Ruve terbangun, kegelapan menyergap penglihatannya. Ia terduduk dan mengamatinsekitar yang mulai masuk dalam penglihatan. Tempat ini tak segelap awal.
Ruve berdiri. Ia melangkah. Ingatannya kembali berputar pada serbuk dan bunga Mopia yang ia temukan.
Ia melihat satu sosok juga terbaring di tanah, perlahan ia mendekat dan menemukan Gen tergeletak.
"Gen!" Ia menepuk pipi sahabatnya itu.
"Gen!" Lagi ia menguatkan tepukkannya.
"GEN! BANGUN!"
"Berisik! Kau derik!" Ruve lega, ia duduk disamping Gen.
"Ruve? RUVE!" Mata Gen terbuka. "Kau tak apa? Ada yang sakit, aku melihat kau melayang dan bubuk berkilau itu memasuki tubuh mu"
Gen memutar kepala Ruve, memutar tubuh Ruve dan menelitinya. "Tidak, aku baik-baik saja. Sudah, sekarang ayo kita lanjutkan penelusuran ini, kau juga penasaran kan?"
"Iya tapi benar kau tak apa-apa?" Karena teriakkan Ruve saat bubuk itu memasuki tubuh Ruve seperti sangat menyakitkan.
"Tidak! Ayo cepat! Aku menduga ini tempat Hudson bersembunyi," Ruve bergegas masuk kedalam. Mendahului Gen.
"Ruve, kau bisa berjalan dalam gelap?" Ucap Gen.
"Gelap? Kau melucu, Ini terang Gen, walau agak remang tapi aku masih bisa melihat, Sudah jangan bercanda, aku penasaran, kata Elves Hudson sangat terobsesi dengan semut, aku pastikan banyak ruangan lain di tempat ini"
Ruve masih berceloteh dan Gen merasa keanehan pada temannya, dulu Ruve sangat tak bisa dengan gelap. Ia tak bisa melihat sekitarnya. Bahkan awal ia datang ke rumah mereka, Ruve tak pernah mematikan lampu kamarnya.
Tapi ini? Sangat aneh.
"Gen kemarikan obornya" ia tak begitu jelas melihat apa yang ia temukan. "Tak ada, aku tak membawa obor"
Ruve mengitari sekitar, ia bisa melihat obor berada di dinding tapi tak menyala. Tapi ia bisa melihat sekeliling walau remang, tapi ia bisa menangkap benda pada netranya.
"Gen, jangan bercanda kau memasang sigil api kan?" Ia melihat Gen yang menggeleng. Dan tiba-tiba terang menyilaukan mata Ruve.
"Ini baru aku gunakan sigil ku"
"Ruve matamu, mata ular mu, kembali?" Gen menyadarkan Ruve. Ia juga mengaktifkan sigil api nya dan dalam sekejap ia menutup matanya. Ini terlalu terang.
Dan Ruve mengontrol kobaran terang pada sigilnya.
"Gen aku bisa melihat dalam gelap!"
Sudah lama ia tak pernah menggunakan kekuatannya itu. Bukan tidak mau, tapi ia tidak bisa. Kekuatannya untuk mengubah diri, juga kekuatan ularnya memudar. Sejak ia menelan racun ras Yordal.
Ia menelan racun ras burung bangkai yang menghilangkan setengah kekuatan alaminya. Kekuatan ularnya. Ia masih sekuat itu, tapi kekuatannya tak akan bertahan lama,
Maka dalam perkelahian ataupun peperangan bisa tiba-tiba ia menjadi tak berdaya. Gan dan Elves sangat membantu banyak.
Sering ia hampir mati karena di tengah melawan musuh ia jadi melemah dan tak berdaya. Dan membuat Elves dan Gen tak henti mengomel.
Ruve mencoba merubah dirinya. Ia bisa merasakan giginya yang menajam. Senyumannya mengembang. Namun hanya sampai disitu saja.
Ia masih belum bisa merubah dirinya menjadi ular. Ia masih melihat tubuh manusianya. Tangannya masih sama.
Senyumnya sumir. Gen dapat merasakan perasaan temannya itu berubah sendu. "Tak apa, Ruve, ini baru permulaan, tapi juga perkembangan sangat bagus, kekuatanmu akhirnya kembali."
Ruve tak menyangka ia akan bisa menggunakan kekuatannya lagi. "Welcome back, Ruve" lirih, ia akan menjadi dirinya seutuhnya lagi.
Mereka kembali melanjutkan penelusurannya, mereka menemukan, jika tempat ini belum lama ditinggalkan.
Melihat dari bahan makanan yang mereka temukan masih layak makan, buah-buahan contohnya.
"Jadi mungkin saja mereka masih berada disekitar kita, Ruve, ini berita bagus, ayo beritahu Elves"
Mendengar Gen menyebut nama Elves, ia juga tidak sabar menunjukkan sosok ularnya pada Elves.
Mereka keluar dari tempat persembunyian Hudson, langit telah menggelap. Mereka tak menyangka selama itu mereka berada di dalam sana.
