..."Saat aku berpikir semuanya akan...
...selesai dengan mudah, ternyata aku salah."...
...Un familiar Brother...
...****...
"Ok, buat kumpulan hari ini selesai sampai di sini. Kita briefing lagi lusa."
"Ok bos!" jawab sekumpulan anggota OSIS, serempak.
"Untuk Sekrum--sekretaris umum--jangan lupa agenda kumpulan hari ini dimasukan kedalam file program kumpulan mingguan."
"Oke. Nanti malam aku kirim file nya sekalian, ba'da Isya ya, Ar," jawab gadis berkerudung cream tersebut.
Arsene atau akrab disapa Arsen mengangguk. Hari ini ia kembali menjalankan tugas sebagai pemimpin kumpulan OSIS. Kumpulan hari ini kebetulan berlangsung di luar lingkungan sekolah, lebih tepatnya di Caffe milik keluarga Cacha. Ada lebih dari dua puluh anggota inti yang hadir. Mereka dikumpulkan karena pembahasan soal perubahan sekbid atau seksi bidang dan evaluasi kerja mingguan.
"Gak mau pulang, Nar?" Putri pemilik caffe bertanya pada gadis yang sedang menikmati mie goreng dengan topping irisan beef di atasnya.
"Hm, gak mau deh. Disini enak, ditraktir mulu sama kamu. Plus bisa streaming anime kesukaan aku, free."
"Kalau gitu lo nginep aja di sini, nanti bobo sama gue. Mau, ya?" tawar Chaca. "Kalau lo mau, nanti bisa streaming anim sepuasnya. Boleh pesan menu sepuasnya juga."
Nara tersenyum lebar mendengar tawaran menggiurkan tersebut. "Terima kasih atas tawarannya. Tapi, aku harus tetap pulang. Kasihan Ayah aku di rumah sendirian."
Cacha mengerucutkan bibir sebal seraya melipat kedua tangan di dada. "Ya udah. Makan aja yang kenyang. Streaming anim kesukaan Lo sepuasnya. Kalau mau cepet, pakat WiFi yang MILO kiyowo."
Nara tersenyum tipis. "Iya, Makasih."
Walaupun tidak punya banyak teman, Nara bersyukur karena ia punya satu sahabat yang begit baik hati. Siapa lagi jika bukan Cacha. Di saat orang lain menjauhinya, Cacha tidak melakukan hal yang sama. Orang tua Cacha juga tidak melarang putrinya berteman dengan Nara. Malah orang tua Cacha juga sangat baik pada Nara.
"Oh iya, nih ada sesuatu buat kamu."
Nara mengambil sesuatu dari dalam tas sekolahnya. Ia kemudian menyodorkan benda persegi tersebut pada Cacha.
"Woahh, apaan nih?" ujar Cacha Antusias.
Manik coklat milik gadis berambut sebahu itu langsung berbinar saat melihat apa yang disodorkan kepadanya.
"Album BTS Map of the soul 7?!"
Hari ini Chaca ulang tahun yang ke-17. Oleh karena itu, Chaca membiarkan temanya makan gratis di caffe milik keluarganya, sebagai tanda terima kasih.
"Buat kamu. Itu original loh, bukan bajakan."
Demi membeli album tersebut, Nara menabung uang hasil jualannya sedikit demi sedikit. Cacha merupakan Army sejati. Walaupun harga Album BTS tidak murah, Nara tetap bertekad untuk membeli demi sang sahabat. Ia tahu betul jika Cacha sudah menginginkan Album tersebut, namun tidak diizinkan membeli oleh orang tuanya, dengan alasan Cacha sudah punya segudang album, foto card, poster, light stick, yang berbau K-Pop.
"Makasih banget ya, Chingu. I love you so much pokoknya," ungkap Cacha dengan satu tangan memeluk album, sedangkan tangan yang lain membentuk finger heat.
"Lo memang paling tahu soal gue."
Nara tersenyum tipis melihat kegembiraan tercetak di wajah sang sahabat.
"Aku harus pulang sekarang nih, Cha. Udah mau maghrib."
Cacha mengangguk sambil lalu mengantarkan sahabatnya hingga ke depan caffe. Iya juga membekali Nara dengan beberapa lauk dan kudapan manis untuk dimakan bersama ayahnya.
"Arsen jemput lo nggak, Nar?"
Alea mengangguk, pemuda itu memang mengajaknya pulang bersama. Arsen sempat meminta Nara menunggu, karena Arsen harus membeli beberapa alat tulis di toko ATK yang berlokasi tidak jauh dari caffe keluarga Cacha.
"Aku tunggu di halte aja, nanti Arsen jemput kok."
"Ok, hati-hati. Maaf nggak bisa nganter, soalnya mobil gue lagi dipake Mami."
"Iya gak papa, lagian aku juga pulang sama Arsen."
Setelah berpamitan, Nara bergegas untuk menyebrang. Ia akan menunggu Arsen di halte bus yang ada di seberang. Mereka berdua memang satu arah pulang, biasanya jika berangkat sekolah, Arsen juga sering mengajak Nara. Selain Cacha, Arsen adalah orang kedua yang Nara punya sebagai teman.
Arsen juga sama seperti Chaca, baik dan tidak memandang Nara sebelah mata. Nara juga sudah kenal dekat dengan orang tua Arsen sejak lama.
Sambil menunggu kedatangan Arsen, Nara bergumam kecil untuk menyenandungkan lagu I'am in love with a angel, sountrack 7 ghost yang cukup ia hapal.
Kemuning jingga yang indah tampak mulai menyelimuti langit di atas bumi. Membawa bias warna yang cantik ketika matahari akan kembali menutup hari. Semilir angin sore itu seakan-akan ikut menemani.
Saat teduhnya langit tertimpa kemuning jingga, membawa kesan eksotis tersendiri bagi para penikmat jingga. Ditengah-tengah aktivitas menunggu itu, tiba-tiba terdengar suara bising dari kendaraan ber-Cc tinggi.
Semakin lama suara bising kendaraan itu semakin terdengar jelas. Apalagi saat kendaraan itu berhasil sampai dan menepi di depan halte tempat Nara menunggu.
"Naik, gue anter pulang," ujar pemilik suara bariton di balik helm full face tersebut.
"Siapa, ya?" Tanya Nara, mencoba menerka-nerka. Namun, nihil.
Nara tahu laki-laki itu pasti bukan Arsen, mengingat kendaraan yang sering Arsen bukan jenis kendaraan ber-Cc tinggi seperti CBR250RR di hadapannya. Kendaraan Arsen hanya motor matic yang biasa laki-laki itu gunakan, karena lebih nyaman digunakan ketimbang mobil milik orang tuanya.
"Tuan lo."
Nara langsung teringat seseorang saat mendengar kalimat barusan. "Kak Arga?"
"Hn."
Nara langsung manggut-manggut saat si pemilik nama mengiyakan. Ternyata benar, itu Arganta Natadisastra.
"Maaf, Kak. Aku sedang menunggu teman, jadi enggak bisa ikut Kakak."
Pemilik onyx jelaga itu langsung menaikkan kaca helm full face miliknya, agar ia bisa menatap langsung ke arah lawan bicaranya.
"Naik."
Nara menggeleng kecil.
"Naik. Gue nggak suka dibantah!"
Nara menghela napas kecil seraya mengangguk. Orang macam Arganta Natadisastra mana mau keinginannya tidak dipenuhi. Lihat saja bagaimana caranya menatap Nara, sungguh mirip dengan seorang diktator yang mengerikan.
"Pake buat nutupin rok lo!"
Awalnya Nara sempat bingung, kenapa tiba-tiba Arga membuka jaket bomber dengan logo geng kebanggaannya. Ternyata benda berwarna hitam itu hendak diberikan pada Nara, supaya dapat digunakan untuk menutupi paga Nara yang kemungkinan terekspose karena rok nya tersingkap.
Ketika baru saja hendak naik ke jok penumpang, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah berlawanan.
"Nara."
Nara menoleh dengan cepat saat mendengar suara bak malaikat penolong baginya. Seorang laki-laki berpakaian casual datang motor matic-nya. Senyum Nara langsung mengudara.
"Maaf Kak, tapi aku pulang sama Arsen aja." Dengan terburu-buru, Nara berlari kecil ke arah Arsen yang baru saja menghentikan motornya.
"Jalan, Sen!"
"Oke."
Seolah-olah tidak memberi kesempatan Arga berbicara, Nara sudah terlebih dahulu pergi bersama Arsen. Meninggalkan Arga yang masih bertengger di atas kuda besi miliknya.
"Duluan, Kak!" ujar Arsen sebelum melewati Arga.
Sedangkan Nara hanya bisa tersenyum canggung di jok belakang.
Arga menatap kepergian keduanya tanpa ekspresi, kemudian ia kembali memacu kuda besi-nya untuk membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Sia-sia ia datang dan menawarkan tumpangan.
Padahal selama ini tidak ada perempuan yang berani menolak ajakan Arganta Natadisastra, kecuali Aleanska Nara tentunya.
...🫐🫐...
"Terima kasih, maaf udah ngerepotin."
Arsen mengangguk seraya menerima uluran helm dari Nara.
"Santai aja, Nar. Lagi pula rumah kita searah."
Nara mengangguk. Iya kemudian tersenyum kecil saat melihat Arsen sudah bersiap untuk pulang. "Aku titip salah juga buat Tante Sarah. Makasih buat rendangnya."
Pagi tadi Arsen memang disuruh memberikan rendang daging dan kental kepada Nara. Ibunya kebetulan masak banyak, dan teringat Nara serta ayahnya.
"Kalau gitu aku masuk dulu."
"Iya, salam juga buat ayah kamu."
"Iya."
