Elves meletakkan Ruve diatas rumput dekat sungai. Meletakkan kain bersih tebal di samping Ruve.
Mereka harus berganti kain bersih dan membuang kain yang mereka kenakan. Sebelumnya Elves dan Gen telah lebih dulu, membersihkan tubuh mereka setelah membuang mantel mereka bertiga. Ia menidurkan Ruve yang tertidur.
Gen menyerahkan semua pada Elves untuk membersihkan pakaian Ruve. Karena mereka kekasih, jadi Gen menganggapnya wajar.
Sebenarnya, untuk beberapa detik, Elves tak tahu apa yang harus ia lakukan. Rintihan Ruve dengan keringat sebesar biji jagung membuat otak Elves kembali bekerja.
"Ganti pakaiannya Elves!" Ucapnya pada diri sendiri. Ia menyeka keringat pada dahi dan leher Ruve. Elves gugup dan menegang.
Ia tak bisa meninggalkan Ruve dengan pakaian penuh serbuk gatal dan basah. Tak mungkin juga ia meminta Gen membantunya.
Elves tak rela. Seperti tersadar dengan ucapan hatinya. Sekaan Elves pada tubuh Ruve berhenti.
Ia tak rela? Lelaki lain melihat tubuh Ruve? Yang benar saja! Sangkalnya. Elves menggelengkan pelan kepalanya. Kembali mengusap keringat Ruve dan dengan cepat menggantikan baju wanita itu dengan yang bersih.
Elves mengganti pakaian Ruve. Ia bersusah payah melatikan bola mata kemana saja agar ia tak menatap tubuh Ruve.
Ia menghela nafasnya, ia telah melucuti pakaian yang terkena bubuk gatal. Tahap selanjutnya, lebih susah.
Memasukkan pakain lewat kepala Ruve. Dan mata bulat Ruve terbuka. Mereka saling berpandangan.
Senyum Ruve mengembang, ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Elves. Ruve menyengir memperlihatkan giginya.
"Hmm … " Ruve mengecap bibirnya. Lidahnya merasakan sesuatu yang runcing di dalam mulutnya. Tangannya meraba gigi, giginya. Lalu menarik leher Elves agar mendekat dan melihat ke arahnya.
"Eh lihat gigi ku runcing" Ruve memperlebar cengirannya, "kau melihatnya Elves?" Lalu ia tertawa terbahak. Elves hanya mengangguk.
Elves kesusahan untuk mengancingkan pakaian Ruve. Tubuhnya selalu oleng ke belakang tidak bisa tegak.
Saat tubuh Ruve akan terjatuh kebelakang.
BREETT …
Elves refleks menarik pakaian depan milik Ruve dan merobeknya. Sekali lagi Ruve oleng ke belakang. Elves dengan cepat meraih leher Ruve.
Memangkas jarak antara mereka. Mata bulat Ruve kembali terbuka. Lalu ia terkekeh. Telunjuknya menekan pipi Elves.
"Elves tampan, aku suka padamu, tapi … " tangannya ia angkat ke atas dengan jari telunjuknya mengacung.
"Tapi kenapa kau tidak … Apa aku tak pantas." Ruve meletakkan tangannya di pipi Elves, ia mengelus pipi pemuda dari ras Elf itu.
Menjulurkan tangannya lagi ia menyentuh kuping Elves yang runcing. "Aku baca bangsa peri sangat tampan, dan benar lelaki di depanku ini sangat tampan." Ruve mengelus kuping Elves.
"Kami bukan bangsa peri, kami Elf, aku tak tahu apa yang kau baca dan dari mana itu bersumber tapi kami berbeda dengan peri, mereka bersayap dan kecil sedang kami tidak, kami agak sama dengan manusi—"
"Sttt … okay, bocah pintar, aku paham," Ruve mengangguk,Ia memotong omongan Elves dengan meletakkan telunjuknya di antara bibir Elves dan bibirnya.
"Jadi kau adalah … Peri Raksasa yang Tampan, dan punya Ruve" Ruve kembali terkekeh. Ia menjauhkan dirinya dari Elves, pemuda Elf itu memandang wanita melantur di depannya dengan malas.