Netra Ruve menemukan sosok Elves, ia turun dari kudanya, melangkah ke samping Elves. Ruve bisa merasakan suasana sendu menyelimuti pemuda itu. Sedangkan Gen ia memilih masuk ke dalam bar Garden Angel, perutnya sangat lapar.
"Aku melihat Lavender" setelah lama Ruve duduk menemani pemuda itu, Kepala Ruve menengok cepat pada Elves. Dan pandangan mereka bertemu.
"Dan kau kehilangan jejaknya" Ruve berkata,
"Sedikit lagi harusnya, Dan sama seperti saat Lav dibawa dari depan mataku, aku tak bisa melakukan apapun dengan cepat." Tangannya meremas kuat rambutnya. Ia kecewa pada dirinya.
"Tak berguna!" Elves memaki dirinya sendiri. Ruve tidak bisa melihat itu. Rasanya hatinya ikut sakit.
Wanita derik itu berdiri, membawa Elves pada pelukannya. Elves merasakan kehangatan. Tangan pemuda itu melingkari pinggang Ruve dan memeluk Ruve erat. Sangat erat.
Elves menumpahkan segala rasa sedihnya disana. Ruve mengelus rambut halus sehitam jelaga itu.
Merasa Elves telah tenang dalam pelukannya Ruve mendongakkan kepala pemuda itu. Ia mencengkram leher panjang Elves. Dengan salah satu tangannya.
"Dengar, Elves, Aku tidak suka kamu merendahkan dirimu sendiri," Elves melihat pandangan dingin dari seorang Ruve. Pertama kali ia dapati Ruve yang seperti ini.
"Maaf" entah mengapa kata itu yang meluncur dari bibirnya.
"Maaf? Untuk?" Ruve tak ingin situasi mereka menjadi semakin ambigu.
"Untuk marah tidak jelas,"
"Terus?"
"Tak mau mendengarkan penjelasanmu"
"Lalu?"
"Membentakmu" lirihnya merasa bersalah,
Yaa Moon Goddess dan segala Raja di penjuru duniaaaa, Mana bisa Ruve tahan untuk mendiami lelaki menggemaskan ini lama-lama.
Dari pandangan Ruve, saat ini Elves terlihat seperti anak anjing yang tersesat, sangat manis. Rasanya minta terus dipeluk. Gemas!
"Elves, lihat ini, lihat ini," Ruve teringat berita hebat yang ingin ia sampaikan pada Eld tampan ini, Ruve menyengir lebar di depan wajahnya.
"Kau lihat kan Elves? Ini, gigi rucing, lihat," Ruve masih mendekatkan wajahnya, memperlihatkan giginya. Elves merasakan dejavu.
Debaran halus berdentum di dadanya. Ingatan saat Ruve yang bersikap aneh, berputar di otak Elves. Tentang sentuhan wanita itu juga kemolekkan tub—
Elves mendorong pelan Ruve dan ia berdiri, mundur perlahan menjaga jarak aman,
"Mmm … aku … aku mengantuk, selamat malam" Elves melangkah tergesa, masuk ke dalam penginapan, ia berpapasan dengan Fanta dan Tony yang menyapanya namun tidak Elves gubris. Ia cepat masuk dalam kamarnya.
Bersandar pada pintu, ia menekan dadanya yang berdebar kencang, panas menjalar pada wajahnya, terlihat rona merah di pipi hingga kupingnya.
Ia melepas pakaian tebalnya, merentangkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya hanya berputar pada ingatan yang membuat tubuhnya mendidih.
Elves berdiri, ia mencoba menghilangkan ingatan itu pada otaknya. Push up, pilihannya untuk mengalihkan pikirannya.
Elves membuat dirinya lelah, saat ia merasa cukup. Netranya fokus pada telapak tangannya. Ia kembali merasakan empuk pinggang Ruve yang ia peluk erat tadi.
Siaall! Makinya.
Kembali ia kenakan mantelnya, sepertinya ia butuh udara segar juga sedikit minuman dingin. Untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih.
Elves kembali keluar kamar. Ia turun ke bar untuk mendapatkan minuman yang ia butuhkan, namun yang ia temukan. Ruve yang telah teler. Di kursinya.
"Ada apa ini?" Elves telah berdiri di samping Ruve. "Ia terlalu senang, dan minum banyak" ucap Tony dari balik barnya.
Ada Fanta yang asik menikmati minumannya dan disudut meja ada Gen yang sedang melancarkan rayuan gombal pada pelanggan wanita bar Tony.
Elves mengurungkan niat mencari udara segar, Tony berkata ia tak bisa mengantar Ruve ke kamarnya karena barnya tidak bisa ditinggal, Ia melirik Fanta, wanita itu pamit untuk kembali ke kamar untuk mengawasi dua bocil, dan Gen telah menghilang.
Tersisa hanya dirinya, Bagus! sumber kegelisahannya ini sedang tertidur, bersamanya, disampingnya, diranjangnya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Emak
kasihan, tersiksa ya elves🤣🤣🤣🤣
2023-01-10
0