⁷UFB

This is getting heavy

Can you hear the bass boom? I'm ready (woo hoo)

Life is sweet as honey

Yeah, this beat cha-ching like money, huh

Disco overload, I'm into that, I'm good to go

I'm diamond, you know I glow up

Hey, so let's go'

Cause I-I-I'm in the stars tonight

So watch me bring the fire and set the night alight (hey)

Shining through the city with a little funk and soul

So I'ma light it up like dynamite, whoa oh oh'

Lirik lirik lagu Dynamite milik boyband asal Korea Selatan itu menggema dengan keras di ruangan kelas yang mulai lenggang. Beberapa siswa bahkan menggelengkan kepalanya tak habis pikir sebelum keluar dari kelas. Lantunan melodi yang menggema cukup keras itu tak menjadi hambatan untuk si empunya handphone untuk menuntaskan kegiatannya. Ia bahkan tak peduli jika suara musik dari handphone nya itu menganggu indra pendengaran orang lain.

"LET'S GO?!" tembang gadis berambut sebahu itu antusias sambil berbalik badan.

Menatap sang sahabat yang masih sibuk dengan kegiatannya.

"Loh, lo kenapa Nar?" raut wajah bingung tercipta saat ia melihat wajah pucat sang sahabat.

Gadis berambut sebahu itu sejak tadi tidak menangkap raut kesakitan dari wajah sahabatnya, lantaran ia sibuk menyanyikan salah satu tembang dari sang Idola. Siapa lagi jika bukan boyband Bangtan Boys alias BTS.

"Gak papa kok, cuma asam lambungku kayaknya naik."

"Loh, kok bisa? lo gak makan siang?" Tanya Cacha mulai panik.

"Makan kok!"

"Tapi gue gak lihat lo di kantin, padahal gue udah nyari dimana-mana." Cacha menatap sang sahabat dengan mata memicing. "Lo makan dikelas, ya?"

"Iya." Nara menjawab dengan cepat.

"Pantesan. Padahal tadi ya, gue mau traktir lo makan pentol Bang Redho yang juara lillahita'aala."

Nara tersenyum tipis mendengarnya, dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri karena memilih berbohong. Sudah jelas karena bekalnya terjatuh ke lantai, jadilah ia melewatkan makan siang. Semua itu terjadi karena perbuatan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh Arganta Natadisastra. Gara gara insiden itu pula, kini perut Nara terasa nyeri seperti teriris-iris.

"Lo beneran gak papa, pucet banget loh itu?"

Nara menggeleng, ia memilih kembali membenahi peralatan sekolahnya. Kegiatan belajar mengajar sudah usai lima belas menit yang lalu. Area sekolah sudah mulai lenggang, hanya ada beberapa murid yang masih sibuk latihan ekstrakulikuler.

"Ya udah, gue duluan ya, Nar. Gue mau latihan cheerleader. Ada koreografi baru yang mau diasah, hehe." Cacha terkekeh kecil seraya menggendong tas miliknya. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa telepon gue. Okay?"

Dengan anggukan kecil, Nara memberikan jawaban. Sepeninggalan Cacha, keheningan terasa begitu nyata menyapa.

Perut Nara terasa semakin sakit dan melilit. Ia sudah bersusah payah menahan sakitnya saat jam pelajaran. Walaupun sudah minum obat, rasa sakitnya tetap tinggal. Kini, ia juga hanya harus menahannya dua jam lagi.

Maag kronis memang sudah diidap Nara sejak lama. Telat makan adalah faktor utama penyebab penyakit tersebut bersemayam. Oleh karena itu, Nara rutin membawa bekal walaupun hanya satu centong nasi dengan lauk seadanya. Setidaknya, perutnya bisa terisi nasi agar tidak memicu asam lambungnya naik.

Dengan langkah gontai, ia menuruni satu per satu anak tangga. Koridor-koridor sekolah sudah sepi. Hanya ada beberapa aktivitas yang masih tampak, itupun di lantai bawah. Lebih tepatnya di area lapangan.

"Iya, kayaknya PIONIX yang main deh, Ta?"

"Terus, kita mau gimana, Ta? masa diem aja?"

"Kita maju. Biar gue yang urus!"

"Lo, yakin?"

"Hm."

"Tapi, Ta. Lo bukannya masih....."

"Eh bangs*d, pentol gue siapa yang makan? Ngaku, lo. Lo kan biang kerok nya?!" kerusuhan tiba-tiba menyela obrolan yang sempat Nara dengan.

Dari obrolannya, mereka pasti geng laki-laki yang paling Nara hindari. Arganta Natadisastra.

Nara yang sayup-sayup mendengar percakapan tersebut, langsung pilih balik kanan. Ia lebih memilih berbelok arah, biar pun harus menempuh jalur yang lebih jauh rute memutar ketimbang harus berpapasan dengan Arga and the geng.

Jalan belakang gedung sekolah adalah jalan alternatif yang Nara pilih. Jalur yang tentunya sepi dan sunyi, karena memang jarang dilewati. Tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan disini. Oleh karena itu, kesannya sangat sunyi.

Pohon-pohon besar yang rindang, berjejer rapih di sana, menambah kesan sepi, sunyi juga ngeri. Maka tidak heran jika area tersebut kerap kali menjadi alternatif andalan bagi para siswa untuk kabur atau bolos. Ada pula oknum-oknum tertentu yang menggunakan area tersebut sebagian tempat berbuat yang tidak-tidak.

Nara sudah memutuskan untuk menghindari Arga ataupun geng nya. Ia ingin menjalani kehidupan sekolahnya dengan bebas seperti dahulu. Terlibat dengan Arga yang diktator, tempramen, serta memiliki mood yang tidak dapat ditebak, sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

Rasa sakit yang semakin melilit, membuat langkah Nara jadi tersendat-sendat. Tubuhnya mulai lemas karena menahan nyeri. Ditambah pandangan nya juga mulai berkunang-kunang dan kabur.

"Ahk."

Nara meringis kecil sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.

"A-yah...." cicitnya kecil kala tidak sanggup lagi untuk menopang beban tubuhnya sendiri.

Ia harap ayahnya ada disini, membantunya agar bisa sedikit meringankan rasa sakit yang mendera. Jika tidak, ia harap Cacha atau Arsen Yanga ada di sini untuk membantunya. Tapi, Nara rasa itu impossible, karena Cacha dan Arsen sama-sama sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

"Cha...." .

Nara kemudian mencoba menghubungi Cacha. Ia merogoh handphone jadul miliknya, menekan nomer sang sahabat, berharap gadis berambut pendek itu akan segera menerima telepon nya dan bergegas datang.

"Nomer yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi."

Harapan Nara pupus begitu saja saat suar operator yang terdengar, alih-alih suara sang sahabat. Keringat dingin mulai membanjiri pelipis Nara, seiring dengan nyeri yang kian menjadi-jadi. Ia kemudian mencoba peruntungan lain dengan menghubungi nomor Arsen. Namun, setelah dua menit mencoba menghubungi nomer ketua OSIS itu, yang Nara dapatkan adalah jawaban yang sama. Suara operator jaringan, alih-alih si pemilik nomor.

"Butuh bantuan?"

Di tengah rasa sakit dan putus asa yang mendera, tiba-tiba suara bariton yang belakangan familiar di telinga terdengar begitu saja.

Nara tidak perlu menoleh untuk mengenali siapa pemilik suara tersebut. Di SMA Angkasa sudah pasti hanya Arganta Natadisastra yang punya suara demikian.

"Gak usah sok kuat." Suara bariton itu kembali terdengar.

Nara tak menggubris. Toh, ia memang berniat mengindari orang tersebut.

"Gue masih nggak habis pikir, cewek lemah kayak Lo bisa buat ketua SPHINIX yang disegani jatuh cinta setengah mati."

mendengar sindiran tersebut, Nara langsung mendongrak guna menatap lawan bicaranya secara langsung.

"Kenapa, gue salah?"

Arga yang berdiri menjulang di hadapan Nara menyunggingkan senyum miring. Entah setan apa yang merasukinya, setiap kali dekat dengan Nara bawaannya ingin sekali berkata kasar. Terkadang apa yang diucapkan serta dilakukan tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan.

Mungkin semua itu didasari oleh rasa benci akibat peristiwa di masa lalu. Sejak dulu gadis ini lah yang selalu menjadi figur penting dalam hidup laki-laki yang sudah Arga anggap sebagai saudara sendiri. Gadis ini pula yang tidak pernah absen dalam setiap topik yang dibicarakan oleh almarhum. Semenjak mengenal gadis ini pula sikapnya berubah, serta perhatiannya terhadap organisasi terbagi.

Arga benci mengakui. Namun, Arseno Kalingga yang ia kenal berubah semenjak jatuh cinta pada Aleanska Nara.

Itulah yang menjadi salah satu alasan Arga benci saat melihat Nara. Gadis polos yang dua tahun belakangan ini hilang dari jangkauan netra itu dulu berhasil membuat Seno berubah.

"Maksud kakak apa?" Tanya Alea balik.

"Cih, jangan sok polos."

"Apanya yang sok polos? Kakak sendiri yang sejak dulu benci aku tanpa alasan."

"Rasa benci gue beralasan," ucap Arga datar. "Gue benci lo karena lo penghianat."