"Sudah ganti pakaianmu,"
"Kenapa?" Tanyanya. Ia melihat pada depan pakaiannya yang sobek besar dan bagian bawah nya. "Kau, Jahat Elves!" dahi Elves mengerut dalam. Ia dibuat bingung.
"Kau harus bertanggung jawab!" Matanya mulai berkaca. "Kenapa? Kau!" Ia menatap Elves tajam.
"Kenapa diam! Kau harus bertanggung jawab." Bentak Ruve.
"Apa?"
"APA? Kau bilang!" Ruve mulai berdiri dengan sedikit oleng, "Lihat ini, ini dan ini" Ruve memperlihatkan sobekan-sobekan besar pada pakaiannya, juga memperlihatkan bagian bawahnya yang hanya menggunakan celana satin putih selutut.
"Kau melihat semua nya!" Tangisan kencang Ruve terdengar. Ruve berjongkok dengan kepala ia tenggelamkan kelututnya, Astaga Elves dibuat salah tingkah oleh kelakuan Ruve. Wajah pemuda itu semerah tomat.
"Okay, tenang! Aku akan bertanggung jawab" ucap Elf itu pasrah. Tangis menggelegar Ruve meredah. Berganti dengan isakan kecil. "Beneran?" Ia mendongak menatap Elves. "Janji?" Ruve mengulurkan kelingkingnya. Ia menggerakan kelingkingnya di depan wajah Elves. Ia terus menggoyangkan kelingkingnya sampai Elves menyambut kelingking itu.
Elves menyambut kelingkingnya dan Ruve mengeratkan cengkramannya. "Janji, tidak boleh ingkar!" Kekehan campur cengiran Ruve berikan pada Elves.
"Ayo pakai pakaianmu, nanti kau demam, cepat!" Ruve mengangguk, ia mengulurkan tangan dan Elves memberikan tumpukan pakaian pada Ruve.
Wanita derik itu sudah berpakaian lengkap. Ia mengandeng lengan Elves dan tak mau melepaskannya.
"Elves apa yang terjadi? Aku mendengar jeritannya tadi" Gen mendekat. Ia melihat Elves yang berwajah tertekan.
"Kita harus cepat cari tahu bubuk yang kamu temukan itu, pengaruhnya sangat menyusahkan" Elves mencoba menggeser tubuhnya namun Ruve menjadi lebih mengeratkan pelukannya pada Elves.
"Ruve baik-baik saja?" Tony menghampiri mereka.
"Dari luar hutan aku mendengar jeritan Ruve, ia tak apa?" Mereka melihat Ruve yang sangat menempel pada Elves membuat mereka mengernyit.
"Kalian salah jika mengkuatirkan Ruve yang harus kita kuatirkan adalah Elves, lihat tampangnya sangat tersiksa" Gen berkelakar. Ia terkekeh melihat wajah asam Elves.
"Kami membawa kereta kuda, Kau dan Ruve naik kereta kuda saja, aku dan Fanta akan membawa kuda kalian.
Elves membopong Ruve yang tak mau melepaskan dirinya. Didalam kereta kuda, Ruve yang awalnya ia dudukan di sampingnya. Merangsek duduk dipangkuannya. Dan sekali lagi, Elves harus pasrah.
Wanita ini sangat mengujinya hari ini. Elves mengetatkan rahangnya saat hawa hangat dari nafas Ruve mengenai kulit lehernya.
Rasanya ia ingin memaki saat itu juga.
***
Ruve terbangun dengan tubuh yang sangat bugar. Ia merasakan energinya bertambah seribu kali lipat.
Ia mencuci wajahnya. Dan turun kebawah. Sepi. Ini masih terlalu pagi. Ruve memutuskan untuk berjalan di sekitar desa.
Ia ingat bubuk berkilau itu masuk ke tubuhnya. Ia mengusap bagian depan pakaiannya. Racun apa itu? Ia tak ingat apa-apa lagi setelah ia muntah.
