Ruve terbangun. Ia tak pernah tidur senyenyak ini, dan katanya akan terjaga hanyalah isapan jempol. Beberapa menit dalam pelukan Elves, ia menguap lebar dan tertidur. Bahkan susah untuk dibangunkan.
Ruve menggaruk kepalanya, ia memandangi seisi kamar. Hanya ada dirinya, ia tak melihat Elves. Ruve berlari menuju kamar mandi. Derapan langkahnya terdengar hingga lantai bawah.
Dona menyiapkan sarapan mendongak, begitu juga Elves,"Kekasihmu sepertinya mencari keberadaanmu" Elves berada di meja makan, ia menikmati kopi yang wanita tua itu berikan.
Derapan dari atas masih terdengar. Ruve membuka pintu bersamaan dengan Gen yang menguap lebar. "Ruve kau berisik!" Kemudian mereka turun bersamaan dengan saling memaki.
"Selamat pagi" sapa Ruve semangat, "Kau berisik Ruve! Pagi" Gen kembali menguap. "Kalian masih mengantuk?" Dona memperhatikan Gen dan Elves yang menguap lebar.
"Bagaimana kalau kalian istirahat saja hari ini? Kita mundurkan jadwal jadi besok pagi?" Gen menggeleng, "Tidak perlu Dona, kopi ini pasti bisa mengatasinya" Elves mengangkat cangkirnya.
"Aku juga mau kopi" Gen sudah berada disamping Ruve. "Silahkan ini sarapan seadanya ya maklum nenek tua ini tinggal sendiri, juga tak ada tamu, jadi tak banyak persediaan makannya" Dona merendah, sarapan yang ia masak sangat banyak, casserole labu daging, roti bakar keju, susu hangat dan jus jeruk.
"Terima kasih Dona ini sangat cukup" Ruve meraik roti bakar keju, ia jadi teringat hari terakhir ia sarapan di Garden Angel. Fanta membuatkan Orca dan Menna sarapan dan mereka saling berebut, hingga Tony membuatkan mereka lagi. Kedua anak itu sekarang menjadi tanggung jawab Fanta.
Elves akan ikut membantu menyokong kehidupan mereka namun Fanta menolak, ia merasa bersalah, begitupun semua yang terlibat untuk penyerangan yang mereka lakukan.
Tapi ia tak menduga kedua anak ini bisa terpisah dari keluarganya. Fanta membantah mereka menelantarkan dua bocah ini, itu tak mungkin kata Fanta. Ia yakin suatu hari nanti orang tua anak-anak ini akan mencari mereka. Dan saat waktu itu tiba, biarlah Fanta yang menjaganya.
Dan nasib kelompok Bandit Yordal itu tak diketahui, Ruve dan tim telah mencari, namun mereka hilang ditelan bumi. Tanpa jejak.
Ruve berpikir mungkin saja mereka kembali ke tempat asal Yordal. Daerah dekat kota Ruve tinggal. "Aku akan berganti pakaian, kalau kalian sudah selesai sarapan kita berangkat" Dona melepas celemeknya dan meninggalkan tamu-tamunya sarapan.
***
Mereka telah menyusuri jalan setapak panjang untuk menuju ladang milik suami Dona. Dan Elves merasa walaupun tempat ini terbuka, ia seperti memasuki labirin besar dan berliku. Mereka berada di BlackMud tempat para penyihir hitam bermukim.
Tak menutup kemungkinan Dona salah satu dari mereka. Fanta dan Tony telah memperingatkan mereka, tentang "Siapa yang telah masuk dalam BlackMud tak akan bisa keluar lagi" dan mungkin itu benar, setelah melihat medan yang mereka lalu.
"Mari kita beristirahat, masih ada setengah perjalanan lagi" ucap Dona, pantas persiapan yang Dona lakukan sebelum berangkat tadi sangat banyak.
Mereka mencari aliran sungai, "Hati-hati, disini kalian tak bisa sembarangan untuk meminum, memakan sesuatu yang berada di tanah BlackMud ini" peringatan Dona.
"Karena BlackMud adalah tanah yang dikutuk, dengan kutukan hitam. Maka kami pun sebagai penduduk tidak sembarangan bisa menanami juga berburu"
"Semua yang ada disini telah terkontaminasi, oleh sihir itu, Dan karena alasan ini juga kami membuat ladang yang jauh dan memang tak terpengaruh oleh tanah kutukan" penjelasan Dona membuat tim Ruve bergidik ngeri, mereka tak bebas melakukan apapun walau di tanah mereka sendiri.