Nara tidak tahu apa maksud dari ucapan Arga. Sungguh, selama dekat dengan Seno, ia tak pernah sekalipun berselingkuh.

"Aku tidak pernah berselingkuh. Lalu atas dasar apa Kakak klaim aku sebagai penghianat?

"Buktinya lo deket sama Alexander." Air muka Arga langsung berubah setelah mengucapkan nama tersebut.

"Kak Alexander?"

"Karena dia Seno mati bangs*t!" bentak Arga murka. "Kalau bukan karena lo jalan sama Alexander, mereka nggak mungkin berkhianat. Seno juga gak akan mati?!"

Nara masih tidak mengerti maksud dari ucapan Arga. Dan soal Alexander, ia memang sempat kenal dan dekat dengan laki-laki beranting-anting itu. Namun, itu dulu. Mereka pun hanya kenal dan dekat sewajarnya saja.

"Kalau lo nggak Deket sama si bangs*t itu, mereka nggak akan berkhianat," ujar Arga penuh penekanan. Tangannya bakal ikut ambil bagian, mencengkram pergelangan tangan Alea dengan kasar.

"Sakit, Kak"

"Karena lo Seno mati!"

"Kak."

"Lo pembunuh, sialan?!" Desis Arga tajam. Sungguh ia benci jika mengingat kematian Seno yang terjadi karena masalah sepele.

"Kak, sakit."

Rintihan Nara seolah-olah tidak didengarkan oleh Arga. Padahal tangan laki-laki itu ikut berkontribusi menambah rasa sakit yang Nara rasakan.

Hingga akhirnya Nara menyerah pada keadaan, di saat rasa sakit datang bertubi-tubi pada jiwa dan raganya.

"Bangun sial*n. Gak usah akting?!" desis Arga datar ketika tubuh Nara luruh ke tanah berlapis cor-coran.

"Aleanska Nara?!" Bentaknya, namun tak ada respon sedikitpun.

Tubuh mungil yang limbung itu tidak bergerak. Sadar jika lawan bicaranya tidak sedang bercanda, Arga berdecak kasar seraya membuang muka.

"Merepotkan."

Sedetik kemudian, alih-alih pergi dari tempat tersebut tanpa rasa iba, Arga malah merendahkan tinggi tubuhnya. Kemudian bergerak untuk tubuh mungil yang tergeletak tak sadarkan diri itu ke dalam gendongan ala bridal style.

🫐🫐

"Nara udah pulang kali, ya?"

Cacha yang baru saja selesai latihan cheerleader sejak tadi bergumam dengan perasaan risau. Ia menemukan satu miss call dari nomer sang sahabat, namun ketika dihubungi kembali tidak ada jawaban. Sudah lebih dari lima belas menit ia menunggu di gerbang sekolah, namun sang sahabat tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

"Lagi nungguin Nara?"

Cacha mengangguk. "Eh Sen, kebetulan ada lo."

"Kenapa?" tanya lelaki tampan berpakaian rapih tersebut.

Arsena Kalinggaran memang panutan sejati. Sudah jam pulang sekolah saja, seragam yang melekat di tubuhnya masih terlihat rapih.

"Nara ada telpon atau chat Lo nggak? masa gue ditinggal pulang. Padahal tadi kita janjian pulang bareng."

Arsen mengangguk. "Tadi sempat nelpon, tapi nggak keburu diangkat."

"Yah," desah Cacha.

"Nara mungkin sudah pulang sama ayahnya."

Cacha tampak berpikir untuk sejenak. "Iya juga ya? tapi kok nggak bilang-bilang. Tumben banget."

"Mungkin Nara lupa," ujar Arsen menengahi. "Atau buru-buru."

Cacha manggut-manggut mendengarnya. Masuk akal juga apa kata Arsen. mungkin Nara pula terburu-buru bersama ayahnya.

"Aku duluan," pamit Arsen. "Kamu juga mending segera pulang. Bentar lagi kayaknya mau turun hujan."

Cacha mengangguk seraya melambaikan tangan. Sepeninggal Arsen, ia kembali melirik iPhone miliknya yang dilindungi phone case Aesthetic bermotif BT21. Ternyata sudah pukul lima sore lebih.

"Positif thinking aja. Mungkin Nara beneran udah pulang. Nanti kalau udah sampai rumah, gue coba telpon Nara lagi."

🫐🫐

TBC

Tanggerang 06-11-22

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

benaran Army sejati 👍

2024-05-22

1

Cegilnya Matthias

Cegilnya Matthias

Lucu kaliii

2022-11-08

1

💗Erna iksiru moon💕

💗Erna iksiru moon💕

dasar si Arga main nuduh aja tanpa menggali lebih dlm kebenarannya....duh apa Nara bakal ditinggal Chaca

2022-11-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!