⁸UFB

"Eugh."

Lenguh terdengar lirih dari gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidur berukuran minimalis dengan seprai berwarna biru Dongker. Sedetik kemudian, kolak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu terbuka. Hal pertama yang dilakukan adalah beradaptasi dengan cahaya remang yang melingkupinya ruangan tersebut.

"Dimana ini?" Bingungnya saat netranya mulai beradaptasi dengan disekitar.

Sebuah ruangan bernuansa biru tua adalah hal pertama yang menyambut penglihatan. Tidak ada pencahayaan sedikitpun, kecuali dari lampu tidur berbentuk astronom yang ada di atas meja dekat tempat tidur. Jendela tertutup rapat, begitu pun dengan pintu. Suasana temaram tampak melingkupi ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Namun, ruangan itu terlihat rapih dengan interior yang tidak terlalu banyak disimpan.

"Udah bangun ternyata."

"Kakak?"

"Kenapa, kaget?" tanya laki-laki yang tengah sejak kapan duduk di sana. Di atas kursi dekat jendela yang tertutup rapat.

Di posisi duduk cahaya remang sekalipun tidak dapat memperlihatkan benda-benda di sekitaran.

"Ini dimana?" Nara bertanya seraya mengubah posisi menjadi duduk bersandar.

Hal terakhir yang Nara ingat adalah adu argumen yang melibatkan mereka berdua di belakang sekolah. Setelah itu kegelapan merenggut kesadarannya. Bangun-bangun ia sudah berada di ruangan ini. Ruangan yang dipenuhi dengan benda tajam berkilauan yang tampak menyeramkan. Tunggu-tunggu, apa nama benda tersebut?

"Katana. Kenapa? Lo takjub sama koleksi gue?"

Nara spontan menggelengkan kepala. Benda yang dimaksud Arga itu ada lebih dari sepuluh buah dengan berbagai ukuran. Ada juga beberapa sejenis kunai, belati, juga celurit yang menghiasi tembok bercat biru tua tersebut. Semua Sajam itu tampak menyeramkan di mata Nara.

"Gak usah bengong gitu." Laki-laki yang sempat betah dalam kegelapan itu tiba-tiba mendekat. "Makan, habis itu pulang."

Menggunakan dagu, ia menunjukkan letak makanan yang dimaksud. Ketika mengikuti arah pandang tersebut, Nara menemukan piring dengan setumpuk nasi, sayur, serta lauk pendamping lainnya.

"Aku mau pulang sekarang, Kak!"

"Makan atau lo nggak bisa pulang sama sekali." Titah lelaki berjaket bomber tersebut, tegas.

Melihat jaket bomber yang dikenakan Arga, Nara jadi mengingat kebodohannya tempo hari. Ia membawa pulang jaket Arga tanpa sadar. Saat menolak diantarkan sore itu, dengan ceroboh ia malah membawa pulang jaket kebanggaan geng SPHINIX tersebut. Sampai sekarang ia lupa mengembalikannya.

"Kenapa, ingat kecerobohan lo?" Tebak Arga.

Setelah berkata demikian, ia menyodorkan benda pipih jadul milik Nara.

"Sok penting. Banyak yang hubungi nomer lo," katanya.

Mata bening gadis itu membola sempurna. Ia buru-buru mengambil benda tersebut, lantas segera mengecek riwayat panggilan. Ada nama Cacha, Arsen, serta sang ayah yang sudah menghubungi berulang kali. Ada pula setumpuk pesan singkat yang belum dibaca. Tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan. Memang seberapa lama ia tidak sadarkan diri?

"Makan, setelah itu lo boleh balik."

Tidak mau mendebat seorang Arganta tidak lagi, Nara segera mengangguk, kemudian mengambil piring berisi nasi dengan lauk pauknya. Ia sempat ragu untuk menyantap hidangan yang telah dipersiapkan, takut-takut makanan itu mengandung zat berbahaya di dalamnya.

"Kenapa, takut ada racun nya?"

Pria itu mengambil alih piring di atas pangkuan Nara. Menyendok Kan sesendok nasi plus lauknya kedalam bibir sendiri dengan santai. Lalu mengunyah makanan tersebut dengan onyx hitam tertuju pada bicaranya lekat. Ia kemudian berkata setelah berhasil menelan kunyahannya.

"See, gue nggak mati."

Nara mengangguk dengan cepat, tanpa pikir panjang lagi ia mulai memasukkan sesendok demi sesendok nasi ke dalam bibirnya. Pada suapan kesekian, ia berhenti otomatis karena teringat sesuatu. Sendok yang digunakan sama dengan yang sendok yang digunakan oleh Arga. bukan, lebih tepatnya ia yang menggunakan sendok bekas Arga.

