..."Tanggung jawab bukanlah sebuah definisi yang perlu dijabarkan, akan tetapi dibuktikan."...
...Un Familiar Brother...
...****...
"Lepasin Kak, sakit."
Bukan saja pergelangan tangan yang terasa sakit karena dicekal begitu kuat, Nara juga harus merasa malu karena tindakan seniornya yang menyeret-nyeret dirinya. Kendati demikian, Arganta Natadisastra selaku pelaku sama sekali tidak peduli. Sekalipun sekarang mereka menjadi pusat perhatian. Ia tetap berjalan tergesa-gesa bersama Nara, kakinya baru berhenti ketika sampai di ruang basket.
"Pake!" Arga menyerahkan sebuah seragam bersih kepada Nara yang baru saja diambil dari dalam loker bernomer 18. Loker milik Arganta Natadisastra tentunya.
"Tapi..."
"Nurut aja, bisa?" potong Arga.
Nara menggelengkan kepala. "Kenapa Kakak jadi ikut campur urusan aku?"
"Lo nanya?" Arga balik bertanya datar.
Nara menatap lawan bicaranya jengkel. Sungguh, berbicara dengan sang leader benar-benar harus extra sabar.
"Iya, Kak."
"Lo pesuruh gue. Otomatis apapun yang berhubungan sama lo jadi urusan gue."
Kerumitan tercipta di raut wajah Nara. Ia kesulitan menangkap maksud dari ucapan Arga, padahal ia bisa dengan mudah menjawab soal yang rumit.
"Lemot," cemooh Arga, tak segan-segan.
Nara menatap Arga tajam. Bisa-bisanya berandalan yang urakan seperti Arganta Natadisastra menyebut Nara lemot. Padahal banyak yang iri dengan kecerdasan otak Nara. Bukan bermaksud sombong, tapi memang begitu kenyataannya. Lagipula Nara juga bisa sekolah di sini berkata kecerdasan otaknya.
"Ganti baju sana. Nanti pulang sekolah sama gue," titah Arga, mutlak.
...🫐🫐...
Sudah bukan rahasia umum lagi jika kehidupan seorang Arganta Natadisastra selalu menjadi sorotan. Sekumpulan siswi yang tergabung dalam fans club sang leader bahkan memiliki akun Instagram pribadi untuk sharing foto-foto Arga yang diambil secara diam-diam. Tak jarang, kisah asmara Arga juga menjadi buah bibir yang hangat di perbincangkan. Seperti kabar burung tentang kedekatan nya dengan Nara akhir-akhir ini.
Bahkan rumor tersebut sudah gencar dibicarakan pada setiap angkatan. Baik adik kelas maupun kakak kelas, semuanya membicarakannya. Terkadang mereka juga mendatangi kelas Nara hanya karena penasaran akan sosok Aleanska Nara yang belakangan sedang populer.
"Nar, lo jadi seleb dadakan," sindir sahabat Nara seraya tertawa jumawa.
"Maksudnya?"
"Tuh, banyak adek kelas sampe kakak kelas nyariin lo." Sahabat Nara itu menunjuk ke arah luar. "Sebenernya lo itu punya hubungan apa sih sama Kak Arganta?"
"Waktu itu 'kan aku udah cerita sama kamu, Cha." Nara menjawab sambil membenahi buku catatan serta alat tulisnya.
"Iya sih, tapi gue masih mumet."
Nara mendengus kecil.
"Tapi, lo beneran nggak ada hubungan apapun 'kan sama kak Arga?"
"Ya, enggak lah. Ngaco banget kamu, Cha."
Memang begitu, 'kan kenyataannya? Nara coba bertanya pada dirinya sendiri. Mereka tidak punya hubungan apa-apa.
"Oh, kirain ada something gitu," kekeh Cacha menerka-nerka. Ketika sedang asik bicara, tiba-tiba ada cibiran yang terdengar.
"Ck, muka sok polos nyatanya doyan cogan juga. Bibit cewek gatel." Gadis ber-name tag Selly itu tiba berkata demikian. Bahkan pemilik rambut blonde itu tak segan menatap jijik Nara yang notabene teman satu kelasnya.
"Bener, kayaknya dia ngasih something deh. Makanya Kak Arga nempel sama dia," lanjut Rene yang kini sudah berdiri di samping Selly.
"Kak Arga itu udah punya saudara Cantik kayak Kak Alexa, pasti standar buat ceweknya juga tinggi. But, tiba-tiba cewek miskin berhasil deket sama Kak Arga, mencurigakan sekali nggak sih?"
