"Udah, disini aja Kak."
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Ketika sudah dekat dengan area rumahnya, barulah Nara memberanikan diri untuk memecah keheningan. Alih-alih berhenti di tempat yang sudah Nara katakan, Arga malah tetap melajukan motornya sampai di depan pagar besi yang sudah berkarat. Di sama barulah motor CBR250RR milik Arga berhenti.
"Turun!"
Dengan segera Nara turun dari motor Arga, ia lantas membuka helm dan jaket bomber yang dipinjamkan oleh Arga.
"Terima kasih buat tumpangannya, Kak. Aku masuk dulu." Pamit Ale buru-buru.
Nara sudah cukup berurusan dengan Arganta Natadisastra hari ini. Sekarang ia harus bergegas masuk dan menemui sang ayah yang pasti sangat mencemaskan dirinya.
"Assalamu'alaikum, Ayah. Nara pulang!"
Arga juga rupanya kali ini berbaik hati membiarkan Nara lepas begitu saja. Ia kemudian kembali menyalakan mesin motornya, lantas mulai memacu kendaraan tersebut beberapa menit kemudian. Meninggalkan lingkungan kumuh tempat di mana Nara tinggal.
Hari ini Arga juga harus "pulang" ke tempat yang tidak lagi memiliki makna rumah yang sebenarnya. Mau atau tidak mau, suka tidak suka, ia tetap harus pulang ke sana untuk malam ini.
"Den Arga?"
Ketika kendaraannya harus berhenti di depan sebuah pagar yang menjulang tinggi dengan angkuh, seorang pria paruh baya yang mendiami pos jaga menyadari kehadirannya.
"Buka gerbangnya," ujar Arga seraya menatap lurus ke depan.
Pria paruh baya tersebut mengangguk. Ia sempat tidak menyangka jika tuan mudanya malam ini kembali. Cukup lama ia tak melihat sang tuan muda berkunjung.
Berhasil melewati gerbang, Arga kemudian memacu kendaraannya dengan cepat menuju pintu utama kediaman Natadisastra. Ia tidak perlu parkir di area parkir yang sudah didesain dengan sedemikian rupa. Cukup parkir di depan pintu utama, supaya lebih strategis.
Ketika berhasil menginjakkan kaki di kediaman Natadisastra setelah sekian lama, sapaan hangat para penjaga, buttler atau kepala pelayan dan beberapa pelayan. Mereka tentu saja excited melihat kepulan tuan muda mereka.
Sampai di ruang tamu yang megah dan mewah dalam kediaman tersebut, sapaan tiba-tiba menyapa gendang telinga.
"Arga, kamu pulang?"
Seorang wanita yang sedang duduk seraya membaca majalah fashion tampak menampilkan senyum saat melihat kedatangan Arga.
Arga tidak menjawab. Dengan santai ia memilih melenggang pergi, menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya ke lantai atas. Toh, bagi Arga keberadaan wanita itu beserta anak-anaknya tak pernah dianggap. Mereka hanya benalu yang numpang hidup enak di rumah orang tuanya.
"Mamah kamu bertanya, kenapa kamu tidak menjawab, Arga?"
Suara lain kemudian terdengar memasuki Indra pendengaran. Saat menoleh, ia menemukan ayah biologisnya yang baru saja bergabung dengan istrinya.
"Mas, sudah. Mungkin Dean lelah."
"Tapi Susanne, dia sudah keterlaluan." Pungkas pria tersebut tegas. "Dimana etikamu kepada orang tua, Arga?" Tanyanya kemudian, membuat langkah kaki sang putra terhenti seketika.
Onyx hitam Arga berkilat. "Siapa yang Anda sebut sebagai orang tua disini?" seulas senyum miring kemudian terbit. "aku tidak punya orang tua.
"Jaga bicara kamu, Arga!"
"Mas, sudah. Cukup!" sang istri tampak melerai, agar perdebatan antara ayah dan anak itu tidak semakin memanas.
"Satu-satunya orang tuaku sudah berpulang beberapa tahun yang lalu. Seharusnya Anda mengingat fakta tersebut."
Setelah berkata demikian, Arga kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"Arga, kembali. Papah belum selesai bicara!" murka Utama Natadisastra. Namun, tak diindahkan sama sekali oleh sang putra.
