahan Bang, lo kuat. Lo pasti bisa selamat!"
"Uhuk ....uhuk ....Ta...."
"Iya Bang, gue di sini. Bentar lagi ambulance datang, lo harus kuat."
Arganta tetap memberi support, ditengah kekalutan. Iya juga sudah menghubungi ambulance, polisi, serta teman-temannya.
"Ta, gue mau nitip sesuatu..."
"Nggak Bang, lo nggak bakal kemana-mana. Lo bakal selamat, nanti kita balas perbuatan mereka sama-sama, Bang!"
"G-ue udah ....nggak kuat Ta ....uhuk..."
"Yang kuat Bang, lo harus bertahan?!"
"Gue ....titip Nara, Ta ....uhuk...."
"Gak, lo harus selamat Bang. Persetan sama maut, gue bakal selamatin lo!"
Pemuda yang sudah kehabisan banyak darah itu menyunggingkan senyum tipis di antara rasa sakit yang menggerogoti. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan, tapi apa boleh dikata. Malaikat maut agaknya sudah siap menjemput.
"Jara Nara buat ....gue, Ta...."
Arganta menggelengkan kepala tegas. "Gak Bang, lo gak bakal kemana-mana!"
"Mulai hari ini ... SPHINIX tanggung jawab lo...."
"Enggak!"
"B-ilangin sama keluarga gue, gue ....sayang mereka."
Setelah berkata demikian, Seno menutup matanya rapat-rapat. Tangan yang tadinya berpegangan pada lengan Arganta juga seketika jatuh ke tanah.
"B-ang?" Cicit Arganta kala sadar jika Seno telah benar-benar berpulang pada sang Maha Kuasa.
"Bangun Bang. Jangan pergi dengan cara begini!" ujarnya sambil mengguncang tubuh yang sudah tak bernyawa tersebut.
"Bangun, anj*ng!" Umpat Arganta risau. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi pada tubuh Seno.
Sore itu kota Kembang diguyur hujan lebat. Seolah-olah langit juga ikut menangis, mengantarkan satu nyawa tak berdosa bernam Arseno Kalingga.
Kepulangan Seno meninggalkan banyak luka bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Tidak terkecuali bagi Nara dan Arganta. Selain luka dan duka yang mendalam, kepergian Seno juga berhasil membuat perpecahan di antara geng SPHINIX dan POENIX yang tadinya bersekutu.
🫐🫐
"Hayo, mikirin apa lo?"
Gadis cantik berseragam SMA itu terhenyak, ia mengerjapkan mata beberapa kali. Lantas beralih, menoleh ke arah sang sahabat.
"Hidmat banget ngelamun nya," ujar gadis berambut sebahu yang berada di sampingnya.
Yang ditanya hanya tersenyum tipis, ia kemudian mengambil alih satu mangkok batagor yang dibawa temanya.
"Makasih ya, Cha."
"Sama-sama, bestie."
Nara tersenyum sumringah sambil menyendok satu suapan batagor kedalam mulut. Sudah menjadi kebiasaan jika jajanan ramah dikantong ini menjadi salah satu menu makanan siang rutinnya.
"Wih, ada angin apa tuh yang bawa para pentolan sekolah ke sini?" ujar Cacha tiba-tiba.
"Hah?" Nara tampak kebingungan.
"Nengok deh, most wanted Angkasa sama geng nya ada di sini."
Alea yang tengah menikmati makan siangnya menoleh, beralih menatap ke arah yang sama dengan Cacha.
Sayup-sayup mulai terdengar bisikan dari siswa-siswi. Para most wanted itu memang jarang menginjakkan kaki di kantin bawah. Sekalipun menginjakkan kaki, mereka hanya membuat onar. Seperti saat ini contohnya, mereka cuma menganggu kedamaian para umat di kantin tersebut.
"Dih, lo yang kemarin 'kan?" sinis Libra yang tiba-tiba duduk di samping Nara.
Nara tidak menjawab, ia masih fokus kepada makanannya. Sedangkan Cacha sampai melongok melihat keempat most wanted paling terkenal seantero SMA Angkasa berada tepat di hadapannya.
"Budeg? gue lagi ngomong sama lo, woi."
Nara tak menggubris, ia lebih memilih menghabiskan makanannya. Lalu beranjak dari tempat tersebut.
"Cha, aku duluan. "
"Ok," lirih Chaca, kikuk.
Niat hati ingin segera pergi, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan kekar menahan pergerakan nya. Dengan malas, gadis berkuncir kuda itu mengalihkan pandangan.
"Lepas kak, aku mau pergi!" pintanya. "Lepas!"
Alih-alih melepaskan, laki-laki rupawan pemilik tangan memiliki untuk lebih mengeratkan pegangan.
"Mulai hari ini Lo nggak perlu menghindari gue lagi."
"...."
"Nggak usah menghindar. Dengar?" katanya lagi seraya menyunggingkan seulas seringai misterius.
🫐🫐
TBC
Tanggerang 03-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
Arga apa maonya kali nih
2024-05-22
0
💕Erna iksiru moon💕
lah maksude opo Arga?emang selama ini menghindar krn apa?Seno ninggal jg bukan krn Nara kan?kom kayanya kamu benci sm dia?bukannya kamu suruh jagain dia y sm Seno?kan kan penasaran lagi🤭
2022-11-04
2
💕Erna iksiru moon💕
ngelamunin Alea nih othornya🤭
2022-11-04
2