"Ini minumlah," Gen agak ragu menerima air Dona, "Tak apa, air sesuatu yang berada dari rumahku, sudah suamiku mantrai, ia menggunakan mantra abadi, agar kelak siapapun yang akan menempati rumah kami setelah kami tiada, tak terpengaruh oleh tanah kutukan ini"
"Dan saat kalian menemukan aku saat itu, wanita tua ini ceroboh, diusili oleh para penyihir hitam muda yang sedang belajar."
"Seperti yang sedang mengintai kita, kalian bisa merasakannya kan, sebenarnya perjalanan kita tak akan sepanjang ini, tapi mereka membuatnya dua kali lipat atau lebih."
Mereka mengangguk, pantas saja, ternyata mereka telah dikerjai, mereka merasakannya, perjalanan ini berlabirin.
"Biarkan mereka puas, nanti akan kita balas di akhir, tapi aku perlu bantuan kalian, tubuh rentah ini, sudah susah untuk diajak bertarung dalam waktu lama,"
"Untuk perkelahian serahkan padaku" Gen percaya diri. "Aku akan melindungi kalian dengan sihir hitam yang aku miliki" Dona meminum kantong air yang sudah ia bubuhkan ramuan Elves.
Sebelum berangkat ia meminta ramuan itu. Jadi ini persiapan untuk melawan kejahilan sesama para penyihir hitam. "Kalian bersikaplah seperti biasa, dan aku akan mencari keberadaan si jahil" perintah Dona membuat Gen dan Ruve berakting dengan kaku. Elves memutar bola matanya malas.
"Wah cuaca yang indah ya Ruve" Gen berteriak kencang.
"Kau tak usah berteriak seperti itu" Ruve berbisik.
"Ia Gen indah sekali pas untuk kita beristirahat dibawah pohon rindang ini, A Ha ha ha ha" Suara Ruve tak kalah lantangnya.
"Kau terlalu kaku Ruve" Gen mendekat dan berbicara dengan berbisik.
"A ha ha ha kau lucu sekali Ruve" Gen menepuk bahu Ruve kencang, Ruve menatap Gen tajam, ia berbisik, "Sakit, Gen! kau sengaja?"
"Maaf aku grogi" Gen menyengir.
"Elves kau makan apa? Ah sangat sedap!" Ruve beralih pada Elves yang sedari tadi hanya menikmati makan siangnya.
Ruve mengkode, dengan mengedipkan mata berkali-kali yang lebih mirip orang sakit mata ke Elves agar pemuda itu menjawab drama yang mereka mainkan dan jelas Elves tidak akan ikut serta dalam drama memalukan itu.
Dan kemudian ledakan tawa terdengar dari arah Dona, "Kalian sangat lucu" Dona melirik tak jauh dari mereka pergerakan si jahil terlihat. Ia telah menemukan tempat persembunyian si jahil.
SRAK! SRAK! SRAK!
"Lama tak bertemu Dona" Sekumpulan orang bertudung menghampiri mereka.
"Lori, kau semakin terlihat muda saja, kemampuanmu pasti meningkat pesat ya, setelah berhasil membunuh suamiku" Lori tergelak kencang,
"Ah Dona, Dona, rasanya baru kemarin aku melihat Paldo menggelepar seperti cacing kepanasan karena meminum racunnya sendiri." Rahang Dona bergemeletuk. Seketika langit menjadi gelap.
Melihat itu Lori terlihat senang, memancing musuh hingga murka adalah keahliannya dan ia sangat menikmati kemurkaan musuhnya itu.
"Bre ngsek! Kalian sangat hina! Kalian tak pantas untuk hidup!" Makian Dona dengan suara yang berubah menjadi berat.
"Rasakan ini! Hyaaaahhh …." Dona menyerang kumpulan itu. Dan kelompok itu mulai menyerang Ruve dan kawan-kawan.
Tangkisan demi tangkisan Lori lakukan, saat ini memang ia hanya menangkis. Mau bermain-main dahulu sebelum ia menyedot semua kekuatan wanita tua di depannya ini kemudian melenyapkannya menjadi abu, sama seperti yang ia lakukan pada suami wanita tua ini, ratusan tahun yang lalu.
"Ayolah Dona, hanya segitu saja, kemampuan yang kau miliki, bahkan anak buahmu sudah kelelahan aku lihat" ejek Lori.
Lelaki itu terus terbahak untuk memprovokasi Dona. Serangan terus Dona lancarkan, Hingga ia menemukan cela,
"SEKARANG!"
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments