..."Kejujuran apa yang mau Kakak sampaikan sampai membawa aku sampai sejauh ini?"...
...Un Familiar Brother...
...🫐🫐...
Sandiwara kah selama ini
Setelah sekian lama kita t’lah bersama
Inikah akhir cerita cinta
Yang s’lalu aku banggakan di depan mereka
Entah di mana ku sembunyikan rasa…
Malu…
Kini harus aku lewati
Sepi hariku… tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri
Melawan waktu……. tuk melupakanmu
Walau….. pe - dih ha - ti…
Namun aku bertahan
Lirih tembang salah satu penyanyi kebanggaan tanah air yang mengalun dengan indahnya, menggema, mengisi seluruh ruangan cafe yang cukup ramai. Entah kebetulan atau apa, salah seorang pengunjung cafe tiba-tiba request lagu milik salah satu penyanyi kenamaan tersebut. Tiap di bait yang paling nge-feel saat dinyanyikan oleh sang vokalis, ternyata mampu menyentuh lubuk hati paling dalam seseorang di sana.
Bukan, bukan saja suara vokalis band tersebut yang apik dan merdu mendayu-dayu ketika membawakan tembang berjudul 'Akhir Cerita Cinta' tersebut. Melainkan ke dalaman beberapa lirik yang nyatanya mampu membuat sebutir kristal bening lolos dari pelupuk mata.
"Nar, lo nangis?"
"Eh, enggak, kok!"
Mau berdalih sekeras apapun? Toh, air mata itu luruh tanpa diminta. Begitupun dengan suara yang serak, seolah menahan luapan emosi yang berkumpul.
"Kenapa sih, lo nangis? Kangen?" tanya gadis berkaos Army dihadapan sambil menyodorkan kotak tisu.
"Enggak tahu. Mau aja nangis," jawab Nara apa adanya.
Biar saja ia menjadi pusat perhatiaan. Toh, lelehan kristal bening itu luruh dari bawah kinerja alam bawah sadarnya. Tanpa diminta, ataupun tanpa dapat dicegah. Lelehan itu terus mengalir bak air terjun dari pelupuk matanya.
"Aku izin ke toilet dulu, cha."
Belum sempat sang sahabat merespon, Nara sudah lebih dulu mendorong kursi ke belakang. "Kebelet."
Gadis berkaos Army yang sedang mengerjakan tugas teka-teki yang diberikan oleh panitia MPLS itu mengangguk kecil. Ia tahu jika sahabatnya itu hanya berdalih soal tujuannya ke toilet. Toh, ia lebih dari sekedar tahu betapa sedihnya sang sahabat dua minggu ke belakangan.
Di sisi lain, tiba di toilet, Nara langsung masuk ke salah satu bilik. Menurut pintunya rapat-rapat, sebelum tubuhnya luruh dibalik pintu, tangisnya kian menjadi. Rasa sesak itu lagi-lagi menghinggapi rongga dada.
Sesak rasanya ketika mengingat alasan apa yang membuat air matanya kembali luruh. Dua minggu telah berlalu, tapi lara itu tak kunjung reda. Sesak itu tak kunjung lenyap, sakit itu tak kunjung berkurang. Dua minggu bukanlah waktu yang sebentar untuk sekedar melupakan. Kisah yang terukir begitu lama, tidak mungkin mudah tergerus oleh waktu dua minggu. Tanah itu bahkan masih basah, ketika ia terus-menerus menitihkan air matanya di setiap senja menjelang. Terlalu sakit jika mengingat kepergiannya yang begitu cepat.
Nara hanya gadis kelas 9 sekolah menengah pertama yang mungkin belum waktunya jatuh cinta sedalam ini.
Ia mungkin cuma gadis kelas 9 Sekolah menengah pertama yang terlalu dini untuk merasakan sakitnya kehilangan karena jatuh cinta. Tapi, mau bagaimana lagi, ketika cinta datang tanpa pandang usia. Rasa sakit ketika jatuhnya sama. Lukanya sama.
Cinta itu awalnya datang, mulai melekat kuat, mengerat juga mengikat mengikat. Ketika hilangnya jadi sumber segala pusat kesedihan, wajarkah?
Kehilangan seseorang yang selalu mewarnai hari-hari terasa begitu menyayat hati. Itu pula yang dirasakan oleh Nara ketika kehilangan Arseno. Laki-laki paling memenuhi boyfriend material banyak kaum Hawa.
"Kak Seno, hiks.... hiks...."
"Kak, Nara kangen. Nata ....kangen Kakak hiks...."