Dan setelah ia bangun pagi ini tubuhnya terasa sangat ringan dan menyenangkan. Berjalan ke pasar. Ia ingin membeli sarapan saat melihat, bocah lelaki kecil, berlari sambil mencuri roti.
"Hei, pencuri kecil, kembali kau"
"Bocah nakal!" teriak sang pedagang tua. Ruve perlahan mendekat pada pedagang tua.
"Aku bayar apa yang bocah itu curi, dan lepaskan dia, Dan bungkuskan aku 10 roti, ambil kembaliannya" Ruve memberikan beberapa koin emas. Pedagang tua itu berbinar.
"Baik nona" ia memberikan dua kantong yang masing-masing berisi 5 roti. Dan Ruve kalap. Ia membawa banyak tentengan yang berisi sarapan.
Ruve merasa moodnya sedang baik saat ini. Ia menyusuri pinggir sungai. Berjalan kembali ke Garden Angel.
"Makan lah," Ruve mendengar suara di arah belukar.
"Hmm" Ia mengintip. Dan Ruve melihat si bocah pencuri itu duduk dengan seorang gadis kecil dengan rambut berpita dan agak lusuh.
Gadis kecil itu menikmati roti curian si bocah, "Kakak, kita bagi setengah yah yah … ini buat kakak," Gadis itu membagi roti itu menjadi dua, memberikan satu pada bocah lelaki itu, gadis kecil memakan bagiannya dengan senyum senang.
TRAK!
Ruve tak sengaja menginjak ranting, kedua bocah itu menatapnya yang sedang mengintip. Ia melihat gadis kecil merangsek ke belakang tubuh sang kakak. Takut.
"Siapa kau?"
"Suruhan pak tua ya?"
"Kami tak punya uang!" Suaranya bergetar.
"Tenang, aku hanya orang lewat, kok" Ruve keluar dari persembunyiannya.
"Bohong tadi aku melihatmu di pasar" tangan bocah itu ke belakang memegangi tangan gadis kecil yang takut.
"Aku cuma mau makan bersama kalian aja, ini makan bersamaku" Ruve mendudukan dirinya di depan anak-anak itu.
Ia membuka semua sarapan yang ia beli. Ruve melirik bocah lelaki itu meneguk ludahnya.
"Kakak itu ada roti kesukaan Menna" gadis kecil itu menunjuk roti yang hanya ia makan setengah, roti mereka terjatuh karena terkejut. Ruve mengintip mereka.
"Ayo sini ikut makan. Ini banyak lho" pancing Ruve. Lama namun perlahan tapi pasti dua bocah itu mendekat. Saat merasa Ruve tak akan menyakiti mereka.
"Menna boleh makan ini?" Gadis itu dulu yang mendekati Ruve.
"Boleh, semua yang ada disini boleh kalian makan"
"Benar?"
"Iya, makan yang kamu suka, aku Ruve"
"Aku Menna, Ruve ini enak"
"Benarkah, aku juga mau satu" mereka menikmati makanan membiarkan bocah lelaki dengan wajah waspada itu kembali meneguk ludahnya.
Ruve berbisik pada Menna. Menna berdiri dan menggandeng kakaknya untuk bergabung.
"Kakak ayo kakak itu kesukaan kakak" dan bocah lelaki itu sudah ikut bergabung. Bocah itu makan dengan lahap.
"Pelan-pelan Ocra" saat melihat bocah lelaki itu tersedak. Ruve memberikan air minum. Bocah lelaki itu menandaskannya.
Kembali dua bocah itu makan dengan lahap. Mereka menjadi akrab. "Kemana orang tua kalian?" "Tak ada" jawab gadis kecil yang sedang memakan manisan.
"Iya Menna bangun ibu tak ada." Gadis kecil polos itu. Sedangkan setelah selesai makan Ocra, si bocah lelaki lebih banyak diam.
"Mau ikut?" Kembali bocah lelaki itu waspada, berbanding terbalik dengan Menna yang dengan pekikan ceria berkata "Mauuuu"
Ruve membawa mereka ke Garden Angel.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments