¹UFB

...🫐🫐...

Sebuah bangunan megah dua lantai tampak ramai diisi oleh remaja berkaos hitam dengan logo kebanggan mereka yang berbentuk burung elang api dan elang biru di bagian dada. Ruangan megah yang kental akan seni, terlihat dari coretan abstrak dan mural art di mana-mana, diisi oleh beberapa pemuda. Sebagian dari mereka ada yang sedang mengobrol, adu panco, bermain game, nobar, main kartu bridge, bahkan ada juga yang sedang berlatih kick boxing.

"Arga, ini duit kas mau dikumpulin di siapa?"

Si empunya nama menoleh, matanya yang tadi tertuju pada samsak tinju, kini beralih ke samping. "Lib, uang kas lo yang kolektif."

"Oke," sahut Libra patuh.

Pemuda tampan bersurai hitam tersebut kembali beralih kepada sasarannya. Meninjunya beberapa kali, menggunakan tangan kosong yang mulai memerah.

Arganta Natadisastra nama lengkapnya. Pemuda tampan yang memiliki body goals yang diminati banyak kaum Hawa. Pemuda yang irit bicara itu memiliki pesona yang luar biasa. Kendati kepribadiannya yang sebelas dua belas dengan coolkas dua pintu. Dingin, datar, dan tidak berperasaan.

"Gue cabut, kalau ada apa apa hubungin gue."

Dengan seragam putih abu yang tersamarkan oleh jaket denim hitam, pemuda tampan itu berlalu. Pergi meninggalkan markas dengan memacu kuda besinya. Cukup lama ia berkendara di Jalanan kota. Tiba di sebuah depot bunga, ia baru menghentikan kuda besinya. Wanita tua pemilik depot bunga tampak tersenyum menyambut kedatanganya.

"Kasèp, meuni tos lami teu katingali (ganteng, lama enggak kelihatan)."

Arganta tersenyum tipis, saking tipisnya bahkan hampir tak terlihat keberadaan. "Arga sibuk sama sekolah."

Wanita tua itu mengangguk paham. "Lilium regale?" Tebak wanita paruh baya tersebut, langsung langsung dijawab anggukan kepala oleh Dian.

Wanita pemilik depot bunga itu tersenyum ramah, ia kemudian pamit untuk mengambil bunga pesanan sang langganan. Lilium regale atau lili putih. Bunga yang selalu dipesan oleh Arganta Natadisastra setiap datang ke depot bunga.

"Ini, bunga pesanannya. Baru datang hari ini kasèp, masih segar sekali pokoknya."

"Tunggu sebentar, ibu ambil kembaliannya dulu," ujar wanita tua itu saat Arga memberikan tiga lembar uang kertas pecahan seratus ribu.

"Tidak usah, kembaliannya buat Ochi."

"Eh, jangan atuh."

"Ambil aja. Ochi masih suka jajan ice cream, 'kan?"

Si ibu pemilik depot bunga mengangguk. "Terima kasih, kasèp. Ochi kalau tahu kamu ke sini pasti pasti senang sekali. Apalagi dikasih uang jajan buat beli ice cream."

Arga mengangguk, lantas pamit sebelum berlalu. Tempat tujuannya masih jauh dari sini. Ia harus bergegas, sebelum terlambat sampai di sana. Hari sudah mulai sore, kemuning jingga sudah mulai menimbulkan ilusi cantik di langit saat ia tiba di tempat tujuan.

Setelah cukup lama berkendara, ia memarkirkan kendaraanya di tanah lapang yang cukup luas. Arga kemudian turun dari kuda besi kebanggaannya, sambil membawa bunga yang tadi dibeli. Ia menatap sejenak tempat dihadapannya berpijak. Tempat yang selalu dikunjungi setiap akhir pekan. Tempat itu masih sama, tenang, juga damai. Rerumputan yang tumbuh subur dan bunga bunga liar tampak memadati beberapa sudut.

Di tempat itu, ia selalu menumpahkan segala rasa yang menumpuk di rongga dada, tanpa harus merasa malu atau takut untuk menitihkan air mata.

Tepat ketika sinar kemuning sang Surya menerpa wajah rupawan nya, ia menunduk. Selalu ada luka yang kembali terbuka jika menginjakkan kaki di tempat ini. Namun, berkali-kali ia coba menguatkan diri.

"As'salamualaikum," lirihnya sambil memantapkan langkah untuk berlalu melewati portal gerbang tersebut. "Arganta datang lagi, Mah."

...🫐🫐...

"Semua kebutuhan dapur udah aku beli, tinggal ambil barang dagangan di Mpok Atik."

Sambil mendengarkan lagu hotarunohikari, soundtrack anime kesukaannya, gadis manis yang menggunakan seragam SMA Angkasa itu tampak berjalan seraya mengulas senyum. Ia baru saja selesai membeli beberapa kebutuhan dapur dengan uang hasil kerjanya kemarin. Oleh karena itu, ia agak kesorean ketika pulang dari sekolah.

Letak rumahnya agak jauh dari sekolah, plus berada di lingkungan padat penduduk yang menjorok ke dalam. Namun, ketika baru saja masuk gang yang merupakan jalan alternatif yang biasa ia lewati, suara bising dari arah depan membuat langkahnya langsung terhenti.

"PEONIX?!"

"BRANTAS TEBAS SAMPAI TUNTAS!!"

"PEONIX?!

"BRANTAS TEBAS SAMPAI TUNTAS!!"

"SERANG!!"

Nara hanya bisa mematung di tempat dengan menatap lurus ke depan. Di sana, dalam radius seratus meter ada dua kubu yang baru saja pecah. Mereka saling serang, menyerbu satu sama lain. Ada yang duel one by one, ada juga yang berduel one by two alias keroyokan.

Dilihat dari atribut mereka yang sedang saling serang, ada dua kubu dari sekolah yang berbeda. Satu almamater tampak tidak asing. Jika dilihat lebih seksama lagi, ternyata satu kubu menggunakan almamater SMA Angkasa. Sedangkan kubu yang satunya lagi menggunakan almamater SMA tetangga.

"SPHINIX?!"

Nara membaca satu kata yang tercetak di bendera besar yang berkibar-kibar di antara kericuhan tersebut. Sedangkan di sisi lain, ada pula bendera dari kubu lawan yang bernama PEONIX. Sejak dahulu dua kubu itu terkenal sering beradu.

SPHINIX sendiri adalah geng terbesar yang menguasai SMA Angkasa. Geng tersebut merupakan gagasan seorang alumni SMA Angkasa. Biasanya tonggak kepemimpinan akan diturunkan pada adik kelas lewat cara pemilihan tahunan.

SPHINIX merupakan geng motor. Mereka terkenal hampir di seluruh kota Dilan. Mereka sangat disegani. Walaupun Pasukan Angkasa (PASKA) bukan hanya anggota geng SPHINIX saja, akan tetapi geng inilah yang paling besar diantara geng yang lain. Mereka juga menjunjung rasa kekeluargaan dan solidaritas.

Selain melakukan kegiatan berbau otomotif, mereka juga sering melakukan kegiatan sosial. Misalnya bakti sosial, sampai memberikan santunan ke pada panti asuhan. Walaupun begitu, stigma negatif tetap dikaitkan pada mereka. Padahal mereka tak pernah turun ke jalanan, tanpa undangan dari lawan.

Kondisi di lokasi kejadian semakin memanas saat dua leader dari masing-masing kubu bertemu. Nara tahu siapa mereka. Cuma sekedar tahu, kenal, namun tidak akrab. Rumor mengatakan jika mereka dulu pernah bersahabat dekat. Namun, karena suatu kejadian, mereka jadi saling membenci.

Arganta dan Alexander. Leader geng SPHINIX dan POENIX. Dua laki-laki itu sangat terkenal berkat titel mereka sebagai leader yang disegani dan ditakuti. Baik Arganta maupun Alexander punya kekuasaan dan wilayah masing-masing, namun mereka kerap sekali terlibat baku hantam. Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Nara hanya sekedar tahu dari tumor jika dulu mereka dekat, bahkan bersahabat.

Sedang berusaha mati-matian pergi dari lokasi kejadian tanpa menarik perhatian, tiba-tiba ada teriakan yang begitu mengejutkan Nara. Membuat bulu kuduk gadis tersebut meremang seketika.

"Woi, siapa Lo?!"

...🫐🫐...

...TBC...

...Semoga suka 😘...

...Tanggerang 01-11-22...

Terpopuler

Comments

Eti Alifa

Eti Alifa

nara berada di wkt dan tmpt yg salah😔

2024-12-26

1

Bzaa

Bzaa

buruan kaburrr ra...

2024-05-22

1

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

kalau di amuk, amuk juga ra😂 jangan mau kalah

2022-11-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!