Tangisnya lirih itu setidaknya jadi bukti, bahwa ia masih belum bisa melupakan sosoknya.
Gemuruh yang hebat selalu bersemayam di hati kala menyebut namanya. Dibarengi sesak yang yang kian menjadi.
Tanpa Nara ketahui, semua rasa sakit yang ia ekspresikan lewat tangis, didengar sepenuhnya oleh sang sahabat yang berdiri di sisi lain pintu.
"Nara, lo harus ikhlas. Kalau Lo nggak ikhlas, dia juga bakal berat ninggalin dunia."
"Hiks ....hiks...."
"Gue tahu lo sayang dia. Tapi, Tuhan jauh lebih sayang sama dia. Makanya dia dipanggil Tuhan lebih cepat. Dia pasti udah bahagia dan udah nggak sakit lagi di sisi Tuhan, Nar."
...🫐🫐...
"Jawab jujur. Lo mantannya Arseno atau bukan?"
Hari ini, ada lagi yang mengungkit-ungkit Soal hubungannya dengan laki-laki yang sangat sulit ia terima kepergiannya. Bak mengorek luka lama di hati, Nara sempat tertegun untuk beberapa saat.
"Soal itu...."
Libra tersenyum tipis saat melihat respon lawan bicaranya. Sudah bukan rahasia umum lagi jika mantan ketua geng SPHINIX terdahulu meregang nyawa karena dibunuh. Seno, leader yang dulu terkenal tegas dan memiliki temperamen baja, berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengenal seorang gadis kecil yang selalu diagung-agungkan dalam setiap ceritanya. Singkat cerita, sang leader sempat kecolongan saat diperbudak oleh rasa.
Pencetus 7 Panji-panji itu melanggar salah satu point yang dulu ia resmikan. Lebih tepatnya point ke tiga yang bunyinya seperti ini, tidak mengikutsertakan masalah pribadi. Tapi, pada kenyataanya Seno telah melanggar point tersebut.
"Dia cabut." Instruksi suara bariton milik Arganta Natadisastra. Sontak hal itu menarik perhatian yang lain.
"Eh, gak bisa gitu dong, Ta. Nara 'kan masih main!"
"Iya, Ta. Bentar lagi kek," protes anak-anak SPHINIX yang lainya.
"Gue bilang dia cabut, berarti cabut." Arga tak mau ditolak. Perintahnya bersifat mutlak. "Berdiri!"
Nara mendongrak, detik berikutnya ia menggelengkan kepala. "Aku belum mau pulang, Kak."
"Berdiri," titah Arga, lagi.
"Nanti kak, aku belum jawab pertanyaan dari Kak Libra," tolak Nara untuk kedua kalinya.
Arga mendengus kesal saat mendengar ucapan gadis tersebut. Dengan kesabaran yang sudah menipis, ia akhirnya memilih menarik tangan Nara dengan paksa. "Gue cabut."
Libra tiba-tiba berdiri dari posisinya. "Lo nggak bisa gitu, Ta. Dia belum jawab pertanyaan dari gue."
Onyx hitam tajam Arga berkilat, menatap lurus ke arah lawan bicaranya. Menyeramkan dan menakutkan dalam satu tatapan tajam matanya.
"Iya," ucap Nara tiba-tiba. Membuat semua mata beralih kepadanya. "Aku dan kak Seno sempat pacaran."
Semua mata terbelalak kaget, namun tidak untuk Libra yang malah tersenyum sinis dari tempatnya duduk.
"Jadi lo, yang disebut infinity?" tanya salah satu diantara mereka.
"Infinity?" Bingung Alea. "Maksud Kakak?"
"Itu, lo, panggilan kesayangan almarhum Jendral...."
"****!" tiba-tiba Arga mengumpat, membuat yang lain terdiam.
"Ta, lo mau kemana?" anggil Iki saat pemuda itu berlalu sambil menyeret Nara. "Ta, itu Nara nya kasihan...."
"Bacot anj*ng?!" sela si pemilik panggilan sebelum benar-benar meninggalkan teman-temanya yang masih melongo tak percaya. Arga tidak lagi memperdulikan ocehan teman-temanya. Jika dibiarkan, kejujuran itu akan merembet kemana-mana.
"Naik, gue anter pulang," titahnya sambil menyerahkan barang-barang Nara beserta helm kepada Nara. "Cepetan, bodoh!"
Arga kembali menaikan nada bicaranya. Membuat Nara berjengit kaget.
Selalu saja begini, pikir Nara. Mood sang jendral itu seperti nano-nano. Tidak ada yang bisa menebaknya barang sedikit saja. Arganta Natadisastra terlalu sukar untuk sekedar ditebak. Ia juga suka sekali berbuat di luar nalar.