Arsen menyempatkan diri untuk memastikan Nara masuk ke memasuki halaman rumahnya. Rumah minimalis dengan cat yang sudah mengelupas di beberapa bagian itu berdiri di atas tanah sempit. Rerumput hijau tampak menghiasi pekarangan depannya yang dipagari oleh besi yang sudah berkarat.
Bukan, bukan pemandangan yang sudah bertahun-tahun ia ketahui yang mencuri perhatiannya. Namun, sulaman besar beberapa untaian huruf yang terletak di bagian punggung jaket yang dikenakan Nara.
"SPHINIX?"
Setahu Arsen, Nara sudah sejak lama menutup diri soal geng tersebut. Geng yang dulu dipimpin oleh kekasihnya itu, sudah dua tahun belakangan jauh dari lingkup kehidupan Nara. Sekarang Nara kembali berurusan dengan salah satu anggotanya. Bahkan, ia membawa pulang jaket kebanggaan mereka. Apa itu berarti jika Nara akan kembali terlihat dengan geng SPHINIX dan orang-orang di dalamnya?
...🫐🫐...
"Duduk!"
Nara menatap pemilik suara tersebut dengan ekspresi bingung.
Saat baru keluar dari kelas, ada sebuah tangan kekar yang menariknya hingga kantin atas. Tempat yang agaknya haram untuk didatangi oleh anak beasiswa sepertinya. Lihat saja, semua tatapan berbeda makna kini tertuju kearahnya.
"Kakak apa-apaan sih?"
"Makan."
"Aku bisa makan di bawah, Kak," ucap Nara sambil memeluk kotak bekalnya erat-erat.
Banyak mata yang menatap jijik kerahnya. Ada banyak gadis yang berharap bisa duduk dan makan bersama Arganta Natadisastra, pentolan SMA Angkasa yang punya pesona luar biasa. Sedangkan dari banyaknya siswi yang cantik, famous, serta lebih segala-galanya, Arga malah memilih Aleanska Nara yang notabene cuma butiran debu di SMA Angkasa.
"Lo mau makan di bawah?"
Nara mengangguk dengan antusias. "Iya, Kak. Boleh?"
Arga tersenyum miring. "Kalau itu mau lo, gue kabulin."
Nara tersenyum senang. Akhirnya dia bisa kembali ke habitatnya. Baru saja ingin melangkahkan kaki, tangannya sudah kembali dicekal. Ia pikir Arga ingin mengatakan sesuatu, namun tindakan yang dilakukan oleh laki-laki itu beberapa detik kemudian berhasil membuat Nara shock.
Bruk!
Bunyi jatuh yang cukup nyaring terdengar ketika ada benda yang baru saja menyentuh lantai kantin. Bunyi nyaring tersebut langsung disusul tawa renyah dari seisi penghuni kantin saat melihat adegan berikutnya.
"Makan, itu mau lo 'kan?" ujar Arga santai sambil menatap Nara angkuh.
Nara mendongrak, menatap tak percaya pada lawan bicaranya. Ia shock juga menjerit dalam hati, bukan ini maksudnya.
Nara hanya ingin makan siangnya di kantin bawah, bukan di lantai seperti ini.
Tanpa rasa peduli sedikit pun, Arga telah membuat Nara tertunduk di atas lantai yang dingin. Bekal yang dibuat dengan bahan-bahan sederhana dan dibawa dari rumah, kini tidak dapat diselamatkan lagi. Tupperware sederhana yang digunakan untuk tempat makan siang Alea terbuka saat jauh ke lantai, sehingga isinya berhamburan di atas lantai.
"Mau gue suapin?"
Nara menatap Arga tanpa rasa takut. Namun, jelas-jelas ia kecewa. Entah apa dosanya, sehingga ia dipermalukan seperti ini.
"Kakak mau balas dendam sama aku?" tanyanya kemudian.
Seringai tipis muncul di sudut Arga kala mendengar ucapan Nara. "Lo pikir segini cukup buat balas dendam?"
Nara terpekur, suara tawa dan cibiran memenuhi indra pendengarannya. Belum lagi kata-kata pedas dari sosok kejam di hadapannya.
Baru saja Nara hendak kembali menimpali ucapan Arga, tiba-tiba datang Alexa and the geng. Mereka tampak bertepuk tangan, di saat orang lain mencibir.
"Tempat cewek kampungan dan miskin kayak Lo memang di bawah. Seharusnya lo sadar dan berterima kasih sama Arga yang udah mengingatkan identitas lo," ucap Alexa dengan senyum penuh kemenangan tercetak di bibirnya.
...🫐🫐...
TBC
KEJAM. KEJAM. KEJAM
Tanggerang 04-11-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Cegilnya Matthias
Berdoet tuh
2022-11-08
1
Cegilnya Matthias
Kayaknya enak, Nar
2022-11-08
1
🌸Erna iksiru moon🌸
ih keterlaluan deh Arga padahal mah tertarik dia sm Nara kayanya tapi dasarnya aja cowok aroganty gtu lah mana tau bersikap lembut n kasih sayang yg ada mlh nindas herman deh
2022-11-05
5