"Mas, sudah." Di sampingnya, ada sang istri yang mencoba menenangkan.
"Arganta Natadisastra, dimana sopan santun kamu hah?!"
Sekalipun sang ayah sudah memanggil namanya berulang kali, Arga tak peduli. Ia tetap melangkah tanpa ada niatan untuk menengok ke belakang. Ia kemudian memasuki satu ruangan di lantai dua dengan membanting pintu sehingga terdengar bunyi yang cukup nyaring.
"Arganta!"
Sayup-sayup, Arga bisa mendengan kemarahan sang ayah dari bawah sana. Begitu pula dengan suara ibu tirinya yang sok menenangkan suaminya.
Di dalam ruangan yang baru saja ia masuki, Arga kemudian mulai berkeliling. Sudah lama ia tidak menyambangi ruangan ini. Ruangan yang menjadi saksi bisu kehancuran keluarganya yang dulu begitu dielu-elukan banyak orang di luar sana.
Ruang yang dicat dengan warna kesukaannya, yaitu biru tua itu masih sama seperti saat terakhir kali ia tinggali. Para pelayan pasti mengurus ruangan ini dengan baik. Buktinya tidak da satu pun barang yang berpindah, apalagi sampai hilang. Mulai dari bola basket kesayangannya, buku-buku, gitar elektrik, sampai trophy penghargaan yang tersimpan rapih di dalam almari kaca, semua tampak masih sama. Termasuk foto-foto nya saat masih kecil. Foto yang mencetak kenangan indah bersama kedua orang tuanya, sebelum wanita yang sekarang menjadi ibu tirinya datang bersama dua anak yang mewarisi darah sang ayah.
Arga kemudian berjalan ke arah balkon. Tempat di mana dulu ia suka sekali melihat langit malam menggunakan teropong bintang. Alat yang digunakan untuk membantu penginderaan jauh guna mengamati keberadaan benda-benda yang ada di angkasa itu sampai sekarang masih ada di kamarnya.
Ditemani sang ibu, Arga kecil biasanya akan berceloteh panjang lebar soal benda-benda bercahaya yang bertebaran di langit.
Dulu Arga sempat percaya mitos yang mengatakan bahwa orang yang meninggal akan pergi ke langit dan menjadi bintang. Ibunya juga pernah bilang, jika merindukan sosoknya, menengadah lah ke langit, lalu cari bintang yang paling terang. Ibunya akan bersemayam di sana.
Arga sempat percaya, tetapi itu dulu. Walaupun begitu, sampai sekarang kecintaannya pada keindahan langit bertabur bintang selalu menjadi pemandangan yang berhasil menenangkan jiwa serta raganya. Ketika menengadah ke langit, ia merasakan ada dua sosok yang tengah memantau nya dari sana.
Arga dulu pernah merasakan hidup bahagia dalam keluarga yang harmonis. Sebelum keluarganya hancur berantakan. Keharmonisan yang selama ini diumbar-umbar ternyata hanya kamuflase. Faktanya, keluarga yang ia anggap harmonis hanya drama semata.
Dan peran utama dalam kehancuran hidup Arga adalah Utama Natadisastra. Utama adalah seorang pembisnis yang punya banyak klien orang-orang ternama. Utama punya banyak properti yang dijadikan ladang investasi. Namanya semakin melejit semenjak menikah penyanyi cantik yang populer tahun 90-an, bahkan sempat mendapatkan piala Citra.
Ibu Arga adalah putri tunggal seorang konglomerat asal Singapura. Utama dan ibu Arga menikah karena perjodohan. Dari perjodohan itu pula, Utama mendapatkan banyak kucuran dana dari mertuanya. Namun, Utama yang pada dasarnya tamak dan gila harta, masih merasa tidak puas dengan apa yang telah ia dapatkan.
Utama kemudian terjun ke dunia politik. Demi melancarkan rencananya untuk maju dalam pemilihan umum, Utama rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkan dukungan dan backing-an yang powerfull, ia bahkan rela mengkhianati sang istri. Utama bermain api demi kelancaran jalannya sebagai politikus negeri ini.