Angin dingin di malam itu terasa berhembus sampai ke dalam tulang. Jalanan mulai lenggang, mungkin karena sudah cukup larut malam.
Ngomong-ngomong jam berapa sekarang?
Nara lupa mengecek jam, jangan-jangan ini sudah hampir tengah malam. Jika iya, tamatlah riwayat Nara. Ia takut ayahnya semakin cemas. Belum lagi sekarang handphone mati karena lowbat.
Keheningan kembali menyelimuti perjalanan mereka kali ini. Ketika kuda besi milik sang leader memasuki gang sempit di dekat tempat tinggal Nara. Penumpang di jok belakang sempat meminta diturunkan, anya saja sang leader terlalu enggan untuk menuruti.
Jadi di sini lah mereka berada, di depan rumah Nara.
"Bodoh!"
Nara yang baru saja melepaskan helm dan turun dari jok belakang langsung mendongrak, menatap Arga. "Maksud kakak?"
"Lo cewek paling bodoh yang pernah gue kenal."
"Hah?"
Arga mengatai dirinya 'bodoh' dengan mudah. Lagi-lagi dengan mudah ia menilai Nara.
"Harusnya lo gak usah jujur. Lo tahu sendiri gimana sensitifnya mereka soal kematian Seno!"
"Tapi, aku cuma...."
"Masuk sana, Ayah lo udah nungguin," potong Arga dengan gaya datar khas miliknya.
Nara masih diam di tempat.
"Lo mau ikut gue lagi?"
Nara menggelengkan kepala keras, bukan itu alasannya masih tetap berada disini. Tapi ada alasan lain yang menganggu dirinya.
"Kenapa kakak tadi halangi aku buat jujur?"
"Barusan gue udah bilang!"
"Tapi kenapa? Aku 'kan gak ada sangkut pautnya sama kematian Kak Seno."
"Besok, jam delapan pagi gue jemput lo disini."
Kening Alea mengkerut, maksudnya apa coba? Selalu saja pemuda itu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan pula.
"Tapi kak, aku...."
"Gue cabut."
Detik berikutnya motor CBR250RR itu sudah melesat membelah jalanan. Meninggalkan Nara masih dilingkupi rasa penasaran.
"Astagfirullah!" Nara refleksi aget beristighfar saat berbalik dan menemukan sosok sang ayah, tepat di belakangnya.
"Aayah."
"Kenapa handphone kamu sulit dihubungi?" tanya sang ayah dengan raut cemas tergambar begitu jelas.
"Maaf ayah, handphone Nara mati kehabisan daya."
"Apa?" ulang sang ayah.
Nara menggunakan isyarat lewat gerakan tangan dan bibirnya. Ternyata ayahnya tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
"Handphone Nara mati karena dayanya habis."
Pria paruh baya itu mengangguk, kemudian ia menggiring putrinya untuk masuk ke dalam rumah. Hari semakin larut, tidak baik seorang gadis seperti Nara masih keluyuran di luar rumah. Sebagai seorang ayah, ia tidak mau putrinya di pandang buruk oleh masyarakat karena sering pulang malam.
"Jadi, tadi Ayah sama Arsen cari Nara?"
"Hm."
"Cari kemana?"
"Tidak jadi, kata Cacha kamu masih ada di tempat kerja. Lembur."
"Ah iya, Nara sempat kirim pesan ke Cacha," Ujar Nara pada akhirnya. "Maaf sudah buat Ayah khawatir," lanjutnya sambil memeluk tubuh sang ayah.
"Tidak apa apa, asal kamu baik-baik saja."
Kecupan ringan mampir di pucuk Nara Ale. Benar adanya jika Andra, ayah Nara hanya ingin putrinya baik-baik saja di luaran sana. Bagaimanapun juga Nara adalah sumber kehidupan Andra. Satu-satunya harta paling berharga yang dimiliki olehnya.
"Kalau Ayah boleh tahu, siapa pemuda yang mengantar kamu tadi?"
Deg!
Nara mendongrak, menatap sang ayah sejenak. Tangganya tampak gugup untuk memberikan gerakan isyarat sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut.
"Itu...."
"Akhir-akhir ini Ayah cukup sering melihatnya mengantar kamu pulang. Apa dia pacar kamu?"
...🫐🫐...
...TBC...
Tanggerang 13-11-22
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
semoga libra ga makin benci SM nara
2024-05-22
0
💕Erna iksiru moon💕
iya pak bentar lagi bakal jadi pacar😁sekarangg mh masih otw🤭
2022-11-16
1