Astaga, apa berarti mereka telah berciuman secara tidak langsung? indirect kiss?

"Gue gak nularin virus." Seolah-olah bisa menebak kerisauan Nara, tiba-tiba Arga nyeletuk..

Glek!

Lagi dan lagi, Nara hanya bisa merutuki kebodohannya. Percuma nilai akademik nya selalu sempurna, jika setiap melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Arganta Natadisastra ia selalu ceroboh.

"Habisin."

"I-ya."

"Awas aja kalau sampe gue lihat ada satu butir nasi tertinggal."

Nara menelan saliva susah payah. Harus segitunya, kah? namun, jika dipikir-pikir Arga punya sisi kemanusiaan nya juga. Buktinya, ia masih mau menolong Nara.

"Buruan!"

"I-iya."

"Lelet."

"Kakak aja yang langkahnya lebar." Gerutu Nara kecil yang langsung ditanggapi delikan maut sang Jendral. "Maaf," ralat Nara.

Setelah menghabiskan makanannya, Arga memang menepati janji untuk mengantarkan Nara pulang. Semenjak keluar dari ruangan bernuansa gelap tadi, Nara jadi tahu jika ruangan itu ternyata kamar pribadi milik Arga.

Ternyata Arga membawanya ke markas SPHINIX. Bangunan megah yang tampak tidak terawat, dengan sarang laba-laba beberapa penjuru itu tampak sepi. Cat tembok yang sudah mulai mengelupas, ditambah dengan patung-patung kuda yang berdiri gagah bak pilar kokoh di area utama, ada pula beberapa perabotan antik, membuat kesan luxury tidak dapat disembunyikan, walaupun bangunan itu tidak terurus.

Bangunan bergaya Europe klasik itu dulunya pasti mewah dan sangat megah.Terlihat dari arsitektur, interior dan eksterior bangunan. Lukisan mural art yang bertema abstrak juga ikut menghiasi beberapa bagian ruangan. Menambah kesan seni bernilai jual tinggi.

"Pak Ketu, mau kemana?"

"Astaghfirullah." Nara sontak beristighfar karena terkejut akan kehadiran pemuda bertubuh tambun tersebut.

"Eh sorry, kaget ya lo." Pemuda bertubuh tambun itu tampak segan.

Belum sempat Nara menjawab, Arga sudah terlebih dahulu menarik tangganya dan angkat bicara.

"Gue keluar sebentar, bilangin sama anak-anak kalau nyariin gue."

"Oke, siap Pak Ketu," jawan pemuda bertubuh gempal itu.

"Bilangin juga ke si Libra, pake duit yang kemarin buat belanja keperluan."

"Woke."

"Kalau gitu gue cabut."

Genta, pemuda bertubuh tambun itu mengacungkan jempol sebagai tanggapan. Sejak tadi matanya tak lepas dari Nara. Ia penasaran akan sosok Nara yang tiba-tiba muncul dari kamar sang leader. Pertanyaannya, kok bisa ia masuk ke sana? bagaimana caranya? atau Arga yang menyelundupkannya?

Peristiwa langka ini sungguh membuat Genta penasaran setengah mati.

Sementara itu, di parkiran Arga sudah bersiap untuk mengantarkan Nara pulang.

"Naik, gue anter."

Nara tidak bisa menolak. Toh, saat keluar dari markas SPHINIX hari sudah gelap gulita. Sepertinya menerima tawaran Arga bukan pilihan yang buruk.

Ketika deru kendaraan ber-Cc tinggi itu menggema dan membelah jalanan ibu kota, ada banyak pertanyaan yang menerpa kepala Nara. Dingin angin malam yang menyapa juga kian menambah banyak beban di kepala. Namun, dalam kondisi tersebut tiba-tiba bibirnya terasa gatal untuk mengucapkan sesuatu.

"Kak Arga."

"...."

"Kak Arga!" panggilnya lagi dengan suara lebih kencang.

"Hm?" respon si pemilik nama. "Apaan?"

Nara merunduk, membawa kepalanya lebih dekat. Ia lantas berkata dengan tulus. "Terima kasih."

🫐🫐

TBC 06-11-22

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

semoga Arga gak benci Nara lgi

2024-05-22

1

Cegilnya Matthias

Cegilnya Matthias

Arga ternyata punya rasa iba juga

2022-11-08

1

💗Erna iksiru moon💕

💗Erna iksiru moon💕

udah macem cenayang aja Arga tau apa yg ada dlm pikiran Nara😁

2022-11-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!