Arga tentu murka. Ia bukan anak kecil lagi saat sadar apa yang telah dilakukan ayahnya telah menyakiti sang ibu. Setiap pulang kerja, ibunya akan mengurung diri. Hari demi hari ibunya juga semakin kehilangan semangat hidup. Sedangkan di sisi lain sang ayah semakin gila kerja, serta sibuk bersama selingkuhannya. Puncak kemurkaan Arga terjadi saat ibunya melayangkan gugatan cerai pada sang suami, atas dasar desakan dari suaminya sendiri.
Utama tidak ingin namanya tercemar, karena sebentar lagi ia akan maju pencalonan. Jadi, ia mengorbankan nama baik sang istri. Utama ingin menarik perhatian publik dengan cara menghancurkan hidup wanita yang telah memberinya seorang putra yang tampan. Itulah alasan kenapa Arga kemudian sangat membencinya Utama Natadisastra.
Apalagi saat imbas dari campur tangan sang ayah membuat ibunya dicap sebagai wanita gatal yang berani bermain api dengan pria lain. Beberapa stasiun televisi bahkan melakukan black list terhadap ibunya Arga. Merasa frustasi dan depresi karena kondisi yang ia alami, ibunya bahkan sempat berencana untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Pada dasarnya Utama Natadisastra yang telah bermain api, bahkan jauh sebelum menikahi istrinya. Dari hasil hubungan terlarang tersebut, lahir sepasang anak kembar yang sangat Arga benci setengah mati.
"Kamu di rumah?"
Arga refleks menoleh saat mendengar derap langkah bersama dengan suara yang baru saja berucap.
"Siapa yang ngizinin lo masuk?"
"Aku tinggal disini, ini rumah my dad. So, aku punya akses masuk kemana pun."
Arga berdecak seraya menatap lawan bicaranya datar. "Dengan alasan itu bukan berarti lo bisa seenaknya masuk ke tempat ini!"
Gadis cantik itu tak menggubris. Ia kembali melangkah, mempersempit jarak di antara mereka. "Aku cuma mau bilang kalau kamu ditunggu di bawah. Mamah sudah menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kepulangan kamu."
Arga tak menggubris. Toh, ia juga tidak berniat untuk turun ke bawah.
Cup!
"Aku tunggu di bawah," ujar gadis yang malam ini menggunakan outfit bernuansa hitam itu sebelum berlalu dengan cepat, setelah mencuri satu kecupan di pipi kanan Arga
"Bangs*t?!" Desis Arga sambil mengusap kasar pipinya yang ternoda.
Arga lupa jika ia tidak boleh lengah ketika berhadapan dengan rubah betina muda itu. Agresif dan merepotkan.
Ia benar-benar jijik pada pipinya sendiri yang telah ternodai. "Cewek sial*n."
...🫐🫐...
Suasana di meja makan marmer bernuansa luxury itu terlihat sangat hening. Dentingan sendok dan pisau yang berjibaku memotong seonggok daging dengan tingkat kematangan medium rare, agaknya menjadi perwakilan dari suara lima orang beda usia tersebut.
"Karena kalian semua sudah berkumpul. Papa mau membicarakan sesuatu yang sangat penting."
Selaku kepala keluarga, Utama baru membuka pembicaraan saat acara makan telah selesai.
Tiga pasang mata di hadapannya mendongkrak, dua di antaranya menatap dirinya seakan-akan memperhatikan. Sedangkan satu lagi lebih memilih menatap pisau daging di hadapannya penuh minat. Seolah-olah pisau itu lebih menarik ketimbang ayahnya.
"Arga, apa pisau itu lebih menarik dari Papah kamu?" tanya ibu tirinya yang malam ini tampil dengan gaun malam simpel dari brand Channel.
"Hm. Pisau ini sepertinya cukup tajam untuk menghabisi benalu dalam hidup saya." Arga merespon sekenanya. "Benalu itu hidup sebagai parasit. Mereka pantas dimusnahkan," imbuhnya.
"Arga?!" lerai sang ayah.
Si empunya nama menoleh dengan datar. "Apa?"
Utama Natadisastra menatap putranya gusar. Putra sulungnya ini sudah seperti hewan liar, buas dan sulit dijinakkan.
"Dengar, kalian semua anak-anak Papah. Papah sayang kalian, tanpa membeda bedakan kalian tentunya."
Arga berdecak mendengarnya. "Bullsh*t."
"Arga," lerai gadis yang duduk diseberang.
"Arga, Arga, Arga. Semua orang di sini tidak bosan kah sebut-sebut nama gue?"
"Arga?!" sentak sang ayah. "Dengar, setelah lulus sekolah, kalian bisa memilih universitas kalian sendiri. Papah juga sudah menyiapkan surat rekomendasi dari sekolah, supaya kalian mudah masuk ke universitas."
Utama menatap putra dan putrinya bergantian. "Dengan catatan kalian boleh melanjutkan pendidikan di universitas yang sudah Papah pilihkan."
"Dimana?" sahut pemuda seusia Arga yang sejak tadi memilih menonton drama di keluarganya sendiri.
"Massachusetts Institute of Technology, Harvard University, Oxford university, Stanford University, University of Cambridge, ETH Zurich, University College London atau tidak sama sekali."
"Yes, Sir. Opsi terakhir," sahut putra ke-dua Utama. "Tidak sama sekali."
Wajah tampan yang cenderung baby face itu menjawab dengan santai. Seolah-olah tidak ada beban dalam setiap ucapannya. Padahal sang ibu sudah menahan geram sejak awal.
Utama menatap sang putra frustasi. Entah mengapa Tuhan begitu baik kepadanya, menitipkan para buah hati yang terus menerus menentang dirinya. Saking baiknya, ia bahkan rela menggelontorkan dana puluhan juta setiap bulanya demi menutupi keliaran para buah hatinya.
"Pah, kalau aku udah ada planning buat apply di Massachusetts Institute of Technology atau University of Cambridge. Tapi, dengan syarat uang sakunya harus double."
Utara tersenyum tipis saat ada salah satu dari ketiga anaknya yang tidak melakukan perlawanan. Ia tentu saja langsung mengiyakan dengan mantap.
"Oke. Anything for you, my Princess."
Sussanne juga terlihat tersenyum tipis disamping suaminya. Bangga akan pemikiran sang putri yang tidak terduga. Setidaknya masih ada satu dari anaknya yang bisa diandalkan.
Tak berselang lama, kebahagiaan Utama sirna kala melihat putra sulungnya beranjak tanpa menyentuh makanya sedikit pun.
"Mau kemana kamu?"
"Balik." Arga berkata tanpa balik badan.
"Arga?!"
Suara sang ayah yang kembali meninggi tidak lagi Arga pedulikan. Toh, ia sudah cukup berbaik hati dengan tinggal untuk menyaksikan drama keluarga Natadisastra.
"Satu lagi," sebelum benar-benar pergi, Arga sempat kembali bersuara. "Hidup gue nggak bisa Anda atur-atur, semenjak Anda memilih membawa mereka ke rumah ini."
"Arganta Natadisastra?!"
Arga tak peduli jika ayahnya akan marah besar, yang pasti setelah berkata demikian ia langsung melenggang pergi.
"Tenang Mas, mungkin Arga sedang banyak masalah." Susanne lantas menenangkan sang suami. Dalam hati ia ikut mencibir tindakan putra sulungnya suaminya itu.
"Anak itu benar-benar keras kepala!"
Utama memijit pelipisnya yang mulai pening. Arga memang semakin liar semenjak keluar dari rumah.
"Saya juga pamit, Sir."
Baru saja tekanan darahnya turun, sekarang satu putranya lagi ikut memancing emosi Utama. "Ada jadwal jajan di Paradise Clubs Night."
Susanne baru saja hendak angkat bicara untuk menghentikan putranya, sudah terlebih dahulu dipotong.
"Ini rutinitas, Sir. Jajan di sana bisa membuat saya kenyang juga senang jiwa dan raga," tambahnya sebelum melenggang pergi.
"Astaga anak itu, sama saja dengan Kakak tirinya?!" gerutu Sussanne dalam hati.
...🫐🫐...
TBC
Tanggerang 07-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Cegilnya Matthias
Utara apa Utama?
2022-11-08
1
Cegilnya Matthias
Nggak tahu malu
2022-11-08
1
Cegilnya Matthias
Mak tirinya serem
2022-11-08
1