"Palingan juga dia ngasih tubuhnya yang nggak ada harganya itu," sahut yang lain, bukan Rene.
Tindakan tersebut tentu saja memicu kemarahan Cacha yang mendengarnya dengan jelas.
"Eh ember, jaga mulut lo ya! Itu bibir minta ditabok?!" Cacha siap pasang badan. Kini ia sudah berkacak pinggang dengan raut wajah galak. "Bingung gue, bilangnya anak orang elit. Tapi, etika sulit," imbuh Cacha. Menarik kekesalan Selly, Rene, serta satu kawannya.
"Bilang apa lo barusan?"
"Apaan?" sengit Cacha. "Maju Lo kalo berani, Kono Yaro (dasar payah)!"
"Bicara apaan lo? sok Jepang, gue nggak ngerti!" kesal Selly.
Cacha tertawa garing. Ada untungnya juga suka nonton Anime Naruto bersama Nara. Ia sedikit demi sedikit jadi bisa bahasa Jepang.
Nara menggelengkan kepala seraya menarik lengan sahabatnya. "Udah, Cha. Mendingan kita pulang aja."
Mau tidak mau akhirnya Cacha mengikuti kemauan Nara. Toh, ia juga tidak mau buang-buang waktu dan tenaga untuk mereka. Mending buang-buang kuota, waktu, serta tenang untuk nonton V BTS di acara reality show terbarunya.
"Kenapa sih lo diem aja? Seharusnya lo lawan. Kalau nggak, gue 'kan bisa lawan mereka."
"Gak perlu, gak penting juga."
"Tapi lo dicaci gitu. Gue aja nggak terima, kok lo santuy betul? Bingung deh sama lo."
Nara tersenyum tipis sambil menoleh ke arah sang sahabat. "Makasih ya, udah khawatir sama aku. Tapi, lebih baik kamu gak usah cari gara-gara sama mereka. Gak berfaedah banget, mending kamu traktir aku jajan coki-coki. Gimana?"
"Dih apaan coba."
Nara hanya tertawa melihat tingkah sang sahabat. Hari ini mereka akan pulang bersama.
"Tunggu, aku telpon Papi dulu."
Nara mengangguk, mempersilahkan Cacha menelpon ayahnya.
Ketika sedang menunggu, tiba-tiba ada seseorang yang meraih pergelangan tangganya. Ia pun menoleh pada pemilik tangan ganteng, eh maksudnya tangan kekar berurat itu.
"Pulang sama gue."
"Aku pulang sama temen Kak, udah janji. Lain kali aja ya," tawar Nara.
Lain kali? Nara tertawa di dalam hati. Ia sendiri tidak yakin jika ada kata lain kali untuknya pulang bersama laki-laki ini. Toh, jika disuruh memilih, Nara lebih memilih pulang bersama Cacha atau naik Damri, ketimbang pulang bersamanya.
"Gue nggak nerima penolakan. Lo juga udah janji sama gue."
"Kapan? Aku gak pernah janji mau pulang bareng sama Kakak." Nara memberanikan diri menatap sosok tampan nan rupawan di depannya.
"Kalau gitu gue paksa."
"Maksud Kakak, apa ....Ahk!" belum sempat Nara menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ia sudah tidak berpijak lagi pada permukaan tanah. "Kak, turunin aku. Malu!"
Arga pura-pura tidak mendengar. Ia dengan enteng membawa Nara seperti karung beras yang dipikul di bahunya. Tindakan tersebut tentu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka. Termasuk Cacha yang sempat menjauh guna menelpon sang ayah.
"Eh, eh. Nara mau dibawa kemana!"
Cacha tidak sempat mengejar, karena bersama dengan itu ia bisa mendengar klakson mobil BMW milik sang ayah.
"Pake, gue anter pulang." Arganta buka suara berucap setelah menurunkan Alea tepat di atas jok penumpang belakang.
"Pusing," keluh Nara dengan suara kecil. Siapa juga yang mau digendong seperti karung beras begitu.
"Makanya nurut," tukas Arga seraya menepuk surai Nara dua kali.
"Aku 'kan udah janji mau pulang sama temen aku, Kak."
Arga tak menjawab. Ia tetap menyodorkan helm kepada Nara.
"Lo mau tahu alas gue kenapa?"
Nara tampak kebingungan.
"Pake helm-nya, nanti gue kasih tahu."
Entah sihir apa yang merasuki, gadis itu tiba-tiba mengangguk dan lekas menggunakan helm pemberian yang disodorkan oleh Arga.
"Gitu, nurut." Arga tersenyum miring seraya menaiki kuda besinya. Dilanjut dengan mesin yang dinyalakan. "Pegangan, gue gak tanggung jawab kalau lo jatuh dari motor gue."
Nara diam-diam memutar bola matanya malas, namun ia tetap melaksanakan perintah laki-laki otoriter tersebut.
Interaksi mereka berdua tentu tidak lepas dari setiap pasang mata. Baik siswa maupun siswi. Semua kedapatan berbisik-bisik. Menatap sinis. Bohong jika Nara tidak merasa risih.
"Jangan dengerin bacot merek semua."
Setelah mengatakan itu Arga melajukan kuda besinya. Meninggalkan lingkungan sekolah yang masih heboh dengan aksinya beberapa menit lalu.
Seperti biasa, keheningan mewarnai perjalanan Arga dan Nara. Nara juga tidak bisa menebak apa alasan yang mendasari sikap Arga belakang ini. Ia berubah. Nara menyadari hal tersebut. Ada yang berubah dari sosok Arganta Natadisastra. Tapi, apa?
"Eh, kok kesini?" Nara bertanya ketika mereka berhenti di depan bangunan yang familiar di matanya..
"Turun."
"Kok Kakak bawa aku kesini?" Nara kembali melontarkan pertanyaan setelah turun dari kuda besi milik Arga. Ia juga lekas melepaskan helm yang melindungi kepalanya.
"Lo harus kerja."
"Tapi, aku udah izin nggak masuk kerja hari ini," dalih Alea.
"Lo sehat, nggak sakit. Gue gajih lo bukan buat males-malesan!"
Deg!
Nara langsung kicep mendengarnya. "Maksud Kakak?"
Alih-alih menjawab, Arga malah menyunggingkan senyum misterius seraya memasuki cafe. Nara juga memutuskan untuk segera menyusul. Nanti ia akan bertanya pada Nindi. Nindi pasti tahu Arganta Natadisastra bekerja sebagai apa di sini. Apa benar dugaan Nara, bahwa Arga adalah owner cafe ini?
"Nin, kalau aku boleh tahu, owner cafe ini siapa ya?"
"Kenapa memangnya, Nar?"
"Penasaran aja gitu," dalih Nara seraya tersenyum kecil. Jantung nya sudah berdebar tak karuan sejak tadi.
"Kemarin-kemarin kemanan aja? masa baru nanya sekarang?" ledek Nindi sambil mengalihkan pandanga sejenak dari layar monitor. "Aku pikir kamu udah tahu siapa owner cafe ini."
Nara menggaruk pelipis seraya menggeleng."Aku beneran nggak tahu siapa owner cafe ini. Kamu tahu, 'kan?"
"Tahu dong."
"Aku juga mau tahu," sahut Nara.
Nindi tertawa renyah melihat ekspresi yang tercipta di wajah Nara. "Owner cafe ini .... orang yang tadi datang sama kamu."
Nara terdiam mendengar informasi tersebut. Sedetik kemudian ia baru berkata.
"Jadi owner cafe ini Kak Arga??"
Nindi mengangguk.
Sedangkan Nara langsung lemas saat dugaannya ternyata benar. Arganta Natadisastra adalah owner cafe ini. Pemilik Lumiere Cafe yang sah. Nara pikir ia hanya akan berada satu tempat kerja dengan anggota geng SPHINIX, bukan langsung mendapat bos yang merupakan leader geng SPHINIX.
"Gue gajih kalian bukan buat ngobrol."
"Ta."
"Kak."
Nindi dan Nara sama-sama tersentak kaget. Keduanya bahkan merespon dalam waktu hampir bersamaan.
"Ketahuan ngobrol di jam kerja lagi, dua puluh persen gajih lo berdua bakal gue potong."
...🫐🫐...
...TBC...
Nara masuk kandang Singa 🦁
Tanggerang 13-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
aihhh boss sadis
2024-05-22
0
💗Erna iksiru moon💕
kirain Nara dah tau dr kemaren😁oh y neng boleh koreksi dikit gak?banyak typo di beberapa kata atau kalimat jadi agak sedikit bingung😁maaf y protes mulu🙏smoga makin semangat nulisnya y💪
2022-11-13
2
💗Erna iksiru moon💕
kok Dean?typo lagi y kak.
2022-11-13
2